The Last Supper

Suara sendok berdenting pelan beradu dengan piring memenuhi ruang makan.

"Redha, jangan main handphone di meja makan!" Perintah Mama.

"Lagi chatting sama pacar tuh, Ma. Kalau ga dibales nanti ada yang marah, deh." Biba, adik perempuan Redha yang masih kelas satu SMA nyeletuk sambil nyengir. Redha menjulurkan lidahnya, HP dia letakkan lalu meneruskan suapannya.

"Loh, kamu udah punya pacar, Re?"

"Mama jangan dengerin omongan Biba…." Redha melirik galak pada Biba.

"Bener kok, Ma. Namanya Alika, cantik deh, tapi galak. Biba liatin facebook kakak nanti." Terang Biba, lagi-lagi sambil nyengir merasa menang.

"Hei... hei... jangan macam-macam lu, Bib! Buat apa Kakak beliin sepatu baru kalau jadi tukang ngadu gitu?" Redha menyodok lengan adiknya yang berusaha menghindar. Usia mereka memang selisih jauh, sepuluh tahun, wajar kalau Biba jadi anak bungsu yang dimanjakan.

"Dikenalin ke Mama dong, Re. Minggu ini diajak makan malam di rumah, ya?"

"Jangan, Ma! Nanti dikira mau buruan dilamar, lagi..." tolak Redha,

“Ya enggak apa-apa… kan Mama juga pengen cepet punya cucu, Re.”

"Iya, jangan Ma... Biba juga gak setuju Kak Redha punya istri galak kayak gitu...." Biba gak mau kalah. Redha melirik adiknya,

"Memang tau darimana Alika galak?" Tanyanya. Biba mengangkat bahu dengan cuek sambil buru-buru menghabiskan makannya. Setelah piringnya bersih dia berdiri, menghadap Redha, berkacak pinggang sambil berkata menirukan wanita galak,

"Ayang kemana aja sih kok gak bisa dihubungi? Telepon diangkat dong, jangan dianggurin!!!" Katanya sambil buru-buru lari menghindari cubitan tangan Redha yang sudah terjulur. Biba tertawa sampai masuk ke kamar.

"Biba udah pernah ketemu pacar kamu?" Tanya Mama. Redha menghela napas, gara-gara Biba nih Mama jadi penasaran.

"Belum, Ma. Sok tau aja tuh, Biba...," mungkin dia harus meng-unfriend adiknya itu dari facebook-nya.

“Kamu ketemu Alika dimana?” Mama masih belum menyerah bertanya.

“Dia kerja di gedung kantor Redha juga, Ma.” Mama mengangguk-angguk.

"Papa keluar kota lagi, ya?" Tanya Redha berusaha mengalihkan pembicaraan. Biasanya strategi ini sangat manjur untuk Mama.

"Iya, disuruh atasannya seminar di Surabaya."

"Sampai kapan?"

"Senin sampai rumah, katanya."

"Ooooh... si Biba minta oleh-oleh apa?"

"Tas baru buat main... eh Re, Mama serius lo ya... besok Minggu undang si Alika itu makan malam disini, biar Mama masakin gurame asam manis.” Kali ini strategi decoy Redha gagal total!

“Enggak mau ah, Ma.”

“Harus mau! Kalau Alika enggak dateng, kamu Mama suruh ngabisin semmmuuuaaa guramenya,” Mama berdiri sebelum melanjutkan kalimatnya, “sampai tulang-tulangnya sekalian!” Redha mengkeret.

***
“Lika, Mama nyuruh kamu makan malem di rumah hari Minggu ini. Bisa?” tanya Redha saat mereka tengah makan siang bersama di kafetaria gedung kantor mereka. Alika terbatuk. Redha mengulurkan air putih.
“Pelan-pelan dong kalau makan, Sayang.” Katanya.

“Kamu ngagetin sih, Re! Kenapa Mama kamu ngajak makan malam?” Alika bertanya dengan antusias. Redha ngeri membayangkan apa yang mungkin dibayangkan di kepala Alika.

“Makan malam biasa, kok… Mama cuma pengen ketemu kamu aja.” Redha berusaha memadamkan semangat Alika, tapi sia-sia. Api antusiasme masih berkobar di mata Alika.

