Clarisa Gina

Wanita di belakang terdengar memanggil mondar-mandir, suaranya menyertai kepanikan. Gue setengah menoleh dari latar garasi untuk menggiring scoopy, helm retro berkaca bogo membuat teriakan gue setingkat lebih kenceng masuk ke telinga sebelah saat menyahut, "Udah telat, Ma.. !"

lewat kaca spion gue menangkap sesuatu yang di lambai-lambaikan tangannya dari balik pintu namun tak sampai sedetik panorama itu digantikan gang berpaving, beberapa meter ke belakang asap knalpot menguapkan bau bensin di blok paling ujung.

Nama gue Clarisa Gina, Anak-anak satu SMU lebih akrap sama panggilan belakang. Belo-- cocok sama mata gue, nyetel gaya cewe dan yang bikin gue nggk banyak protes menjauhkan kesan kebaratan. Wajah gue oval, kulit coklat, ada tahi lalat di samping hidung mungil, mungkin yang bikin orang salah persepsi karena dagu gue lancip dengan rambut yang selalu di urai menyentuh pundak; bervolume tanpa skip, jepitan, atau kuncir yang membuatnya kelihatan rowe-rowe.

Tetangga bilang Gue nggk ada miripnya sama Ratu; beliau kalem--gue serampangan, sering di sangka tukang ojek, 'bukan anak, emak yang boncengan' dan cuma lewat suara, deretan blok perumahan paling ujung di kenal sebagai gunung. Tapi gue santai. Elo cuma butuh earpod. Daftar track lagu sama sisa saldo credit card. Nggk usah peduli gonggongan sepanjang jalan selama ipod lo full charge semalaman.
***
"Hai, Gina!"
Gue mendongak, kabel earpod bergelantung ke ujung pundak gue waktu menekan volume shufle di kancing kemeja, suara Badshah mancar-mancar;... Abhi Toh Party Shuru Hui Hai.. Ternyata Satpam yang lain. Gue nyelipin sisa poni ke belakang telinga, nggk bener-bener ngasih senyum tulus dengan ujung alis naik sebelah.

Dua murid cowo nyengir; satu mengangkat tangan sebagai tanda high five, satunya lagi menyandarkan lengan ke bahu lainnya. Langkah kami terhenti di sudut kelas 2b, siswa yang hendak mengisi ruangan itu melipir ke balik punggung karena koridor di jejeri murid urakan.

"Apa kabar, monkey kita yang satu ini..!" Balas gue. Mereka ini salah satu kesebelasan Tim SMU Phoenix --Raivers-- yang sering di elu-elukan oleh cewe cengeng, belahan rambut model baratnya kini di pejeng depan gue. Wangi pomade bikin perut mules, pengen ngeludah, tapi sayang kalo gue biarin -- busur nggk ngarahin mata panah melenceng dua kali. Bukankah promosi di sosmed buang-buang kuota? Gue narik ujung bibir sebelah. "Perlu, IGC isi berapa guys? Stock gue yang gocap abis, tinggal yang cepek, lima. Ambil semua ada harga khusus buat kalian. Ck.. Limited edition, pas buat kantong-kantong lo pade.."

Murid itu --yang merasa kesindir --menarik lengan dari bahu teman sebelahnya yang tak berhenti tersenyum menatap gue. "Kok, monyet sih.." Katanya. Dia lalu mengelus rahang menggunakan tangan kanan, menyudut, dengan telunjuk dan ibu jarinya ke atas-bawah. Matanya berkedut, "Apa perlu gue habisin, padahal pulang dari pantai kemaren baru di trimer loh!" lanjutnya tanpa di minta. Pada kedipan terakhir gue sempet memperhatikan tonjolan singkat di tengah leher lelaki keturunan pakistan itu, bukan jakun, tapi tabiat buruk saat terangsang memiliki keinginan lebih; menelan ludah.

Gue nggk bisa pura-pura nggk inget. Musik yang keluar lewat sebelah earpod berubah jadi lirik yang gemersak dan berisik. Oke, minggu lalu gue mergokin dia pamer otot perut, celananya merosot satu kilatan tepat di bawah lampu blitz kamera, pipinya di apit dua genk MOA yang tak kalah memeriahkan bikini warna-warni neon, lekuk tubuh ala gitar spanyol bertebaran di sekeliling lelaki itu.. mereka selfi dalam berbagai gaya, heboh sendiri saat gulungan ombak sebatas betis menerjang pasir tepi pantai, rambut setengah basah air laut lengket ke punggung-punggung terekspos.

Geng Raivers membentuk gabungan group sendiri dari rombongan tour sekolah dengan dekorasi sewaan yang dipersiapkan khusus; lengkap DJ, lampu tembak, panggung rendah dan pengeras suara di setapak jalan menuju resort. Minuman berahkohol berjejer di atas meja-meja bertaplak putih. Musik yang di mix DJ mengundang geng MOA ikut gabung, mengiringi gerakan-gerakan eksotis; pani wala dance..

