Chris - Roti Masa Lalu


Untuk Dina, terima kasih pernah datang ke mimpiku.



Roti Masa Lalu

- oleh Christian Barus -



ku bisa mengelompokkan orang-orang yang tidak menyangka bagaimana kau bisa berakhir di sini. Pertama adalah keluargamu: Orang tua dan saudara-saudarimu. Jelas sudah. Dengan segenap mimpi dan harapan, yang muncul karena kau-kecil yang cerdas dan kreatif, sudah barang tentu membuat dirimu patut mendapatkan masa depan lebih baik daripada yang kaudapatkan sekarang. Adik bungsumu, kau pasti ingat bagaimana ia begitu memujamu di setiap mata pelajaran, tempatnya bertanya dan mengadukan semua persoalan. Keponakanmu juga (andai kau lupa bahwa abangmu sudah punya dua putri berumur 11 dan 5 tahun). Dua gadis kecil itu begitu mengidolakanmu, termasuk dengan fakta sudah bertahun-tahun kau tak pernah pulang, dan cerita-cerita tentangmu dibumbui manis oleh semua bibir.

Kedua adalah teman-teman sekolahmu. Kau pasti ingat keindahan masa-masa itu. Tiga tahun kalian berjalan kaki sejauh 8 kilo setiap hari sekolah selama SMP. Di perjalanan bercanda tawa, bertukar pikiran. Seringkali juga membahas pelajaran sambil mencuri buah coklat perkebunan. Juga kelapa. Keceriaan kalian dan wangi sabun di pagi hari. Lalu wajah memerah itu dan bau keringat menjelang pukul tiga sore hari. Semua, kukira, teman-temanmu mengakui kepintaran dan bakatmu. Di antara kalian yang berangkat tiap pagi ke kota kecamatan, hanya kau yang pernah dipanggil ke podium ketika upacara: Kepala Sekolah lantas mengumumkan bahwa kau telah mengharumkan nama. Entahlah bagaimana mereka takkan menyangka jika melihat sosokmu yang sekarang. Lantas ketika SMA, siapa yang lebih dulu keluar dari ruangan ujian? Kau. Yang lolos seleksi olimpiade Biologi? Kau. Yang dibawa lukisannya untuk studi banding? Kau. Kau pernah mengunjungi SMA-mu setelah lulus? Satu lukisanmu masih dipajang di ruang kepala sekolah. Siapa yang bisa melakukan hal itu sebelumnya? Tidak ada. Kaulah yang pertama.

Ketiga, kuanggap yang terakhir, adalah Rena. Cintamu yang sejati, gombalmu dulu di buku diary. Demi senyum dan kebahagiaannya diam-diam kau berjanji menggapai mimpi. Ah, cita-citamu begitu mulia, begitu tinggi, dan kekanak-kanakan. Tahun-tahun sulit lantas meremukkannya seperti meremas-remas kertas ulangan. Dengan segala hal yang pernah kalian jalani, tentu saja melihat kondisimu sekarang, terlintas semacam ironi. Mimpi apanya?

Namun, akan terlalu dini mengatakan semua orang telah kecewa padamu. Satu hal yang kutahu adalah mustahil bagi siapa pun untuk membahagiakan semua orang. Terbukti, roti daganganmu itu saja, sekalipun laris dan kini terkenal sampai ke luar Kota, toh tetap saja ada yang lebih menyukai es krim. Atau sop buah milik Dina. Lalu, kenapa kau hanya masih memandang gadis itu hingga kini? Apakah kekecewaan Rena sedang mengintaimu bagai seekor harimau di padang rumput? Menunggu kau lengah dan menerkam?

Hari ini kau berjualan seperti biasa. Bertemu para penjual makanan yang lain; Ian si penjual martabak, Burjo si penjual hamburger, Jeksi si penjual bakso dan mi ayam, Rusti si penjual es krim, Marni si penjual pulsa, dan lainnya. Ha ha ha. Dan tentu saja aku takkan melewatkan Dina si penjual sop buah. Si manis berkulit pucat itu seringkali curi-curi pandang padamu. Ah, sebaiknya kau mendengarkan nasihat Ian. “Percumalah aku mantan playboy, Ri,” katanya. “Dari caranya melirikmu saja aku sudah tahu. Senyumnya juga. Aih, kau ini, sudah berhenti suka cewek, ya? Hahahaha.”

Di balik omongannya yang berkesan sok tahu itu, kau tahu Ian benar. Si penjual Martabak Galau itu bicara fakta—tentang Dina. Lagipula, mungkin kau tidak tahu kalau semua penjual makanan di Taman Kuliner ini sepakat untuk menjodohkanmu dengan gadis itu. Apa? Ya, karena tinggal kaulah yang belum menikah, Kawan! Kau pikir usiamu akan terus segitu saja, ya? Ha ha ha.

“Bang, makasih aku bilang. Tapi hati enggak bisa dibohongi. Mau cantiknya kayak bidadari pun, kalau hati sudah bilang enggak, mau dibikin bagaimana juga enggak bisa, Bang!” katamu sambil terus mengolah selai di balik meja.

Ian yang dagangannya tidak selaris roti bakar buatanmu, menyuruh asistennya, maksudku isterinya, mengambil alih komando. Lantas sambil mengelap kedua tangannya di celemek, ia menghampirimu. “Aku penasaran samamu, Ri. Betul. Kok bisa-bisanya kau enggak sedikit pun tertarik sama Dina? Ckckck. Aku saja,” suaranya mulai berbisik. “melihat senyumnya itu pun jantungku sudah ser-ser. Sumpah! Kalau saja aku masih jomblo kayak kau, sudah kuajak nikah itu anak gadis.”

Kau tertawa seraya bangkit dan menyiapkan selai ke beberapa stoples. Menyendokinya dengan penuh konsentrasi, di bibirmu tersungging senyum. Gelengan kepalamu memulai balasan. “Salah sendiri Abang cepat-cepat kawin. Hahahaha.”

