Matre

Jika kau bertanya pada Mona, 'Hal apa yang paling bikin dia ilfeel?' Mungkin cewek itu akan menjawabnya dengan Andri--sosok yang memujanya, cowok yang dianggap culun dan dekil di mata Mona itu baru saja menyatakan cinta pada Mona, ya, Mona!

Mona melirik jijik pada sepeda motor Andri, memalingkan muka dari sepatu tak ber-merk yang menempel di kaki cowok itu, yang tak setara dengan adidas Mona.

"Lu tau, gak, harga tas gue ini berapa?" Mona berkata angkuh, "gak perlu tau deh, ntar lu shock lagi."

Mendengar itu air muka Andri berubah, kecewa dengan apa yang didengarnya. Kejemawaan Mona membuat hati Andri layu, retak terdengar dari jantungnya. Yang lebih menyakitkan dari penolakan, mungkin cowok itu kecewa dengan kecongkakan Mona. Padahal Mona sendiri, sebenarnya menganggap Andri itu baik dan ganteng, yang harusnya cintanya bisa terbalas jika cowok yang menembaknya itu membawa seburuk-buruknya Honda Jazz.

Tapi gengsi cewek itu tinggi, teman-temannya dari balik kaca jendela Mobilio merah sudah menyoraki, menebenginya untuk pulang.

Tak mengacuhkan Andri, Mona pergi menggantungkan cinta cowok itu. Menyabur ke dalam mobil gengnya.

"Lu jadian ama Andri, ya?" cibir Sisca di kemudi.

Manyun karena tak terima, Mona memukul kepala Sisca dengan buku, "Gila kali!"

"Gue baru mutusin Bobi yang pelit itu, masa harus rela jadian ama cowok di bawah standarisasi--yang-harus-jadi-pacar-gue." Mona nyolot.

"Iyaaa ... tau, standarnya harus setia, ganteng, tajir, punya BMW, dan bla bla bla!"

"Eh, tapi kan Andri ganteng, tuh. Gak papa lagi, Mon."

"Dih, amit-amit ... amit-amit," Mona mengetuk-ngetuk kepalanya. Tawa membahana, apa yang dirumpikan dalam mobil itu selanjutnya adalah tentang keluaran terbaru Hermes, acara ngopi di Starbucks dan  hal glamour lainnya.

Gadis-gadis SMU yang bergelora, takut dibilang cupu jika tak mengikuti tren, dan Mona pikir itu keren.

***

Meninggalkan kebisingan dari Mobilio merah itu, Mona memasuki pagar rumah.

"See yaa!" teriaknya pada Sisca and-the-gank. Dia bersyukur masuk kelompok itu, gadis-gadis yang bisa menaikkan derajatnya.

Kaki Mona menyaruk pavling rumahnya, matanya menubruk penampakan sesuatu di depan garasi. Alphard putih? batinnya bertanya-tanya.

"Hai, Mona ..."

Laki-laki muda berparas ganteng langsung menyapa, di sebelahnya duduk wanita yang kira-kira berumur 24 tahun, dengan mini dress dan cardigan membalut tubuhnya yang langsing dan putih. Dandanannya pun tidak terlalu menor, minimalis. Menambah kesan yang manis.

"Ikut kami jalan-jalan, yuk, sekalian bantu milihin buat peningset pernikahan kami." Mas Anton langsung menyerbu tanpa menghiraukan Mona yang lelah sepulang sekolah. Kakak sepupunya itu memang begitu, sudah menjadi tabiatnya yang selalu terburu.

Mona melongo memandang mereka berdua, "Mas udah bilang tante, kok, ayo buruan mandi!" Anton berujar.

Anton menarik lengan Mona, Indri--pacarnya hanya melihat dan tersenyum geli.

Ya, Mona ingat. Sebulan lalu kakak sepupunya itu mengatakan mau menikah. Sedikit kecewa di hati, karena dari dulu mereka sudah dekat, Mas Anton mapan dan tampan, dari keluarga yang berada pula. Anton menetap di Aussy karena kepentingan study. Lalu kabar datang dia akan menikah. Mona menganggap dirinya tidak matre, hanya prinsipnya, kupu-kupu akan bergumul dengan kupu-kupu, pun kecoak akan berkelompok dengan kawanan lipasnya. Lalu angannya memikirkan Andri lagi, apakah dia sejenis kecoak di matanya?

Alphard putih itu mendarat lepas di parkiran mall, keburu beranjak sore lalu Mas Anton mengajak makan.

