Tantangan Bintang : Bintang Kejora

Algar duduk di anak tangga teras paling bawah. Ia belum berhasil memakai sepatu sandal. Sepertinya, ia kesulitan merapatkan tali di belakang tumit, kaki bagian kanan. Sebelah kiri malah belum terpasang.

Sebenarnya saat hendak berangkat tadi, sudah kuanjurkan memakai sandal jepit saja. Bisa langsung pakai. Bahkan, tanpa perlu duduk. Sambil berdiri pun bisa langsung pakai. Biasanya, juga memakai sandal jepit. Tapi, kali ini ia memaksa untuk memakai sepatu sandal, yang memang baru dibelikan Neneknya seminggu kemarin.

Ia memang terkenal dekat dengan Neneknya. Apa-apa yang diberikan Neneknya selalu jadi yang istimewa. Susah dilepas. Bahkan, kalau sudah tinggal di rumah Neneknya, susah diajak pulang. Seolah lupa punya rumah sendiri, lupa kalau memiliki Ayah Ibu.

Hampir dalam semua hal, dia berusaha untuk mandiri. Selalu menolak jika ada yang menawarkan bantuan. Apalagi, sejak Alma lahir. Ia seolah ingin jadi Kakak yang mandiri. Alasannya, agar diperbolehkan Ibunya menggendong Alma. Pandai juga ia mengambil hati.

Termasuk kali ini. Memakai sepatu sandal harus dilakukannya sendiri. Memang akan menjadi sedikit lebih lama. Seperti saat hendak berangkat tadi. Beruntung, tadi ia bangun lebih awal. Kami masih sempat mengejar sebelum selesai iqomah.

Aku masih bisa sabar menunggunya menuntaskan tanggungan. Dia tak perlu tergesa-gesa. Kali ini, kami tidak dikejar-kejar waktu. Meski sebenarnya, masih ada agenda jalan-jalan pagi untuk berkeliling kampung. Itu hanya optional, bukan wajib. Rencanaku, sengaja menghabiskan waktu agar saat sampai di rumah sudah tiba waktunya sarapan. Sekaligus menunggu bangunnya Alma. Nantinya, aku ingin mengajak mereka jalan-jalan ke taman rekreasi wisata air. Algar suka sekali berenang. Apalagi Alma, ia tampak gembira sekali kalau terkena percikan air. Selagi ini hari minggu.

Untuk apa-apa yang ingin dilakukan Algar secara mandiri, aku selalu berusaha memberi dukungan. Menghargai setiap upayanya. Meski itu cenderung selesai dengan waktu yang relatif lama. Pantang menyuruhnya untuk bergegas dan bersikap tidak sabaran. Dia tak boleh dibuat tergesa-gesa. Sesuatu yang tergesa-gesa tidak akan baik untuk proses belajar.

Aku duduk di tangga ketiga teras, sedikit serong kanan, membelakanginya. Sengaja, agar tidak terkesan memandangi. Kalau ketahuan dipandangi, ia bisa merasa tak nyaman. Tapi, aku benar-benar tak sedang memandanginya. Hanya kulirik saja sekali-sekali. Ia harus percaya kalau Ayahnya ini juga percaya kalau ia bisa. Maksudku, ia sudah bisa seperti saat berangkat tadi dan akan semakin bisa kali ini.

Mataku memilih memandang itu. Benda di langit nan jauh. Tak sengaja kutemukan saat tadi mencari-cari apa yang bisa dilihat di langit. Langit, yang perlahan-lahan mulai terang.

Dari tempat ini, memang bisa memandang langit lebih jelas. Lokasinya lebih tinggi dari rumah-rumah perkampungan. Memang ada beberapa pohon tinggi di tepi sebelum pagar. Tiga pohon trembesi, satu pohon beringin besar, dua pohon kelapa di dekat pintu masuk, dan pohon jambu air yang sudah mulai berbunga. Tapi, mereka tidak mengganggu. Jarak antara pepohonan itu dengan teras memang terhitung cukup jauh, mungkin ada seratus meter. Untuk kategori tata letak masjid di pinggir kota, halamannya memang terbilang luas.