“Mau gimana lagi? Diteror terus sama dia!” Ian ikut tertawa terpingkal-pingkal. Dikeluarkannya sebatang rokok dari saku bajunya. Menyalakan pemantik, menyulut rokok dia berkata: “Apa sebenarnya masalahmu, Nak?”

“Masalah apa?” tanyamu berjengit.

“Ayolah. Penulis cerita ini memilihku jadi tokoh figuran yang berdialog dengan tokoh utama, itu pasti karena dia tahu kemampuanku. Aku sudah banyak kenal cewek, Ri. Sering jatuh hati sama macam-macam cewek. Patah hati juga pasti. Dan aku tahu tanda-tanda orang lagi tertarik, kasmaran, jatuh cinta, atau sekadar saja. Enggak usah bohong samaku. Bilanglah, apa masalahmu sebenarnya,” bujuk Ian dengan suara kebapakan.

Ia lantas duduk di salah satu kursi pengunjung persis di depan kiosmu. Diembuskannya asap rokok tinggi-tinggi, sambil melihat daftar menu yang tergeletak di atas meja. Roti Masa Lalu Rasa Getir, Roti Masa Lalu Rasa Rindu Tak Terobati, Roti Masa Lalu Rasa Hujan yang Membasahi Saat Kau Pergi. Kepalanya manggut-manggut dan menunggu kau menghampiri.

Entah karena ia memang tampil kebapakan dalam cerita kali ini, atau karena memang ia sudah bapak-bapak, di dalam kepalamu terjadi peristiwa menggelikan. Sulur-sulur kenangan yang bergumpal di sana, perlahan-lahan menguraikan dirinya sendiri. Perlahan. Perlahan. Lantas kau memutuskan menemani Ian duduk. Menarik sebatang rokok yang ditawarkannya, kau malah katakan Dina itu sumber masalah.

“Bagaimana pulak?” sontak Ian kaget. Rokoknya sampai terjatuh dari bibir tebalnya itu.

Kau melirik ke arah kios Dina yang persis di seberang kiosmu. Ia sedang melayani seorang pembeli, bapak-bapak dengan jaket dan kacamata. Ada kumis dan brewok tumbuh subur di wajahnya. Kaupalingkan lagi wajahmu ke wajah kasar Ian. Keningnya berkerut menanti penjelasan.

“Disadari atau enggak, Dina bisa jadi sumber masalah buat usahaku, Bang. Seenggaknya ia punya potensi,” begitu kaubilang.

“Di bagian mananya Dina itu berpotensi jadi masalah? Kalau masalah buat suami-suami orang, iya! Hahahaha.”

“Jangan keras-keras, Bang. Nanti dia dengar.”

“Jawab saja di bagian mana?” balas Ian tanpa memelankan suara Batak-nya.

“Begini, Bang. Kuharap ini enggak lucu kedengarannya. Tapi aku cuma menjalankan profesiku. Aku kan jualan roti masa lalu.”

“Terus? Apa hubungannya?” cecar Ian tanpa meredakan penasarannya.

“Bang! Ada pesanan!” teriak asisten—isteri—Ian dari kiosnya. Tampaknya ia sedikit kewalahan. Mungkin tak pernah menyangka bakal jualan martabak setelah dinikahi Ian.

“Ckckck! Kau urus dulu, Sayang. Suamimu ada urusan pria terhormat di sini!” timpal Ian menegakkan lehernya. “Apa tadi kaubilang…?” katanya padamu.

“Susah, Bang, menjelaskannya. Nanti malah jadi norak!”

“Bah! Sudah kubilang penulis cerita ini tahu kemampuanku. Pasti aku tahu solusi masalahmu ini—kalau memang kau punya masalah. Kayaknya kau memang punya masalah. Kau takut komitmen?”

“Enggak sesederhana itu, Bang!” tukasmu.

“Jadi apa, Ri! Kau jangan bilang kau suka laki-laki, ya!”

“Enggaklah. Ya, ampun! Abang enggak akan ngerti. Eh, ada yang datang. Nanti lagi kita lanjutkan, Bang.”

Siang ini, pelanggan pertamamu datang. Lantas kautinggalkan Ian si penjual Martabak Galau itu menggerutu sembari meloloskan rokokmu ke keranjang sampah. Ian hanya menggelengkan kepala mengamatimu sebelum kembali ke kiosnya.

Kau kembali ke balik meja dan berbalik ke hadapan seorang perempuan yang tak pernah kausangka muncul di tempat ini. Sebagai penulis dan pencetus ide, terserahku mau membawa sosoknya ke sini dengan alasan apa pun, tanpa meminta pertimbanganmu. Siapa suruh jadi tokoh? Ha ha ha.

Begitu pandangan kalian bertemu, lidahmu tercekat. Bola matamu tak berkedip. Napasmu seolah berhenti. Pemandangan ini luput dari pandangan Ian, tapi tidak bagi Dina di seberang sana. Kan sudah kubilang ia suka curi-curi pandang. Ia bisa melihat jelas karena pelanggannya tadi sudah pulang.

“Ini kau?” pelangganmu yang mulai bicara.

“Rena?” balasmu yang tak ada nyambungnya.

“Ini beneran kau, Ri?” tanya pelangganmu kini lebih lengkap.

“Iya. Ini aku. Dan kau beneran Rena?” balasmu malah tak kreatif. Kenapa bukan Ian saja ya jadi tokoh utamanya? “Apa kabarmu?” tanyamu mengagetkanku.

“Eh, a-aku baik.” Herannya, sekarang si Rena malah gugup. Mungkin ia tak menyangka kau akan menanyakan kabar. Tapi jangan berpikir demikian. Mungkin saja ia berharap kalian akan tetap seperti tadi: Ini benar kau? Ya, ini benar kau? Ya, beneran ini kau? Ya.

“Duduk dulu sini,” kau mengajaknya duduk di kursi yang tadi kau dan Ian tinggalkan. Di posisi itu, Ian akhirnya menyadari kehadiran pelanggan istimewa siang ini. Ia melirik, menaikkan alisnya, lantas memicingkan mata memandang kalian berdua.

