Hyper Senses [Episode 4]

Episode 4 – The plan

~20 Years Ago~

1995

Seingatku, ketika aku tiba di panti asuhan ini, aku memiliki sekitar duapuluh anak yang menyambut kedatanganku. Namun—hari-demi-hari—teman-temanku menghilang satu-persatu. Ketika aku bertanya kepada Ibu asuh, beliau hanya menjawab singkat, “Dia sudah di adopsi,”

“Venus! Ambilin bolanya,”

Ah, hari ini aku tidak mood bermain bola tangkap. Lantaran hari ini aku kehilangan salah satu teman dekatku lagi—Nico. Ia terlihat dibawa oleh Ibu asuh untuk menemui orang tua angkatnya. Aku ikut senang kalau Nico mempunyai orang tua baru dan kehidupan baru. Namun entah mengapa tersirat kesedihan kala ia tidak bermain lagi denganku.

“Hey! Ngelamun aja. Aku bilang ambilin bolanya kok. Ngelamunin Nico? Omong-omong, tinggal enam anak ya, Ven. Lama-lama panti asuhan ini tutup gara-gara kehabisan anak—hahaha!” celetuk Edgar yang tanpa nyana hadir di sampingku.

“Kenapa ya Nico yang di adopsi? Kok nggak cewek pendiem itu aja, siapa namanya? Shinta?” balasku sambil berjalan mengambil bola berukuran kecil.

“Manggil aku, Ven?” pungkas Shinta kala mendengar aku menyebut namanya. Shinta dan Queen sedang bermain boneka di sudut ruang tengah. Nando menyendiri di kamarnya. Dan Vionna terlihat sedang melamun di bangku taman. Aku kurang beruntung karena gadis kecil pendiam yang nyaris tidak kukenal namanya—Shinta—sedang berada dekat denganku yang juga di ruang tengah. Seingatku, Shinta baru saja tiba di panti asuhan ini sekitar tiga tahun yang lalu.

“Nggak kok Shin. Aku nggak manggil kamu,” jawabku bernada lemas. Aku memang kurang enak badan pagi ini. Entahlah, mungkin karena makanan di sini rasanya agak aneh. Atau karena aku selalu bermimpi buruk setiap malam. Aku bermimpi ada sekelompok orang berbaju putih membawaku ke ruangan berbau aneh. Dan di ruangan itu, mereka mengutak-atik tubuhku.

“Vionna ngelamun aja tuh. Ajak main dong, Queen!” celetuk Edgar sambil mengarahkan telunjuk jarinya ke Vionna. Queen menyahut pelan, “Nggak ah. Kamu ajak main juga tuh Nando,”

“Males!” pungkas Edgar singkat. Ia langsung menarik tanganku menuju taman, sepertinya ia ingin mengajakku bermain di taman kecil belakang rumah panti. Seperti biasa, Queen dan Edgar selalu bertengkar setiap hari. Aku melirik ke arah Shinta yang sedang tertawa kecil melihat kelakuan kedua temannya. Mata Shinta terlihat menyipit kala tertawa kecil seperti sekarang.

Aku melihat Vionna termenung sendirian di bangku taman. Pandangannya tidak terlihat fokus. Ia seperti memikirkan sesuatu yang sepertinya tidak dapat aku mengerti. Penampilannya terkesan dark. Ia mengenakan rok warna hitam, kemeja lengan pendek warna hitam, dan topi jenis bowler warna hitam juga. Rambutnya blonde sepundak. Wajahnya sepertinya terlihat menawan jika ia tidak selalu bermuram durja.

Catch!” pekik Edgar seraya melemparkan bola ke mukaku. Sialnya, aku tidak sempat menangkap bola itu, hingga mengenai jidatku.

“Edgar! F*** you!

Aku mengucapkan sumpah-serapah ke arah Edgar. Sial, Edgar hanya tertawa terbahak-bahak melihat kemarahanku. Aku langsung berlari mengejar Edgar, bermaksud menghajar rambutnya. Namun aku menghentikan langkahku sejenak. Aku mendengar suara yang sedikit memunculkan rasa penasaran di benakku, suara wanita tertawa. Suara siapa itu?

