Chris - Cakar di Langit-Langit



Cakar di Langit-Langit

- oleh Christian Barus -



ambil kami menunggu kesempatan bagus di atas batu-batu sungai Ciho, Bugan berujar: “Kita tidak hidup di masa lalu, Kih.” Padahal dia baru sejenak berhenti mempermasalahkan ini. “Yang paling konyol adalah mengubur kotoran,” imbuhnya.

“Itu kan bau,” sahutku sambil mencakar ke dalam air. Keperas yang sedari tadi kuincar berhasil kabur.

“Memang bau! Tapi kita tidak harus mengendusnya.”

“Sudah tradisi.”

“Itu dia, Kih! Kita diatur tradisi.”

Begitulah Bugan. Satu-satunya di kelompok kami yang tidak nyaman dengan tradisi. Lama-kelamaan Bugan semakin “gila”. Ia sudah berani protes di depan umum. Berkeliling desa sambil menyerukan pendapatnya. Warga pun mulai gerah, terutama para pengetua adat. Mereka khawatir protes Bugan bisa mempengaruhi warga.

“Dalam jiwanya tumbuh bibit pemberontak!”

“Ia telah menciderai nilai-nilai luhur bangsa kita.”

“Kita kurung ia di bukit agar ia mencium bau kotorannya sendiri.”

Maka beberapa hari setelah kami menangkap ikan di sungai Ciho, ia ditangkap di rumahnya. Ibu Bugan meraung-raung menyaksikan Bugan diseret ke Bukit Pengasingan. Tapi percuma. Keputusan sudah bulat: Bugan harus diasingkan sebelum menulari yang lain. Bapaknya sendiri tidak banyak bicara saat itu.


*


Setelah beberapa purnama berlalu, aku memutuskan mengunjungi temanku itu di pengasingannya. Di depan pintu, penjaga menatapku tidak senang. “Waktumu cuma sedikit. Jangan sampai mati karena mencium bau tahinya!”

Lalu sesuatu jatuh tepat di hadapanku begitu pintu kurungan Bugan terbuka. “Nangkih! Apa kabar? Hahahaha!”

“Sedang apa kau di langit-langit?”

“Melatih cakar,” jawabnya.

Temanku tampak berbeda. Bulu-bulunya berantakan, tidak terawat, dan rontok di sana-sini. Kulitnya kusam, tampak seperti sekadar lapisan yang menempel pada tubuhnya yang kurus kering. Hidungku menangkap bau kotoran. Lumayan mengganggu. Tiba-tiba aku diserang rasa bersalah. Kukatakan padanya bahwa ia tak harus mendapat perlakuan begitu.

“Sisi baiknya, terkurung begini justru terasa bebas.”

Bagaimana bisa terkurung malah terasa bebas? Menggeleng pelan, kualihkan pandanganku ke seisi ruangan. “Kapan terakhir kali kau makan keperas?” tanyaku.

Ia terpingkal, berguling-guling hingga samar aku bisa melihat tonjolan tulang rusuknya. Aku juga tertawa meski tak sehebat itu. “Setidaknya mereka masih memberimu makan kan?” kataku lagi.

“Tentu. Eh, Kih, aku punya teman baru.”

“Teman baru?”

“Dia dikurung juga. Jerngem namanya. Apa kau pernah dengar?”

Aku menggeleng.

“Aku beberapa kali mengobrol dengannya. Ia tampak sudah ribuan tahun berada di sini!”

“Dia juga menolak tradisi?”

Bugan lalu tertawa lagi lebih keras dari sebelumnya. Suaranya memenuhi ruangan. Tapi cuma sebentar. Tiba-tiba ia seolah tersadar akan sesuatu lalu mendekatiku. Hidungku mendadak tersengat bau menusuk. “Dialah tradisi,” bisiknya seakan tidak mau dinding batu mendengar ucapannya. “Ia ada dalam catatan sejarah.”

“Maksudmu dia pahlawan?”

“Dia panglima perang! Ia salah satu pemimpin nenek moyang kita.”