“Kenapa pengen ketemu? Kamu cerita apa aja sama Mama soal aku?” Redha diam. Kalau dia bilang kalau Biba yang cerita, pasti nanti Alika juga ingin tahu soal Biba, mungkin bakal mem-follow facebook-nya, lalu bertanya-tanya banyak hal soal dia pada Biba… Itu enggak boleh terjadi! Bisa saja Biba bercerita macam-macam yang gak bener (atau yang bener, tapi aib yang pengen dan harus dia rahasiakan), apalagi Biba enggak suka Alika. Anak itu mengerikan kalau enggak suka sama orang. Redha ingat Biba pernah memasukkan ikan cupang hidup ke minuman Tante Rita saat bertamu ke rumah. Bayangkan anak SMP yang biasanya sangat membenci teman Mama itu -gara-gara sering membanding-bandingkan Biba dengan anaknya sendiri- tiba-tiba menyajikan minum, mencium tangan, lalu mengajak ngobrol dengan manis. Tante Rita sampai kehilangan kata-kata melihat sikap manis Biba, Mama hampir menangis terharu, tetapi kemudian saat Tante Rita menyeruput teh dari cangkirnya, seekor ikan cupang yang hampir pingsan menyangkut di bibirnya. Tante Rita muntah-muntah, dan kapok bertamu ke rumah Mama lagi, meskipun Mama sudah menyuapnya dengan sepaket piring mewah yang dikirim berikut permintaan maaf. Biba dihukum enggak boleh keluar rumah (kecuali untuk sekolah) selama tiga bulan, tapi dia tetap tertawa-tawa puas. Puas berhasil mengalahkan musuhnya. Adiknya mungkin punya bakat psikopat!

“Hei, Re? Kenapa malah bengong sih?”

“Hah? Oooh… gak papa, kemarin keceplosan ngomong punya pacar aja, jadi ya gitu…,” Binar mata Alika meredup,

“Gitu doang?” Tanyanya. Redha mengangguk.

“Gak mungkin kamu enggak cerita apapun selain itu!” Tuding Alika. Redha menghela nafas,

“Jadi mau enggak makan malamnya?” Dia menggunakan taktik serupa yang sering dia gunakan untuk menghadapi Mama.

“Mau dong!” Jawab Alika cepat. Redha lega.

“Eh… Mama kamu kayak apa orangnya? Sukanya apa? Nanti biar kubawain ke rumah kamu.”

“Udah dong, Sayang… asal kamu jadi diri kamu sendiri, pasti semua lancar kok.” Alika cemberut, matanya menerawang. Mungkin memikirkan gaun yang akan dipakainya, atau apa yang harus dia bawa sebagai buah tangan, Redha tidak peduli, dia hanya ingin berkonsentrasi menghabiskan ayam geprek-nya sekarang.

“Nanti kalau mau beli cincin, aku tau tempat yang jual berlian bagus, Re.” celetuk Alika tiba-tiba. Redha tak bisa berkata-kata, karena secuil daging ayam menyumbat jalan napasnya.

***
Setelah hari itu Mama berkali-kali menanyakan kesediaan Alika. Bahkan sampai Minggu sore sembari memasak gurame, Mama mengulangi pertanyaan yang sama.

“Iya, Ma. Alika bisa dateng nanti malem.” Jawab Redha dengan bosan.

“Syukur deh kalau begitu.” Syukur… syukur… Mama enggak tahu saja ide makan malam ini hampir membuatnya terbunuh dicekik daging ayam!

“Papa pulang!!!” teriakan Biba dari depan rumah membuat Redha dan Mama kaget, lalu bergegas ke teras. Benar saja, Papa di sana, sedang meletakkan kopernya di samping kursi teras. Mama, Biba dan Redha bergantian mencium tangan Papa.

“Katanya pulang besok, Pa?” tanya Mama. Papa merangkul pundak Mama lalu mengajak Mama masuk ke dalam.

