Aku Cinta Kamu Gadis (Kursi Roda)

13 Mei

Lagi-lagi aku melihatnya di taman ini. Seorang gadis berkursi roda. Wajahnya cantik, matanya sipit, rambut hitamnya di kuncir kuda. Pesonanya bagaikan putri dari negeri China. Membuat sang adam betah berlama-lama memandang wajahnya. Warna merah bajunya sangat serasi dikenakan diatas kulitnya yang putih bersih. Kecantikannya tidak pudar walaupun dia bersinggasana kursi roda. Dia ditemani seorang wanita paruh baya, mungkin ibunya, karena wajahnya terlihat mirip. “Siapa gadis itu?”. Ku raih kamera dari jok belakang, ku foto dia dalam beberapa kali jepretan.

 

20 Mei

Kecantikannya membuatku candu. Aku tidak perduli jarak yang harus aku tempuh menuju taman ini. Aku menyebutnya taman cinta. Aku jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Sintingnya aku, - aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Karena hanya dengan itulah aku merasa lebih bersemangat menjalani hidup.

 

Tiga bulan lalu untuk pertama kali aku melihatnya di taman tersebut. , sewaktu menjemput sepupuku di stasiun kereta api. Jalanan yang macet memaksaku untuk mencari jalan pintas. Ketika melewati sebuah taman di sebuah perumahan, itulah pertama kalinya aku melihatnya. Suaranya yang merdu menancapkan panah asmara tepat di jantungku, menyihirku menuju langit ke tujuh. Matanya lincah menangkap segerombolan anak-anak yang bermain riang. Sesekali senyumnya terkembang. Tawanya terdengar renyah ditelinga. Menghirup wangi aroma tubuhnya, melihat dari dekat rambut hitamnya yang tertiup angin. Menatap matanya yang bening. Oh sungguh indah mahluk ciptaan Tuhan yang satu ini. Senyumnya membuatku damai berada di sampingnya.

 

“Hai” sapaku memberanikan diri

“Hai”

“Kok tumben sendiri?” tanyaku hati-hati

Dia mendelik heran. “Hmm...sori soalnya kemarin-kemarin aku lihat kamu nggak sendirian”

“Ya dia ibuku. Kebetulan hari ini ibu nggak bisa nemenin”

“Oh pantes sama cantiknya” godaku

Lagi-lagi dia tersenyum. Dadaku semakin berdebar kencang. “Rio” kujulurkan tangan
“Gadis” ujarnya malu-malu

“Nama yang indah” pujiku. Ada semburat merah di kedua pipinya.

 

Seperti dugaanku selain cantik, Gadis juga pintar, ramah dan baik hati. Setiap minggu sore, di taman itu dia mengajar anak-anak yang kurang mampu disekitar rumahnya untuk belajar bahasa Inggris. Aku merasa nyaman berada disampingnya. Tidak ada alasan yang membuatku ragu untuk mengenalnya lebih dekat lagi, dan bahkan aku sudah mencintainya sejak pertama kali melihatnya. Aku tidak perduli dia berkursi roda atau tidak, karena aku tidak pernah memandang seseorang dari sudut pandang itu. Justru aku bangga, karena dengan kekurangannya dia berusaha membahagiakan orang-orang di sekelilingnya. Mulia sekali gadisku itu, beruntungnya aku kalo bisa jadi pacarnya. Ah berani sekali aku berharap setinggi ini padanya.

 

10 Juni

Tubuhku terkulai lemas mendengar berita tentangnya. Aku tidak percaya. “Tidak mungkin!” teriakku. Kata demi kata tentang gadisku dari perempuan setengah baya di depanku masih mengalir lancar. Dunia seakan runtuh. Gelap. Sepi. Ingin ku sumpal mulutnya agar menghentikan semua bualannya. Secepat kilat kupacu kakiku menuju rumah gadisku. Seribu bayangan indah bersamanya menari di pelupuk mataku. Kugenggam erat sebuah kotak berisi bunga edelweiss dan beberapa foto hasil jepretanku, oleh-oleh sepulang mendaki Bromo kemarin sore.
“Permisi mbak”

“Ya…”

“Saya Rio. Gadis nya ada mbak?”

“Rio?” raut wajahnya berubah sendu mendengar namaku. Dia mengajakku masuk. Duduk, tertunduk dan diam. “Maaf mbak, Gadis nya ada?” ulangku

“Oh ma-maaf” jawabnya terbata

Aku tersenyum. “Saya Diana, kakaknya Gadis”. Terjawab sudah pertanyaanku tentang siapa wanita yang ada dihadapanku.

“Pantas wajah mbak mirip sekali dengan Gadis”

Kulihat senyumnya sedikit dipaksakan. “Tapi kok saya baru ngeliat mbak sekarang ya?”

“Iya. Mbak memang kerja diluar kota. Sepeninggal Ayah, Gadis tinggal berdua sama ibu”

“Saya sudah tahu tentang kamu Yo” ujarnya

“Maksud mbak?”

