Kisah Murid Imut dan Guru Tampan

Tes, tes, satu, dua, tiga. Ada orang di sini? Kalau tidak ada orang lebih baik lagi. Baiklah, tidak perlu memedulikan canda yang tidak lucu ini. Haha –ketawa datar.

Jadi begini, aku ingin bercerita sedikit tentang pengalaman seorang perempuan cantik, manis, mungil, dan lucu tentu saja. Kalau ingin tahu siapa orang itu, tentu saja perempuan itu adalah aku sendiri. Tidak perlu terkejut begitu, aku sangat tahu kenyataan ini. Jadi aku tidak ingin dan tidak bisa meutup-nutupi kebenaran ini. Aku hanya mencoba jujur di sini.  

Kembali ke topik,  tadi sampai di mana ya?

Oh iya, aku lupa lagi. Panggil saja aku sebagai si A. Biar seperti orang-orang yang minta dipanggil si Anu, si Inu, si Onu, dan si si si kawannya biar suasana tetap menjadi misterius. Tadi sih aku mau minta dipanggil si Anu tapi nanti kalian pikirannya yang aneh-aneh, padahal aku kan tidak salah apa-apa. Jadi panggil saja aku si A, biar seperti artis korea. Ada tuh ya, yang dipanggil L padahal nama aslinya Kim Myung Soo kalau aku tidak salah sebut.

Begini, aku mau berbagi pengalaman. Kalian pernah jatuh cinta kan? Kalau belum pernah, berarti selama ini Anda tidak tinggal di Bumi. Hewan saja bisa jatuh cinta, masa Anda kalah. Malu ‘kan?

Diam semua, jangan ada yang bersuara dahulu. Aku mau memulai cerita yang begitu mengharukan hati, jiwa, dan raga kalian. Ini bukan sekadar cerita cinta biasa atau pun cerita monyet, bebek, macan, dan teman kebun binatang lainnya. Ini kisah mengalahkan romansa Romeo dan Juliet, bahkan pasangan yang mati di kapal Titanic juga.

Kisah ini dimulai saat aku mulai duduk di bangku SMA, tepatnya saat diriku masih di kelas sebelas. Ada seorang guru bahasa Jerman yang terkenal sangat tampan, muda, rupawan, keren, dan tentunya, jago berbahasa Jerman.  Namanya saja guru muda, sudah pasti anak-anak remaja sepertiku jelalatan melihatnya, atau panggil saja dia Pak B. Sebenarnya, aku sudah lupa, siapa nama guru itu.

Awalnya, keadaan sekolahku tentram saja sebelum kehadiran Pak B menimbulkan konflik yang biasa kita sebut sebagai ‘kenakalan remaja’. Kasus ringan hingga berat mulai menimpa kami, baik sebagai pelaku maupun korban.

Kasus ringannya itu minta nomor telepon Pak B, foto bersama Pak B, minta tanda tangan Pak B. Kalau masalah kasus beratnya ini agak susah ya karena pelakunya itu sudah diambang normal dan tidak normal. Kasus berat yang paling sering terjadi anatara lain, putus dari pacar, mendadak jadi penguntit, mendadak menjadi maling barang. Bahkan pernah ada kasus Pak B kehilangan celama dalamnya, sungguh malang nasibnya.

Untuk menanggapi kasus ringan para guru masih bisa masa bodoh saja. Namun, untuk kasus berat, polisi sudah siap berjaga di pos-pos polisi terdekat.

Kalau untuk kasusku sendiri mungkin sedikit tergolong kasus berat ya. Bagaiamana mengatakannya ya? Ini sedikit susah untuk diungkapkan.

Aku dan Pak B, memiliki suatu... suatu... suatu kisah. Seperti yang aku katakan tadi, ini bukan sekadar kisah biasa. Ini kisah romansa antara murid imut dengan guru muda. Wah, ini sudah terdengar seperti judul Ftv yang biasa muncul di program-program televisi kesayangan Anda.

Kisah ini berawal ketika Pak B tak sengaja menabrakku dengan motor Ninja kesayangannya. Bayangkan betapa besar motor milik Pak B dan harus menabrak tubuh mungil dan tak berdayaku. Sakit sekali bukan rasanya? Bagai ditusuk-tusuk dengan pisau gergaji, lalu dipoles dengan amplas hingga halus.

