Gadis Idola

Masih cerita yang berharap lucu! Dan sepertinya gagal. Silahkan dibantai, boleh sadis, tapi tetap sopan! Oh ya, lupa, buat yang belum kenal Luki bisa kenalan dulu di sini

UUD 1945 Pasal 33 Ayat 3 tentang pengelolaan kekayaan alam Indonesia. Sayangnya, kita tak sedang membicarakan itu. Mungkin, terasa cukup hanya ketika jam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan saja. Ada sih segelintir orang yang doyan membicarakan isi pasal itu. Orang-orang yang katanya ingin disebut sebagai pejuang jaman sekarang. Katanya sih memperjuangkan kelurusan dan kesakralan alasan UUD 1945 dan Pancasila dibuat. Katanya juga akan membuat Negara ini mampu mengelola bumi, air, dan kekayaan yang terkandung di dalamnya untuk kemakmuran rakyat, seperti tambang emas di Irian Jaya itu contohnya. Katanya sih gitu. Katanya? Masih katanya?

Dewasa ini, penduduknya rata-rata kurang doyan membicarakan hal tersebut. Mungkin dianggap tabu, atau lebih mengarah pada istilah lupa. Bisa juga karena dulu tidak tahu dan sekarang mengaku lupa. Semua lebih suka membicarakan apa yang sedang ngetrend, menjadi trending topic, sesuatu yang lagi kekinian, atau sesuatu yang dibilang ngetop. Dan SMA Nusa Bangsa, sekolah tempat Luki belajar itu juga terkenal ngetop, apalagi di seantero Kota Malang. Ya, meski bukan yang paling ngetop juga. Pasalnya, banyak murid-muridnya memiliki segudang prestasi yang membuat nama sekolah itu lumayan harum. Mulai dari tingkat kota, provinsi, nasional, bahkan sampai internasional. Keren kan?

Baru-baru ini saja, sudah beredar kabar di koran nasional kalau salah satu muridnya menggondol juara pertama olimpiade biologi tingkat internasional di Australia. Panggilannya Sinta, murid kelas 12 Ipa-1. Memang sudah langganan sih penghuni kelas unggulan itu membuat SMA Nusa Bangsa bangga. Bukan hanya dari prestasi akademik saja, di luar bidang itu pun juga. Gadis yang sedikit lebih cantik, sedikit lebih tinggi, sedikit lebih anggun, dan sedikit lebih proporsional dari yang lain itu sering menjadi langganan model di sampul majalah. Tentu saja majalah remaja, bukannya majalah yasin.

Kebanyakan, yang ngetop itu nggak jauh dari gossip, alias suka diomongin orang. Entah itu membicarakan kekaguman, atau justru kaum tidak suka sedang mencari-cari kesalahan. Ada juga yang menganggap gosip itu sebuah trend hidup, dan pantang buat ketinggalan. Seperti halnya Suri, salah satu murid kelas 11 Ipa-3, yang berarti teman sekelas Luki. Matanya bisa menjadi lebih tajam dari mata elang, telinganya bisa menjadi pendengar super melebihi kelelawar, bahkan mulutnya bisa jadi paling cerewet dan nggak mau kalah sama bebek jika sudah berurusan dengan yang namanya gosip. Begitulah gambaran Suri, seseorang yang bisa sakit tujuh hari jika sedang kehabisan topik untuk digosipkan. Bahkan dia bisa gosipin diri sendiri kalau sedang tidak ada korban.

Dan senin sore itu, ketika sekolah sudah mulai sepi, menyisakan beberapa biji murid saja, termasuk beberapa anak kelas 11 Ipa-3 yang masih asyik nongkrong di kantin. Menghabiskan waktu bersama, seolah-olah besok sudah akan libur panjang. Padahal besok itu masih masuk, dan jadwalnya ulangan fisika. Astaga! Jangan diingatkan! Nanti pada pulang bikin contekan.

Ada Fajal, makhluk paling kepedean di tongkrongan itu. Sayang, pedenya tak seimbang dengan tampilan yang relatif ngepas. Dia lagi sibuk mengintip bayang-bayang anak ekskul chearleaders yang sedang berlatih di dalam kelas dekat kantin. Anak-anak chearleaders memang terkenal cantik-cantik, dan sudah lama Fajal terobsesi punya pacar, apalagi yang cantik. Entah dibilang apa, kurang beruntung atau kutukan takdir, yang biasa saja belum pernah dapat apalagi yang super cantik. Ketika yang lain punya kesadaran Fajal ini kurang ngaca dan rendah hati sedikit, dia punya keyakinan yang berbeda. “Mungkin mereka minder jadi pacar saya! Takut sering makan hati karena banyak yang suka!”