“Aku belum pernah dengar namanya.”

“Wajar. Para pemimpin lainnya menghapusnya dari sejarah! Mereka memang berengsek!”

Kulihat Bugan agak marah. “Lalu bagaimana ia ada di sini?” tanyaku.

“Mereka menuduhnya pengkhianat lalu mengurungnya di sini. Tapi percayalah, Kih, kurungan sehebat apa pun tak akan bisa mengekangnya. Malah katanya ia sengaja menerima hukuman itu dan memilih dikurung di tempat ini hanya karena ia menderita berada di dunia luar. Menurutku Jerngem mengalami penderitaan yang luar biasa. Aku pernah melihatnya menyiksa dirinya. Ia gila sekaligus sangat kuat.

“Maksudku ia tidak terlihat menyiksa fisiknya. Tapi jiwanya, Kih. Ia duduk diam tak bergerak dalam waktu yang lama. Berhari-hari. Lalu suatu kali aku melihat ia menangis. Bercucuran. Eh, tiba-tiba ia bangkit dengan sorot matanya tajam. Seolah ada kebencian yang terpendam dalam dirinya. Ia tidak tampak seperti dirinya yang sebelumnya menangis. Lalu ia berubah lagi. Kali ini ia ketakutan dan memohon-mohon seperti tikus tak berdaya. Ia bertukar-tukar, berubah-ubah menjadi sosok-sosok yang berbeda. Dan ketika ia menjadi marah, kau takkan percaya. Batu sebesar apapun bisa dihancurkannya hanya dengan sekali terkam. Hebat kan?”

Aku bergidik.

“Kenapa?” tanya Bugan.

“Dari ceritamu, sepertinya ia berbahaya.”

“Oh. Aku paham maksudmu. Ia memang gila tapi tidak berbahaya. Ia bahkan mengajariku banyak hal, Kih. Dan aku tak habis pikir kenapa ia dituduh pengkhianat padahal jelas ia telah melakukan hal hebat. Tapi ada hal yang ia rahasiakan. Dan kurasa itulah yang membuatnya menderita. Rasa bersalah, Kih. Rasa bersalah karena telah mengkhianati teman masa kecilnya yang ia gambarkan sebagai sosok raksasa bertaring panjang. Di saat ia sedang tidak menyiksa dirinya, ia bisa sangat bijak, Kih. Menurutku ia bisa mendongeng juga untukmu.”

“Waktumu telah habis!” Suara penjaga mengagetkanku. Aku pun terpaksa pamit sebelum mereka menarikku dengan paksa. Bugan menghampiriku dan menyempatkan membisikkan sesuatu.


*


Purnama.

Penjagaan Bukit Pengasingan tidak seketat biasanya. Aku diminta, kalau bersedia, datang lagi tapi diam-diam ke atas bukit. Aku harus datang dari arah berlawanan, dari arah hutan. Dari sana, aku harus memanjat pohon, melewati anak sungai Ciho, hingga sampai ke pengasingan. Dan aku melakukannya meski dalam hati aku mengira-ngira hukuman apa yang akan kuterima semisal tertangkap.

Di atasku, dibayang-bayangi dedaunan, bulan bersinar terang. Kuning pucat yang menyala penuh: Lebih terang dari malam-malam yang lain.

“Bugan .…” bisikku di dekat pintu kurungannya. Tidak ada sahutan. Aku memanjat dan berusaha mengintip dari jendela kecil. Sinar purnama mampu menerobos melalui celah-celah sempit. Namun sulit bagiku melihat apakah Bugan berada di sana atau tidak.

“Kih .…” kudengar bisikan dari belakangku.

Aku menoleh.

“Ayo, ikut aku .…”

Bagaimana ia bisa keluar? Namun pertanyaan besar selanjutnya adalah hendak ke mana kami? Jangan-jangan Bugan berencana melarikan diri—dan aku akan dituduh telah membantu pelariannya? Memikirkannya membuat detak jantungku tak karuan. Tapi melihat Bugan berjalan di sisi batu dengan santai, ini tampak seperti bukan pelarian. Kami lolos dari tebing batu, kami menerobos semak belukar yang berduri. Aku meringis ketika satu-dua duri menusuk kulitku.

