He's Everything 1.1

Oh my God!

Jam 6?

Jam 6 sore?

 

Aku menengok ke arah belakang kasurku, dan menyibak jendela untuk melihat secara langsung suasana di luar. Aku hanya melihat awan mendung, dan suasana yang gelap. Seperti sore hari. Baiklah, mungkin ini sore hari.

Rasa sakit kembali menyerang kepalaku, membawa tanganku langsung beranjak ke dahiku untuk mencoba menahannya. Yang benar saja, rasanya aku sudah tidur sejak tadi siang, tapi kenapa kepalaku masih berdenyut seperti ini?

Kurebahkan kembali kepalaku di atas bantal, tepat ketika aku mengambil handphone-ku dan yang kulihat pertama kali langsung membuatku beranjak dari kasur.

 

06.00 A.M

YA AMPUN!

A.M????

 

***

 

 

Kelihatannya inersia-ku kambuh, gara-gara kemarin aku tidur-bangun-tidur karena pusing sejak pulang sekolah, mengurung diri di dalam kamar, tidak makan malam, tidak mandi, tidak mengerjakan tugas. Anyway, bagaimana bisa aku masih harus terjebak di ruang makan?

Ini sudah 10 menit berlalu, dan kakiku tidak berhenti bergerak gelisah.

Aku melirik lagi ke arah mamaku yang sama sekali tidak merasakan kegelisahanku dan masih asik menggoreng telur.

 “Maaaa... Nada udah telat nih, Nada makannya udahan ya?” Aku memohon kepada mamaku agar membiarkanku tidak menghabiskan sarapanku. Aku bukannya benci dengan sarapan, tapi pada jam seperti ini ketika aku bangun kesiangan, dalam keadaan tidak sadar kalau aku salah membedakan sore dan pagi hari, dan tahu bahwa jalanan akan sangat macet, aku tentu perlu lebih cerdas daripada sekadar melakukan rutinitas sarapan.

Mamaku yang cantik dan terlihat masih muda itu seolah tidak tahu apa yang sedang membuatku tidak bisa duduk lebih lama di kursi makan ini “Kamu nggak denger mama tadi bilang apa? Kamu itu kemarin malam aja nggak makan, dibangunin nggak bisa, sakit kepala seharian, dan bikin mama cemas setengah mati gara-gara mama pulang kamu nggak bisa dibangunin? Sekarang kamu minta mama untuk biarin kamu nggak sarapan?”

“Yah, maa.. tapi ini Nada bisa telat,” rengekku.

“Nanti mama anterin dan ketemu gurumu langsung kalau sampai mereka bikin kamu nggak boleh masuk.”

Aku tidak bisa membiarkan mama melakukannya!

Terpaksa aku menghabiskan dengan cepat semua makanan yang disediakan untukku, sampai-sampai aku harus berusaha agar tidak memuntahkan semua makanan yang kupaksa masuk ke perutku.

Segera kuambil segelas susu sambil berdiri membereskan tas.

 “Haa.. haha hehangkat huhu... (Maa.. Nada berangkat dulu)” kataku di sela-sela menelan makanan sambil minum.

“Ya ampun sayang… pelan-pelan dong...”

Mama masih sempat saja membantuku memasukkan semua makananku dengan menepuk lembut punggungku.

Setelah membereskan semua barang-barangku, aku mencium kedua pipi mama.

“Jangan bikin Deva khawatir juga lho.”

Nama itu entah kenapa langsung membuat kegiatanku terhenti tiba-tiba. Aku mengangkat wajahku ke arah mama.

“Kok.. kok Deva sih, ma?”

Mama mengerjapkan matanya. “Lho, yang telpon mama untuk pulang cepat dan ngabarin kondisi kamu kan Deva sayang…”

Deva?

Deva?

What the hell?

“Gimana… gimana Deva bisa tau kalo Denada…”

“Lho bukannya kalian barengan terus, wajar kan kalo Deva tahu?”

Ah, benar juga. Mama tidak tahu bagaimana hubunganku dengan Deva saat ini. Akhirnya aku segera memutuskan obrolanku dengan Mama dan melesat ke pintu depan dengan kepala dipenuhi pertanyaan kenapa Deva bisa tahu kondisiku. Tapi pertanyaan itu langsung pergi di terpa angin ketika aku keluar dari rumah dan mendapati bahwa cuaca semakin mendung.