Aku mencari sumber suara itu. Ternyata suara itu berasal dari Vionna yang tertawa terkekeh-kekeh melihat tingkah-laku antara Edgar dan aku. Aku baru menyadari kalau Vionna memiliki lesung di kedua pipinya. Wajahnya sangat menarik kalau tertawa seperti ini.

“Hey, jangan ketawa, Vionna. Jidatku sakit nih!” ucapku lantang ke arah Vionna. Aku melihat ia masih saja tertawa, namun kali ini tawanya lebih keras. Sepertinya seluruh uneg-unegnya ia lampiaskan dengan tertawa. Sedikit mengerikan bagiku.

Sejurus kemudian, Vionna memanggil namaku dan Edgar. Ia juga mengawe-awekan telapak tangannya. Ada apa gerangan? Aku tidak mengajak Edgar, tapi sepertinya ia terlihat penasaran dengan apa yang ingin diucapkan Vionna. Berhubung Vionna jarang sekali berbicara denganku, akupun ikut berlari kecil menuju Vionna.

“Ada apa, Vio?” tanyaku kepada Vionna. Aku biasanya memanggil Vionna dengan nama Vio. Karena nama ‘Vionna’ yang notabene memiliki tiga suku kata terlalu panjang bagiku untuk diucapkan. Edgar menambahkan, “Tumben panggil-panggil.”

“Halo teman senasib sepenanggungan. Aku mau memberitahu sedikit informasi, nanti malam ajak Shinta dan Queen untuk kumpul di taman ini. Soalnya, nanti mau ada kebakaran. Aku sudah ajak Nando kok.”

“Apa … ?” balasku dan Edgar bebarengan.

***

~Presence Day~

2015

‘Swing!’

Shinta melemparkan jarum-jarum kecil ke udara. Tiba-tiba ada sekitar tiga pria tersungkur ke tanah. Perasaan tadi tidak ada manusia di situ? Aku langsung melepas kacamataku. Ternyata terdapat beberapa lifespan timer namun tidak terlihat pemilik timer itu. Shinta berucap centil, “Wah~ mereka bisa kamuflase.”

Sedangkan Edgar berusaha menyerang sepasang pria yang meloncat-loncat di antara dinding gang kecil ini. Aku melihat senjata Edgar menyerupai pedang berukuran kecil, aku lupa namanya. Edgar langsung menghilang hingga beberapa detik kemudian, ketiga pria itu berjatuhan dengan luka sayatan di leher. Meskipun aku sedikit terkejut kalau Edgar berani membunuh tanpa segan, namun kecepatan Edgar patut kuacungi jempol.

“Sepertinya Shinta dan Edgar saja sudah cukup untuk mengalahkan mereka ya, Queen?” celetukku kepada Queen yang berdiri di sampingku. Ia menyahut lantang, “Hati-hati Ven!”

Sontak Queen mendorongku ke lantai. Ternyata ada pria berbadan besar dan berotot berusaha melayangkan tinju kepadaku dari belakang. Queen langsung menghantam ulu hati pria itu hingga ia terjerembab. Wah, hanya sekali pukul, pria itu langsung pingsan—atau mati.

T-thank Queen,” gumamku seraya menegakkan badan. Sepertinya pertarungan telah selesai. Aku melihat tidak ada lifespan timer yang tersisa.

“Ed, tumben kamu kewalahan ngalahin kecoa-kecoa ini,” ejek Shinta pelan kala usai membunuh sekelompok pria yang berkamuflase hingga tidak terlihat dengan kasat mata.

Sekelompok pria tidak beruntung itu mengenakan topeng corak aneh berwarna putih dan hitam seperti yin-yang. Sedangkan aku melihat Edgar telah bersimbah darah penuh dengan luka sayatan karena belati. Sepertinya gang kecil ini menjadi spot terbaik untuk membunuh orang, karena tidak ada satupun saksi mata. Shinta langsung memberikan sejenis kapsul kecil kepada Edgar.

“Trims, Shin,” celetuk Edgar pelan. Ia langsung menelan kapsul itu mentah-mentah. Ia menambahkan, “Kayaknya kecoa-kecoa ini semakin hebat. Sekarang mereka bisa kamuflase. Cocok untuk jadi lawanmu, Shin. Tapi nggak cocok untukku—hahaha!”