“Kamu lihat itu, Mas?” Tanyaku pada Algar. Ah, bukankah ini justru mengganggu konsentrasinya. Tak tahu saja. Tiba-tiba ada nostalgia yang tak bisa dibendung untuk ditunjukkan saat melihat benda di langit itu.

Nampaknya, pertanyaanku berhasil mengganggu fokus Algar. Dia menengok ke arahku. Melihat apa yang aku lihat di langit. Lalu, kembali melihat arahku dengan raut tanda tanya. Aku melihatnya hanya dari melirik. Aku diam. Menunggu.

Tapi tidak ada pertanyaan yang meluncur dari bibirnya. Justru, ia kembali melanjutkan memasang sepatu sandal. Saat ini sudah berpindah bagian sebelah kiri.

Apa dia tak tertarik dengan benda yang kutunjukkan? Kurasa bukan begitu. Aku sangat mengenalnya. Dia selalu penasaran dengan sesuatu yang baru. Dia hanya sulit berkonsentrasi pada dua hal sekaligus. Bermaksud menyelesaikan tanggungannya lebih dulu dan menyimpan rasa penasarannya untuk ditanyakan nanti.

Maklum, dia baru berusia berapa? 11 Agustus ini baru genap tiga tahun. Jangankan untuknya yang baru berusia segitu. Bagi yang sudah dewasa saja, kesulitan untuk fokus pada lebih dari satu hal.

Selanjutnya, pandanganku kembali utuh pada benda di langit nan jauh tadi.

Aku jadi teringat cerita Ibuku dulu, neneknya Algar. Aku mendapatkan cerita ini ketika sudah kelas lima SD. Selepas subuh dan di hari minggu juga. Aku sedang membawa nampan bundar lebar dari anyaman bambu. Berisi sayur-sayuran rebus, kacang panjang, kubis, daun singkong, sampai daun pepaya. Sedangkan ibuku, membawa yang lebih berat. Bakul nasi empok disunggih di atas kepala. Tangan kanan merangkul kaleng kerupuk yang berisi ikan asin, sementara tangan kiri menenteng rantang yang isinya parutan kelapa warna merah untuk bumbu urap-urap dan beberapa lauk seperti tempe, bakwan, serta mendol.

Kami berjualan nasi empok. Lebih tepatnya Ibuku yang berjualan, aku hanya membantu. Nasi empok itu berwarna kuning, tapi bukan dari beras. Itu dari jagung yang ditumbuk halus. Sampai sekarang, aku belum tahu adakah resep tambahannya selain di tumbuk. Sebentar, atau mungkin juga diselep? Aku tidak tahu bagaimana pastinya. Ia selalu membuat saat tengah malam, ketika aku masih tengah nyenyak-nyenyaknya bermimpi. Sepertinya, rasa penasaranku kurang, meski menyukai nasi empok.

Kami berjualan di pasar minggu dekat pengajian Kyai Durrahman. Jama’ah pengajian Kyai itu memang ramai, sampai ribuan. Jadi, di sepanjang jalan pulang dari pengajian sudah seperti pasar. Di tepi-tepi jalan, banyak yang membuka lapaknya sendiri-sendiri. Seperti jamaahnya yang juga dari mana-mana, pedagangnya pun bukan hanya orang kampung sekitar, seperti kami. Bapakku sudah menunggu di sana. Ia berangkat lebih awal sambil memanggul meja dan kursi, lalu menatanya.

Kala itu, rumah-rumah belum sepadat sekarang. Jadi, pemandangan sawah, pekarangan rumah yang luas, bayangan gunung berkabut, sampai benda paling terang di langit nan jauh itu masih kelihatan jelas. Benda yang saat ini juga kulihat di langit nan jauh. Bintang yang paling terang.