“Aku tak menyangka akan bertemu kau di sini? Eh, kau tinggal di dekat sini?” tanyamu pada Rena setelah diletakkannya tas kecil khas wanita karir itu di atas meja.

“Enggak. Aku baru dua minggu di kota ini. Perusahaan tempat, perusahaan tempat aku kerja, bikin… Pokoknya aku cuma sementara di sini,” jawab Rena dengan mata tak berkedip memandangmu. Jangan mengira dia takjub. Ia hanya berakting sebagai kelompok ketiga yang tak menyangka kau bisa berakhir di tempat seperti ini.

“Oh… Kok bisa tahu, eh! Maksudku,” kau malah ikut-ikutan gugup. “Kau mau beli apa tadi? Hahahaha. Aku jualan roti sekarang. Rasanya kau pasti enggak menyangka ya?”

Kan sudah kutuliskan tadi!

Rena tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke arah kiosmu. Ia bisa melihat meja kasir yang mirip mimbar mini itu: sebuah pulpen tergantung pada tali di sisi depannya. Lalu rak stainless dengan kaca tembus pandang menampilkan roti bakar siap panggang, stoples berwarna-warni, piring-piring, kotak kemasan siap pakai, dan tentu saja label daganganmu yang berwarna biru cerah: Roti Masa Lalu. Ia menoleh padamu sambil menggigit kecil bibir bawahnya. Senyum yang sempat kaukira takkan pernah lagi kau lihat.

“Beberapa hari yang lalu, rekan kerjaku membawakanku roti bakar. Roti masa lalu, katanya. Ia menyuruhku mencicipinya, dan… aku langsung teringat kenanganku waktu SMA.”

Kau lantas tertawa bangga. Semua orang di kota ini sudah kenal roti buatanmu. “Kau pasti makan Roti Masa Lalu Rasa SMA buatanku. Cukup laris tiga bulan belakangan,” jelasmu dengan tampang kekanak-kanakan.

“Dia yang bilang beli di Taman Kuliner. Tapi aku enggak menyangka kalau aku bakal ketemu samamu…”

“Maksudmu, kalau aku penjualnya, ya? Hahahaha.” Lalu kau mendesah setelah beberapa detik menyadari sesuatu. “Hidup itu ternyata sulit,” katamu agak getir. “Aku sama kayak kau, sama enggak menyangka kalau aku bakal jadi penjual roti begini. Hehehe.”

“Kuliahmu bagaimana?” tanya Rena kini serius.

“Aku kembali setelah merantau. Tapi kuliah sudah enggak semenarik ketika kau masih…”

“Kau ini… Gimana kabar teman-teman yang lain? Kudengar-dengar, ada reuni tahun lalu. Kau datang?”

“Enggak. Tahun lalu aku masih gelandangan. Tahun-tahun sebelumnya juga. Tapi aku beruntung Ian si penjual Martabak Galau itu mengajakku ke sini dan memodaliku dagang. Jadi beginilah hasilnya.”

Rena mengangguk paham. Sesaat kemudian keheningan menyelimuti kalian berdua. Ia tampak memperhatikan sekitar taman itu. Ia bisa melihat Taman Kuliner cukup luas dengan bermacam-macam penjual makanan. Meja-meja pengunjung tepat di tengah-tengah. Para pengunjung tempat ini sudah ramai karena hari mulai sore. Agak riuh sebenarnya, namun di telingamu tentu hening. Rena juga merasakan hal yang sama. Sampai akhirnya kau memutuskan bicara. “Eh, tadinya kau mau beli kan? Mau yang rasa apa?” tanyamu dengan nada ceria sambil bangkit dan menuju meja kerjamu.

Rena masih duduk dan mengamati selembar menu di atas meja. “Aku butuh rekomendasi, sebenarnya. Roti Masa Lalu Rasa SMA tempo hari yang kumakan, cukup kuat rasanya. Sejam pertama aku bahagia. Lalu jam berikutnya, aku mulai marah karena teringat guru berengsek yang mengajar kita di kelas dua.”

Kau tertawa dan menjelaskan bahwa banyak pelangganmu yang mengeluhkan hal itu. Anehnya, mereka bukan jera. Mungkin itulah masa SMA. Sebentar tawa, sebentar duka. Kau tak pernah mengharapkan pelangganmu kecewa dengan rasa roti yang kau buat. Namun tidak semua masa SMA itu indah. Beberapa pasti ada yang sedikit pahit. “Jadi kau mau coba rasa yang lain?” tanyamu.

“Kau punya rasa apa saja?” Rena balik bertanya.

“Oh! Semua ada. Aku cukup ahli meracik selainya. Kau tahu, roti ini cuma roti biasa. Rahasianya terletak pada ciptaanku ini,” katamu menunjukkan stoples-stoplesmu yang penuh selai. “Inilah cita rasa itu, Rena.”

“Jadi kau langsung meraciknya sesuai permintaan pembeli?”

“Yang itu tentu saja tidak bisa ditulis di daftar menu. Terlalu panjang. Misalnya Roti Masa Lalu Rasa Debar-Debar Lucu Tiap Kali Melihat Sosokmu Hanya Memandang Sekilas Padaku. Sulit menyingkatnya. Aku khawatir nama yang terlalu panjang malah membuat pembeli bingung.”

“Kalau begitu, buat satu untukku dengan rasa terbaik yang kau punya,” kata Rena.

Kau mengendus bau tantangan. “Bagaimana kalau Roti Masa Lalu Rasa yang Tak Pernah Terungkap?” tawarmu menaik-naikkan alis.

“Aku enggak pernah memendam rasa. Apa itu akan berhasil di lidahku?” tanya Rena tersenyum geli.

“Oh! Itu seharusnya buatku, ya? Hahahaha. Bagaimana kalau Roti Masa Lalu Rasa Cinta yang Tak Kunjung Padam?” usahamu yang kedua.

“Sepertinya, aku mau coba itu. Buatlah. Jangan terlalu lama.”

“Siap! Kau tunggu sebentar. Enggak sampai lima menit.”