“Ada gunanya juga kurus kering, heh? Kulitku jadi keras dan durinya malah patah,” kata Bugan terkekeh. Mau tak mau aku ikut tertawa.

Tak lama kemudian kami tiba di atas sebuah batu besar yang permukaannya agak datar. Sinar bulan terhampar di permukaannya. Dan di ujung sana, aku bisa melihat sesosok makhluk keperakan yang berkilauan diterpa sinar bulan. Ia duduk di pinggir batu. Mematung dengan hamparan gelap hutan di hadapannya.

“Itu Jerngem,” kata Bugan dengan nada bangga.

Mataku tak lepas dari sosok yang menyadari kedatangan kami itu. Apalagi saat ia menoleh padaku. Hanya sesaat tapi membuat tubuhku serasa dicabik-cabik. Sorot matanya tiba-tiba membuatku merasa sendirian. Namun yang tidak kuduga, rasanya Bugan juga tidak, Jerngem tiba-tiba menghilang.
Bugan berlari.

“Ada apa?” Aku mengejarnya.

Bugan tidak menyahut. Ia mencapai pinggir batu. Melotot ke bawah.

“Ikut aku!” katanya mengambil ancang-ancang, dan ia pun melompat.

Aku sempat melihat tubuhnya melayang di antara kegelapan. Lalu lenyap. Aku bergidik. Jelas aku bisa mengenali pucuk-pucuk pohon dari atas batu. Ini jurang. Kucing mana yang mau melompat ke dalam jurang?

“Ayo, loncatlah!” kudengar gema teriakannya.

Tubuhku terasa menciut.

Aku tak benar-benar memikirkannya saat angin menarik-narik buluku ke atas. Desiran angin menimbulkan bunyi memekakkan telinga. Sulit bagiku menyeimbangkan posisi. Satu-satunya yang harus kuputuskan adalah cara mendarat agar tidak mati.

Di sisi lain, ini luar biasa.

Kegelapan hanya menyeramkan bila dipandangi. Namun ketika berada di dalamnya, semua terasa bagai siang. Mataku cepat menyesuaikan dengan cahaya bulan. Udara dingin pun tak lagi terasa saat itu.

“Lihat!” kudengar teriakan Bugan.

Bugan melakukan gerakan bagus ketika bertumpu pada dahan pohon. Tidak satu, tapi beberapa. Ia cepat sekali. Hup! Hup! Hup!

Aku tak sempat mengikuti caranya. Kakiku tergelincir karena dorongan dari ketinggian—atau tarikan dari kedalaman. Lajuku tak terkendali. Tubuhku membentur batang pohon. Bisa kudengar dentuman yang membuat napasku terpotong seketika. Hal terakhir yang kuingat adalah bunyi kepakan.

“Kau tak apa-apa?”

Susah payah kubuka mata. Begitu sadar terkapar di atas tumpukan dedaunan, sekejap rasa sakit, perih, dan ngilu menjalar ke otakku bagai dikerumuni semut. Kaki belakang nyeri sekali.

“Kakimu baik-baik saja. Hebat! Tidak separah aku ketika terjun pertama kali. Apa kau masih bisa berjalan?”

Masih berbaring, kugerakkan kakiku, mencoba. Rasanya: “Bisa.”

Lalu kami menyusuri ke hilir sungai Ciho. Berjalan mengendap-endap, berhenti sesaat, dan melihat ke belakang. Bugan di depanku, tampak hati-hati. Aku mengimbanginya dengan menahan sakit di kakiku. Selama perjalanan ia bilang bahwa aku adalah sahabat satu-satunya yang ia miliki, berterima kasih karena aku sudah menemaninya, dan meyakinkan bahwa aku tidak akan mengalami hal yang buruk.

