Ulang Tahun dan Kematian

Dia ingat hari ini dia berulang tahun. Tapi seperti biasa tak ada orang lain yang mengingatnya, jadi sebaiknya dia pun tak perlu mengingat-ingatnya lagi.

Lagipula kenapa kalau tanggal ini sama dengan limapuluh tahun lalu saat dia lahir? Mungkin agar dia bersyukur kalau dia bisa berumur panjang -lebih panjang dari suaminya yang meninggal lima tahun lalu karena stroke. Atau mungkin agar dia bersyukur saat reumatik menyerang dan bukan dementia. Atau mengingat kalau mungkin sebentar lagi waktu mati akan tiba. Tak apa-apa, lagipula dia sudah kangen pada suaminya. Anaknya juga sudah menikah, punya urusan sendiri, tak akan rindu kalau dia mati.

Pukul lima dia mandi, lalu naik sepeda ke pasar, membeli pecel dan daging ayam. Pecel untuk sarapan, daging ayam seperempat kilo untuk digoreng sampai makan malam. Lumayan, jadi kesibukan penghilang pikiran macam-macam.

Jam tujuh dia sudah selesai sarapan, lalu duduk di bangku depan rumah, menyapa sesiapapun yang kebetulan lewat.
"Kesiangan, nak?” Sapanya pada Tinton yang berlari-lari dengan seragam merah putih. Tas besar terlompat-lompat di punggung kecilnya.

"Bawa apa, Yu?” sapanya lagi pada Yu Rini yang membawa buntelan ke pasar.
"Bawa kopi ini lo, Bude.” Jawab Yu Rini sambil memperlihatkan bijih-bijih kopi berwarna putih kekuningan. Lalu mereka mengobrol beberapa menit soal harga cabai dan bawang merah yang naik tinggi dan soal anak Yu Rini yang sekolah di luar kota.

Semakin siang semakin jarang orang yang lewat. Jam sepuluh dia masuk kembali ke rumah, berhenti di tembok ruang tamu, di sisi kanan lemari televisi, tempat pigura besar berisi foto suaminya terpajang.
"Kok kamu tega meninggalkanku, Pak?” Katanya lekat-lekat dengan mata berkaca.

Disaat kesepian seperti ini dia merasa seperti berada di dalam akuarium. Orang-orang berada di luar sana memiliki hidup masing-masing, sementara dia hanya berputar-putar dalam kotak kecil kehampaan.

Jam satu siang dia ingin tidur tapi langkahnya terhenti di pintu kamar. Sesosok makhluk berjubah hitam dengan wajah kehampaan berdiri di sisi ranjangnya.
"Apa kau malaikat maut?" Makhluk itu mengangguk.
"Apakah sekarang waktuku pulang?"
"Satu jam lagi." Makhluk itu menjawab dengan suara yang bergaung dari kejauhan.
Dia mengangguk. Entah seberapa sering dia merencanakan saat ini hingga dia paham apa saja yang harus dilakukannya. Pertama dia mengeluarkan semua sertifikat tanah bersama sepucuk surat wasiat yang telah dia tulis lima tahun lalu, lalu dia letakkan baik-baik di atas meja kamar. Lalu dia mandi besar. Membersihkan semua kotoran dan najis. Dia ingin mati dalam keadaan suci. Lalu dia sholat dua rakaat. Sepuluh menit terakhir, dia mengenakan baju terbaiknya, yang dibelikan anaknya lebaran kemarin, lalu dia duduk di bangku depan, dia tak ingin mati di dalam rumah lalu membusuk menunggu seseorang menemukan mayatnya. Sekarang dia siap untuk mati. Lebih tepat dia tak sabar menunggu mati. Dia merasa begitu bahagia.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Anaknya menelepon, dia mengangkat teleponnya,
"Selamat ulang tahun, Ma... Semoga panjang umur...," dia bahkan sudah lupa sekarang ulang tahunnya.
"Terimakasih, sayang...," jawabnya dengan haru,
"Maaf belum bisa kesana, si papi masih sibuk lembur terus, dan Faiq baru mau ujian, ......," lalu putrinya itu bercerita macam-macam soal musim hujan yang tak kunjung datang, tentang harga rumah yang naik terus, tentang ah entah apalagi,
"Sudah ya, Ma... mau nganter si Faiq les renang dulu. Assalamu'alaikum...,"
"Wa'alaikumsalam...," dia melirik jam di ujung atas ponselnya. Sepuluh menitnya sudah terlewat. Kenapa dia masih hidup?

Dia menoleh buru-buru. Sang kematian berdiri di belakang bangkunya. Diam. Sosoknya berubah transparan di bawah cahaya matahari. Serupa bayang-bayang yang mengambang, tapi dia yakin itu malaikat kematian. Belum sempat dia bertanya, sang kematian sudah berbicara dengan suaranya yang bergema dan teredam,
"Doa anakmu dikabulkan. Umurmu ditambah." Dia ternganga dengan takjub. Dia baru tersadar saat Yu Rini yang baru pulang dari pasar menyapa,
“Mau kondangan kemana, Budhe?” dia terhenyak. Kematian sudah pergi. Dan sekarang dia merasa sangat kesepian lagi.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer rian
rian at Ulang Tahun dan Kematian (3 years 23 weeks ago)
80

Suka sama kesederhanaan narasinya, sama konsistensi suasananya, sama pesannya tentang kematian. Tapi mungkin karena terlalu pendek, si tokoh utamanya buat saya terasa belum penuh aja. Tapi mungkin cuma saya, yg lainnya kan bilang ini ngena.