Lalu kau berkutat dengan selai-selai rahasiamu. Roti kau potong, kauolesi mentega dan ramuan khusus. Campur sana, campur sini. Bubuk waktu juga kautaburi di olesan terakhir. Lalu kaupanggang dengan teliti layaknya karya seni. Di matamu binar menyala-nyala. Ini untuk dia yang duduk di sana. Senyummu pun terbit sambil kaupandangi perubahan warna roti itu. Harus sempurna, batinmu. Ini untuk Rena. Rena yang kaukasihi. Rena yang dulu tak sempat kauhadiahi kado ulang tahun. Lantas, apakah roti masa lalumu kado ulang tahun? Tentu ini bukan kado ulang tahun. Kau lebih suka menyebutnya hidangan pertemuan kembali.

Tibalah saat ia mencicipi hasil kerja kerasmu. “Bagaimana?” tanyamu saat Rena mengunyah gigitan pertamanya. Ia butuh beberapa detik untuk mengernyitkan keningnya yang licin.

“Ini terasa hambar.”

Dan kau bagai tersambar halilintar.

Kita tak butuh lagi narasi adegan yang melibatkanmu dan Rena. Kupikir aku tak ingin meneruskannya karena pembaca yang cerdas dan imajinatif, rata-rata bisa merasakan hal ini: sudah paham maksud “terasa hambar” itu. Tapi, cerita yang baik harus selesai pada sebuah resolusi, kata seseorang. Apa yang menimpa tokoh utama akhirnya memberikannya sebuah pilihan untuk diputuskan. Dampaknya entah lebih baik, atau lebih buruk. Terserah.

Kau terpekur ketika Rena mengatakan hal itu. Pikiranmu berkecamuk. Sulur-sulur kenangan tadi kini menjalar lagi, menyilangkan dirinya masing-masing, menjadi gumpalan yang yang lebih rumit dari sebelumnya. Sementara desah napasmu kian melemah. Bahumu perlahan rebah. Di sandaran kursi kini kau tersenyum getir. Menyadari rotimu gagal kali ini.

“Coba kau sendiri yang rasakan!” saran Rena padamu.

Kau menggeleng pelan. Sudah pasti rasanya beda. Roti Masa Lalu akan menghasilkan cita rasa yang berbeda bagi setiap yang memakannya. Semua tergantung masa lalu masing-masing. Kau menjelaskan hal itu dengan susah payah, yang kemudian membuat tampang Rena juga tampak susah payah. Ia menyadari satu hal yang tak ingin kaudengar.

Pertemuan kalian pun berakhir dengan kemurahan hatimu menolak uang pembayaran roti itu. Rena tak kuasa berlama-lama menyaksikanmu terluka. Lagi, kau pikir ia harus melakukan apa buatmu? Menghiburmu? Yang benar saja! Ia lebih baik pamit, menenteng tasnya, berlalu bagai tak pernah muncul di sini. Di tempatmu duduk, sudut matamu merekam gerak kakinya menjauh meninggalkanmu. Rekaman inilah yang syukur tak kau syukuri, semakin menambah keruwetan masa lalumu kelak. Lengkap sudah karena di ujung sana, seberang jalan, kau bisa melihatnya disambut seseorang yang tak lagi penting untuk dijelaskan.

Bukti aku tak salah memilih tokoh dan perannya adalah dengan kehadiran Ian yang beranjak menghampirimu begitu Rena pergi. Penjual Martabak Galau itu duduk di kursi yang sebelumnya diduduki Rena, melemparkan rokoknya ke atas meja, mengangkat satu kakinya menumpu kakinya yang lain. “Itu masa lalumu?” tanyanya mempersingkat cerita.

Kau tak berniat menjawab.

“Dia cantik juga,” kata Ian lagi.

Kau masih diam.

“Sudah punya orang lain atau bagaimana?”

Kau mendengus tiba-tiba dan lantas ngomong panjang lebar:

“Inilah situasi yang aku enggak suka, Bang. Yang coba aku hindari. Aku tadi buatkan dia roti dan, ya dia adalah cewek yang pernah aku suka, tapi… Kami enggak pernah pacaran kok, Bang, karena… Pokoknya begitu. Ya, pokoknya begitu. Dulu, aku enggak mampu bahkan sekadar membelikannya Tazmania waktu dia ulang tahun. Argh! Tadi itu, aku coba membuatkan roti yang ia mau, dan… ternyata roti itu terasa hambar di lidahnya! Inilah masalahnya, Bang, kenapa aku enggak mau terlibat dengan perasaan-perasaan apa pun yang mengganggu masa laluku. Dengan dia datang lagi, atau siapa pun ceweknya—makanya aku sama Dina itu enggak bisa, duh! Sampai di mana tadi, Bang?”

“Kau enggak mau terlibat perasaan-perasaan—”

“—Karena ada satu tempat di otakku yang berfungsi untuk masa depan, yang akan terisi dengan perasaan-perasaan baru, yang pasti merusak semua masa laluku. Menghapusnya malah, Bang! Hasilnya ya, roti buatanku enggak akan laku! Aku enggak bisa jualan. Aku enggak bisa dapat uang, enggak bisa nabung, enggak bisa hidup. Enggak bisa menikmati masa laluku sendiri!”

Ian menggeleng-geleng prihatin. Situasi seperti ini, bukan kata songong, juga pernah ia alami. Beberapa tahun yang lalu ketika ia masih rajin menulis cerita dan puisi di sebuah situs menulis, ia jatuh pada dilema meneruskan kegiatannya itu tanpa tujuan jelas, atau melanjutkan kuliahnya yang berantakan agar lulus dan melamar PNS. Meski analoginya agak norak, tapi Ian merasakan beban dilema yang sama. Terlebih ketika usia mulai meninggalkan masa-masa hebatnya ditambah cita-cita orang tua ingin melihat calon menantu. Kata-katanya itu ia ucapkan dengan nada kebapakan yang sudah ada di ketentuan karakter cerita ini.