“Nenekmu bilang, bintang yang paling terang itu namanya Bintang Kejora, Mas!”

Algar berhenti, tidak menoleh, tidak pula menengok Bintang Kejora, lalu melanjutkan memasang sepatu sandal. Tapi aku jadi yakin, dia mendengarkanku. Dia pasti penasaran. Dan saat ini ingin segera menyelesaikan memasang sepatu sandalnya. Agar bisa benar-benar fokus mendengar ceritaku.

Ah, dugaanku itu justru membuatku semakin tak bisa menahan diri untuk tidak bercerita lebih awal. Meski nanti Algar pasti memintaku mengulang, terutama untuk detail-detailnya. Tak mengapa, aku tak keberatan bercerita dua kali. Apalagi, untuk cerita kali ini.

“Para orang pintar bilang sih, itu bukan bintang, tapi planet. Planet Venus!” Semoga, pilihan kataku untuk orang pintar lebih bisa dipahaminya dari pada kusebut ilmuwan. Tapi, mungkin dia akan kesulitan untuk kata planet dan Venus. Tak apa, aku bisa menjelaskan detailnya nanti.

“Kata mereka, dinamai Venus karena paling terang di langit dibandingkan bintang-bintang yang lain. Meski tak seterang Matahari dan Bulan.” Aku berhenti, memberi jeda. Sekaligus menimbang-nimbang pilihan kata. Karena kurasa, berikutnya akan lebih sulit dipahami.

“Karena paling terang dibandingkan yang lainnya, maka terlihat cantik. Kecantikan itu, oleh para orang pintar dianggap mirip seperti kecantikan dewi cinta dan kecantikan menurut mitologi Yunani kuno. Kalau tidak salah, namanya dewi Aphrodite”

Sebenarnya, belum tepat kalau Algar mendengar cerita berat seperti ini. Planet Venus, dewi cinta dan kecantikan, mitologi Yunani kuno, apalagi dengan Aphrodite. Kata-kata apalah itu? Bagaimanalah dia bisa paham?

Setidaknya, akan kulanjutkan dengan versi yang kusuka.

“Tapi Ayah lebih suka untuk percaya pada Nenek!” Lanjutku. Lalu, tersenyum sendiri. Nostalgia itu kembali lagi.

Bukan maksud menyangkal apa kata orang pintar, para ilmuwan itu. Hanya saja, dulu aku sama seperti anak kecil lainnya. Lebih menyukai cerita dari pada sesuatu yang ilmiah. Sesuatu yang diceritakan seperti dongeng, terasa lebih hidup dan memiliki kesan dibandingkan dengan cerita logis yang mengandung kata-kata sulit seperti yang kukeluhkan tadi.

Kulanjutkan ceritanya. Tanpa meminta ijin pada Algar. Tanpa peduli ia mendengarkan seksama atau sambil lalu. Rasanya, seperti terbawa suasana. Aku sudah terlanjur ingin menceritakan tentang Bintang Kejora. Seperti cerita Ibuku padaku, dulu.

Kuceritakan pada Algar, Bintang Kejora itu seperti lambang kecantikan dan cinta. Itu mungkin satu-satunya hal yang aku sepakati dan kuanggap sama antara cerita Ibuku dengan kata mereka yang merasa pintar.

Cantik sendiri di antara yang lain. Lebih terang dibandingkan yang lain. Tampaknya memang tidak di sepanjang malam. Hanya ketika di pergantian malam kepada siang. Di waktu mulai terang, tapi cahayanya masih nampak. Tidak mudah menampakkan diri. Tidak serta merta ingin dilihat banyak orang. Jika diibaratkan dengan perempuan, cantiknya tidak gampangan. Menurutku, cantik yang seperti itu tidaklah murahan. Orang-orang tertentu yang menyempatkan waktu-waktu seperti ini saja yang bisa melihat. Cantiknya jadi terasa unik, istimewa juga. Sama seperti cantiknya Nenek dan Ibunya Algar.