"Eh, Mona sekolah di SMUN 9 juga, ya?" Indri bertanya ramah.

Yang ditanya masih mengulum mi ramen di mulut, "Ehem--".

"Kenal sama Ian, nggak? Kelas IPA 3."

"Ian siapa, Kak? Nggak kenal."

"Oh, aku kira sekelas, adikku itu."

Mona menatap Indri, ekspresi kaget tercetak jelas di parasnya. "Mbak Indri punya adek, sekolah di sekolahku juga?"

Ya, dunia tak selebar daun kelor, klise memang. Tunangan Anton punya adik yang bersekolah sama dengan Mona.

Mona mengamati Indri, wanita muda itu teman kuliah Mas Anton di Aussy. Mereka mengambil S3 ilmu ekonomi. Sudah jelas wanita itu dari keluarga terpandang dan kaya. 'Mbak  Indri itu sungguh cantik, pasti adiknya cakep pula.' Ah, Mona mulai berandai-andai.

Mona menerka-nerka siapa gerangan adik Indri yang bernama Ian anak IPA 3. 'Kalo anak-anak tajir sih, mestinya gue kenal' gumam Mona. Ah, tapi, kan, Mona di kelas IPS.

Sore itu rona Mona terlihat begitu ceria. Betapa tidak, selain membeli keperluan pra-wedding untuk Anton, Mona juga ikut shopping. Tentu saja ditraktir oleh Anton dan Indri.

Tak sungkan cewek SMU itu memilih-milih barang ber-merk. Sebuah tas Gucci keluaran terbaru begitu memikat mata Mona.

"Bagus, ya, mau ambil?" tetiba saja Indri sudah berada di samping Mona, memandang takjub pada benda kotak berwarna biru kemilau tersebut. Bahannya dari kulit polos, berkelir lembut nan cerah. Sangat pas untuk gadis seusia Mona yang akan menunjang penampilannya.

Mona meringis, malu, "Eng ..., nggak usah, Mbak," Mona menggandeng tangan Indri mengajak berlalu dari benda di balik etalase itu, "tadi kan udah dapat dress dibeliin Mas Anton ...."

"Tadi kan Mas Anton yang beliin, sekarang gantian Mbak, ya, yang beliin," senyum Indri manis, semanis potongan rainbow cake yang sering dikulum Mona.

Tentu saja, Mona tak bisa menolak pemberian Indri. Lagi pula, tas itu sudah dari lama dia incar. Tapi uang tabungannya belum cukup. Papa Mona juga tidak asal saja memberi uang. Bersyukurlah dia mendapat tas dambaannya di sore penuh berkah tersebut.

Menit demi menit hingga entah sampai berapa jam kaki mereka membawa mengitari gedung yang menjulang di pusat kota itu. Dari siang mal terlihat lengang, gedung bertingkat empat dengan dua pintu utama, menyajikan surga belanja untuk kaum sosialita. Anton mengeluh pegal di kaki, dengan kedua tangan penuh paper-pack hasil buruan untuk acara pernikahan nanti.

Mona mulai berandai lagi, jika lebih gesit sedikit saja dari Indri mungkin dia bisa mendapatkan Anton, pasti kehidupan setelah pernikahan serba mewah, dan terjamin. Sedikit iri tercipta di benaknya.

Lelaki muda itu menaruh barang-barang di bagasi. Mendapati Mona yang dari tadi memandangnya, "Kita anterin Mbak Indri dulu, ya, habis itu entar kamu," suara Anton sangat lembut, tapi tak menghilangkan aura kejantanannya.

Mona mengangguk diam.

***

Mata Mona menyapu pemandangan pinus-pinus kecil di sepanjang pagar rumah megah yang ditujunya. Mobil Anton berhenti di depan pos satpam pribadi. Orangtua Indri ternyata pengusaha minyak bumi dan berada di luar pulau.

"Minum kopi sebentar, yaa!" pinta Indri manja sembari mengerling ke arah Mona.

"Sebentar aja, ya, ntar Mona keburu dimarahin sama Mama, loh," Anton menyenggol lengan Mona, setengah mencibir.

"Gue bukan anak kecil lagi keles, Mas!" cewek itu membuat bibirnya semanyun mungkin.

Anton terbahak, menepuk-nepuk kepala adik sepupunya itu. Yang dielus malah seperti kucing--makin manja, makin merajuk. Mereka berjalan melewati taman depan, tak henti-hentinya cewek yang mengaku tidak matre itu melongo takjub. 'Ini rumah, apa istana?' pikirnya.