Jika di setiap cerita ada peran orang gendut, rasanya Melon tidak cocok jadi peran itu, ya meskipun dia paling kuat makan. Sekarang saja dia baru saja selesai melahap semangkuk bakso porsi jumbo, sudah berjalan menuju ibu kantin buat pesan nasi goring dan beberapa gorengan yang baru saja keluar dari wajan, sekalian es jeruk. Tapi,badannya justru kurus kering, ceking, mungil, dan hitam. Kadang, setiap di perintahkan maju oleh guru kimia di lab kimia yang papan tulisnya masih kuno, sedikit susah membedakan mana Melon mana papan tulis. Kalau di dalam kelas dia sering duduk di pojok depan dekat pintu sendirian, padahal dia anti duduk depan. Itu karena dipaksa seluruh isi kelas. Lantaran simpatisan pecinta alam itu jarang sekali mandi. Sudah susah dan anti mandi. “Sekarang itu air sudah banyak tercemar, jadi kita harus hemat air!” Kilahnya selalu begitu.

Sementara itu, Luki sedang bermain lempar kulit kacang ke dalam tong sampah bersama Gigies. Gadis manis teman sekelas Luki yang punya gigi gingsul. Kalau tersenyum bisa bikin semua yang namanya kejahatan di muka bumi ini sirna, itu canda Luki. Dia terkenal jadi teman kompak Luki yang sering kemana-mana bareng. Sampai ada yang mengira mereka berdua pacaran. Dan pernah ketika jalan berdua ke kantin, orang yang syirik pada berkomentar, “Sial! Manjur sekali peletnya Luki! Kasihan ya si Gigies!”

Dan Suri, si mbahnya ratu gosip itu tiba-tiba membuat heboh dengan berteriak kagum (sengaja dilakukan untuk menarik perhatian agar teman-temannya penasaran dan ikut ngegosip) sambil membuka koran lebar-lebar.

“Gilaa…. Keren banget!”

Luki dan Gigies tetap cuek bermain, mereka sudah hafal kelakuan Surijika sudah hendak menggosip. Mungkin, Gigies saja yang sedikit melirik penasaran sambil masih melempar kulit kacang. Biasa, naluri wanita.

Sementara Fajal yang merasa pandangannya terganggu jadi protes.

“Apaan sih Sur? Nutupin tahu!”

“Ini, mbak Sinta! Kakak kelas kita yang cantik, pintar, dan ngetop itu masuk koran lagi! Lagi-lagi bikin heboh sekolah kita! Dia baru saja jadi juara satu olimpiade biologi tingkat internasional di Australia!”

Mendengar nama Sinta, Fajal yang hafal betul nama cewek cakep satu sekolah jadi mengalihkan perhatian. Siapa sih yang nggak kenal sama Sinta? Gadis idola paling ngetop yang jadi incaran banyak kaum adam.

“Siapa sih Sur Sinta?” Tanya Luki sambil minumes jeruknya yang hamper habis. Yah, mungkin hanya Luki dan beberapa orang kuper yang nggak tahu Sinta.

Suri ingin protes tapi keduluan Fajal.

“Kamu ini gimana sih Luk? Masak nggak tahu sama Sinta? Itu lhoh kakak kelas cantik yang ngajak kenalan saya waktu jumpa di toilet kemarin!” Benar-benar nggak keren lokasi yang dipilih Fajal untuk kenalan dengan cewek. Sementara yang diprotes sudah kembali cuek dan sibuk melempar lagi kulit kacangnya yang sisa sedikit.

“Ngelantur kamu, mana mau dia sama kamu!” Gerutu Suri tak terima.

“Jangan cemburu gitu dong! Siniin korannya, aku mau lihat!” Rebut Fajal dengan sedikit kasar.

“Sabaran kenapa Jal!”

“Sori…sori…” Sahut Fajal sambil cengengesan.

“Eh lihat Luk, cantik kan calonku!” Fajal berusaha menunjukkan foto Sinta yang ada di koran pada Luki. Tapi Luki justru berganti sibuk mengupas kacang karena kehabisan amunisi.

“Keren ya? Aku jadi iri!” Komentar Gigies ikut tertarik. “Sudah cantik, model, pintar, banyak prestasi lagi!”

“Eh, tapi katanya dia jomblo lhoh!” Sahut Suri antusias, merasa ada lawan bicara yang bisa diajak bergosip.

“Masak sih Sur? Bukannya banyak yang suka ya?”

“Nggak tahu ya, mungkin LGBT kali, suka sejenis!”

“Nggak mungkin!” Protes Fajal, “Sinta itu laginunggu saya makanya yang lain itu ditol… aduh….” Sebuah kulit kacang menghantam jidatnya.

“Eh sori Jal! Kamu sih ngehalangin tong sampahnya!” Ujar Luki cekikikan.

“Yang di sana kan ada Luk!”

“Sudah penuh! Lagian nggak sakit kan, cumin kulit kacang aja lhoh!”

Fajal meringis terdiam, sakit sih enggak, cuman jadi malu kan!