Semakin jauh berjalan, konon kami bisa mencapai air terjun. Jangankan malam hari, siang hari pun kau takkan bisa melihat ke bawah sana. Dasarnya tidak terlihat, berkabut karena tiap tetes air yang jatuh sudah menguap menjadi awan sebelum mencapai dasarnya. Kami pun akan kehilangan kesembilan nyawa kami bila terjatuh ke sana.

Anehnya, ternyata di sana tenang sekali. Seolah-olah itulah tempat di mana bunyi tidak pernah ada. Kesunyian itu semakin mencekam dengan pemandangan menakjubkan. Sejauh mataku memandang, area itu bagai sebuah wadah yang ke dalamnya dituang milyaran bintang-bintang oleh penyihir bulan. Tempat itu tanpa ujung, seolah menyatu dengan langit. Semua kekaguman dan ketakjubanku bagai diaduk-aduk dalam ramuan yang membuat jantungku berhenti berdetak.

Kupalingkan wajahku pada sosok Jerngem yang duduk mematung di atas sebuah batu. Ia memandang jauh ke atas sana, pada bulan; aku dan Bugan hanya bisa melihat punggungnya. Aku belum sempat membuat penilaian saat ia berkata: “Aku harus menemuinya.”

Aku kaget. Suaranya tidak merambat ke telingaku melalui udara, melainkan muncul begitu saja dari dalam kepalaku bagai mata air.

“Dia akan membunuhmu!”

Suara Bugan juga! Mereka bercakap-cakap di dalam kepalaku.

“Kalau itu yang diperlukan.”

“Kumohon jangan pergi!”

“Aku harus.” Jerngem menunjuk dengan kaki depannya, ke bawah air terjun. “Percuma hidup dengan rasa bersalah, Nak. Tampaknya aku sudah mengajarimu banyak hal. Kau belum mengerti?”

“Kalau kau pergi, aku harus bagaimana?”

“Apa saja.”

Lalu Jerngem melompat.

“Tunggu!!!”

Jerngem melayang di udara.

Jatuh.

Lenyap.


*


Purnama demi purnama berlalu sejak peristiwa itu. Aku tak lagi bisa tidur nyenyak. Misteri-misteri di kepalaku seringkali terbawa mimpi. Satu-satunya yang bisa kutanya adalah Bugan, yang sayangnya, merasa sangat terpukul karena kejadian itu. Suaranya hilang: ia bisu. Berita baiknya, hukumannya dihapus. Kupikir karena ia tidak bisa lagi bicara. Namun ia hanya bertahan selama beberapa hari. Sebagian jiwanya sudah terperangkap selamanya di pengasingan. Atau ikut terjatuh di air terjun. Ia bukan lagi Bugan yang sama. Lantas dengan keinginannya sendiri, ia memilih meninggalkan desa dan hidup di pengasingan. Tidak ada yang mampu mencegahnya.

Bagiku Bugan adalah teman terbaik. Ia bisa saja bebal dengan pandangannya tentang tradisi. Tapi ia tidak pernah menyakitiku. Pembicaraan kami yang hampir selalu membahas tradisi memang terkadang menyebalkan. Namun setelah sekian tahun hidupku tanpa waktu-waktu bermain dengannya, hidup rasanya sangat membosankan. Lalu suatu pagi aku mendapat kabar Bugan menghilang dari kurungannya. Tidak ada jejak ataupun sehelai bulu yang tersangkut di semak-semak. Ia akhirnya benar-benar lenyap dari kehidupanku untuk selamanya. Aku merasa bersalah karena belum sempat mengucapkan selamat jalan. Mungkinkah ia sempat berpikir untuk berpamitan denganku? Aku tak pernah tahu. Tak ada tanda mata. Tak ada kenangan selain peristiwa di air terjun yang kujaga sampai sekarang. Bugan benar-benar lenyap bagai ditelan bumi. Satu-satunya yang ia tinggalkan di kurungannya yang gelap adalah langit-langit yang penuh goresan. Jelas itu merupakan sebuah lukisan cakar yang aneh. Di sana, gambar seekor kucing yang kuyakini adalah sosok Jerngem, seolah-olah sedang menunggangi kucing lainnya yang bertubuh sangat besar dan bertaring panjang. Entah bagaimana, kelak raksasa itu disebut harimau. – Cirebon, 2015.



Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer AninditaAyu
AninditaAyu at Chris - Cakar di Langit-Langit (3 years 31 weeks ago)
80

Akhirnya balik lagi setelah lama ga main ke kekom.
Aku suka ceritanya kak... ^^

Writer rian
rian at Chris - Cakar di Langit-Langit (3 years 32 weeks ago)
80

Ini fabel yang sangat menghibur. Si Jerngem yang amat dramatis itu bikin saya ketawa, sebenernya, maaf kalau penulis enggak memaksudkan begitu. Saya suka deskripsi air terjun. "Dasarnya tidak terlihat, berkabut karena tiap tetes air yang jatuh sudah menguap menjadi awan sebelum mencapai dasarnya. Kami pun akan kehilangan kesembilan nyawa kami bila terjatuh ke sana." Ini sesuai sama tagar "fabel"nya

Tapi saya enggak menemukan hubungan antara tradisi dan cerita Jerngem. Dan akhirannya cenderung lempeng buat saya.

Sekian. Maaf kalau enggak berkenan.

Writer pepperony
pepperony at Chris - Cakar di Langit-Langit (3 years 32 weeks ago)
80

Ketika pertama kali saya membaca cerpen ini, saya tidak tahu harus berkomentar apa. Parahnya, saya tidak tahu harus merasa apa. Oke. Itu mungkin masalah penalaran saya yang payah. Dan hal itu memaksa saya untuk membaca ulang, untuk tahu sebenarnya apa yang penulis ungkapkan lewan cerpennya ini.

Untuk sebuah cerpen yang dilabeli fabel, tuhanku, cerpen ini terlalu berat. Karena fabel sejatinya adalah cerita anak-anak, maskudku sebuah cerita yang ditujukan kepada anak-anak agar mereka belajar dari banyak hal yg dialami parah tokoh-hewan dalam cerita. Sementara cerpen ini memaknai secara mendalam fabel Kucing dan Harimau yang mungkin sebagian banyak dari kita mengetahuinya.Tapi baiklah, dibilang fabel toh karena memang tokohnya hewan. Oh, soal penamaan tokoh pun terasa unik. Nama-nama yang tidak umum, bernuansa lokal yang saya rasa pasti dari daerah si Penulis sendiri. Sayangnya, tak ada penjelasan mengenai arti nama-nama asing tersebut. Semisalnya ada, mungkin akan membantu pembaca seperti saya memahami cerpen ini lebih cepat.

Di atas semua itu saya selalu suka cerpen-cerpen yang bernuansa lokal.

