Hyper Senses [Episode 5]

Catatan Ringan: Well, karena di satnight ini tidak ada yang bisa di apelin (hehehek), jadi aku ingin menyajikan lanjutan dari Hyper Senses. Semoga berkenan membaca bagi yang mengikuti serial ini. Dan bagi yang menjalankan satnight, happy satnight :D

 

~oOo~

Episode 5 – Stalker’s Nemesis

-2 Years Ago-

2013

-Shinta’s Perspective-

Aku terjebak dalam pusara tergelap di antah-berantah distrik Tarell. Setelah limabelas tahun aku dibesarkan di China oleh seorang laki-laki tua yang memiliki gelar Master of Acupunture, aku mulai berguru lagi sejak tiga tahun yang lalu kepada seorang pria ex-spy. Pria itu bernama James Kurt, the Blood’s Maniac.

Who … are … you?!

“Ah~ Sorry Ronald Archer. I can’t answer it. I have to kill you neatly.”

What?! Ple … ase, I have … wife and son.”

“And … I don’t care—hihi~”

Tanpa banyak bicara lagi, langsung kutancapkan jarumku ke titik vital laki-laki beruban itu tepat di pembuluh Arteri. Dalam kondisi terikat di kursi, ia bergetar kencang, berteriak lantang. Sepertinya darah di tubuhnya mulai berhenti mengalir. Ah, aku dapat mendengar rintihan terakhirnya, juga degup jantungnya yang mulai memelan. Tidak tega sebenarnya, namun aku harus membunuhnya. Perintah dari James.

Nice~” celetuk James yang tiba-tiba muncul dari balik bayang-bayang tembok ruangan sempit ini. Ia menepuk telapak tangannya, berusaha memberi applause ringan untukku. Aku dan James berada dalam sebuah gedung bekas kantor kepolisian.

Menurut sejarah, gedung ini yang telah menjadi ‘rumah’ bagi James pernah terjadi kebakaran hebat sekitar tigapuluh tahun yang lalu, dan sulit untuk diselamatkan lagi. Ya, lagi-lagi kebakaran. But, I don’t care. Yang penting aku sekarang harus mengasah gift ini semaksimal mungkin. Meski mengharuskanku untuk tunduk kepada James—mantan kepala badan intelijensi—yang dijuluki Blood’s Maniac.

Okey, last task before I acknowledge you as the spy. You have to stalk the Chief of Intelligence Agency, Wilson Green. Get as much information as possible. After that … bring him to me.”

And, the reason?”

“No reason. Remember, on my own eyes, you are still a little stalker.”

“Huh, okey,” imbuhku sambil melengos menuju atap gedung ini. Tugas terakhir? Hihi, aku hanya bisa tertawa kecil saja. Sudah berulang-kali aku mendengar kalimat ‘tugas terakhir’ dari mulut James, dan aku mulai muak dengan janji-janjinya. Aku mulai muak membunuh tanpa mengetahui alasannya. Mungkin kali ini aku tidak bisa membiarkan James melanggar janjinya. Enough, pikirku.

Atap gedung ini merupakan spot favoritku. Soalnya aku bisa mendengar segala hal yang tidak dapat di dengar manusia biasa. Kutarik sebuah benang yang tersimpan di telingaku. Sebuah benang yang ujungnya berbentuk bundar berbahan lunak, aku menyebutnya wire. Ayah angkatku di China menyuruhku untuk memasang wire untuk meredam gift-ku. Memang kuakui, awal-kali aku memasang dan melepas wire, rasanya seperti melepas duri yang menancap di kulit. Tapi sekarang aku sudah terbiasa. Aku memfokuskan pendengaranku pada sebuah nama, Wilson Green.

Bztt … ‘

‘Nging … ‘

‘Chattering’

“Hey ….”

“Wilson Green. How are you?!”

Yes, aku mendengar seorang pria memanggil nama target dengan lengkap. Biasanya aku butuh berjam-jam hingga seseorang menyebut nama targetku, tapi sepertinya dewi fortuna menghampiriku malam ini. Asal suaranya sekitar beberapa blok dari sini.