“Papa kangen gurame asem manis, Mama.” Gombalnya. Aaaww… Mama langsung tersipu,

“Kebetulan Mama lagi masak gurame asem manis lo, Pa…,”

“Beneran? Waaah… Papa memang beruntung punya istri kayak Mama…,” Redha tidak mendengar lanjutan percakapan mereka karena sekarang dia memelototi Biba.

“Biasanya kalau Papa pulang, lu langsung heboh bongkar oleh-oleh Bib?” tanyanya, matanya menyipit menyelidik. Biba menepok jidatnya,

“Oh iya, lupa…,” dia nyengir sambil menarik koper Papa, lalu membongkarnya di ruang tamu. Perasaan Redha enggak enak. Dia yakin Papa sudah tahu dari Biba kalau Alika akan datang, dan kemungkinan Papa pulang lebih cepat untuk ikut bertemu Alika. Yang dia belum yakin, apa Papa sudah kena hasutan Biba? Papa dan Biba itu benar-benar hasil fotocopy, tak hanya wajah tapi sifat mereka juga serupa. Saat kejadian dengan Tante Rita, ternyata Papa mendukung aksi Biba (mungkin karena Mama sering jadi lupa masak tiap Tante Rita bertamu), makanya selama Biba dikurung, Papa sering membelikannya es krim, coklat, permen, dan segala macam cemilan. Hasilnya, keluar dari hukuman, pipi Biba tembem seperti beruang bersiap hibernasi.

Redha tak bisa tenang selama sisa hari itu. Dia menginspeksi semua makanan, gelas, teko, piring, sebelum disajikan di ruang makan. Setelah itu dia masih duduk di kursi makan, berjaga dari kemungkinan Biba melakukan hal aneh-aneh, sampai Mama -yang sudah berdandan rapi-
menjewer kupingnya,
“Sana mandi dulu, dan ganti kaos bulukmu dengan baju yang rapi! Jangan malu-maluin Mama!” kata Mama. Redha mendudukkan Mama ke kursi makan,

“Demi kehormatan keluarga kita, tolong Mama jaga semua makanan ini sampai Redha selesai siap-siap ya, Ma?!” katanya.

“Jangan biarkan Biba mendekat dalam radius satu meter!” katanya lagi sambil buru-buru masuk kamar mandi.
***
Jam tujuh kurang semua sudah siap dan rapi. Mama bahkan berhasil memaksa Biba menguncir rambutnya. Tak lama mobil Alika datang. Redha membukakan pintu menyambutnya. Redha bengong melihat Alika yang memakai gaun merah tua selutut dengan cardigan putih berbordir bunga yang cantik. Wajahnya dipulas make up tipis, rambut panjangnya dikuncir kuda. Sangat berbeda dengan dandanan kantornya yang formal. Alika tersenyum,

“Kok aku enggak disuruh masuk, Yang?” tanyanya. Redha tersadar dia menghalangi jalan.

“Kamu cantik,” bisiknya yang membuat Alika tersipu. Redha lalu menggandeng Alika bertemu keluarganya yang sudah menunggu di ruang tamu.

“Selamat malam, Ma.” Sapa Alika pada Mama Redha sambil mencium tangannya.

“Ini ada oleh-oleh. Ini pai apel dari bakery terkenal lo, Ma…, aku harus pesan dari tiga hari lalu khusus buat Mama.” Tambahnya sambil menyerahkan tas kertas yang dibawanya pada Mama.

“Terima kasih, Sayang.” Kata Mama sambil mencium pipi Alika.

“Selamat malam, Pa.” Alika mencium tangan Papa. Redha deg-degan saat giliran Alika menyalami Biba,

“Kamu adek Redha, ya? Namanya siapa?” wajah Biba seperti kaget,

“Memang Kak Redha belum ngenalin aku, Kak?”

“Belum, tuh.” Jawab Alika sambil menengok ke Redha yang gelagapan. Lalu Biba berbisik pada Alika,

“Mungkin karena aku tahu semua rahasia Kak Redha, termasuk MANTAN-MANTANNYA,” kata Biba sambil menekankan kata ‘mantan’, Redha mendelik pada Biba, “Kalau Kak Alika pengen tahu, nanti aku kasih nomer HPku,” tambah Biba. Redha nelangsa, dia tidak yakin hubungannya ini bisa bertahan sampai minggu depan.