Bist du in Ordnung?” tanyanya yang membuatku memelototkan kedua bola mataku karena baru saja mendengar bahasa alien dari planet antah-berantah. Namun, aku segera tersadar jika yang sedang dikatakan Pak B adalah bahasa Jerman. Pak B keturunan asli Jerman sehingga dia lebih fasih berbahasa Jerman dibandingkan bahasa Indonesia.

Aku berusaha mengingat pelajaran bahasa Jerman yang sudah Pak B ajarkan padaku di kelas. Meski tidak lancar untuk mengucapkannya namun aku harus melakukannya demi harga diriku di depan guru tampan. “I-ich bin ni-nicht in Ord—ordnung. Mich sehr krank, Sir.”

Beberapa butir air ludahku menyembur ke wajah Pak B karena pengucapan bahasa Jerman yang agak-agak membutuhkan penekanan.

“Es tut mir leid. Ich habe nicht aus Versehen Sie hit. Was soll ich tun?

Bolehkah aku pingsan saja? Aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang diucapkan oleh makhluk tampan satu ini.

“Pak B yang sungguh tampan dan menawan, pahamilah muridmu yang tidak bisa berbahasa Jerman. Pak B sudah membuatku terluka, masih juga tega menanyaiku dengan bahasa Jerman. Kau sungguh kejam, Pak. Aku tidak menyangka selama ini jika perilakumu begini. Aku sungguh kecewa.”

Ini hanya perasaanku saja, atau matanya sedikit berputar, aku tidak tahu pasti. Dan aku tidak ingin tahu, karena makhluk tampan satu ini menjadi sangat tampan ketika menatapku. Mungkin dia jatuh cinta padaku, pikirku.

“Maafkan saya. Sungguh saya tidak bermaksud. Saya pikir kau sangat lancar berbahasa Jerman. Siapa namamu?”

“A. Panggil aku A.”

“Baiklah, A. Apa yang bisa saya lakukan untuk menebus rasa kesalahan saya yang sudah menabrakmu?”

Tangan kiriku mengangkat sedikit ujung rokku, aku melirik kakiku yang sudah kotor karena bergesekan dengan aspal. Tidak salah ‘kan jika aku memanfaatkannya? Dia yang menawariku. Aku menggigit bibir bawahku dan memasang wajah berkaca-kaca.

“Kakiku sangat sakit, Pak B. Kau tahu, kurasa untuk bangkit berdiri saja aku tak akan sanggup. Ini sungguh sakit yang menusuk jiwa dan ragaku, sangat pedih dan perih, sungguh menyayat hati. Bagaimana jika kau mengantarku pulang dan merawat luka-lukaku?” tanyaku semanja mungkin.

Aku menaikkan untaian rambutku yang terjatuh sehingga menimbulkan kesan seksi. Pak B tak menjawabku namun dia menggendongku hingga ke jok belakang motornya. Wah, akhirnya aku bisa naik motor mahal. Beginilah nasib jomblo yang tak mampu punya pacar orang kaya, pacar saja tak punya.

Dengan gagah berani serta karisma yang tak tertandingi, Pak B mengendarai motornya setelah dia bertanya di mana alamat rumahku.

Aku baru teringat adegan drama yang kemarin kutonton, ada adegan berpelukan saat naik motor. Harus aku praktekkan sekarang juga!

Aku segera memeluk Pak B dengan erat agar tampak seperti di drama. Tetapi kenapa rambutku tidak bisa berkibar-kibar seperti di drama ya? Apa efek sampo sangat mempengaruhi keluwesan rambut saat bertemu angin? Atau aku harus bertanya pada anak IPA bagaimana cara menghitung kecepatan angin pada rambutku agar bisa berkibar layaknya bendera merah-putih yang berkibar gagah di tiang bendera?

“A, A, A,” panggil Pak B.

Aduh, suaranya seksi sekali.

“Iya, Pak B. Ada apa?” Aku berusaha menunjukkan suara seksiku disertai desahan manisku.