Tanpa membuang waktu lagi, aku langsung mengunci sumber suara itu lalu menggunakan teknik parkour seraya menuruni gedung ini melalui celah-celah sempit di sisi luar. Meskipun aku mengenakan gaun berwarna pink, bukan berarti kecepatanku berkurang. Beberapa menit kemudian, aku mendaratkan badanku di jalanan distrik Tarell. Lalu aku berjalan menuju sumber suara.

Aku memasang earphone berwarna pink lalu kutancapkan ke cellphone-ku. Aku menggunakan musik sebagai pengganti wire, untuk meredam pendengaranku. Tiba-tiba ada segerombol cowok yang mengusik langkah kakiku. Mereka membawa botol minuman keras, aroma alkohol tercium kuat dari arah mereka.

Pretty Lady. Here, come with us. We will give you the best pleasure—hahaha!”

Cih, kayaknya mereka tidak tahu siapa aku. Langsung kuambil beberapa jarum berukuran tipis namun panjang dan runcing. Sebenarnya, di dalam dompet kecilku terdapat ratusan—atau ribuan—jarum yang aku pesan langsung dari China.

Get lost, before I take your life—hihi~” balasku sembari terus berjalan kedepan. Sepertinya ucapanku membuat sekitar tiga cowok itu naik darah.

C’mon! Let’s fu** with us tonight!”

Salah satu cowok berusaha memeluk badanku, aku berhasil menghindar ke belakang menggunakan teknik backflip. Para cowok hidung belang berdecak kagum melihat kegesitanku. Sepertinya mereka tidak tahu sedang berurusan dengan siapa. Sungguh malang nasib mereka, hihihi.

Tanpa menunggu serangan selanjutnya, aku langsung melayangkan jarum-jarum ke arah sekelompok cowok itu hingga mengenai tepat di dada. Mereka langsung tergeletak tidak bernyawa. Aku menggunakan teknik yang sama ketika aku membunuh Ronald Archer.

Aku mengambil sarung tangan plastik dari dalam dompet. Aku bermaksud mengatur supaya tiga cowok malang itu mati karena kebanyakan minum alkohol. Tidak percuma aku berguru kepada si maniak membunuh, karena aku mendapat ilmu untuk merekayasa pembunuhanku sendiri.

Sejurus kemudian, aku tiba di sebuah rumah di mana Wilson Green berada. Aku melihat ada sebuah taman tepat di samping rumah Wilson. Langsung kusinggahi tempat duduk di taman serta kulepas earphone di telingaku, alih-alih untuk mencuri dengar apa yang diucapkan mulut dan pikiran Wilson. Sebenarnya aku baru saja mengetahui kalau aku bisa mendengar apa yang dipikirkan seseorang. Membuat kemampuan spy-ku menjadi lebih maksimal.

‘Chaterring’

“So … Wilson, what did you get about the Blood’s Maniac, James Kurt?”

“I have all informations about him. The files are on my office. You can process it into further action tomorrow, mate.”

“All right. Give it to me, tomorrow. I’ll leave.”

“Okey”

Sosok pria berumur keluar dari rumah Wilson. Sekarang aku tahu apa maksud dari misi ini, Wilson sepertinya telah memata-matai James. Sepertinya ada satu informasi yang belum aku peroleh, yaitu nama file tentang James. Aku berusaha mencuri dengar apa yang dipikirkan Wilson, “Now, I can retire peacely. Tomorrow he will receive documents named file-09 and all chaos because of James will be over.”

Got it. Sekarang, aku harus menghubungi James melalui cellphone-ku. Aku ingin tahu apa tindakan James ketika mengetahui dirinya sedang dalam bahaya. Aku menyahut kala panggilan teleponku diterima James, “I have informations,”

“Yes. What did you have got?”

“Wilson has all informations about you. The documents named files-09 and he will give them to the police officer. Is that enough?”

“Yes it is. I will take care of the documents. Now, bring Wilson to my place.”

“Okey,”

Kuputus panggilan, lalu aku mulai beranjak menuju rumah Wilson. Sepertinya aku harus menggunakan skema khusus untuk Wilson, karena aku jarang sekali menculik tepat di rumah targetku sendiri.

Knock-knock’

“Yes a minute please.”