Aku berhenti sejenak. Menunggu, kalau-kalau Algar mengajukan pertanyaan. Tapi, sepertinya tidak.

Kulanjutkan lagi. Kali ini tentang Bintang Kejora sebagai lambang cinta. Sebuah cinta yang dalam dan tulus.

Bintang Kejora tak setiap hari bisa tampak. Yah, ada kalanya banyak awan, bahkan mendung serta hujan. Tapi, bintang kejora itu tak pernah pergi, mereka selalu ada. Seperti cintanya Ibuku. Iya, Ibuku selalu ada cinta bagi keluarganya. Tapi, tak pernah sekalipun ingin ditampilkan besarnya rasa itu. Tau-tau, terasa sangat sakit jika sudah menyadari pengorbanan cinta Ibu untuk keluarganya.

Bintang Kejora itu berbeda dengan Matahari dan Bulan. Memang mereka lebih terang dibandingkan Bintang Kejora. Tapi kalau Matahari, ia hanya memberikan seberkas sinarnya saja, meski memiliki banyak. Kalau berlebihan akan menyakiti dengan panas yang menyengat. Sementara Bulan, meski ia bulat, sering hanya sebagian yang dipancarkan. Contohnya saja bulan sabit.

Kalau Bintang Kejora, tak pernah tanggung-tanggung. Bukan sekadar memberikan sebagian cahanyanya saja. Tapi, memberikan semua cahaya yang ia punya. Sama seperti Nenek Algar, Ibuku.

Seperti saat kejadian ketika aku sudah kelas enam SD dulu. Ketika itu, sudah waktunya makan malam. Aku menuju dapur. Nasi dan lauk pauknya ada di sana, bukan di meja makan. Kami tidak memiliki ruang makan, apalagi mejanya. Ruang makan bisa dimana saja. Dalam arti, kami bisa makan dimana saja, asal merasa nyaman untuk menyantap.

Di dapur, ada Ibuku yang sedang menggoreng cabai dan bawang putih di atas wajan menggunakan api dari tungku dengan bahan bakar kayu. Cabai dan bawang putih itu untuk bahan membuat sambal yang dicampur gula dan garam secukupnya. Itu kutahu saat tadi, ia memberitahu sambalnya belum jadi. Ketika aku baru masuk ke dapur.

Saat itu, hidup kami memang amat sederhana. Bapak sedang tidak banyak order membetulkan talang. Maklum, waktu itu musim kemarau. Akhirnya, hasil kerja serabutan sudah habis untuk bayar uang sekolahku dan adikku. Itupun masih dibantu iuran dari hasil jualan Ibu.

Di dapur, jangan harap bisa menemukan lauk mewah. Sekadar tempe, tahu dan sambal pun itu syukur. Beruntung, seisi rumah kami sangat kompak. Bapak, aku dan adikku tak pernah protes dengan apapun yang dimasak oleh Ibu. Apapun yang disiapkannya selalu kami makan tanpa mengeluh. Mungkin, aku saja yang sedikit pemilih. Tapi, hanya untuk satu jenis makanan dan itu bukan hasil masakan Ibu. Aku tidak suka dengan durian. Untungnya, kondisi keluarga yang sederhana tidak membuat durian sering ada di rumah.

Hebatnya Ibuku, keadaan apa adanya seperti itu melatihnya menjadi juru masak yang handal. Bahan makanan apapun bisa dimasak dan terasa nikmat jika dimakan.

Ketika di dapur, Aku heran saat melihat lauk telur dadar yang dipotong tiga kecil-kecil. Kata Ibu, ayam kami baru bertelur satu. Itupun dari indukan baru yang masih terhitung dara. Mungkin bisa dibilang betina muda. Sementara telur indukan tua, telurnya sudah menetas semua.