“Kalau nggak LGBT apalagi coba Gies? Sudah banyak cowok keren di sekolah ini yang ngejar-ngejar, tapi nggak ada satupun yang kecantol!”

“Tapi jangan nuduh gitu ah, takut fitnah! Kali aja Mbak Sinta memang sibuk sekolah, bentar lagi kan ujian nasional!”

“Iya juga sih Gies, tapi kan sayang cowok-cowok kecenya! Coba aku yang dideketin, pasti kupacarin semuanya!”

“Rakus kamu Sur!” Celetuk Luki, Suri hanya manyun tak peduli.

“Kalau kamu Luk?” Tanya Gigies sambil mengaduk-aduk jus jambu dengan sedotan.

“Apanya?”

“Nggak ikutan ngejar-ngejar Mbak Sinta juga?” Perjelas Gigies lalu meminum jusnya.

“Lhah, apa kamu bisa rela?”

Gigies tersedak, “Ng-ngawur kamu!” Sentaknya sambil batuk-batuk, tapi wajahnya memerah. Entah karena tersedak atau salah tingkah. Dia habiskan jusnya untuk menghilangkan batuk, tapi gagal. Saat Melon mendekat, es jeruknya langsung jadi sasaran Gigies. Sementara melon hanya bisa mendelik protes sambil takut-takut bakwan di mulut, nasi goring di tangan kanan, dan beberapa biji gorengan di lengan kiri terjatuh.

***

Lalu, di lorong sekolah menuju arah ruang kepala sekolah (kepsek). Terdengar langkah kaki yang tegas dan sedikit hati-hati. Sinta sedang membawa piala. Pak Kepsek meminta piala itu diletakkan di ruangannya sebelum esok secara simbolis dipamerkan saat apel pagi khusus sekaligus pemberian ucapan selamat pada Sinta secara formal.

Tidak jauh dari ruangan Kepsek, tiba-tiba beberapa murid yang rata-rata adik kelas datang mengerumuni Sinta, meminta foto bareng. Ada idola di sekolah, kenapa harus dilewatkan untuk foto bareng? Mumpung masih ada di sekolah, bukan? Sudah cantik, pintar, berprestasi, model lagi. Dan Sinta dengan ramahnya melayani sesi foto itu. Senyumnya mengembang manis, ada rasa bahagia dan sekaligus bangga juga. Saking ramainya, selesai satu kelompok muncul lagi kelompok lain yang minta foto juga. Sinta pun masih tetap sabar dan ramah melayani.

Tak jauh dari situ, Luki dan teman-temannya hendak pulang. Hari memang sudah mulai gelap karena mendung. Ketika melihat Sinta sedang berfoto ria dengan penggemar-penggemarnya, bisa ditebak siapa yang paling antusias. Tentu Fajal dan Suri. Tak lama lagi pasti mereka berdua dengan kompak mengajak ikut berfoto. Mereka harus bisa memaksa Luki agar bersedia ikut foto. Bocah itu memang terkenal alergi dengan kamera.

“Ayo kita foto juga!” Ajak Luki, semua menoleh ke arah Luki dengan bingung.

Tanpa menunggu jawaban teman-temannya, Luki berjalan sendiri mendekat. Ketika di hadapan Sinta dia mulaibertanya dengan sopan. “Mbak, boleh foto?”

Sinta pun mengangguk ramah.

“Boleh pinjam pialanya?” Sinta sempat bingung, tapi tak kuasa menolak.

“Nah ini pakai kamera HP saya mbak, agak jelek sih hasilnya, tapi bisa kok!” Ujar Luki sambil menyerahkan HP-nya pada Sinta. Sementara Sinta bingung.

“Fotoin kita ya mbak! Kyakanya di sini bagus deh!”

Sinta bengong, teman-teman Luki apalagi.

“Eh sini, malah bengong! Ayo kita foto!” Teriak Luki, tapi tak ada yang bergerak.

***

Read previous post:  
31
points
(992 words) posted by kukuhniam 3 years 33 weeks ago
62
Tags: Cerita | Cerita Pendek | teenlit | Berharap Lucu
Read next post:  
Writer ddearst
ddearst at Gadis Idola (3 years 32 weeks ago)
60

lumayan banyak typo ya.
udah baca kemarin tapi lupa komen jd lupa yg mana yg typo, one of them yg masih gw inget "payang".
kayanya selera humor gw rendahan, jadi kesannya lucunya maksa.

but well
"Mungkin memang benar, bicara terkadang lebih gampang daripada melakukannya."

gw jg kalo disuruh ngelucu gabakal lucu. fighting qaqa

Writer kukuhniam
kukuhniam at Gadis Idola (3 years 32 weeks ago)

selera humornya tinggi kok, berkali-kali saya baca ulang ini memang nggak lucu kok!
typonya banyak emang, selain karena human eror, settingan keywordnya g tau gimana ngerubahnya sering berubah-rubah sendiri, kayak bisa jadi bias, dan lainnya.