“Bisa tidak, meluknya jangan erat-erat? Saya tidak bisa bernapas.”

Ya ampun. Aku segera melepaskan pelukanku dari Pak B, namun tiba-tiba angin berhembus sangat kencang hingga nyaris saja melemparkanku ke belakang di mana para aspal siap menggoreng kulitku. Tapi tangan kokoh yang dipenuhi otot-otot tak tampak dengan sigap menangkap tangan mungilku. Ah, jadi malu.

Tak lama setelah adegan mesra kami di motor, kami tiba di rumahku. Untung saja kedua orang tuaku sedang pergi ke luar kota, jadi tak akan ada yang bisa mengganggu kemesraan kami. Haha.

Aku mengedipkan kedua mataku, memberi Pak B kode agar menggendongku masuk ke dalam rumah. Pak B terus menatapku, kurasa dia paham pada kodeku.

Was mit dem Auge ist falsch, A?”

Aku menaikkan ujung bibirku saat Pak B mulai berbicara bahasa planet dari antah-berantah yang disebutnya bahasa Jerman.

“Maaf, maksud saya apakah matamu baik-baik saja? Matamu sakit?”

Brak. Makhluk tampan ini tidak peka terhadap rangsangan. Masa dia kalah dengan tumbuhan yang terkenal peka terhadap rangsangan. Haruskah aku berpacaran dengan tumbuhan yang sangat peka jika diberikan kode? Bisa dicoba.

“Mataku tidak sakit, Pak B. Tapi hati saya yang sakit melihatmu yang begitu kejam padaku, mengapa kau tidak peka? Mengapa kau tidak menggendongku ke dalam rumah?” ucapku berterus-terang.

“Maafkan saya.”

Pak B menggendongku ke dalam pelukannya. Ah tidak, aku dapat merasakan ada banyak otot di balik kemeja birunya ini. Aku ingin membukanya, aku ingin melihatnya. Dia pasti sangat seksi.

Tuhan, mengapa kau beri cobaan padaku? batinku.

Kami masuk ke dalam rumahku yang gelap bagaikan malam tanpa ditemani rembulan. Pak B segera kutuntun ke ruang tamuku. Di sana dia menurunkanku ke sofa.

“Tunggu sebentar ya,” pamitnya. Dia akan melakukan apa? Dia membuatku penasaran saja.

Tak lama Pak B kembali lagi dengan sesuatu di tangannya, namun... ke mana kemeja biru yang tadi melekat di tubuhnya? Astaga, tubuhnya benar-benar sempurna seperti dugaanku tapi apakah dia benar-benar akan melakukan ini padaku?

Aku tidak sanggup, aku masih belum mampu.

“Jangan takut, A,” ucapnya.

Aku tidak takut, tapi belum siap.

“AH!” teriakku saat Pak B mulai menyentuhku. Jangan!

“Tidak apa, A. Ini hanya sakit sebentar saja.”

“Jangan, Pak B! Jangan!” Aku mencengkeram sofa.

“Sabar, A, sabar.”

“Ah, sakit,” rintihku.

“Sebentar lagi selesai, A.”

“Aku sudah tak sanggup, Pak B.”

Napasku menderu tak teratur saat Pak B selesai melakukannya. Keringat membanjiri keningku. Aku melepaskan cengkeramanku dari sofa.

Pak B mengusap keringat yang membanjiri pelipisnya.

“Sudah selesai, A. Sudah tidak begitu sakit lagi kan?” tanyanya. Aku mengangguk lemah menjawabnya.

“Kok Pak B pintar pijat sih? Aku tidak menyangka loh.”

Pak B tersenyum ramah padaku. “Orang tua saya kerjanya tukang pijat, jadi ya saya pintar mijat juga sama seperti orang tua saya.”

Ganteng-ganteng kok tukang pijat, batinku.

Inilah sepenggal kisah romansaku dengan guru tampan yang ternyata jago pijat. Lihatlah, Romeo-Juliet saja kalah ‘kan? Mereka tidak memiliki adegan pijat seperti yang dilakukan Pak B, meski sangat menyakitkan namun itu sangat berkesan di jiwa dan ragaku. Terima kasih sudah membaca kisah dariku. Saya undur diri dulu.