“Gadis sudah cerita banyak tentang kamu”

 

Aku tersanjung. Kira-kira apa yang Gadis ceritakan tentangku pada kakaknya? Aku menerka-nerka dalam hati. “Ya walaupun hanya melalui buku diary” lanjutnya. “Buku diary mbak?” tanyaku heran. Kenapa Gadis harus menceritakan sosokku melalui buku diary. Kenapa dia tidak cerita langsung ke kakaknya atau ibunya. Apa dia malu mempunyai calon pacar sepertiku. Tunggu sebentar, pacar kataku? Ah mungkin aku yang terlalu ge-er.

“Mbak tahu kamu bingung Rio. Tapi nanti kamu juga akan tahu sendiri jawabannya”

Aku menatapnya tajam. Gurat kesedihan itu kenapa masih saja bergelayut di wajah kakak dari gadisku. “Kenapa?” berkali-kali pertanyaan itu muncul di benakku.

“Oiya Mbak, tadi di taman depan saya lihat seorang ibu sedang menemani anak gadisnya yang juga-maaf, -berkursi roda. Saya fikir itu Gadis, tapi ternyata bukan” candaku menepis kekakuan. “Maaf mbak saya nggak bermaksud melecehkan Gadis karena kondisinya” sesalku melihat kakak Gadis menitikkan air mata

“Nggak apa-apa kok Yo” ujarnya menyeka air matanya

“Tapi yang bikin saya kesal. Kenapa dia berani-berani mengatakan kalau…hmm Gadis sudah pergi” amarahku meletup-letup mengingat perkataan di taman tadi

“Rio…”
“Ya  mbak”

“Ikut mbak ke kamar Gadis yuk?” ujarnya menahan tangis

Aku kaget. Untuk apa aku ke kamar gadisku. Apa yang terjadi pada gadisku. “Gadis sakit mbak?” tanyaku panik. Dia menarik lenganku. Tuhan, kenapa saat ini jantungku berdebar kencang. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Gadis. Tuhan tolong jawab pertanyaanku. Umpatku dalam hati. Aku mematung di depan kamar yang pintu nya bertuliskan nama gadisku. Pintu itu sedikit terbuka. Ragu-ragu aku melangkahkan kaki. Perasaanku semakin tidak karuan mendengar isakkan seseorang dari dalam kamar. Siapa yang nangis? Gadis kah itu? Kenapa dia menangis?. Aku masih saja mematung di tempat semula.

“Rio” mbak Diana menyadarkanku. “Kamu sayang kan sama Gadis? Kamu mau tau kan smua hal tentang Gadis?”

Aku mengangguk. “Mbak sebenarnya Gadis kenapa sih mbak?”. Mbak Diana menuntunku menuju kamar Gadis.

 

Teka-teki macam apa ini yang mengharuskanku masuk ke dalam kamar Gadis, baru setelah itu aku akan tahu jawabannya. Tangis itu masih terdengar. Isaknya menyayat hati. Tanpa sadar aku sudah berada di kamar gadisku. Kamar yang dindingnya ber-cat biru laut. Bed covernya bergambar papan selancar dan gulungan ombak laut. Tapi dimana Gadis, hanya kursi rodanya yang teronggok di sebelah lemari. “Ibu kenapa menangis?” tanyaku pada ibu Gadis yang duduk lesu sambil memeluk bingkai foto. Tak ada jawaban. Kutatap mbak Diana demi mengharap sebuah jawaban. Tapi dia malah menyodorkan sebuah buku diary berwarna biru laut.
Dengan perasaan tak menentu kubuka satu persatu lembarannya. Kubaca dengan dada sesak, menahan tangis. “Ya Tuhan!” pekikku. Bagaikan di sogok bambu runcing, hatiku perih menahan sakit. Tanpa sepengtahuanku, sudah lama gadisku menderita kanker otak. Kubaca halaman ketika dia berjuang melawan rasa sakitnya. Tubuhku ikut nyeri merasakan penderitaan gadisku. Kenapa dia harus mengalami penderitaan seberat itu?. Tapi bagaimanapun dia gadis yang kuat dan tegar, ditengah-tengah sakitnya dia masih bisa tersenyum. Tanpa orang tahu dibalik senyum manisnya itu tersimpan kepedihan dan rasa sakit yang teramat sangat. Dia tidak mau orang lain khawatir akan dirinya, yang dia mau adalah membahagiakan orang-orang di sekelilingnya.
Di pertengahan halaman, kulihat namaku terukir indah disana. Dengan tangan gemetar kulanjutkan membaca isi hati gadisku yang tertuang dalam buku diarynya.