Sebenarnya, bisa saja menyembelih ayam-ayam kami satu saja. Toh masih ada belasan termasuk yang kecil-kecil. Untuk tiga ekor yang dicuri dua minggu sebelumnya sudah tidak masuk hitungan. Tapi, rasanya aneh jika memakan ayam yang tiap hari kita beri makan. Menyembelihnya pun tidak tega. Rasanya, lebih baik dijual dan dibelikan daging ayam di pasar.

Lalu, Ibuku melanjutkan membuat sambal dari cabai hijau, garam, dan gula tadi. Sebenarnya, aku bukan heran kenapa ada lauk telur? Sudah kukatakan, itu biasa di rumah kami. Bukan pula bingung, kenapa potongannya kecil-kecil? Aku hanya mempertanyakan jumlahnya? Mengapa hanya tiga? Isi rumah kami kan empat orang. Apa Ibuku sudah makan? Tapi, Ibu tidak akan pernah makan jika Bapak dan kami anaknya belum makan lebih dulu.

Ketika kutanya apa Ibu sudah makan atau belum? Sekadar untuk memastikan. Ia menjawab nanti, menunggu kami. Benar saja bukan? Ibuku menunggu kami. Aku, Bapak, dan Adikku. Dia juga mewanti-wanti, kalau telur dadar itu untuk kami bertiga, satu orang satu potong. Jadi harus rata.

Lalu Ibu?

Aku bingung. Saat itu, perasaanku sudah mulai tak enak. Oh bukan, lebih tepatnya sudah semakin tidak enak sejak mempertanyakan jumlah potongan telur dadar tadi.

Ketika kutanya untuk Ibu bagaimana? Ia menjawab alergi telur. Ia makan dengan sambal saja. Begitu sudah enak katanya. Yah, hanya nasi dengan sambal.

Kali itu, pertama kalinya Ibu sudah mengajari berbohong. Di keluarga kami, tak ada yang memiliki alergi. Tak ada satupun yang tidak menerima apapun makanannya. Mungki hanya aku yang memiliki alergi, atau cenderung tidak suka baunya. Itupun hanya satu macam makanan. Bukan masakan Ibu juga. Sudah kujelaskan tadi.

Akupun malu, kukira sudah mengenal arti cinta dari tayangan sinetron, telenovela, sampai ucapan manis soal cinta dari teman sebaya. Sampai-sampai aku sudah berani memandangi gadis teman sekelas untuk waktu lama. Seolah bangga karena menganggap sudah tahu tentang cinta. Ternyata tak semanis itu. Ternyata, cinta tak segamblang dan sesederhana itu.

Walau hidupku sebelumnya tak pernah mudah. Belum pernah merasa sebegitu terpukulnya. Sekaligus dadaku tiba-tiba sesak. Sesak yang sama seperti sekarang. Bedanya, sekarang aku lebih tegar untuk tampak luar. Dulu, mataku sudah tak berani memandang mata Ibu. Keduanya berkaca-kaca.

 “Beruntung, saat itu Ayah sudah sadar kalau ayah ini laki-laki. Jadi ayah batalkan untuk menangis!”

Ah, sepertinya ceritaku terlalu berat untuk Algar, apalagi soal cinta tadi. Sampai-sampai ia diam memandangiku. Aku terlalu terbawa suasana.

Mungkin akan ada pertanyaan nanti. Sebaiknya sesi tanya jawab itu kami lakukan sambil jalan. Bintang Kejora pun sudah pulai pudar cahayanya. Kalah oleh kuningnya fajar.

Saat aku berusaha berdiri, usahaku dihentikan beberapa saat oleh panggilan Algar.

“Yah!”

Aku menengok, lalu tersenyum menanti apa selanjutnya yang akan diucapkan.

“Ayah memberikan telur bagian ayah ke nenek, kan?” Tanyanya dengan pelafalan yang masih belum fasih.

Aku kaget, sempat diam, bingung. Lalu tersenyum saja. Terlalu malu untuk bilang kalau telur bagianku kulahap habis.

Kuajak Algar berdiri untuk melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Berdalih Ibunya sudah menunggu. Berharap ia lupa menagih jawaban untuk pertanyaannya tadi.