Kau termenung, menundukkan kepala. Tersenyum mendapati nasib yang harus berakhir dengan kenangan masa lalu yang menyiksa sekaligus memberimu jalan untuk tetap hidup. Klise sekali, Bung. Kau takut menerima misteri masa depan dan rela berkubang dalam genangan masa lalu yang memberimu kehidupan.

Ian menyudahi perannya karena kami sudah sepakat: Ian tak boleh menentukan nasibmu. Nanti ia minta bayaran lebih. Maka ia beranjak dari hadapanmu, kembali ke kiosnya untuk membuat martabak galau kebanggaannya. Tapi beberapa saat di depan kuali datar itu, ia lantas punya ide. Ia melakukan adegan yang tidak ada dalam kesepakatan kami. Sok pahlawan, didatanginya kios Dina di seberang. Berbicara sebentar, menggerak-gerakkan tangannya, lalu menunjuk ke arahmu yang masih tertunduk di kursi. Dina terlihat manggut-manggut dan sorot matanya iba menatap ke arahmu. Dasar Ian! Aku harus membuat perhitungan dengannya usai cerita ini.

Tak lama kemudian, Dina datang menghampirimu. Menyapa dengan suara lembut. “Kau kenapa?” tanyanya sambil duduk. Menyodorkan semangkuk sop buah buatannya.

Mau tak mau kau mengangkat kepala. Pandangan kalian bertemu, berhenti sekian jeda. “Jangan,” katamu agak memohon.

Lidah Dina kelu. Hanya memandangi wajahmu, pria yang disukainya dan membuatku cemburu.

“Ini enggak akan pernah berhasil,” katamu lagi.

Dina lantas tersenyum dengan cara yang diidam-idamkan semua pria terhormat. Tapi ia masih diam. Dipandanginya sekeliling sampai ia tiba pada wajah Ian dan isterinya yang ternyata menonton adegan ini. Dina lalu berkata, “Tak mengapa. Ini aku bawakan sop buah, pakai es. Pasti segar. Cobalah...”

“Ini enggak akan pernah berhasil,” ulangmu dengan mata berkaca-kaca. Lalu kalian berdua disergap keheningan dari dalam kepala kalian masing-masing.

“Aku bisa buatkan ini tiap hari,” ucap Dina beberapa saat kemudian.

Lalu kau merasa percuma mengingatkannya tentang kemustahilan. Kau menggeleng pelan. Perempuan ini tidak tahu apa-apa. Bagaimana mungkin kau tega melibatkannya dalam masa lalumu yang berbahaya? Ia tak menyadari, Bung, bahwa dirinya kelak akan berdiri di pihak yang juga tak menyangka bagaimana dirinya bisa berakhir di bermacam-macam rasa, seperti aneka buah dalam mangkuk kaca yang sedang memandangi kalian berdua. – Cirebon, Juni 2016.



Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer maganda_xxx
maganda_xxx at Chris - Roti Masa Lalu (3 years 5 weeks ago)
100

Masih nulis aja master. Selalu suka sama tulisan sampeyan

Writer senasupriatna
senasupriatna at Chris - Roti Masa Lalu (3 years 15 weeks ago)
2550

hebat!

Writer Popy RiLvia Luchan
Popy RiLvia Luchan at Chris - Roti Masa Lalu (3 years 17 weeks ago)
90

guru....

Writer cherryblossoms
cherryblossoms at Chris - Roti Masa Lalu (3 years 18 weeks ago)
90

ini cerita sedih harusnya, tp kocag juga. maap bukannya tertawa di atas penderitaan si tokoh ya xP ah tapi dia ga menderita jg deh keknya, ujung2nya dapet dina tuh wkwkw. ide cerita dan kepenulisan udah ga perlu dikomentarin lagi: aku kasih jempol! (jempol ke atas kok bukan ke bawah :p).

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Roti Masa Lalu (3 years 18 weeks ago)

jangan lupa makan :p
ahak hak hak

Writer Nine
Nine at Chris - Roti Masa Lalu (3 years 18 weeks ago)
100

Renaa renaa renaaaa, kusayang padamuu. Hati ini sakit lebih sakit, kuciewaaa, karenaa syientaaa~~~
.
Hihihihi, ending di saya plong, bang. Aneka buah yang menatap kedua tokoh dari mangkuk itu bikin semua rasa penasaran saya sama si Ri jadi hilang. Dan iya memang, Dina tak boleh dimasukan ke dalam masa lalu Ri yang rumit dan berbahaya. Saya suka sama narasinya yang segar dan humor2nya yang pas di saya. Membaca cerita asik begini jadi gatal pengen bikin cerita tentang masa lalu jugak XD, ahahahha.
.
Itu saja keknya, bang. Salam Masa Lalu Yang Berorientasi Pada Ekspektasi dan Angan-angan Pada Dia Yang Telah Melupakan.

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Roti Masa Lalu (3 years 18 weeks ago)

ahak hak hak. oke, Bang. lanjutkan menulis dan posting di wattpad. ahahahahahaha

Writer Nine
Nine at Chris - Roti Masa Lalu (3 years 18 weeks ago)

Salah satu alasan sy ngepost di wattpad itu, bang, sapa tau yaro kan, ada yang potensial stalking saya XD, ahahahaha

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Roti Masa Lalu (3 years 18 weeks ago)

kesimpulannya, Bung, dikau sedang di fase tiga dari gejala Sudah terlalu lama sendiri, sudah terlalu lama kau asik sendiri. ahak hak hak

Writer Nine
Nine at Chris - Roti Masa Lalu (3 years 18 weeks ago)

Waduhh XD
ahahahahaha, pake fase juga yak? Hihihihi
.
Sendiri itu ada asiknya tpi lebih baik klo rame2 bang ^^, apalagi ditraktir.