“Ayuk, ngobrolnya dilanjut sambil makan. Alika suka gurame asam manis gak?” ajak Mama.

“Wah, itu menu favoritku, Ma.”

“Oh ya? Itu menu favorit Redha juga, lo.” Lalu mereka mulai mengobrol dengan topik masak memasak yang membosankan bagi Redha, tapi tak masalah, dia senang melihat Alika dan Mama bisa akrab. Lagipula dengan mereka asik mengobrol, dia bisa leluasa menikmati gurame asam manisnya sambil mengamati keadaan.

Biba enggak ngomong aneh-aneh. Makan dengan normal. Papa juga normal. Semua normal. Sejauh ini.

"Gimana City semalem, Re? Nge-gol-in berapa?" Tanya Papa tiba-tiba. Mulut Redha sedang penuh mengunyah gurame, jadi dia mengacungkan tiga jarinya dengan semangat lalu menunjukkannya pada Papa. Dia memang suka diajak ngobrol soal sepak bola, apalagi tentang Manchester City, klub kebanggaannya.

"Waaaah... lumayan,” Lalu Papa beralih pada Alika,

“Jangan cemburu ya, Alika, tapi Redha ini kalau demi City, bangun jam satu pagi juga rela…,” Redha nyengir, Alika bengong.

"Iya..., kamar Kak Redha juga jadi biruuuu semua, penuh gambar City!" Tambah Biba.

"Hah? Beneran, Re?" Tanya Alika. Redha nyengir kagok.

"Cuma beberapa doang, kok." Katanya. Sepertinya Alika kurang senang dengan jawaban Redha. Apa mungkin Alika punya pengalaman enggak enak sama mantan pacar penggila bola? Redha bertanya-tanya.

"Padahal udah pernah Mama buang beberapa, habis udah buluk, eeeh Mama malah diamuk." Tambah Mama pada Alika.

“Jadi gimana, Re? City masih nomer satu?" Tanya Papa lagi, Redha menelan tomat sebelum menjawab,

"Jelas dong, Pa!!" Jawab Redha berapi-api.

Tiba-tiba Alika menaruh sendok dan garpunya dengan kasar lalu berdiri. Seluruh penghuni meja makan menatap ke arahnya dengan bingung dan mulut setengah terbuka,

"Terima kasih atas makan malamnya, Tante. Saya pamit dulu!" Kata Alika dengan tajam sebelum berbalik pergi melewati ruang tamu. Mama kehilangan kata-kata, dia menatap Redha. Papa dan Biba juga. Kini semua mata menatap pada Redha yang kebingungan.

"Susul dia! Cepat!" Kata Mama antara kesal pada kebengongan Redha dan bingung dengan sikap Alika.
Redha menenggak air putihnya sebelum bergegas menyusul pacarnya. Alika sudah masuk ke mobil ketika Redha sampai. Redha menggedor jendela mobilnya.

"Please... buka Alika... kamu kenapa?" Jendela mobil membuka setengah, menampakkan wajah Alika yang banjir air mata.

"Elu bajingan ya Re?! Siapa itu Siti, hah?! Jijik gue sama elu!!!"
“Ta… tapi itu… Manchester City…,” percuma, jendela mobil Alika sudah menutup, dia sudah meluncur keluar gerbang. Sama sekali tidak peduli Redha terjatuh terserempet mobilnya. Atau mungkin dia memang sengaja.

Redha berjalan dengan lunglai ke ruang makan sambil mengelus-elus lengannya yang lecet. Semua mata masih terpaku padanya, sendok Mama malah masih membeku di udara, setengah jalan ke mulutnya.

"Gara-gara Papa, sih!" Tuding Redha.

"Loh... kok Papa?" Papa kebingungan.

"Alika pikir City itu Siti, nama cewek!" Semuanya masih hening sambil menatap Redha, membuat dia merasa canggung. Redha menggaruk kepalanya yang enggak gatal,

"Apa yang dia pikir waktu gue bilang City ngegolin tiga, coba...," dia bergumam sendiri sambil berbalik ke kamar. Dia harus mencoba menghubungi Alika, meluruskan semua kesalah pahaman ini. Sekalipun dia tidak yakin hubungannya masih bisa terselamatkan, tapi setidaknya reputasinya (semoga) bisa.