Ck... Cewe-cewe club. Gue agak serong, mengintip jam dinding di dalam kelas yang berpenghuni setengah melalui kaca jendela, di situ gue menyadari sesuatu, ada yang aneh dengan staf petugas di sini... seharusnya saat ini telah masuk pelajaran pertama, jarum ramping itu lewat beberapa garis dari angka 12, bel belum juga kedengaran. Gue menoleh, kali ini di sertai kernyitan samar murid satunya juga.

Dia lantas menegurku dengan tatapan penuh waspada, seolah bisa membaca gelagat buruk lewat ekspresi gue. "Something trouble, Gin, lo nggk lupa ini hari sabtu, kan?"

Mendadak gue sempet mengendus coklat dan berhalusinasi. Tapi tidak, jantung gue berdegup dua kali lebih kencang seolah membenarkannya, bau itu semakin kuat sewaktu gerombolan murid yang lewat di depan memencar, masuk ke ruangan masing-masing. Menyisakan satu murid di belakang.

Anak-anak menjulukinya sebagai badut berpipi merah karena postur dan berat badannya. Mata murid itu selalu kelihatan kurang tidur. Rambutnya pendek kasap, kering dan tak berbelah. Kemeja osisnya sama seperti yang dia kenakan tiga hari lalu, masih ada luntur bekas coklat di lekukan bawah perutnya, di samping kancing baju yang tidak dikaitkan karena terlalu sesak ke lingkar perut. Dia berjalan melewati empat tegel ubin sekaligus. Sebelah bahunya digelayuti ransel berisi penuh sesuatu.

"Sorry.. Sorry..." Bersama seruan itu perhatian gue buyar, dua cowok di depan terkikik sewaktu gue merunduk. Di bawah seorang gadis tengah berjongkok, dagunya bersinggungan dengan lutut setiap kali mencomot kertas ukuran A4 satu per satu. Anak pecicilan ini di sebut Cyber girl, dalam telinga kanannya tertanam implan koklear sejak balita. Selebaran printer file asli, serta puluhan form fotokopy berceceran di sekitar sepatatu flat gadis itu. Tangannya gemetaran, terus meraba-raba setiap jengkal ubin dengan nafas terengah-engah.

Satu dari murid di depan menggodanya sebagai bentuk bantuan, lantas menyangga lengannya dengan sebelah lutut yang di tekuk untuk menyamakan jarak pandang mata. Namun dalam gerakan singkat Cyber Girl telah membentuk satu susunan rapi yang di sandagnya ke lengan kiri. Lalu bangkit cepat-cepat, terlalu cepat, hampir menyaduk rahang gue.

"Thanks," Cyber Girl memutar tubuh.

"Plastisin, lo!"

Yang di ingatkan mendongak, mengangkat hidung di depan gue, ekspresinya kebingungan, menunjukkan tampang-tampang polos yg luar biasa belagu. Dia berniat membuka percakapan tapi begitu pundaknya di cekal pelan dari belakang, mukanya langsung berpaling, meninggalkan senyum kisut yang benar-benar bikin gue muak.

Gue undur diri tanpa pamit, memasang satu erpod ke telinga sebelah dan menghabiskan periode volume setereonya sampai maksimal. Di depan loket kaca ruang TU, gue berpapasan lagi sama si badut berpipi merah-- yang kelihatannya habis setor spp-- satu kakinya menanjak di pijakan anak tangga pertama. Noda karat yang mengendap di balik kerahnya tak cukup membuat kulit leher Bastian kering, menjadikan bulu-bulu halus tengkuknya senantiasa mengilap. Seolah merasa ada yang menilainya dari belakang, dia lekas mengusap lehernya memutar menggunakan telapak tangan kanan.

Gue menggeleng, mengenyahkan tatapan ke arah lain. Nggk berniat mendahului, menyamakan langkah apalagi ke- gap mengekorinya di jalur yang sama dengan muka kebakar seperti ini. Maka, gue memutuskan menyusuri beranda timur berubin retak yang di apit dua loker bersusun tinggi besi-besi tua. Peron antren tujuan gua!

Jauh dari orang-orang aneh ini... Gue merogoh saku kemeja, mengaduk-aduk isinya tanpa menghentikan langkah. I'd card piket, kupon makan, duit. Shit!! Gue baru ngeh' apa yg di katakan murid tadi. Hari ini bakti sosial. Semuanya, itu juga gue nggk inget!

Aah... gue bisa ninggal kartu osis sebagai jaminan, buat nggk kena SP1

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer sandymaz_87
sandymaz_87 at Clarisa Gina (4 years 3 weeks ago)

Trims saran & masukannya...

Writer kukuhniam
kukuhniam at Clarisa Gina (4 years 3 weeks ago)
50

Wah, masih banyak typo bos
Gak tau kenapa, ini terasa mengganggu "Wanita di belakang terdengar memanggil mondar-mandir,"
Rasanya bikin nggak nyaman buat mulai baca, tapi subyektif sih