Namanya Luki

Apa yang salah dicerpen ini? Lucunya? Mungkin, masih berharap soalnya.... Mungkin kritik saran sangatlah membangun.

Pak Karim, nama sebenarnya, 53 tahun. Salah satu kandidat ketua karang taruna. Seorang juragan sawah, sudah berangkat manasik haji beberapa kali, manasik umroh apalagi. Tapi enggan berangkat haji atau umroh beneran. Berat di ongkos. Yang memiliki rumah besar berpagar tembok tinggi mengelilingi kebun buah-buahan di pekarangan. Tentu rumah besarnya harus tampak lebih mencolok, lebih mewah, lebih megah, dan lebih menarik dibandingkan rumah-rumah tetangga. Itu harus! Namanya juga orang terpandang. Cat pagar tembok yang mengelilingi rumahnya memang sudah kusam. Wajib hukumnya menjadikan cemerlang lagi. Tapi jangan sampai keluar biaya banyak-banyak.

Pak Karim ini merasa dirinya orang kaya paling cerdas, paling pintar di seluruh  kampung, ah tidak, mungkin Indonesia, mungkin juga dunia. Pokoknya merasa paling hebat deh. Sambil membaca koran bekas yang dibeli dari tukang rombeng, (mungkin semacam tukang loak di tempat kalian) ditemani segelas es jeruk dan roti sisir, dia terlalu bangga akan kehebatannya. Tak henti-henti memuji diri sendiri. Selain cerdas, aktingnya nggak kalah sama artis-artis papan atas, papan menengah, papan bawah, papan skor, papan skateboard, papan tulis, sampai papan penggilesan. Apa pasal? Dia berhasil menipu pemuda lugu tetangganya. Dia bisa membuat pagar temboknya cemerlang dengan biaya murah. Mana ada yang mau mengecatnya dengan harga murah? Tapi dirinya berhasil mendapatkan sukarelawan untuk melakukan itu. Dengan berpura-pura demi anaknya yang akan datang, dia ingin mempercantik pagar tembok miliknya. Di hadapan pemuda lugu itu dia berpura-pura pingsan. Karena tak tega, dengan sukarela si pemuda lugu melakukan pekerjaan itu. Bahkan hanya diberi upah 20 ribu untuk tambahan uang saku. Lebih-lebih lagi, tak perlu pusing-pusing memikirkan warna apa yang cocok. Semua sudah satu paket, pemuda itu yang juga memikirkan warna cat yang cocok. Tugas Pak Karim tinggal bersantai di siang yang cerah, menunggu, dan membayar bon cat. Hebat bukan?

Dan pemuda lugu itu namanya Luki. Penampakannya gak jauh beda seperti remaja kebanyakan. Agak tinggi dan nggak terlalu kurus. Rambut agak panjang di bagian belakang saja, tapi rapi. Berantakan seperti tak disisir di bagian depan. Sudah satu jam dia duduk di atas kaleng cat. Bukan memikirkan di cat warna apa. Dia sedang menunggu bala bantuan. Mana bisa mengerjakan semuanya sendiri.

Senyum di bibirnya mengembang ketika bala bantuan sudah kelihatan. Paris, kakak perempuan satu-satunya. Rambutnya bergelombang diikat bagian belakang. Menyisakan sedikit di samping telinga. Jadi tambah terlihat manis, namun ekspresinya kelihatan jutek. Yah, Paris sebenarnya menolak, apalagi setelah dengar upahnya tidak berperi kemanusiaan. Memang sih orang kecil, pendidikan juga belum tinggi meski sudah jadi calon sarjana pertanian dan calon lulusan SMA. Namun, setidaknya bisalah lebih menghargai.

“Jangan lama-lama ya! Aku males berurusan sama orang ini!” Ujar Paris tak suka. Dia memang punya pengalaman kurang mengenakkan dengan Pak Karim. Ketika pohon mangga Pak Karim berbuah dengan lebat-lebatnya, kuning-kuning menggoda, bahkan sampai ada yang terjatuh-jatuh. Paris yang tergiur, minta dengan baik-baik. Tapi sayang, tak diberikan barang sebijipun dengan alasan akan dipanen sendiri dan dijual keesokan harinya. Kesalnya Paris, petang di hari esoknya ia mendapati buah mangganya masih utuh di pohon, bahkan yang berjatuhan pun tetap sama posisinya. Saking baiknya, malam hari itu juga dia mengerahkan remaja kampung untuk membantu Pak Karim memanen buah mangga. Dan pagi selanjutnya Pak Karim dibuat pingsan lantaran tak ada sebijipun buah mangga yang tersisa.

“Tenang! Semakin cepat kita selesaikan, semakin cepat kita pulang!” Jawab Luki sambil bangkit.

“Mau kita cat warna apa ini?”

“Yang menarik kata Pak Karim”

“Warna biru?”

Luki merenung sejenak, “Aku ada ide!” Ujarnya dengan senyum tersungging.

Tak berapa lama, dua makhluk ajaib itu sudah sibuk mengecat pagar tembok rumah Pak Karim. Matahari yang sudah mulai ke barat membentuk samar-samar bayangan dua beradik itu di tembok. Tampak seperti bayang-bayang anak setan sedang menari-nari di siang bolong.

“Awas Mbak! Tanganku kena!”

“Maaf, sepertinya aku sudah waktunya minta dibelikan kaca mata!”

“Ah, kamu bisa melihatnya jelas. Kamu hanya sengaja!”

“Uupss…” Paris menyapukan kuas ke lengan Luki dengan cat merah.

“Mbak! Kamu jangan jahil ya! Kamu bakal menyesal nanti!”

Ketika Luki akan membalas, Paris buru-buru menjauh.