Saat dia sampai di depan pintu kamar, dia bisa mendengar Papa dan Biba terbahak-bahak. Seketika Redha sadar kalau mereka berdua sengaja mengacaukan makan malamnya. Dia masuk ke kamar mengambil handphone, mencoba menelepon Alika, sambil berandai-andai meng-unfriend adik dan papanya di kehidupan nyata.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Shinichi
Shinichi at The Last Supper (3 years 13 weeks ago)
70

kirain bakal last supper "beneran". ahak hak hak. masih banyak kesalahan penulisan yg saya kira harusnya enggak terjadi. kip nulis aja.

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at The Last Supper (3 years 13 weeks ago)
50

Maaf telat (telat banget coy).
Aku tidak tahu harus komen apa, karena sepertinya hampir sama dengan yang lain.
.
Kesan setelah baca ini ... komedi yang kurang nendang.

.
Aku tidak bisa komen lebih banyak lagi. Belum kenal kamu, gaya tulisanmu, ayahmu, ibumu, dan keluargamu, kita juga belum bertemu (apa coba?).
.
Segitu saja, maaf jika komennya tidak bermutu tinggi.
.
Salam.

Writer alcyon
alcyon at The Last Supper (3 years 15 weeks ago)
100

blm bisa komen, harus makan malam dulu, demi Tuhan, aku sepertinya mau beli nasgor aja... harap sabar ya, poin aja dulu, hehehe

Writer vinegar
vinegar at The Last Supper (3 years 15 weeks ago)
70

Hai, lathopia lama ga keliatan.

Itu si Alika ya, baru pertama kali ketemu orang tuanya Redha udah manggil Mama Papa aja, kepedean diangkat mantu :v :v. Dan entah apa alasan dia nyombongin pai bawaannya itu, umumnya kan malah merendah gitu ya buat ngambil hati.

Lainnya udah pada dikomen ya. Ya udah deh, gatau jg mau ngomen apa :v :v

Writer latophia
latophia at The Last Supper (3 years 15 weeks ago)

Hai juga Vine, bukannya sama ga pernah keliatannya ya? :v :v
Sini turun gunung gih, mumpung senior lg pada ngumpul bagi2 cabe... kan jarang2 tuh :D
...
Nah itu, pengennya sih bikin karakter si Alika ini kepedean dan sedikit sombong yang bikin Biba dan Papanya ga setuju, tapi memang kurang smooth sih ya, jadi ganjel dimana2
...
Hihi..makasih udah mampir ya vine, bulan depan kayaknya bakal ada tantangan lagi deh, ikutan ya? ya? ya? (promosi^^)

Writer nyamuk
nyamuk at The Last Supper (3 years 16 weeks ago)
80

Menurut saya ini komedinya maksa.... setuju sama Bang Herjuno, ceritanya muter-muter, kayak sengaja dipanjang-panjangin. Tp menghibur jg sih..
salam kenal

Writer latophia
latophia at The Last Supper (3 years 15 weeks ago)

Hoho... trimakasih udah mampir ya Bang Nyam...
Salam kenal^^

Writer kukuhniam
kukuhniam at The Last Supper (3 years 16 weeks ago)
90

Seru pia, awalnya saya kira serius, tapi ternyata ngomedi
tapi menurut saya, ada yang janggal. menurut saya lhoh ini.
konflik soal siti itu kurang ditekan.
Gimana ya ngomongnya? Duh, jadi gerogi...
gini lhoh, kalau pembaca dibuat tertipu juga dengan siti itu gimana? kalau hanya Alika yang tertipu kan jadi merasa Alika ini kok aneh amat jadi cewek, saya saja 'pembaca' ngerti! (Mungkin bisa dibuat Siti saja jangan City - meski menyalahi EYD kali atau entah, nggak fahamlah ada EYd nggak buat Citynya - tapi diberikan latar, kalau keluarga Redha agak medhok yang biasa ngomong 'C' jadi 'Se'... kali lho ini!
terus, gimana kalau gambaran Sitinya lebih dipanasin.biar Alika lebih cemburu. Sekalian aja bilang Siti mainnya cantik, bikin panas, sampai degdegan lihatnya. Sampai-sampai, meski malam Redha jadi buka kaos lantaran keringetan waktu lihat Siti.