 

“Tuhan, jika Kau masih memberiku kesempatan hidup, aku ingin bahagia dengan seseorang yang akhir-akhir ini menghiasi hari-hari indahku. Kehadirannya membuatku sedikit melupakan rasa sakit akan detik-detik kepergianku. Aku bersyukur padaMu, karena di hari terakhirku Kau pertemukanku dengannya. Sungguh keindahan yang tak terhingga. Hidupku menjadi lebih lengkap. Aku memiliki Mama dan Mbak Diana yang sangat menyayangiku apa adanya. Kini aku memiliki Rio, meskipun tidak dapat kumiliki seutuhnya. Tuhan, Apa salah kalau aku mencintainya? Aku mencintai RIO. Dia adalah cinta pertama dan terakhir untukku. Akankah Kau kabulkan permintaan hamba-Mu yang nista ini Tuhan?. Namun jika Engkau berkehendak lain, aku pasrah Tuhan. Ini adalah kuasaMu. Aku cukup bahagia bisa memilikinya di sisa umurku. Tolong jaga mama, kakak dan Rio. Berikan mereka kebahagiaan sepeninggalku kelak. Aku titipkan mereka padaMu”.

 

Dadaku bergejolak hebat membacanya. Percuma ku bendung luapan air mata ini, toh meski kutahan dia tetap menetes.

“Ja-jadi…”
Mbak Diana mengangguk. “Ya Rio. Gadis pergi dua hari yang lalu”

“Tapi kenapa mbak...” tubuhku lunglai, bersandar pada lemari

“Ini semua kuasa Tuhan. Kita tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah. Setiap mahluk hidup pasti akan kembali pada-Nya”

Sepucuk surat terjatuh dari lembaran terakhir diary Gadis. Kupandang mbak Diana dan ibu Gadis. Hati-hati ku sobek pinggiran amplopnya.

 

Dear Rio,

Aku tidak yakin surat ini akan sampai ketanganmu atau tidak. Tapi jika Tuhan menuntunmu kesini, kerumahku, mungkin kamu akan membacanya. Maaf kalau kamu merasa kepergianku terlalu dini. Inilah takdirku, Tuhan mengirim penyakit ini untuk menemani hari-hari terakhirku di dunia. Jauh sebelum kita bertemu, aku sudah lama mengidap kanker otak. Aku tak kuasa melawan kuasa-Nya. Semakin hari penyakitku ini semakin berulah. Sampai-sampai aku tidak sanggup lagi menahan sakitnya. Seingatku pernah dua kali aku merasakan sakit di kepalaku. “Kamu kenapa Gadis?” tanyamu panik saat itu. Sungguh aku ingin mengatakan yang sebenarnya tentang penyakitku ini, tapi hati kecilku berontak. Aku tidak ingin melihatmu menjauh dariku. Aku tidak ingin kamu mengasihaniku atas penyakitku ini. Aku tidak ingin membuatmu bersedih. Dan waktu kamu menanyakan penyebab aku pakai kursi roda, aku hanya jawab gara-gara kecelakaan. Aku tahu kamu pasti marah, tapi itu semua aku lakukan karena aku cinta sama kamu. Kebersamaan kita membuahkan benih-benih cinta dihatiku. Aku bahagia masih bisa merasakan indahnya mencintai. Aku mencintaimu apa adanya. Aku tidak perduli cintaku akan bertepuk sebelah tangan, yang aku tahu mencintaimu adalah kebahagiaanku.
Saat ini aku merasa Malaikat maut itu tengah berdiri tegak disampingku, menghitung count down hingga nafas ini benar-benar terlepas dari ragaku. Jujur aku takut Rio. Aku takut menghadapi kenyataan pahit ini!. Ingin rasanya aku mengabarimu, berbagi ketakutanku dan bersandar di dadamu. Tapi aku tidak mau membebani dan mengganggumu yang sedang mendaki. Biar ku telan rasa sakit ini sendiri.


Maafkan aku Rio. Maaf untuk segala kesalahan yang pernah aku perbuat. Maaf untuk sebuah perkenalan yang singkat. Maaf untuk kepergianku yang tiba-tiba. Maaf untuk ketidakjujuran atas penyakitku. Satu hal yang jujur kuakui, jauh dari lubuk hati paling dalam aku mencintaimu. Terimakasih telah menjelma menjadi sebuah kebahagiaan untukku. Terimakasih telah menjadi pelita dalam ketakutanku akan takdir Tuhan. Terimakasih cinta.

 

Salam,

Gadis

 

Gadis telah berpulang dalam damai. Tuhan telah memanggilnya lebih dulu sebelum sempat kuucapkan kata cinta padanya, sebelum kubahagiakan dirinya. Meski aku bahagia karena gadisku pun mencintaiku seperti aku mencintainya. Pergilah cinta, biarlah kusimpan rasa ini selamanya.

***

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer daniswanda
daniswanda at Aku Cinta Kamu Gadis (Kursi Roda) (3 years 34 weeks ago)
80

Jalan ceritanya mengalir lumayan bagus. Rangkaian kata-katanya juga enak dibaca. Cuma tema ceritanya agak biasa ya. Mirip film tiongkok yang berakhir sad ending..

Writer Dini
Dini at Aku Cinta Kamu Gadis (Kursi Roda) (3 years 33 weeks ago)

tema ceritanya terlalu mainstream ya kak? :D