Hari itu Mona seolah udik, seolah kecil. Cewek yang biasanya ke sekolah dengan dandanan glamour--mirip di sinetron-sinetron anak sekolahan zaman sekarang, tetiba saja merasa dirinya miskin di rumah yang berdiri gagah tersebut. Dia yang biasanya bermegah-megah, berupaya menyaingi Sisca, saat itu dia berpikir bahwa orangtua Sisca pasti kalah tajir dengan pemilik rumah ini.

"Mona bengong, aja. Masuk, yuk!" Indri membuyarkan lamunan Mona. Mona mengingat-ingat lagi siapa gerangan Ian. Indri menyeduh kopi di bar mini "Ini Hacienda La Esmeralda, kopi Panama, rasanya enaaak banget."

Bik Marni yang mencoba membantu tak dihiraukannya, Indri lebih senang mengerjakannya sendiri. Anton pernah bilang pada Mona, Indri itu beda dari cewek-cewek lainnya. Tidak manja, penampilannya juga tak terlalu glamour. Tapi wanita muda itu tetap anggun dengan caranya, tetap menawan. Dan tentu saja cerdas.

Dengan langkah tenang Indri menyodorkan cangkir kopi pada Mona, lalu Anton. Kopi itu mengepul panas. "Sebentar, aku panggil Ian dulu, ya!"

Mona menyesap kopi setelah meniup-niup kecil permukaannya, rasa panasnya melejit di lidah. 'Kopi Panama? Lebih enak di starbucks, sih' gumamnya. Lalu dia mendengar langkah kaki, dua langkah kaki. Dengan sedikit celotehan yang dapat didengarnya.

"Ya, deh ..., calon pengantin baru," suara cowok itu seperti pernah didengar oleh Mona. "Hai, Mas Anton, tambah kurus aja, nih!"

"Kurus apa, sih, Ian?"

"Nervous mikirin kawinan, ya?"

Tawa renyah membahana, Mona mendongak, menatap Ian, matanya melotot seketika. "An--dri?" ujarnya hampir tersedak.

"Mon--"

"Andr--" Mona langsung tersedak, dan terbatuk-batuk. Anton memukul-mukul punggung Mona. Indri kalang-kabut mengambil air putih lalu menyodorkannya. Yang namanya Andri hanya terbengong-bengong.

"Andrian ...?" Mona mencoba meyakinkan dirinya sendiri, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Ya, dialah Andrian, cowok yang ditolaknya mentah-mentah tadi siang. Cowok yang dianggapnya kere, yang mana Mona meyakinkan dirinya tidak matre. Ternyata Andrian anak pengusaha minyak bumi. Mona jengah dan merasa rendah diri, dengan apa yang diucapkannya siang tadi pada Andri. Ah, ironis sekali.

 

Malang. 1 Mei 2016

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer The Smoker
The Smoker at Matre (4 years 3 weeks ago)
80

Karttttttt.... gw sempat lupa nantangin apa ya gw, ahiya, romantis dan yg penting karakter yg napak itu. Itu pas gw baca nyampe tengah, baru inget.
.
Lupakan dulu soal itu, gw perhatiian penggunaan Majas metonomia di awal2 yg kerasa ngambang ya ke gw. Entah... Mungkin ngaruh sii ke warna cerita tapi rasanya nggak berhasil dibungkus halus. Apa gw aja Kali yak..
.
Lantas, .... Kayaknya ini upaya sekedar upaya terselubung lu buat hindari hukuman, ntar2 tetep aja ada resikonya ah, hukuman, kalo bikinnya asal. Iyah, itu terdengar sompret Emang, ngahaha...
Jadi intinya ini nggak sama sekali masuk ke kriteria tantangan gw.
Biarin, gw doang ini jurinya, axaxaxaxa.
Nangis kejer lagi dah gih...

Writer daniswanda
daniswanda at Matre (4 years 3 weeks ago)
80

Ini perlu di tag horkom juga kayaknya tante. Saking klisenya tema cerita ini bikin saya nyengir dan kata2 slank yg dipake bikin bulu kuduk saya berdiri. Mengapa ibu guru kami bisa diperdaya sama om-om buat nulis cerita ginian?

Writer kartika demia
kartika demia at Matre (4 years 3 weeks ago)

Hu..hu..hu...
*nangiskejer