Di Bawah Jembatan Fly Over

Pernahkah dalam hidupmu merasa berada dalam situasi yang paling tidak beruntung? Malapetaka bertubi-tubi datang tanpa jeda, tak memberi sedikit ruang untuk bernafas. Bahkan sampai menganggap hari itu hari tersial dalam hidupmu. Pernah? Itu tandanya kamu samaan nasibnya dengan Sinta senin petang itu. Rasa kesalnya belum hilang karena sore tadi ada yang mengerjai dengan disuruh jadi tukang foto, padahal kan Sinta itu modelnya, ditambah lagi saat pulang terpaksa harus naik angkutan kota (angkot) karena mobilnya mogok, belum lagi hari hujan, dan parahnya lagi sopir angkot menurunkan di tempat yang jauh dari teduhan lantaran macet, alhasil Sinta harus kuyub juga saking derasnya hujan. Tak henti-henti dia mengutuki kesialannya sambil memeluk tubuhnya sendiri karena dingin di bawah jembatan fly over. Sudah gitu, saat berharap segera dijemput, pak sopir bilang mobilnya belum kelar dibenerin, lengkap sudah. Dan celakanya, saat dia tak sengaja melirik ke samping kanannya, tak jauh, sekitar lima meter, berdiri pemuda yang membuatnya kesal setengah mati. Yah, ternyata Luki terjebak hujan juga. Secepat apapun dia mengayuh sepeda, terlambat juga sampai di rumah dengan selamat. Dia tersenyum memandangi hujan, seolah menikmati keberuntungannya mengerjai Sinta sore tadi. Batin Sinta.

Sinta sempat sedikit kaget saat Luki menengoknya dan melempar senyum ramah. Sinta sudah terlalu sakit hati, dianggapnya senyum ejekan, dia memalingkan wajah pura-pura tak melihat senyum itu. Berpura-pura tak kenal. Ah, memang tak pernah kenal, bukan? Namanya saja tak tahu, dan tak mau tahu.

Pandangan Sinta mencari sesuatu yang nikmat untuk dipandang, sesuatu yang bisa menganggapnya lupa bahwa tak jauh dari tempatnya berdiri ada sumber kesialan hari ini. Sesuatu yang setidaknya bisa menghibur. Memandangi hujan yang jatuh, tak beruntung, hujan ini justru sengaja menjebaknya di sini. Deras bulir-bulir yang jatuh, seolah kompak mendesaknya pada situasi yang tak beruntung. Sampailah Sinta bisa tersenyum sedikit saat melihat lima laki-laki yang tampaknya mahasiswa semua, sedang berteduh juga, tak jauh dari tempat Sinta. Satu orang mengenakan almamater, dan Sinta tahu kampus itu merupakan salah satu kampus beken di Malang. Gadis itu memang kagum dengan para mahasiswa yang sering disebut agen perubahan itu. Lebih dewasa dan berpikir besar, berpikir bukan hanya untuk diri sendiri. Mungkin itu juga yang jadi alasan Sinta tak pernah menanggapi kalau ada teman sebayanya atau parahnya adik tingkat yang nekat mendekati. Mau setampan apapun, sekaya apapun, bahkan sekeren apapun, kalau pemikirannya masih suka main-main, ya percuma. Tak bisa menjamin masa depan, karena masih kekanak-kanakan.

Sinta sempat salah tingkah saat kumpulan mahasiswa yang dipandangi menatapnya balik. Dia berusaha memalingkan wajah sambil sedikit melirik. Dia tahu, para mahasiswa itu masih terus memandangi. Sinta grogi, tapi juga senang. Kalau para mahasiswa ini yang memandangi Sinta masih merasa lebih aman. Sorot mata mereka lebih dewasa dan bermoral. Seharusnya lelaki begitu, dan pasti akan lebih menjaga. Bukan sorot mata kekanak-kanakan seperti anak urakan yang ada di sebelah kanannya.

Betapa kagetnya Sinta saat tak sengaja melirik Luki yang dianggapnya urakan itu sudah berdiri di sampingnya persis. Sampai-sampai Sinta tak sempat mengusir. Dan Luki menjulurkan jaket miliknya.

Read previous post:  
6
points
(1646 words) posted by kukuhniam 3 years 36 weeks ago
30
Tags: Cerita | Cerita Pendek | teenlit | Berharap Lucu | lukiluck
Read next post:  
Writer daniswanda
daniswanda at Di Bawah Jembatan Fly Over (3 years 34 weeks ago)
90

Suka ceritanya. Sederhana, namun pesan yang ingin disampaikan bener2 kena.
Sedikit saran aja, saya agak nggak nyaman baca paragraf pertama yg isinya runtunan kesialan Sinta. Mungkin bisa di edit lagi pemakaian kata2 "Belum lagi", "parahnya lagi", "dan celakanya","sudah gitu", dll, yang menurut saya kurang tepat untuk disajikan secara bertubi-tubi. Lalu penulisan bbrp kalimat juga kurang enak dibaca, misal "Rasa kesalnya belum hilang karena sore tadi ada yang mengerjai dengan disuruh jadi tukang foto" --> kata "disuruh" disini sepertinya lebih pas diganti dengan "menyuruhnya". Tapi entahlah, itu menurut saya aja mungkin.