 

Salam manis,

 

Perempuan Imut.

 

 

P.S.

Bist du in Ordnung?” (Apakah kamu baik-baik saja?)

Ich bin nicht in Ordnung. Mich sehr krank, Sir.” (Aku tidak merasa baik-baik saja. Ini sangat sakit. Sir.)

“Es tut mir leid. Ich habe nicht aus Versehen Sie hit. Was soll ich tun?” (Maafkan aku. Aku benar-benar tidak sengaja menabrakmu. Apa yang harus kulakukan?)

Was mit dem Auge ist falsch, A?” (Matamu kenapa, A?)

 

P.P.S.

Aku nggak yakin ini benar-benar komedi atau bukan, tapi waktu aku nulis sih ketawa, atau mungkin selera humorku yang garing juga nggak tahu lagi. Untuk penggunaan bahasa Jerman, mohon dimaafkan jika ada kekeliruan. Aku hanya mengandalkan google translate yang kadanhg nggak bisa dipercaya kebenarannya. 

Read previous post:  
42
points
(1624 words) posted by Leo_dominica 3 years 30 weeks ago
60
Tags: Cerita | Cerita Pendek | misteri
Read next post:  
Writer Shinichi
Shinichi at Kisah Murid Imut dan Guru Tampan (3 years 27 weeks ago)
30

untuk ukuran kisah A dan B yg berakhir di sebuah situasi yg menunjukkan sebuah kenyataan yg tampaknya ingin berkesan wah, efek kejut, atau konyol, cerpen ini terlalu bertele-tele. bahkan untuk poin bahwa sebaiknya cerpen harus dimulai langsung pada konfliknya, cerpen ini membuang waktu pembaca dari satu sampai lima paragraf awal. akhirnya saya gagal dapat komedinya, baik narasi easy pun twist. selain ini disajikan dgn redaksi cukup baik, saya enggak dapat apa2. kip nulis dan kalakupand.

Niatnya sih mau bikin genre komedi tapi rasanya sampe akhir masih fail. /sayamenyerah/

Writer daniswanda
daniswanda at Kisah Murid Imut dan Guru Tampan (3 years 29 weeks ago)
70

Saya mulai nyengir pas adegan ludah muncrat gara2 bahasa jerman, berharap ada punchline2 lain setelah itu. Tapi sampai akhir ternyata ga bs klimaks nyengirnya. Well tp lumayanlah buat yg ga pernah nulis komedi ;)

pernah nulis sih tapi udah fail. beberapa kali nulis hasilnya juga entah gak bisa ngasah kelucuan gitu /dor wkwkw

Writer The Smoker
The Smoker at Kisah Murid Imut dan Guru Tampan (3 years 29 weeks ago)
70

Ah, rambuuttttt.. Rambuuutt...
Sepokat sama Nine, komedi emang susah, karena pasti punya selera sendiri. saya cukup mesem geli gitu membaca cerita ini...
Untuk ending sii emang udah pasti ke situ.
Sekian aja Tiff,

ahayy komedi always bikin aku muter otak dan hasilnya zonk wkwk

80

.
Hore~ Tiffa udah kelar tantangannya~~ *kiss kiss
.
Komedinya saya rasa lumayanlah. Ide ceritanya udah ngomedi tapi kurang celetuk2an yang bikin nyengir paling. Mungkin itu, tapi nggak tau juga. Sense of humour pembaca relatif sih. Tapi kerja kerasnya Tiff udah kliatan kok. Good.
.
Diambang-->> di ambang
.
Bagaimana jika kau mengantarku pulang dan merawat luka-lukaku?” tanyaku semanja mungkin. (kata 'tanyaku' diganti 'pintaku' lebih pas mungkin)
.
Beginilah nasib jomblo yang tak mampu punya pacar orang kaya, pacar saja tak punya. (saya gak ngerti narasi ini maksutnya apa)
.
Wes ngono ae. Turu maneh :-P

yah gini deh padahal kalo ngelawak sama temen biasa tapi nulis itu kaya nguras otak seabad tapi gak hasilnya zonk alias garing wkwk
makasih kak dem masukannya ahayy

Writer hidden pen
hidden pen at Kisah Murid Imut dan Guru Tampan (3 years 29 weeks ago)
80

Judulnya lucu, jadi kupikir ini garing, bikin kesel dan lucu banget menurutku.