“Sebaiknya jangan! Nanti tak akan selesai-selesai! Hari sudah hampir sore! Aku sudah lapar.” Dalih Paris agar selamat.

“Cepat selesaikan! Bagianku sudah hampir selesai!” Ujarnya lagi mengalihkan fokus Luki.

Tak berapa lama Paris sudah berdiri memandang bangga pada hasil karyanya. Dia mulai mengigau, ternyata ada bakat melukis juga. “Aku suka! Kelihatan lebih bagus! Kenapa dulu aku tak kuliah di seni lukis saja ya?” Gumamnya pelan.

“Mbak, kamu kurang warna birunya!” Ujar Luki sambil menyiram cat biru ke kaos Paris. Kontan si empunya kaos mencak-mencak.

“Lukiiii….. ini kaos dikasih Gilang tahuu…. Aku aja makainya sayang-sayang.”

Luki tak peduli, dia sudah lari karena takut dibalas dengan sadis. Benar saja, Paris tak terima begitu saja. Dengan perlengkapan perang kuas dan kaleng berisi cat, dia mengejar-ngejar Luki. Keduanya jadi saling balas sampai akhirnya tiba di rumah. Alhasil keduanya kena setrap sama Ibu.

“Kalian ini, sudah gede malah mainan krayon!”

Dua kakak beradik saling berpandangan.

Sementara itu, ketika senja sudah muncul, Pak Karim yang baru bangun dari tidur santainya hendak melihat tampilan baru pagar temboknya. Sambil memegangi peci yang akan dipakai, dia melangkah yakin ke arah pagar tembok. Bibirnya terus senyum-senyum sendiri masih memuji kecerdasannya memanfaatkan orang bekerja untuknya dengan harga murah. Saat tepat di hadapan pagar tembok, dia terkejut sampai pecinya terjatuh. Kakinya menegang kaku. Matanya terbelalak, mulutnya menganga.

Masih di antara keterkejutannya, seseorang dari toko bangunan menegur.

“Maaf Pak! Pak Karim ya?”

Pak Karim menoleh, masih melongo.

“Ini bon catnya Pak, katanya langsung minta uang ke Bapak!”

Pak Karim langsung pingsan melihat total bon catnya yang hampir sejuta. Meninggalkan mas-mas tukang tagih bon cat yang kebingungan dan pagar tembok bergambar karikatur Paris dan Luki dihiasi tulisan sebuah slogan.

LHAH, DIKIRA SEKOLAH ITU BAYAR LEMPUNG KALI!

Pak Karim memang benar-benar apes, maksud hati untung malah tekor banyak. Mungkin, setelah itu dia akan tobat dan beneran naik haji.

***

Read previous post:  
Read next post:  
Writer Nine
Nine at Namanya Luki (3 years 32 weeks ago)
100

Bikin nyengir ^^. Suka pas ending, apalagi slogan yg dibuat ama paris dan luki. Ada dialog di bagian tengah yg kerasa nggak sreg di saya. Nggak natural sih (mengingat narasi di sini mulus, hrusnya dialognya juga ngikut). Eee, apalagi yak, enak bacanya. Ngalir. Cuma yaa, nggak bikin terbahak. Ya smua kembali ke selera komedi masing2. Operal, ini menghibur. Salam kenal.

Writer kukuhniam
kukuhniam at Namanya Luki (3 years 32 weeks ago)

salam kenal juga, nah ketahuan, saya juga ngerasa belum bisa bikin dialog yang nggak kaku, masih terlalu biasa dan terkadang maksa juga sih

Writer kartika demia
kartika demia at Namanya Luki (3 years 32 weeks ago)
80

Geli bacanya, tapi gak sampe ngakak sih ^^ Tapi mulus kok alur dan plotnya. Cuman yang terakhir itu, yang soal slogan. Mungkin kata2nya bisa diganti dengan yang lebih sadis, yang sampe pembaca bisa ngakak guling2 begitu. Biasanya klimaks ngomedinya ada di ending sih, biasanya. :D
Udah segitu aja komen tak jelas dari saya.
Salam :)

Writer kukuhniam
kukuhniam at Namanya Luki (3 years 32 weeks ago)

Slogan lebih sadis? Harus bertapa dulu buat mikirnya nih. Maklum, gak bakat ngelawak. Tapi makasih ya

Writer citapraaa
citapraaa at Namanya Luki (3 years 32 weeks ago)
60

Lumayan lucu. Tapi kenapa bonnya sampe sejuta? ._.kan yang ngerjain si Luki dan kakaknya?
Mungkin gaya penulisnya emang gini, ga bikin cerita lucu sampai ngakak guling-guling, cukup bikin nyengir aja. Tapi intinya menghibur

Writer kukuhniam
kukuhniam at Namanya Luki (3 years 32 weeks ago)

Haha... memang gak bakat melucu kok, jadi ya masih berharap aja bisa bikin ketawa, minimal nyengir, menghibur, meski beberapa detik beban di dunia bisa ilang. rencananya sih

Writer kukuhniam
kukuhniam at Namanya Luki (3 years 33 weeks ago)

Haha... kemarin2 sibuk merantau, sekarang uda balik dan kangen luki Luck lagi, wah, makasih Lhoh sama komentarnya, kalau ada kritik saran sampai makian boleh, asal membangun dan sopan,hehe

Writer The Smoker
The Smoker at Namanya Luki (3 years 33 weeks ago)
70

Hihihi...
Lukiluck is back.
Ke mana aja bro? #Sok kenal.
Well, untuk cerita, ini semodel cerita ringan khas lawas. Untuk komedinya, saya geli-geli gimana gitu.
Apa ya...
Yaudah deh gitu aja.
Salam