Writer nusantara
nusantara at Chris - Roti Masa Lalu (3 years 18 weeks ago)

Pengen ngomen tapi pengen beda. Jadinya begini. Soal nulis mah oke pisan. Bagus. Sya ga tahu harus ngomen apa. Beneran.
Cari pov lain aja lah, nyoba-nyoba.
Ini kan kaitannya masa lalu, masa kini, masa depan tanda tanya.
Jadi ada hubungannya sama layang-layang.
Ruang bangun layang-layang kan segitiga kebelakang lbh besar daripada segitiga kedepan. Dengan garis rangka lbh panjang kebelakang pula tentunya. Kita berada pada titik masakini sebagai perantara atau jembatan antara masa lalu dan masa depan. Jadi, kita bicara ruang dimensi waktu.
Itulah alasannya mengapa byk orang yg terjebak kenangan masa lalu yang tak membangun. Sibuk memikirkan yg sudah terjadi dan melupakan kesempatan-kesempatan besar di masa kini untuk masa depan yg kita harapkan.
Ruang masa depan itu segitiga kecil. (gambar saja layangan dengan rangka silang).
Itulah makanya masa depan sifatnya hanya prediksi-prediksi sja yg berisi kemungkinan baik dan buruk yg akan trjadi pada diri kita.
Jadi, kenangan masa lalu harus dimenej agar tdk merusak semangat masa kini, semangat perubahan, untuk masa kedepan.
Ahaha. Gtu aja. Bikin roti masa depan dong. Pesen atu.
Blajar ngomen, jadi begini. Hehe

Writer nusantara
nusantara at Chris - Roti Masa Lalu (3 years 18 weeks ago)

Waduh, pemarahis meringis, hati bengis ya najis, hehe.
Eh, shin. Ada pengekor uy, ngomen komentar. Katanya pengertian layang-layang psikopat. Aduh, penganut psikopatisme ga pada sekolah kali ya, ga blajar geometri, malah bwa salib. Nuduh pemurtad. Haha, anjrit. Puasa sehari ga ada isi. Hatinya rusak bener-bener rusak. Kacau. Pak polisi help lah. Suruh kursus matematika blajar geometri. Terus suruh kuliah ambil filsafat dan psikologi daripada ngekor sya kemana2 buat bikin sya mati. Hihi. Ngeri. Orang ga ada isi ngekor terus.
Shin, enak jadi situ ga ada yg ngincer buat jelek-jelekin. Haha.
Prinsip psikopatisme itu "kalo ga bisa jangan" blajar ngomen bgni aja jadi perkara. Ga bisa ngomen lah kalo ga blajar. Hehe.
Nyadap terus jadi dia error pangkat 10.

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Roti Masa Lalu (3 years 18 weeks ago)

enggak ngerti deh kau ngomong apa. mending belajar komentnya bukan isi, tapi cara, Bang. biar enggak jengah orang-orang dapat notif komentmu yang tak seberapa itu.
ahak hak hak. btw, ini koment personal ya, bukan atas moderator. santai aja.

Writer nusantara
nusantara at Chris - Roti Masa Lalu (3 years 18 weeks ago)

Eumh nganu, hehe. Yg ngikut sya kemana pun tiap online itu harus bedah kepala kyaknya. Otaknya rendem pemutih biar item-itemnya ilang.
Gini, pada yg belum ngeuh ya.
Dulu, kan sering. Cuma sip. Bgs. Keep write. Eh, dikata cari poin doang. Kalo ngmong ladn-laen dikata sotoy. Eumg, anu pake kalimat 'jadinya begini' aja dibilang copas shin elqi. Haha. Terus ngintimidasi. Makanya dia senewen bca komen sya. Anak kekom ga ngeuh. Itu kan cerita shin elqi agak begitu kan yg hot lah. E baca juga kan yg nyadap. Dia ga suka tulisannya shin elqi tapi marah ke sya. Bilangnya sya yg bikin tulisan. Arwah sya masuk ke kepala shin elqi bikin tulisan begitu. Jadi puyeng. Kan ada tuh saka ana diana. Haha. Yg nyadap sya yg kena psikopatisme itu sebar gosip sya ga jauh beda sama saka di saka and diana. Makanya sya bikin lg tambahan adegan diana menangis dan waiter yg kena semprot. Dan sya bilang waiternya sya. E yg nyadap kyak kehipnotis malah, malah ngatain lg, org lg marah ditanya ya kena semprot, ada lg gini, ga tau cara nanya org lg sedih, terus ada lg, ngaku2 kerja waiter,
bikin cerpen anti sadap dsb dong min.
E nganu juga, bapaknya ama emaknya shin elqi denger2 bca cerita hot shin elqi, tahu bener apa ngga. Ga tau.

Writer nusantara
nusantara at Chris - Roti Masa Lalu (3 years 18 weeks ago)

Anu, waktu bcanda a day with euh. Yg nyadap mencak-mencak. Mengutuk cerpen terkutuk dan yg nulisnya penulis terkutuk padahal dia ngutuk diri sendiri, 'selamat ramadan' nya di otak dia ditulis di kemaluan. Haha. Padahal di layangan. Maaf bahasanya ga pake sensor. Biar tahu, bukan otak sya yg isinya gambar porno tapi yg suka ngatain sya itu yg otaknya krg bersih. "Anak sd yg dikepalanya blm pernah mlht gambar atau blm pernah bca cerita dewasa akan langsung tahu itu cerita jalan-jalan ke bukit buat maen layangan."
Orang dewasa mengotori pikiran mereka tanpa tahu bagaimana untuk membersihkannya lagi.

Writer nusantara
nusantara at Chris - Roti Masa Lalu (3 years 18 weeks ago)

Gangguan tidur ketika merem, oleh para psikopatisme vampirisme diartikan mau berubah jadi babi, mau berubah jadi lycan, padahal hidden cameranya.
Sya kadang merem melihat yg tdk sya lht ktk tdk merem.
Pesan buat vampirisme, bukan shinici, buat vampire yg bukan vampire hehe, sya korban. Sya korban. Sya korban.