Eh, jangan dimasukin hati lho Pia!

Writer latophia
latophia at The Last Supper (3 years 15 weeks ago)

Gyaaah idenya cemerlang sekali bang kukuh, terutama yg soal gambarin sitinya itu *jempol
Saya kurang kreatif disitu, ga kepikiran bisa dibikin lebih panas lagi^^"
Soal komedi memang harus banyak berguru sama suhunya deh *sungkem^^

Writer daniswanda
daniswanda at The Last Supper (3 years 16 weeks ago)
80

Duh uda banyak yg komen. Telat saya.
Ide ngomedinya bisa saya pahami sih. Yang bikin janggal adalah, kalau redha sudah jadi pacar alika, agak mustahil alika nggak tau kalo pacarnya fans berat city. Itu aja poin yg mau saya tambain.

Agak males ngebahas sial manchester shitty itu. Bukan gegara saya fans MU. Tapi ah, urusan bola kadang lebih pelik dari politik. Sekian aja.

Writer latophia
latophia at The Last Supper (3 years 16 weeks ago)

Nah... akhirnya ketua panitia hadir *gelar tiker :D
...
Gak mustahil ah om... pan mereka belum lama pacarannya (anggap saja begitu .___.)
...
Saya juga bukan fans Siti kok... cuman karena nama mereka yang paling enak diplesetin aja ^^"
Yaaa saya tau kok, cowok kalo nonton bola kadang lebih heboh dr emak2 nonton sinetron india #eh :P

Writer herjuno
herjuno at The Last Supper (3 years 16 weeks ago)
60

Kalau buat saya too much dialogue sih. Jadi kayak ngebaca naskah drama, dan kerasa kering narasi. Agak terlalu muter2 juga, jadi dari awal saya enggak bisa menangkep ini cerita benernya ttg apa.
.
Buildup ke konflik juga kurang smooth. Harusnya di awal-awal ada hint kalau si cowoknya suka bola dan ceweknya gak ngerti ttg bola. Lagi pula, agak sedikit maksa juga sih, karena setahu saya kalau penyuka bola nyebutnya MU ama MC, bukan hanya City. Tapi ini demi keperluan joke, ya?
Tapi judulnya ya ampun menipu sekali :DDDDD

Writer latophia
latophia at The Last Supper (3 years 16 weeks ago)

Too much dialogue ya? baru ngeh saya^^" mungkin terlalu terpaku sama tema yang harus selingkuh itu sih (laaah tapi akhirnya ga ada selingkuhnya)
...
Kalau penyebutan City itu beneran kok Om... setidaknya di lingkungan saya nyebutnya city semua, sama kayak Real Madrid disebutnya Madrid aja gitu
...
Kalau judul, aslinya itu dibikin berdasar tema, bahkan sebelum nulis apa-apa... cuman buat nandain memo di hp aja... trus pas udah beres nulis kok kayaknya nyambung aja yawis lanjut deh :D

Writer The Smoker
The Smoker at The Last Supper (3 years 16 weeks ago)
80

Wakakaka, sekongkol di endingnya itu... Nggak nyangka.
Mesem saya hampir dari awal, Pia (apa karena bacanya habis mandi Kali yak)
Ya tapi nggak ada selingkuhnya.. Ternyata emang pada nolak cerita selingkuh lho kebanyakan. Haha.. (Baru tau)
.
Emm.. Terlepas dari salah penulisan yg udah dibantai Bu guru sekseh di bawah. Cerita ini menghibur lah..
Biba ngingetin ke tokoh Bibe, anak kecil karangan D.a.y.e.u.h itu.
.
Mengenai Siti itu, jadi sedikit apa ya, mungkin karena kamu kurang ngenalin Alika aja sii, jadi pas adegan dia cabut dari meja makan itu saya kaget.. Lantas menganggapnya jauh aja,....