Sekian. Maaf kalau enggak berkenan.

Writer latophia
latophia at Ulang Tahun dan Kematian (3 years 23 weeks ago)

Selalu berkenan dengan kritikmu kok Rian... bahkan kalau mau lebih pedesss pun boleh banget kok ^^

Writer citapraaa
citapraaa at Ulang Tahun dan Kematian (3 years 23 weeks ago)
100

Parah (?)
di satu detik saya merasa bahagia, terharu. di detik selanjutnya langsung terjun (?)
cerita pendek yang singkat tapi mengena.
salam.

Writer latophia
latophia at Ulang Tahun dan Kematian (3 years 23 weeks ago)

Salam balik citapraaa... makasih udah mampir :)

Writer Nine
Nine at Ulang Tahun dan Kematian (3 years 24 weeks ago)
100

Saya suka dengan endingnya. ^^
Simpel sih cerita ini. Nggak muluk-muluk. Walau konflik, twist, dan penokohannya tidak kompleks, tpi sebagai pewartaan, kisah ini meninggalkan kesan di pembacaan sya: TIDAK ADA YANG TAHU KAPAN AJAL MENJEMPUT, BAHKAN OLEH MALAIKAT MAUT ITU SENDIRI. Gitu lah kira2. Mantap. Sip. Semoga berkenan. ^^

Writer latophia
latophia at Ulang Tahun dan Kematian (3 years 24 weeks ago)

Sebagai pewartaan ya... oke kayaknya cerpennya masih terlalu datar seperti papan talenan^^"

Makasih udah mampir Nine^^

Writer daniswanda
daniswanda at Ulang Tahun dan Kematian (3 years 24 weeks ago)
90

Menurut saya cerita ini kuat narasinya. Menarik dan memikat hingga akhir. Tapi entah knp saya agak kecewa sama endingnya. Mungkin karena udah ketebak di 3 paragraf terakhir. Mungkin juga saya mengharapkan twist yg lebih gila seperti si malaikat maut yg lebih tertarik ngambil nyawa anaknya XD. But overall this is nice. Cheers.

Writer latophia
latophia at Ulang Tahun dan Kematian (3 years 24 weeks ago)

Kalo pake twist gila jadinya malah thriller bukan drama ^^
Masih gampang ketebak ya endingnya? Coba baca cerpennya Thiya tuh yang suka nge twist kayak roller coaster...

Btw salam kenal n makasih komennya^^

Writer kukuhniam
kukuhniam at Ulang Tahun dan Kematian (3 years 24 weeks ago)
2550

suka sama pemilihan temanya mbk, tapi kalau masih 50 tahun kurang terkesan tua dan kesepian kali ya. Usia pensiun kan 55 kalo gak salah, jadi masih banyak yang terkesan masih sehat dan aktif bekerja. *Abaikan

Writer latophia
latophia at Ulang Tahun dan Kematian (3 years 24 weeks ago)

Oke sip... Makasih udah mampir komen ya ^^

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Ulang Tahun dan Kematian (3 years 24 weeks ago)
100

KAK LATOPHIA!!!! LAMA TAK BERSUA, APA KABAR?!!! #capsjebol
Hihihi, lama gak liat, jadi kangen :3
.
Nggg, mengenai tulisan, saya masih lebih suka Rumah Dandelion sih. Soalnya manis-manis gimana gitu, tapi yang ini bagus juga.
Cuma, pas kematian datang, kok kayak datar aja gitu si nenek (saya manggilnya nenek aja). Iya sih pasrah, cuma pergolakan batinnya belum kuat (rasanya). Tempo cerita juga terlalu cepat, jadi belum apa-apa, udah tamat aja. Padahal kalau latar suasana dan perasaan dibuat lebih detail (saran sih, terserah mau pakai apa enggak :3) bisa lebih bagus lagi, jadi pembaca ada waktu untuk menyerap cerita dan merasa "puas" saat mengakhirinya.
Untuk ide,aku suka >///<
Kayaknya segitu aja deh dulu.
Terus nulis ya Kak^^
.
Oh iya, boleh minta alamat e-mailnya yang aktif gak? Ada yang mau saya tanya (ahaha, jadi maloe >///<)

Writer latophia
latophia at Ulang Tahun dan Kematian (3 years 24 weeks ago)

Ahahah... senengnya ada yg ngangenin. Sini peluks dulu Thiya :*

Untuk cerita yg kurang panjang dan ga bisa memuaskan (ups...) itu karena aku blum bisa nulis narasi yang runtut, rapi dan ga monoton. Tiap nyoba nulis panjang jatuhnya malah ga fokus, idenya bleber kemana-mana. Jadi maafkan aku yang belum bisa memuaskanmu, Thiya... kalau mau lebih puas silahkan selingkuh ke sebelah o___♡"

Nih emailnya latifaa.hanum@gmail.com
Tapi jangan nanyain PR atau kunci ujian ya