“Bisa pusing lagi nih gue,” gumamku ketika mulai merasakan tetes pertama air hujan di pipiku.

Secepat kilat aku mengecek semua barang penting yang seharusnya sudah kusediakan di dalam tas: payung plus jas hujan. Karena aku akan naik ojek, kelihatannya tidak akan sanggup naik taksi kalau ingin cepat sampai sekolah, aku mengeluarkan payung tanpa membukanya dan berlari keluar gerbang rumah menuju keluar komplek. Untuk sampai keluar komplek aku harus berjalan sekitar 200 meter karena pangkalan ojek ada di sekitar sana atau mencegat taksi dadakan dan aku berharap aku tidak akan kehujanan.

Mama tidak akan pernah tahu aku sekarang sering melakukan hal ini.

Aku tersenyum kecut dalam hati. Saat ini tidak ada mobil yang menungguku berangkat ke sekolah, kecuali kalau pacarku yang sedang marah mau menjemputku, dan aku juga belum sempat berlatih mengendarai mobil sehingga aku tidak bisa meminjam mobil mama. Bahkan kalau aku bisa naik mobil dan meminjam mobil mama, yang jadi pertanyaan adalah bagaimana cara mama berangkat kerja. So, saat ini aku hanya membuang waktu dengan memikirkan hal ini berkali-kali setiap kali aku harus berjalan seperti ini keluar komplek.

Selama aku berjalan ke arah luar komplek, aku sempat menangkap sekilas tetangga sebelahku sedang keluar dengan pacarnya yang bergelayutan di tangannya menuju mobil yang masih terparkir di depan rumah tetanggaku. Aku tidak dapat menghentikan apa yang muncul di kepalaku, dan ini selalu muncul dan tetap saja muncul meskipun sudah tak terhitung ada berapa cewek berbeda keluar dari rumah tersebut.

Apa yang mereka lakukan?

Apakah cewek itu tidur di rumahnya?

Apakah cewek itu bermalam di rumahnya?

Apakah mereka melakukan....

Sial, kenapa aku harus berpikir ke arah itu lagi sih?

Lagipula, bukankah sekarang memang sudah biasa anak cowok yang hidup seorang diri menjadi terlalu bebas dan kebarat-baratan? Mungkin karena rumahku bukan termasuk kawasan desa yang rumah-rumahnya menjadi incaran para warga dan termasuk tempat yang sangat individualistis jadi tidak heran sebenarnya kalau hal seperti ini sudah dianggap biasa. Dan tetanggaku ini bukan tetangga yang biasa-biasa saja, dia memiliki tinggi 170 cm lebih, hidung mancung, tulang pipi yang tinggi, mata yang tajam, dan memiliki bentuk tubuh ideal yang cukup menjadi alasan para cewek meneteskan liurnya setiap kali berada dalam radius 10 meter darinya. Secara penampilan jelas dia sangat menarik dan menjadi idaman setiap wanita, jadi jangan heran kalau dalam waktu satu bulan aku sudah tidak bisa menghitung berapa orang cewek berbeda yang keluar masuk rumahnya. Apa yang mereka lakukan...

Rasanya ada yang menusuk-nusuk hatiku, dan aku membenci perasaan itu.

Pertanyaan lainnya yang muncul di kepalaku adalah: bagaimana ia bisa tahu tentang aku yang kemarin sakit? Setahuku kami tidak pernah bicara atau bertatapan di kelas.

Berusaha melupakan apa yang kulihat, atau bahkan pertanyaan yang mondar-mandir di kepalaku semenjak mama membahasnya, aku memfokuskan pada tetes-tetes air hujan yang tiba-tiba membasahi pelipisku satu per satu, hingga akhirnya aku merasa sudah saatnya membuka payung yang sejak tadi kubuka.

Aku baru berjalan sejauh 50 meter menembus hujan, ketika aku merasakan sesuatu yang cukup besar berjalan selambat langkah kakiku. Aku menoleh, dan mendapati wajahnya muncul dari balik jendela mobil, iya, ini si tetanggaku itu.

“Hei, mau bareng?”

Aku menggigit bibirku, dan genggamanku di payung reflek menjadi lebih erat ketika aku melihat siapa yang duduk di sampingnya. Gadis itu manis, terlihat lugu, terlihat baik, rambutnya sebahu, dan ia memiliki ekspresi yang ramah. Lagi-lagi bayangan mereka menghabiskan malam bersama muncul di benakku dan aku hampir saja mengingkari janjiku untuk tidak mencampuri urusan mereka. Lagian wajah polos begitu kalau berbuat yang aneh-aneh jadi ingin membayangkan kan? Ugh.