Writer nusantara
nusantara at Chris - Roti Masa Lalu (3 years 18 weeks ago)

O ow, ibunya dayeuh bca a day with euh. Jgn salah paham.
Jgn khawatir. Anak kecil yg otaknya belum terkontaminasi pornografi tahu betul itu tentang maen layangan. Apalagi anak kecil yg belum bisa bca alias buta huruf. Jika bertanya, aku belum bisa bca apa kakak bisa membacakannya untukku?
Jawab saja, baiklah akan kakak bacakan (lalu ceritakanlah dongeng putri tidur dan ia akan senang).
Marahin org dewasa yg mengutuk a day with euh, dong. Anggap sja sya anak sd.

Writer pepperony
pepperony at Chris - Roti Masa Lalu (3 years 18 weeks ago)
80

Salam

Sudah banyak yang berkomentar soal POV ya. Jadi, ada enggak sih penulis yang suka iseng macem di cerpen ini di luar sana? Meski begitu, menurut saya krn penulisannya dia buat seperti ini jadi terasa segar dan menyenangkan. Seperti membaca pembuka dongeng namun jenaka alih-alih dibuat seolah-olah pembaca bertanya tentang apa yg terjadi sebelum dongen itu bermula.

Dan, oh ya, saya setuju soal komen; Aku cemburu, itu. Setelah dibaca ulang, agak berlebihan memang. Selebihnya, cerita ini oke.

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Roti Masa Lalu (3 years 18 weeks ago)

kalau dirimu yang koment, rasanya aku akan menghilangkannya. ahak hak hak. makasiy udah mampir :p

Writer citapraaa
citapraaa at Chris - Roti Masa Lalu (3 years 19 weeks ago)
100

Pesen rotinya satu..
Belum pernah baca cerita yang ada makanan uniknya kayak gini. Selebihnya udah ga usah ditanyain, keren. Berasa nonton film. Dan lagi-lagi "penulisnya" ngeselin hoho

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Roti Masa Lalu (3 years 19 weeks ago)

mau Roti Masa Lalu rasa apa?
ahak hak hak

Writer rian
rian at Chris - Roti Masa Lalu (3 years 19 weeks ago)
90

Numpang menikmati. Enggak bisa komentar banyak karena menurut saya cerita ini udah bagus. Suka sama ide roti masa lalu itu; tapi kurang suka sama gaya naratornya yang nyadar diri; kesel aja kadang-kadang diinterupsi terus

Sekian. Makasih karena ini menghibur sekali.

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Roti Masa Lalu (3 years 19 weeks ago)

ahak hak hak. makasiy atas kesannya, Bung. ternyata hal "menarik" itu bisa bikin kesal. wkwkwkwkwk. sip sip.
sangkyu, Bung. kip nulis XD

Writer latophia
latophia at Chris - Roti Masa Lalu (3 years 19 weeks ago)
2550

Saya cukup mengirini dan menikmati aja ya bang...
...
Selalu suka cara Bang Shin nyelipin penulis ngusilin tokoh-tokohnya... tapi penasaran, ada gak sih penulis terkenal yg make cara ini juga Bang? (saya taunya cuma bang shin doang penulis yg rese sama tokohnya kayak gini^^")
...
Trus saya ngerasa janggal sama narasi ini "Apakah kekecewaan Rena sedang mengintaimu bagai seekor harimau di padang rumput?" soalnya yg ngintai di padang rumput bukannya singa ya Bang? Harimau mah di hutan .___.

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Roti Masa Lalu (3 years 19 weeks ago)

ahak hak hak.
jadi lucu karena dirimu ngebawa harimau dan singa =))
sama aja sik. tergantung di mana mereka tinggal aja. masak iya, harimau cuma di hutan? dia sudah lari ke pantai, kata Cinta. wkwkwkwkwk. anyway, terima kasih udah mampir.
.
soal keusilan saya itu, um... saya jarang baca tulisan populer. maklum, kerjaan berkutat di naskah self. jadi saya enggak punya referensi penulis terkenal yang jahil jugak. ahak hak hak. semoga enggak ada aja siy, tapi kayaknya pasti ada. musti ada. meski akhirnya mungkin itu enggak bisa jadi wah... (atau malah bisa!) karena awam (umumnya) enggak bakal paham hal menyenangkan buat penulis adalah mengakrabi karyanya, dan penulis lain (rekan seprofesi penulis jahil tadi, dan anak-anak didiknya juga) mungkin terlalu kaku dengan apa yang mereka lakukan. ahak hak hak.

Writer kartika demia
kartika demia at Chris - Roti Masa Lalu (3 years 19 weeks ago)
90

.
Saya sulit membedakan antara narator(penulis) dengan 'aku', baiknya 'aku' gak usah dikasih porsi, kecuali ini pov2 campuran. Sulit memang menulis dengan pov2, narator pun tak punya kuasa penuh untuk mengetahui isi hati tokoh 'kau', narator hanya bisa menilai isi hati tokoh dari mimik yang ditampilkan. Penggambaran rasa-rasa dari roti ini saya suka, endingnya juga pas sakit hatinya. Lalu untuk karakter 'kau' yang dulunya 'di atas langit' dan sekarang 'di bawah', penggambarannya saat bertemu kembali dengan Rena, kayak kurang ada rasa rendah diri atau malu karena keadaannya, biasanya kan gitu kalo ketemu temen trus kita lagi kere lalu temen kita kaya, kita kan merasa minder. Hehe. Apalagi ini mantan gebetan. Gak tau juga kalo sifatnya 'kau' ini emang dari sononya gitu, gak minderan. Overall oke ini, Bang. Cuma mengganjal dengan ketawanya naratornya itu saja. :)

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Roti Masa Lalu (3 years 19 weeks ago)

sulit membedakannya ya? ahak hak hak. maapken. saya bener2 enggak sedang ingin berpov 2. bahkan saya benci pov jenis itu. bencinya ya karena merasa aneh dan maksain. semacam penulis yg pengen membuat terobosan baru XD. nah, kecuali dalam cerita pov 1 dan pov 3 yg umum, saya belum pernah mikirin atau fokus ke bagaimana membedakan siapa si narator dan sudut mana yg diambil. rasanya saya kurang jenis bacaan. ahak hak hak.
.
jadi, sekalipun ini kayak pov 2, saya sama sekali enggak meniatkannya, apalagi belajar membedakannya dengan tokoh. ngalirnya begini. blam! jadilah. ehehehehe. sebagai petunjuk, anggap aja si kau itu narator. tapi naratornya di dalam cermin, saya jadi mikir begitu.
.
lalu soal pov campuran, ah... itu maksudnya apa? saya bener2 enggak tau. btw, makasiy komentarnya. kip nulis dan kalakupand. ahak hak hak