Writer Nine
Nine at Chris - Cakar di Langit-Langit (3 years 32 weeks ago)
100

"Anehnya, ternyata di sana tenang sekali. Seolah-olah itulah tempat di mana bunyi tidak pernah ada. Kesunyian itu semakin mencekam dengan pemandangan menakjubkan. Sejauh mataku memandang, area itu bagai sebuah wadah yang ke dalamnya dituang milyaran bintang-bintang oleh penyihir bulan. Tempat itu tanpa ujung, seolah menyatu dengan langit. Semua kekaguman dan ketakjubanku bagai diaduk-aduk dalam ramuan yang membuat jantungku berhenti berdetak." <--- yang ini, Bang, deskripsinya itu padat, ngak bertele-tele, langsung kebayang di otak saya. ^^
.
"Aku kaget. Suaranya tidak merambat ke telingaku melalui udara, melainkan muncul begitu saja dari dalam kepalaku [bagai mata air.]" <--- ini jugak
.
.
.
Dari komentar teman-teman, saya tau sumber inspirasinya, dan sempat baca 2 versi dongeng ttng kucing dan harimau. Dari yang saya baca, pemicu konfliknya sama, yaitu si kucing yang tidak mau mengajari harimau ilmu memanjat pohon. Di bagian Bugan yang menceritakan Jerngem soal "pengkhianatan", itu saya ngambil kesimpulan kalau Jerngem berkhianat (sama temannya kecilnya) soal ilmu memanjat pohon itu, Bang. (Ini dengan asumsi kalau dongeng yang saya baca itu sama/mirip2 dengan sumber inspirasimu, kalau nggak ya, brarti salahnya om gugel ^^)
.
.
Saya masih bingung kalau mau nyari2 keterkaitan antara permasalahan Bugan dan Jerngem, (sebab mereka berdua adalah karakter utama dalam cerpen ini, makanya saya harap ada koneksi secara langsung/tak langsung antara mereka berdua yang membuat konflik utama dalam cerpen ini menjadi semakin jelas). asumsinya Bugan itu mempermasalahkan Tradisi, sementara Jerngem itu masalahnya ada pada "rasa bersalah" pada kawan kecilnya. Dan ini membuat saya bingung untuk tau di mana konflik utama dalam cerpen ini. Soalnya, di saya, tidak ada keterkaitan antara kegundahan Bugan dan kegalauan Jerngem, kecuali mereka berdua sama-sama di pengasingan. Jadi kalau di saya konflik utama masih membingungkan, bang. (mohon maap kalau asumsi ini salah gara-gara sayanya yang kurang jeli--mudah-mudahan dirimu memberi pencerahan di bagian ini, bang ^^)
.
Pada peristiwa air terjun juga saya masih bingung itu ada "suswanto" yang terselip atau tidak. Soalnya di bagian itu di saya adalah "main event" dari cerita ini. Bagian di mana dadaku dikasih dag dig dug. (dan emang pas bagian itu mendebarkan).
.
Terlepas dari semua yang saya bilang di atas, saat membaca cerpen ini, saya udah terlanjur "larut ke dalam". Udah keikat ama plot cerita, narasi, dialog, ama karakter2nya. Cerpennya menghibur dan mendebarkan. Jadi yang saya katakan di atas itu ngak ngaruh sama sekali saat membacanya, Bang. Udah keasyikan baca soalnya ^^
.
Kyaknya itu saja, Bang. Mohon maaf kalau ada salah kata atau salah paham dari sayanya. Maklumilah hayati yang masih belajar berkomentar ini. ^^
.
Sekian, Bang
Salam Olahraga :)

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Cakar di Langit-Langit (3 years 32 weeks ago)

Salam olahraga juga, Bung Naen.
-
saya udah bahas panjang kali lebar di Line. meski enggak etis kalo enggak dibales di mari, saya tetep milih itu sebagai bahan di komentar saya berikutnya, di postingan siapapun. ahak hak hak. makasih udah dikoment dan memberikan saya diskusi yang kalakupand aduhai cha cha cha. eh, mungkin dirimu enggak sadar, tapi diskusi itu lebih berarti buat saya, meski yang lebih tercerahkan itu tentu dirimu. ahak hak hak. #plak
-
sekian saja.
kip nulis dan stay fit :D

Writer Nine
Nine at Chris - Cakar di Langit-Langit (3 years 32 weeks ago)

Ahahahhaa, makasih juga sudah mau meladeni saya berdiskusi, bang. ^^
.
Hihihihiih

Writer rirant
rirant at Chris - Cakar di Langit-Langit (3 years 33 weeks ago)
100

Ceritanya bang Shin mantabb. Karisma dan pesona Jerngem bener2 tergambar nyata, juga tokoh Nangkih dan Bugan yang berkarakter. Nama2 tokohnya bener2 out of the box hoho. Baidewai, cerita bang Shinichi nambah wawasan baru untukku, jadi pengen nulis Fabel hoho. Juga ternyata keperas adalah salah satu jenis ikan (baru tahu setelah googling hahahak).