Shinta hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Edgar. Aku menyahut perkataan Edgar, “Kamu ga papa, Ed? Siapa mereka?”

“Tenang, aku masih hidup. Mereka dari NWO, Ven. Mereka belum kapok ngirim orang buat nangkep kita,” pungkas Edgar. Aku melirik ke arah Queen yang hanya terdiam sedari tadi. Ia tampak kaget melihat ketidakberdayaan Edgar melawan pria-pria yang mereka sebut ‘kecoa’.

“Shinta, kamu ambil mobilmu ya, kita ke basement dulu buat mikirin langkah selanjutnya.”

Queen langsung memberikan tas milik Shinta yang tertinggal di restoran tadi. Sedangkan aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku bahkan tidak tahu seperti apa wujud basement itu. Aku benar-benar tidak tahu-menahu sedikitpun.

Selang beberapa menit kemudian, Shinta tiba dengan membawa mobilnya. Kami langsung menaiki mobil Shinta, Queen dan Edgar mengikuti dari belakang. Queen duduk di samping Shinta, sedangkan Edgar duduk di sampingku di baris kedua.

“Tadi kamu bilang basement ya, Queen?” tanyaku sambil menyodorkan kepala ke depan.

“Oh iya, kamu belum aku kasih tau ya. Basement itu kayak markas rahasia kita, Ven. Nanti juga kamu tahu sendiri kayak gimana.”

“Aku juga penasaran bagaimana bentuknya. Kalau nggak nyaman aku ga jadi join loh—hahaha!” lanjut Edgar sambil menekan pendarahan di lengannya. Sepertinya Edgar bernasib sama sepertiku, tidak mengetahui kondisi basement kondisi seperti apa. Tapi mungkin kondisinya lebih bagus ketimbang kondisi kamar apartment-ku.

Sejurus kemudian, aku dan teman-temanku tiba di sebuah gedung tak berpenghuni. Memangnya di gedung tua dan kotor ini ada basement-nya? Aku tanyakan nanti saja, sepertinya teman-temanku ingin segera tiba di basement. Kami langsung menuju sebuah ruangan usang yang hanya terdapat satu elevator saja. Kami langsung memasuki elevator lalu turun menuju lantai bawah tanah.

Pintu terbuka, aku melihat sebuah ruangan cukup besar yang tidak kotor sama-sekali. Di dalam ruangan itu terdapat beberapa ruangan kecil. Aku berjalan menelusuri basement. Ada enam bilik yang di dalamnya terdapat kasur serta kamar mandi dalam. Lalu di ruang tengah terdapat meja besar serta papan dinding yang di isi oleh skema-skema dan foto-foto asing yang aku tidak tahu identitasnya.

“Sekitar tigapuluh menit lagi kita kumpul di ruang tengah. Sementara itu kalian bersih-bersih dulu aja. Venus dan Edgar ikut aku ya,” perintah Queen yang bertingkah seperti ketua.

“Yupski~” balas Shinta seraya berjalan menuju kamar yang didekorasi full pink. Sedangkan Edgar hanya mengangguk pelan. Akupun mengiyakan ajakan Queen yang mengarahkanku menuju bilik pada sudut basement.

“Ini kamarmu mulai sekarang. Kamu bisa pindahin barang-barangmu yang penting-penting aja dari apartment. Nanti kamu minta tolong Shinta, okey? Dan Edgar, kamarmu sebelah kamarnya Venus.”

“Yap,” jawabku dan Edgar bersamaan.

Tigapuluh menit kemudian, kami berkumpul di ruang tengah sesuai waktu yang telah di sepakati. Setelah kulihat lebih rinci, dekorasi ruangan tengah memang cukup bagus. Banyak lukisan unik terpajang di setiap tembok ruangan ini. Ada lukisan abstrak pula. Mungkin lukisan-lukisan itu buah karya Queen. Di sudut kirinya ada grand piano, acoustic guitar, dan mini drum. Tidak lupa juga microphone tertata rapi di antara seluruh alat musik itu. Jikalau tidak ada diskusi seperti sekarang, pasti langsung kusabet gitar itu.