Bukan karena melihat akhirannya ente mengatakan bahasa planet itu hasil terjemahan dari google translate yang surprise bikin gwe senyum sendiri.
Guwe kira ente emang bisa pake bahasa itu. Nyatanya tidak. #gubraakk

Teetapi melihat kelakuan A dan B. Percakapannya kayaq orang di ranjang saja. Engg ahh ini di jadikan. Kemesuman boleh juga #plaakk

Yaahh ehm
Ada beberapa yang membuatku hampir saja melarikan diri. Berasa curahan hati tetapi kurasa penulisnya emang gk sungguh-sungguh curhat.

Yaialah, masak menceritakan kisahnya dengan pak guru di khalayak rame. Malu aku malu.

Ehm ok. Cuman ceritanya terlalu melebih-lebihkan kayaq kisah romansa di buat segitu aja. Hadeuh auk ah gelap. Aku bukanlah type romansa. Cuman perassanku melihat kesan romansanya di paksakan.
Cuman itu.
Menurutku

Ehhm anyway

Kkaabbuurrr

wkwkwk itu niatnya mau pake guru mandarin tapi berhubung susah nulisnya ya udah pake bahasa jerman yang super fail soalnya nyontek gugel /dor.
ceritanya mau bikin pake pov ala abege masa kini, agak lebay lebay manja gitu /dor tapi kesannya jadi super menye wkkw

Writer Nine
Nine at Kisah Murid Imut dan Guru Tampan (3 years 29 weeks ago)
100

Selama membaca saya mencari-cari kalimat narasi, petingkahan karakter, atau dialog yang bisa membuat ketawa saya lepas tapi sayangnya saya tidak menemukan itu di cerita ini. Ya, memang selera komedi tiap orang berbeda-beda. Suatu pekerjaan yang berat untuk menuliskan sebuah fiksi komedi di mana komedinya itu universal (diterima khalayak ramai). Kalau boleh berbagi sudut pandang--setelah beberapa hari kemarin saya juga mencari referensi-referensi tentang tulisan komedi dan juga bacaan-bacaan saya yang lalu--kebanyakan, komedi-komedi yang berhasil malah bukan yang mengisahkan cerita lucu (Pak Guru ganteng yang sebenarnya tukang pijit misalnya) tapi komedi yang berhasil (setidaknya di saya, subjektif) itu adalah komedi yang melucukan sebuah tragedi. Tentu hal ini dilakukan/dituliskan dengan penggunaan kalimat-kalimat yang tidak berlebihan dan gaya penceritaan yang jujur. Maksudnya, si penulis tidak benar-benar berusaha melucu (seperti membuat kalimat-kalimat banyolan atau adegan yang menurutnya bisa menjadi lucu di mata pembaca) tapi cenderung si penulis menuliskan secara jujur tentang buah pikirannya--mungkin lebih tepatnya "sudut pandang"--tentang subuah kejadian atau fenomena yang menurutnya UNIK. Mereka-mereka yang mahir melakukan itu cenderung menghasilkan sebuah fiksi yang lucu dan asik diikuti. Setidaknya itu yang saya pribadi rasakan.
.
Untuk cerita ini, walau tak ada yang membuat saya ketawa atau merasakan sebuah kelucuan di sini, tetap saya tertarik untuk membaca sampai akhir. Narasinya mungkin. Terus terang saya juga bukan seorang pengamat komedi, namun sebagai orang yang suka akan hal itu (komedi) inilah komentar yang sekiranya bisa saya berikan. Mohon maaf apabila ada yang menyinggung perasaan. Semoga berkenan.
.
Salam olahraga

Niatnya mau bales komen udah dari jaman kapan tapi malah kelupaan mulu /dor. Lalu aku lupa mau bilang apa, tapi ya gini kalo diniatin bikin komedi jadinya super fail gitu deh padahal kalo lagi ngelawak sama temen bisa sampe sakit perut wkwkwk