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Cakar di Langit-Langit (3 years 33 weeks ago)

sangkyu udah mampir, meski bukan umum sih. sekadar info biar maknyus, nama-nama karakternya diambil dari bahasa Batak Karo, karena ya cerita fabel Kucing dan Harimau yg jadi sumber inspirasi cerpen ini, saya dapatkan dari orang Karo. saya jg orang Karo. ahak hak hak. oke kalo nulis fabel, jangan ragu buat notice ya =))
kip nulis dan kalakupand.

Writer kartika demia
kartika demia at Chris - Cakar di Langit-Langit (3 years 33 weeks ago)
90

.
Untuk fabel ini berat, tapi berbobot. Beratnya karena berbobot, berbobotnya karena beratnya. #ngomongopo XD
Cerpen-cerpen khas media ini. Rapi, unik, walau saya sulit nangkep maksut ceritanya. Hehe.
Judulnya sangat menarik, dan menjual banget. Pertamanya saya pikir itu burung yang diceritakan, karena penulis berbicara soal bulu. Padahal, untuk kucing, orang utan dan manusia. Rambut lebih tepat sebutannya daripada bulu. *iya, klo bahas IPA, dodol!* #plak
Udah gitu aja.
Salam manis :v

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Cakar di Langit-Langit (3 years 33 weeks ago)

ah, untuk "bulu" itu soal enak enggak enaknya dalam pengucapan sih. di tempat saya "bulu kucing" lebih diterima telinga dari "rambut kucing".
anyway, makasih buat komentarnya XD
kip nulis kalakupand

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Chris - Cakar di Langit-Langit (3 years 33 weeks ago)
100

Selain nama yang kelewat aneh diucapkan di lidah saya (iya, saya aja kayaknya) keseluruhan cerpen ini nikmat buat saya.
Kesemua kronologinya runut, dari kejadian satu ke kejadian lain. Sampai ending dan akhirnya saya paham makhluk apa yang dari tadi ngomong (dih, otaknya lemot).
.
Anyway, gak tau mo komen apa sih, sepanjangan membaca saya diem dan mingkem aja (yaiyalah). Suka. Kesan dongeng ala fabel dapat meski terasa lebih rumit daripada fabel biasanya (saya bacaannya kancil mulu, btw).
.
Akhir kata, cuma mau nanya sih Bang, itu idenya dapet di mana? :D

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Cakar di Langit-Langit (3 years 33 weeks ago)

makasiy udah komeng. ahak hak hak. kesan dongeng emang harus, meski enggak saya patokkan secara sengaja. lebih kepada saya punya rekaman yg gak bisa dibuktikan secara empiris #plak dongeng fabel yg saya baca waktu saya masih imut-imut. lalu, saya punya ide, menentukan bahwa ide itu bagus digarap sebagai dongeng fabel, namun temanya lebih berat tinimbang fabel yg unyu-unyu yg pernah saya baca itu. hohohoho.
-
ide ini dari fabel kucing dan harimau, tentu saja. dan seperti biasa fabel yg sulit dideteksi asal-usulnya darimana, 2 versi yang saya dengar, langsung dari orang-orang di sekitar saya. ahak hak hak. jadinya, fabel yg jd sumber inspirasi saya itu tentunya berlatar kebudayaan di tempat saya tinggal. makanya, saya pakai nama-nama dalam bahasa suku saya, meski ya kisahnya sendiri enggak mencerminkan prilaku hidup masyarakat di kampung saya. okesip. itu terlalu banyak untuk penjelasan. ahak hak hak. kip nulis kalakupand.

Writer hidden pen
hidden pen at Chris - Cakar di Langit-Langit (3 years 33 weeks ago)
90

gk bisa komen yg berbobot neh bang. ^_^ tapi aku terkejut dan wow saking terpikatnya dengan cerita jergem, si bugan memilih takdirnya sendiri dan sahabatnya cuma bisa mengingat kisah dua orang di pengasingan dan cakar yg memenuhi langit #ngomong apaan coba. :v :v hmm ok , kaabbuurr

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Cakar di Langit-Langit (3 years 33 weeks ago)

dua kucing, anyway
ahak hak hak
makasiy udah mampir eaaa =))
kip kalakupand