“Hoi Venus. Jangan ngelamun!” sentak Edgar sambil menepuk pundakku cukup keras, membuatku melompat kaget. Aku menyahut ketus, “Jangan ngagetin hoi! Okey-okey, mau bahas apa nih?”

“Lepas dulu dong kacamatamu, Ven~”

Lagi-lagi Shinta menyuruhku untuk melepas kacamata. Agak malas, tapi mau bagaimana lagi, ruangan ini terasa sedikit gelap kalau memakai kacamata. Aku menyanggupi permintaan Shinta dengan satu syarat, “Akan kulepaskan kalau Edgar juga melepaskan maskernya.”

What? Kenapa maskerku harus aku lepas? Ogah ah, Ven.”

“Ayolah Ed, aku penasaran.”

“Baiklah, tapi aku juga punya syarat. Queen harus nunjukin rahasia di kulitnya—hahaha!”

“Loh kok bawa-bawa aku. Edgar, kamu kok tahu rahasiaku?” sahut Queen sambil membawakan teh hijau racikannya. Aku baru sadar kalau ada dapur di basement ini. Dapurnya terlihat elegan dengan peralatan dapur terkini. Sebenarnya aku tidak begitu suka teh, tapi mau bagaimana lagi—sudah ditawari. Edgar hanya tertawa lantang mendengar pertanyaan Queen. Akupun menambahkan, “Kenapa kulitmu, Queen? Aku jadi penasaran.”

“Ah malesin. Ya udah kutunjukin.”

Queen menekuk kain di lengannya. Mengejutkan, kulit di tangan Queen terlihat seperti sisik ular berwarna merah gelap. Selama duapuluh tahun hidup bersama Queen, baru kali ini aku mengetahui fakta bahwa kulit Queen berbeda dengan manusia pada umumnya. Queen melengos menuju papan dinding.

“Hahaha! Maaf Queen. Oke sesuai janji,” pungkas Edgar seraya melepaskan masker di wajahnya. Lebih mengejutkan lagi, Edgar tidak memiliki kulit hidung, hanya terlihat sepasang bolongan kecil seperti tokoh antagonis Voldemort dalam novel seri Harry Potter. Aku tidak tahu kalau teman-temanku memiliki keunikan seperti itu. Queen dan Shinta memberi applause kecil, mungkin sebagai apresiasi karena Edgar berani menunjukkan 'rahasia'-nya kepadaku dan para ladies.

“Err … baiklah, kulepas kacamataku.”

Aku langsung melepas kacamata kesayangku. Eh? Mengapa tiba-tiba kepalaku terasa sangat ngilu? Pemandangan sekitar seperti berputar. Shinta terlihat menghampiriku meskipun pandanganku mulai memburam. Ia berkata lirih, “Kenapa Ven?”

“K-kepalaku sedikit ngilu,”

“Ven, matamu berubah kayak mata kucing berwarna merah!” pekik Edgar.

“Venus, cepet duduk dulu! Minum tehnya,” pinta Queen kala menyadari kondisiku. Ia menuntunku untuk duduk di kursi yang telah tersedia di ruang tengah lalu mengambilkan teh yang baru saja ia racik. Ada apa dengan mataku? Aku meneguk teh hingga habis, lalu kusandarkan kepalaku ke meja agak lama. Beberapa menit kemudian, ngilu di kepalaku perlahan menghilang.

“Woah! ada apa dengan mataku tadi?”

“Mungkin ada kontraksi tadi Ven. Aku terkadang juga gitu kalau habis memakai kekuatan decoy. Sakitnya sedikit berkurang kalau minum teh hijau atau teh rosella,” jawab Queen sambil kembali ke arah papan dinding. Edgar menambahkan, “Matamu sudah normal, Ven. Kembali jadi warna abu-abu.”

“Syukurlah. Thank, Guys.

“Oke sekarang kita mulai diskusinya biar nggak kelama’an,” pungkas Queen seraya mengambil spidol non-permanent. Ia menambahkan, “Kita bagi jadi dua kelompok untuk dua tugas. Tugas pertama yaitu mencari Nando dan Vionna, lalu tugas kedua adalah membunuh kepala NWO distrik kota ini bernama Vincent. Tugas pertama akan dibebankan kepada aku dan Edgar. Sedangkan tugas kedua dibebankan kepada Shinta dan … Venus.”