Terdengar derap langkah dari balik pintu rumah berukuran besar bertingkat dua. Tidak ada pagar yang membatasi tamu. Juga tidak terlihat bel di dekat pintu. Keputusan mengetuk pintu sepertinya menjadi satu-satunya pilihanku saat ini. Yah, bolehlah untuk berimprovisasi sedikit, hihihi.

Beberapa detik kemudian, terlihat wujud pria membuka perlahan pintu rumahnya. Ia berkata pelan, “Who are you, Lady?”

“I am your stalker, trick or threat? Hihi~”

***

~Presence Day~

2015

-Venus’s Prespective-

Fokus, Ven!”

Gila, aku hampir tertusuk belati runcing. Untung saja Shinta berhasil melayangkan jarum-jarumnya dan menjatuhkan pria yang berusaha membunuhku. Sekitar sepuluh pria bertopeng ying-yang bersenjatakan belati mengepung kami di gang kecil dekat gedung elit milik pemerintah distrik ini, distrik Millenial. Mereka menyergapku dan Shinta yang hendak menyelesaikan misi membunuh pimpinan NWO distrik Millenial bernama Vincent yang ternyata adalah salah satu pejabat penting di distrik ini.

“Bergunalah sedikit, Ven. Jangan sampai aku mengganti julukan Assassin-mu jadi Comedian~”

Sial, ledekan Shinta benar-benar mengiris harga-diriku. Kuingat-ingat lagi gerakan Taekwondo yang kupelajari di situs internet ‘Metube’. Begini-begini, aku juga sering melatih otot-ototku. Seluruh fasilitas olahraga di taman sering kugunakan untuk membentuk perutku hingga sixpacks.

“Ciat … !”

Kulayangkan tendangan memutar—beruntung—berhasil mengenai dua pria hingga tersungkur ke lantai. Aku merasakan aura membunuh dari belakang. Kuputar tubuhku dengan sedikit membungkuk hingga menekel kaki pria itu. Lalu aku menghantam ulu hati pria itu hingga pingsan. Aku mengamuk.

“Hebat kan aku?” celetukku kepada Shinta yang tampaknya menyadari kemampuan beladiriku. Ia bergumam kecil kala melihatku pamer kekuatan, “Nice~”

Tiga pria telah kuhabisi, dan Shinta juga telah merobohkan tiga. Tinggal empat musuh lagi. Dalam benak aku berucap, mengapa hidupku jadi penuh dengan action? Entahlah, sekarang aku harus bertahan dari serangan-demi-serangan. Aku menghindar semampuku. Latihan jogging, push-up, dan sit-up seratus kali setiap pagi selama setahun ternyata tidak sia-sia.

“Nunduk Ven!”

Shinta tiba-tiba menyuruhku untuk menunduk. Entah apa maksudnya, tapi kuikuti saja intstruksi Shinta. Sontak ia melayangkan puluhan jarum hingga mengenai keempat pria itu. Aku mengibaratkan Shinta seperti landak atau kaktus yang meluncurkan duri-durinya membabi-buta. Amazing, pikirku. Hanya satu yang jadi pertanyaan, di mana Shinta menyimpan seluruh jarum-jarum itu?

Akhirnya pertarungan telah berakhir. Tampaknya Shinta masih lebih ahli dalam menghabisi musuh daripada aku. Beberapa pria pingsan, beberapa lagi mati, tapi lebih banyak yang mati daripada pingsan. Karena lebih banyak Shinta yang beraksi daripada aku. Benar-benar mengecewakan.

Plok-plok-plok’

Tiba-tiba terdengar seseorang memberi applause. Aku dan Shinta mencari sumber suara itu, lalu aku menyadari ada sosok pria yang telah mengawasi seluruh aksi kami sedari tadi. Kehadiran pria itu membuat Shinta memekik lantang, “Ja … James?! You were supposed to death!