Berusaha tetap tenang, aku akhirnya menjawab.

“Nggak usah, Deva, udah deket pula...”

Aku melihat mata Deva menyipit curiga, tanda kalau ia menemukan hal yang tidak beres terhadapku.

“Naik apa?”

“Emmm... taksi?”

Fine.

I lied.

Tapi itu hanya karena agar tidak menimbulkan lebih banyak pertannyaan dari Deva.

“Rian mana? Pacar lo?”

Aku menarik nafas, menahan ekspresi untuk tetap tenang. Karena jika ada satu hal yang aku tahu dari Deva, itu adalah betapa pandainya ia membaca pikiranku.

“Gue sengaja nggak bareng dia hari ini, kayaknya dia lagi banyak pikiran...”

“Lo kenapa berangkat sekolah sih? Bukannya lo sakit? Lo udah sembuh?”

Aku melirik lagi ke arah cewek Deva yang saat ini sudah mengangkat alisnya tinggi-tinggi, seolah Deva tidak pernah menanyakannya pertanyaan semacam ini.

“Gu… siapa bilang gue sakit?” kilahku cepat.

Deva masih memandangiku dengan tatapan khasnya, lama dan tajam. Dan itu saja sudah cukup menjelaskan padaku untuk tidak bertanya padanya kenapa ia tahu kondisiku disaat aku bahkan tidak tahu kalau ia memperhatikanku.

Karena Deva tidak pernah berhenti memperhatikanku.

Berlagak melihat jam tanganku, aku memutuskan kontak darinya

“Lo… Lo berangkat aja sih, hujannya juga nggak deres, bentar lagi juga gue udah terlindungi atap mobil.”

Sayangnya, Deva tidak pernah mudah untuk dihadapi. Ia memejamkan matanya dengan dahi berkerut, seolah mencoba untuk menahan emosinya. Kemudian ia membuka matanya dan langsung memberikanku perintah pendek.

“Naik cepet, keburu deres ujannya.”

Tentu saja aku sudah terbiasa dengan gayanya yang suka member perintah.

“Nggak, Deva, gue nggak akan nebeng lo.”

Aku melirik ke arah ceweknya yang dengan wajah malaikat itu mulai menarik-narik seragam Deva.

“Udahlah, Deva.. Jangan dipaksa...”

Suaranya bahkan sangat lembut, dan halus. Rambut panjang, berbeda denganku yang tidak pernah memanjangkan rambut lebih dari sebahu.

Aku tidak boleh melakukan kesalahan yang sama dengan membiarkan Deva memaksaku. Lagipula ada yang lebih penting daripada mengurus perdebatan ini.

“Gue nggak nebeng, Deva, dan gue udah terlambat!” sentakku kemudian berlari menggunakan payung yang bergoyang kesana kemari sampai membuat rambutku yang sudah kutata rapih menjadi sangat berantakan karena terpaan angin yang tiba-tiba menjadi sangat kencang. Bodo amat sama Deva yang akhirnya hanya bisa melihatku dari jauh.

 

***

 

Setelah berusaha sembunyi karena aku membohongi Deva akan naik ojek bukannya taksi, aku tetap sampai sekolah lebih dulu. Ya iyalah, secara jalanan berangkat sekolah pasti macet apalagi naik mobil, entah akan sampai jam berapa si Deva dan pacarnya itu datang. Tapi setidaknya aku sampai tepat sebelum bel berbunyi, tapi sudah berbunyi ketika aku melangkah masuk gerbang.

Meskipun aku nyaris basah kuyup dengan rambut berantakan, aku tidak tahu apa yang menyebabkan kedatanganku ke sekolah masih disambut dengan meriah. Bahkan bedak dan lipice-ku sudah luntur. Tapi seperti biasa, ketika aku berjalan di sepanjang lorong sekolah, aku mendapati diriku dipandangi oleh siapapun yang berkesempatan melihatku. Sejak tadi sudah ada dua cowok yang berpura-pura bertabrakan denganku, beberapa sengaja bersuit ketika aku lewat, beberapa mencoba mengajakku bicara yang hanya kujawab dengan seulas senyum. Sedangkan yang lainnya tidak kuhiraukan. Ini juga menjadi penyebab utama kenapa terkadang aku merasa tidak betah sekolah, karena aku tidak memiliki satupun teman perempuan karena reputasiku. Reputasiku sendiri muncul karena aku selalu, dan selalu salah memilih pasangan. Blame me, then, tapi itu terjadi begitu saja dan setiap waktu tanpa bisa kucegah. Setelah beberapa lama, aku sudah tidak peduli lagi.