Dah sekian dulu. Sisanya uda ada di komen tante Kartika.
Secara ide udah oke Mas Kukuh, eksekusinya aja yg perlu dipoles lagi. Penyakit saya juga sama. Ayo kita sama2 belajar menulis.

Writer kukuhniam
kukuhniam at Di Bawah Jembatan Fly Over (3 years 34 weeks ago)

wah matur nuwun, bener sih memang nggak enak juga dibacanya. tapi nanti ya editnya, tak belajar dulu bagusnya gimana

Writer kukuhniam
kukuhniam at Di Bawah Jembatan Fly Over (3 years 35 weeks ago)

sasaji mbak dem
mumpung sesama arema, ajarin mbak dem nulis yang bener! Biar nggak bikin malu kayak di atas.
mungkin semacam sekuel kali mbak, aku belum begitu faham jenis2 fiksi
ada Gadis Idola yang sebelum ini, kali aja mau bantai juga?
Lancing itu kayaknya lancang deh mbak, biasanya efek setingan bahasa di laptop, ang sering jadi ing

Writer kartika demia
kartika demia at Di Bawah Jembatan Fly Over (3 years 35 weeks ago)

Oh, kadang klo di laptop emang otimatis ngoreksi bahasa inggris, kadang udah nulis sayang jadi saying. jadi kita harus jeli ngedit juga, karena akan berbeda maknanya dari narasi yang kita inginkan, mengenai lancing dalam bahasa inggris artinya membuka, nah.. miss kan dengan narasinya. Intinya, kita harus jeli ngoreksi lagi. Semangat! :-D

Writer kukuhniam
kukuhniam at Di Bawah Jembatan Fly Over (3 years 35 weeks ago)

suwun mbak dem

Writer ddearst
ddearst at Di Bawah Jembatan Fly Over (3 years 35 weeks ago)
90

sukaaaaaaa... sama Lukinya *eh
mauuu... sama mahasiswanya *eh(2)

senin harusnya huruf kapital kan ya?

eh tapi sebenernya agak sedikit gak nyaman nama Luki terpampang nyata (?) padahal dicerita Sintanya ngga tau namanya ._. yah maafkan ke-subjektifan gw :"

Writer kukuhniam
kukuhniam at Di Bawah Jembatan Fly Over (3 years 35 weeks ago)

nah kita sehati, saya juga bingung gimana bikinnya kalau nggak munculin nama Luki. di cerita sebelumnya sudah muncul. ada ide?

Writer kartika demia
kartika demia at Di Bawah Jembatan Fly Over (3 years 35 weeks ago)
80

.
Wah, endingnya manis banget. Suka saya, dan cerita ala2 teenlit. Tapinya narasinya kurang mulus, saya bacanya belibet. Apalagi pas di awal-awal, hampir saya gak nerusin baca karena penuturannya yang kurang mulus dan agak kaku. Tapi untung saya baca sampe akhir, gak rugi. Endingnya manis, maniss banget.
Betewe penulis Aremakah? Sasaji leg ngono :-D
.
Korek sedikit yak
Nafas-->> napas
.
"Pakai saja mbak!”-->> "Pakai saja, Mbak!" (sebelum sapaan pakai koma dan ditulis kapital; Mbak, Mas, dsb)
.
Secepat apapun dia mengayuh sepeda, terlambat juga sampai di rumah dengan selamat.
--> kalimat ini tidak efektif, gak lugas. Saya gak ngerti maksudnya apa. 'dengan selamat' itu sepertinya gak perlu deh.
.
Dia tersenyum memandangi hujan, seolah menikmati keberuntungannya mengerjai Sinta sore tadi. Batin Sinta.
-->>
Eng.. Ini beneran dalam benak Sinta? Di awal ada penjelas dia tersenyum karena mengerjai Sinta, kenapa bisa mencelat ke batin Sinta?
.
Oiya, Lancing itu artinya apa? Liat di kbbi artinya celana, tapi kayak gak nyambung sama narasimu di atas. Apa ada arti lain?
.
Dan ini apakah Luki yang ngecat pagar Pak Karim bukan? Semacam sekuelnya kah? :-D
Lanjut nulis ya! :-)

Writer kukuhniam
kukuhniam at Di Bawah Jembatan Fly Over (3 years 35 weeks ago)

mbak dem, balasan komen lainnya ada di atas, salah masuk kolom
Yang batin sinta itu, jadi sinta sambil lihat luki itu sedang batin, "bisa tersenyum puas ya sekarang karena tadi sudah mengerjaii saya" padahal sebenarnya gak tahu luki itu senyum dengan alasan apa, penulisnya saja nggak tahu,hehe