-BERSAMBUNG-

 

 

Read previous post:  
19
points
(2000 words) posted by rirant 3 years 30 weeks ago
63.3333
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fantasi | #fantasi #bersambung #imajinasi #mistery
Read next post:  
Writer kemassaputra
kemassaputra at Hyper Senses [Episode 5] (3 years 28 weeks ago)
100

Well, i'm not good in english. So i don't have to give comments on it. Uwalah ngomong opo aku iki #plakplak :D
Maswin kurang bisa mengomentari seperti teman-teman lain disini. Tapi sejauh ini bisa menikmati cerita apik yang disajikan dari tiap episodenya :D

Menurut maswin ini adalah ciri khas seorang RIRANT dengan gaya bahasa yang gaul tapi gak norak :D

I like it :D

Writer rirant
rirant at Hyper Senses [Episode 5] (3 years 28 weeks ago)

Ah bisa aje maswin ini hoho. Masih banyak salah sini situ atuh mas :p
-
Makasih ya mas udah berkenan mampir lagi, salam nulis :D

Writer kemassaputra
kemassaputra at Hyper Senses [Episode 5] (3 years 28 weeks ago)

Well oke my little brother :p

Writer hidden pen
hidden pen at Hyper Senses [Episode 5] (3 years 28 weeks ago)
80

Hhmm kurang lebih aku suka gaya ceritamu, yaahh sejujurnya bahasa inggris sedikit membuatku ilfil . Karena aku sendiri tidak bisa bahasa inggris #plaakk

Tapi bagus koq bila di slipkan bbrapa bahasa asing, jadi kelihatan gaul. Btw shinta aja yg pake bahasa asing? Yang lain gk bisa? Huehehe

Saran aja, hhmm masa lalu shinta lebih baik di ceritakan sewaktu bertemu james saja, agar kelihatan twist gitu. Mengapa shinta terkaget kaget bertemu james. Naahh langsung di ceritakan flashback pertemuan james dan shinta.

Ok aku mau ngumpet lagi. Dadahh hehe kkabbuurrr.

Writer rirant
rirant at Hyper Senses [Episode 5] (3 years 28 weeks ago)

Bisa gitu loh bang ngomong ilfil itu kan bahasa inggris hahahak.
-
Itu Venus ngomong amazing, berarti dia bisa bahasa inggris hohoho.
-
Wah iya ngga kepikiran buat flashback di bagian pas ketemu James, makasih bang sarannya :D
-
Yah kok kabur, tungguuuu :p

Writer daniswanda
daniswanda at Hyper Senses [Episode 5] (3 years 29 weeks ago)
60

Hi Rirant. Positifnya dulu ya, gue suka cara menjelaskan background masing2 karakternya dengan flash back. Mirip film2 bergenre sama. Tapi saran aja sih, mending flashback dan kelanjutan ceritanya jgn di jadiin satu episode, soalnya dua2nya pake PoV org pertama walaupun untuk karakter berbeda jadi agak bingung bedain yg mana Shinta yg mana Penis..eh, Venus maksudnya.

Sekarang yg pedes2 hohohohoho.
Pemakaian bahasa inggrisnya harus banyak diperbaiki nih. Contoh:
“Ja … James?! You were supposed to death!” --> harusnya you were supposed to be dead.
Acupunture --> typo, harusnya Acupuncture,
“No reason. Remember, on my own eyes, you are still a little stalker.” --> mending dibuat "Remember, in my eyes, you are still a little stalker."
“I am your stalker, trick or threat? Hihi~” --> gue nggak tau ini sengaja typonya atau bukan, tapi yg bener trick or treat.
“Yes. What did you have got?” --> harusnya "Yes, What do you have?"
~Presence Day~ --> harusnya present day.
“Now, I can retire peacely. --> yg bener peacefully.
Saran gue mending di google dulu aja...gue juga gitu kok biasanya :D
Cheers

Writer rirant
rirant at Hyper Senses [Episode 5] (3 years 29 weeks ago)

Ah bang Danis thanks krisannya, ane doyan kalo pedes gini hahahak...
-
Ah, satu cerita satu pov yak, okee ngga terulang lagi bang :D
Venus bang bukan penis, ntar ada yang salahpaham loh hahahak...
-
Wah yang pedes tentang b.ing semua yak, banyak kekeliruan ternyataa, gomenn~ makasih bang sudah di ingatkan hehehek. Oh iya, yang trick or threat itu sengaja bang hahahak.
-
semoga berkenan mampir lagi yak bang :D