Tiba-tiba aku ditarik oleh seseorang dan berhenti di bawah tangga. Aku mengangkat kepala dan melihat Rian sedang memandangiku dengan dahi berkerut tidak suka.

“Kamu kok kayak pelacur gini sih, Nad?”

Aku berusaha merapihkan rambutku “Kehujanan...”

“Bego banget sih! Nggak pake jas hujan?”

Aku menundukkan kepala, tiba-tiba merasa jengah. “Pake, tapi sempet kena hujan...”

Rian menarik rambutku dengan kuat sampai aku berjengit dengan kekuatan tangannya. Dia mendekatkan bibirnya ke telingaku dan berbisik.

“Denger ya, Nad, aku nggak mau kamu keluar dalam keadaan rambut kayak gini.” Rian menarik rambutku lebih kencang “Kamu kayak cewek murahan kalo berantakan gini! Dan harusnya cuma aku yang boleh lihat! Ngerti?”

Aku menggertakkan gigi “Kamu sendiri nggak mau jemput aku! Kalo kamu jemput, aku kan nggak bakalan kehujanan! Dan… apa kamu tau kalo kemarin aku sakit?”

“Kamu ngelawan, Nad?” Aku merasa ia menarik antingku dan aku bisa merasa kulitku sedikit robek. “Aku kan udah bilang aku lagi sibuk!”

Aku tahu Rian berbohong. Dia selalu berbohong. Dia tidak pernah menjelaskan kenapa dia sibuk, dan aku benci karena aku jarang mendapat jawaban jujur darinya.

Jelas-jelas dulu dia yang mendekatiku hingga aku merasa berbunga-bunga. Siapa sangka ini semua hanya sekadar khayalan. Ia bahkan tidak sedikitpun tahu kalau kemarin aku sakit karena sibuk mengurus tugas-tugasnya yang harus kukerjakan sejak hari sebelumnya.

“Jawab! Kamu mau ngelawan...”

Tangan Rian menghilang dari telingaku dan aku segera merasakan ada darah ketika aku menyentuhnya.

“Anjrit!”

Aku mengikuti arah pandang Rian dan mendapati sebuah bola basket menggelinding di bawahnya. Sekilas sama sekali tidak terlihat ada tanda-tanda siapapun baru saja melakukannya, tapi aku tahu siapa orang yang bisa melempar bola dengan sasaran tepat dari jarak sejauh apapun itu. Dan dia ada disana, jauh di seberang lapangan, membelakangi kami dan tengah berjalan memasuki kelas bersama pacarnya.

Aku tersenyum, sekaligus mencoba menahan rasa sakit di dadaku yang belakangan ini sering muncul. Tapi terserahlah, ternyata dia tidak terjebak macet, sial.

 

***

Read previous post:  
Read next post:  
Writer lost_boy
lost_boy at He's Everything 1.1 (3 years 35 weeks ago)
2550

oke komen di yang ini dulu sebelum ke yang 1.2

hmm... konfliknya sementara aku dah dapet maksudnya...
tapi kalau di kalimatnya kalau pake langsung tanda "+" secara langsung kayaknya nggak sreg gimana gitu... mungkin kalo pakai "payung dan mantel" atau "payung plus mantel"

sekian dahulu dari saya wkwk...

edit : lupa poin

Writer alinaza
alinaza at He's Everything 1.1 (3 years 35 weeks ago)

ooooh iya iyaaaa makasih masukannya XD

Writer ddearst
ddearst at He's Everything 1.1 (3 years 50 weeks ago)
80

paling ngga demen cerita beginiaan,
waktu SMA ngga punya tetangga ganteng soalnya :(

mantol itu mantel tah?
"hingga akhirnya aku merasa sudah saatnya membuka payung yang sejak tadi kubuka." maksudnya teh digenggam? .__.

Writer alinaza
alinaza at He's Everything 1.1 (3 years 50 weeks ago)

Oiyaaa makasih udah dibenerin. Itu typo. Thanks thanks :)