“Aku harus ngapain?” tanyaku kepada Queen yang terlihat sangat serius. Ia menjawab lirih, “Ven, kamu harus membunuh Vincent.”

What? Aku harus membunuh lagi? H-haha … a-apa harus aku?”

-BERSAMBUNG-

 

Read previous post:  
15
points
(1705 words) posted by rirant 3 years 29 weeks ago
50
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fantasi | #fantasi #bersambung #imajinasi #mistery
Read next post:  
Writer kemassaputra
kemassaputra at Hyper Senses [Episode 4] (3 years 27 weeks ago)
100

Sepintas jika melihat Venus, Edgar, Queen, dan Shinta, aku teringat cerita X-Men tentang sekolah mutan. :D

Ditambah lagi dengan mereka ditempatkan di panti asuhan. Well, jadi penasaran apakah panti asuhan itu memiliki sesuatu :D

Writer rirant
rirant at Hyper Senses [Episode 4] (3 years 27 weeks ago)

Ah iyakah mas XD
-
Monggo maswin, makasih ratingnya dan sudah berkenan mampir :D

Writer hidden pen
hidden pen at Hyper Senses [Episode 4] (3 years 29 weeks ago)
90

Loh? Kukira shinta yang dari dulu jadi anak pndiam. Ternyata viona lebih pendiam yach :v

Hhmm queen koq jadi pndiam, hhmmm apakah dia cmburu mlihat shinta dan venus hhmm ini misterius :v

Ketika membayangkan wajah edgar kayaq voldemort (musuh harry potter) wow benarkah hidungnya kayaq gitu. Hhmm rata jadinya bwahaha

Oohh ya lupa tentang kemampuan shinta, hhmm masih menrawang ane ama kemampuannya. Hhmm type apa dia ya. Ahh nunggu kelanjutannya aja

Ookk siipp

Kkaabbuurrr :v

Writer hidden pen
hidden pen at Hyper Senses [Episode 4] (3 years 29 weeks ago)

Orangtua == orang tua

Napa gk di pisah?

Writer rirant
rirant at Hyper Senses [Episode 4] (3 years 29 weeks ago)

Iyap kalo Shinta super pendiam, maybe si Vionna hyper pendiam hahahak.
-
Hahahak kisah romansa di cerita ini masih misterius kok, bang Hidden :p
-
Iye ngeri juga sih, makanya dia malu terus ditutupin pake masker hahahak. Kemampuan Shinta seperti spesialisasinya sebagai spy, itu aja sih clue-nya hahak hak hak...
-
Err ... setelah googling, ternyata kalo di pisah berarti orang tua biasa yang udah berumur bang, kalo nggak di pisah berarti bener2 orangtua kandungnya, tapi kalo di lihat di cerita ini sepertinya bukan orang tua kandung yak, jadinya di pisah ya bang? Aku kurang paham sih hehehek.

Writer hidden pen
hidden pen at Hyper Senses [Episode 4] (3 years 29 weeks ago)

err orang tua di mana mana berumur, dan kenapa mesti di bedakan, err entahlah kenapa ada perbedaan makna orang tua padahal sama sama berumur :v sensi kale kalo disamakan ya, muahaha misalnya agar lebih ke arah perbedaan yang kandung dan yang bukan kayaq orang tua di panti jompo :v

btw ane cari lewat googling
-- tua 1 ayah ibu kandung; 2 (orang tua)
orang yang dianggap tua (cerdik pandai, ahli,
dan sebagainya); orang-orang yang dihormati
(disegani) di kampung; tetua;

Writer rirant
rirant at Hyper Senses [Episode 4] (3 years 28 weeks ago)

Nah itu aku juga heran hahahak
-
Infonya mantab bang, kalo hasil gugling-ku kapan hari juga serupa: Kata “orangtua” (satu kata) berkaitan dengan status (ayah atau ibu) dan bukan berkaitan dengan usia orang yang bersangkutan. Sedangkan kata “orang tua” barkaitan dengan usia; yaitu orang yang sudah lanjut usianya.
-
Nambah ilmu deh, makasih udah nyentil kata orangtua bang Hid hahahak :D