Writer kukuhniam
kukuhniam at Chris - Roti Masa Lalu (3 years 19 weeks ago)
100

sudah tiga kali saya baca om. bukan nggak ngerti. Nagih.
saya belajar banyak dari sini. cerita bagus nggak harus bahasa rumit yang dipuitis-puitisin. Ceritanya seperti memang ada, gaya ngomongnya, gaya ngerokoknya, meliriknya, penasarannya.
Ngomong-ngomong ide bisnisnya bagus om

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Roti Masa Lalu (3 years 19 weeks ago)

ayuk modalin
biar buka kios jualan Roti Masa Lalu
ahak hak hak
makasiy hudah mampir XD
kip nulis

Writer samalona
samalona at Chris - Roti Masa Lalu (3 years 19 weeks ago)
100

Pemilihan POV 2 dengan pembuka cerita seperti ini ternyata menarik. Paragraf pembuka membuat saya menebak-nebak, apa hubungan antara narator dan tokoh utama ("kau"). Tentu saja itu tidak penting, karena "kau" yang harus jadi pusat perhatian.
Masuk paragraf keempat, saya teringat pantun
Anak ayam dipanggang saja
Hendak dipindang tidak berkunyit
Anak orang dipandang saja
Hendak dipinang tidak berduit

Masuk dialog dengan Ian, saya nyengir sendiri. Teringat cerita saya yang belum rampung (belum ada lanjutannya sejak 5 tahun lalu?) yang juga menyinggung the fourth wall.
Mengikuti mood cerita yang rada muram/suram, saya merasa kalimat "[..] Siapa suruh jadi tokoh? [..]" tidak usah diikuti "Ha ha ha". Meskipun di paragraf lain sebelumnya juga sudah ada "ha ha ha", menurut saya kekerapannya perlu dibatasi sesedikit mungkin. Untuk mempertahankan kemuraman tipis itu, dan juga menjaga wibawa penulis :D.
Juga waktu disebutkan "aku" cemburu, saya kira agak berlebihan. Tapi situasi ini susah memang. Konsep ceritanya sudah ditakdirkan dari sananya. Sejak awal cerita, dengan pemilihan POV 2 saya secara otomatis memegang ekspektasi bahwa keterlibatan "aku" pasti akan ditekan sekecil mungkin. Bukankah konsep cerita dan POVnya ini merupakan kontradiksi yang menarik?

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Roti Masa Lalu (3 years 19 weeks ago)

saran ditampung Om. soal ketawa. ya, rasanya kebanyakan sih. ahak hak hak. btw, menarik membahasnya karena komentar Om ini. tapi saya ragu bakal curhat. wkwkwkwkwk. ide dasarnya jelas soal ironi masa lalu dan masa depan. roti itu. konsepnya yg udah ada sejak 2014. namun eksekusinya berjalan lambat banget, dan akhirnya tuntas kurang dari tiga jam. saya sendiri heran.
.
tentang POV kedua yg enggak sepenuhnya POV kedua ini, saya heran darimana datangnya. serius, saya benci POV kedua, menuduhnya terlalu abu2 dengan menjadi aku atau jadi bukan siapa2 di POV ketiga. iya enggak siy? ahahahahaha. dan saya enggak punya referensi. jarang saya lahap cerita POV kedua. saya enggak nyaman. tapi entahlah cerpen ini kok bisa langsung saya mulai dari POV itu. ini beneran, saya enggak tau. ahak hak hak.
.
lalu saya kira, ide besar tadi percuma atau klise jika hanya itu saja. bahkan dulu, ada terlintas adegan tokoh Rena datang lagi dan menyadarkan tokoh utama agar membuat roti masa depan saja, sebagai resolusi. namun betapa hambarnya itu, pikir saya. lantas saya bubuhkan aja konsep dinding keempat itu, yg sudah saya mulai di cerpen Rekapitulasi dan Teman Ngobrol. akhirnya mengarah pada ide licik ngerjain tokoh Ian, yg sering muncul di cerpen2 saya sebelumnya. "Kali ini kau kujadikan figuran enggak penting dan jauh dari khayalanmu." mengarah komedi, usul seseorang yang merasa dirinya tokoh Dina. gitu pikir saya dengan tawa jahat. serasa melengkapi, jadilah Roti Masa Lalu ini. ehehehehehe.
.
saya enggak yakin akan membuat POV kedua di kesempatan lain. tapi soal kedekatan narator dan kau, maaf itu benar-benar curhat. makanya ketika Om bilang suram/muram, saya kepikiran orang yang merepresentasikan tokoh Dina. dia pembaca pertama di email, yg lantas mengatakan hal yang ngena, muram, dan yaahh... kenyataan.
.
anyway, giliranmu, Om, posting cerita XD nanti saya kunjungin. ahak hak hak

Writer samalona
samalona at Chris - Roti Masa Lalu (3 years 19 weeks ago)

Ditunggu ya :)

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Roti Masa Lalu (3 years 19 weeks ago)

yeah!
siap, Om.
ahak hak hak

Writer The Smoker
The Smoker at Chris - Roti Masa Lalu (3 years 19 weeks ago)
90

Om Momod, baru singgah saya di lapakmu pake akun yg ini. Ahak hak hak...
.
Khas dirimu, ngalir, nggak ruwet dan ragam kegetiran dengan warnanya sendiri... Saya nikmatin sampe akhir, sampe penutup yg maknyus itu.
.
Ahak hak hak...

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Roti Masa Lalu (3 years 19 weeks ago)

penutupnya pake toping cokelat. coklat perkebunan tapinya. ahak hak hak.
makasiy udah mampir. hohohoho