Writer latophia
latophia at The Last Supper (3 years 16 weeks ago)

Yaay... dikunjungi bang smoke *siapin asbak
...
Laaah emang suka senyum2 sendiri kalo abis mandi ya? Mencurigakan kau bang :D
Bukan nolak selingkuh kok... sebelum nulis udah kepikir di otak, pas udah jalan loh kok ilang... entah jatoh kemana itu idenya^^"
...
Saya juga lama ngutak atik bagian itu gimana biar ga keliatan terlalu maksa atau lebay... cuman ternyata masih maksa yak *garuk-garuk kepala
...
Btw saya malah belum tau kalau teh d.a.y.e.u.h punya tokoh namanya Bibe lo

Writer kartika demia
kartika demia at The Last Supper (3 years 16 weeks ago)
60

.
Masih berasa pov1 bacanya, gak nyangka juga kalau akhirnya ngomedi. Soal ngamuknya Alika karena city itu, kayak janggal aja sih. Mengingat dia kerja kantoran, harusnya dia cukup pintarlah untuk mencerna perbincangan bola dari keluarga tokoh utama. Meski dia tak pernah mendengar nama-nama seperti MU, dlsb, tapi pasti taulah arah pembicaraan yang menyebut City2 itu. Sebelumnya juga dijelaskan keluarga pacarnya lagi ngomongin bola. Kecuali jika si Alika ini gadis kampung nan udik, pasti nyangkanya city itu cewek. Hanya pendapat saja ^^
.
Tanda baca, tag dialog dan elipsisnya perhatikan lagi ya ^^
.
Biba…." Redha --> salah, karena 4 titik untuk mengakhiri, harusnya: Biba ..." Redha atau Biba ...," Redha
.
nanti." Terang Biba, --> nanti," terang Biba. (perhatikan (,) dan huruf kecil (t) )
.

ya gitu…,” Binar mata Alika--> ya gitu ...," binar mata Alika
.
darimana--> dari mana
.
Wes yah :-D

Writer kartika demia
kartika demia at The Last Supper (3 years 16 weeks ago)
60

.
Masih berasa pov1 bacanya, gak nyangka juga kalau akhirnya ngomedi. Soal ngamuknya Alika karena city itu, kayak janggal aja sih. Mengingat dia kerja kantoran, harusnya dia cukup pintarlah untuk mencerna perbincangan bola dari keluarga tokoh utama. Meski dia tak pernah mendengar nama-nama seperti MU, dlsb, tapi pasti taulah arah pembicaraan yang menyebut City2 itu. Sebelumnya juga dijelaskan keluarga pacarnya lagi ngomongin bola. Kecuali jika si Alika ini gadis kampung nan udik, pasti nyangkanya city itu cewek. Hanya pendapat saja ^^
.
Tanda baca, tag dialog dan elipsisnya perhatikan lagi ya ^^
.
Biba…." Redha --> salah, karena 4 titik untuk mengakhiri, harusnya: Biba ..." Redha atau Biba ...," Redha
.
nanti." Terang Biba, --> nanti," terang Biba. (perhatikan (,) dan huruf kecil (t) )
.

ya gitu…,” Binar mata Alika--> ya gitu ...," binar mata Alika
.
darimana--> dari mana
.
Wes yah :-D

Writer latophia
latophia at The Last Supper (3 years 16 weeks ago)

Aaah... senangnya tiap dikomen soal EYD dengan murah hati sama Mbak Demi *sun tangan :D
Maaf kalau salah ejanya bikin sakit mata ya, Mbak... saya remidi mulu soal eyd *___*
...
Ya jadi ceritanya sih itu rencana si Papa sama Biba yang (entah dari mana) tahu kalau Alika cemburuan dan awam soal sepak bola... makanya dari awal mereka cuma bilang Siti tanpa embel2 manchester sampe Redha sama Mamanya gak sadar...
Harusnya tetep ketahuan ya... gak ada manusia modern di dunia yang ga tahu sepak bola ya? Gak mungkin gak ketahuan ya?
...
Iya juga sih... ^^"