Aku jadi tersentil. Ternyata cinta yang kuceritakan milikku belum apa-apa. Masih kata-kata, belum dibuktikan seperti Ibuku dulu.

Saat Algar berusaha berdiri, ia hampir jatuh. Ternyata, sepatu sandalnya tertukar antara yang kanan dengan yang kiri. Ia mengeluh lesu, lalu duduk kembali melepas sepatu sandalnya. Akupun kembali duduk, kali ini di samping Algar. Memperhatikan saja, kali saja dia salah lagi. Tanpa membantu. Ia pasti menolak.

Sepertinya kami agak kesiangan untuk sarapan di rumah. Semoga Ibumu tidak marah-marah, Mas! Batinku.

 

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Tantangan Bintang : Bintang Kejora (3 years 16 weeks ago)
70

Halo Sam Kukuh,
saya hendak komen, tapi nanti disangka menjatuhkan, jadi nggak jadi, #lah?
.
setuju aja deh sama komen-komen yang sudah-sudah.
.
anu, tambahan, saat adegan tokoh Ayah menjelaskan tentang pandangan orang pintar terhadap Venus dan lebih percaya pada cerita ibunya yang bernuansa dongeng, kok rasanya tidak imbang, ya?
.
"Bukan maksud menyangkal apa kata orang pintar, para ilmuwan itu. Hanya saja, dulu aku sama seperti anak kecil lainnya. Lebih menyukai cerita dari pada sesuatu yang ilmiah. Sesuatu yang diceritakan seperti dongeng, terasa lebih hidup dan memiliki kesan dibandingkan dengan cerita logis yang mengandung kata-kata sulit seperti yang kukeluhkan tadi."
.
kata ayahnya, tapi apa yang diceritakan oleh ayah tersebut tentang pendapat orang-orang pintar itu dasarnya dari dongeng juga (lebih tepatnya mitologi) yang tentu jauh dari kesan ilmiah dan logis.
.
ilmiah dan logisnya cuma satu, Venus itu planet bukan bintang, tapi selebihnya hanya anggapan termasuk kecantikannya yang mirip Dewi Aprodite (mitologi). Terus kenapa nama planetnya Venus bukan nama dewi yang dimaksud (Aprodite)? Meski kata si ayah akan menjelaskan detailnya nanti, tapi bagian tersebut penjelasannya harus diberikan saat itu juga
Menurut saya begitu, karena bagi pembaca yang tidak tahu akan merasakan jurang antara Aprodite dan Venus. Sama seperti anak-anak sekarang yang tidak tahu huhungannya antara TPI dan MNCtv (contoh macam apa ini?).

.
Sekian, maaf kalau tidak berkenan. Salam.

Writer kukuhniam
kukuhniam at Tantangan Bintang : Bintang Kejora (3 years 16 weeks ago)

bener juga mas, jadi gak ada jurang ya.
Sebenernya saya waktu itu masih nyari-nyari bahan soal venus. uda nemu, bingung mau ngembangin. eh uda hampir teng aja jamnya
tapi makasih masukannya sam

Writer sophia
sophia at Tantangan Bintang : Bintang Kejora (3 years 16 weeks ago)
60

Si bapak asik cerita sendiri. Cuman bercerita sm anak kecil sm orang dewasa tentu beda kann? Meski si bapak cm niat curhat. Trs cerita ttg bintang kejora en bla bla itu terkesan menggurui, kyk baca buku pelajaran yg memang membosankan.

Writer kukuhniam
kukuhniam at Tantangan Bintang : Bintang Kejora (3 years 16 weeks ago)

iya ya mbk, terkesan menggurui ya ternyata. nggak natural gitu..mungkin efek akhir-akhir ini ising bikin non fiksi kali ya,haha

80

Saya paham sih pesan yang ingin disampaikan lewat tulisan ini. Di akhirnya udah cukup jelas dan cukup apik. Cuma --maap-- ada rasa bosan waktu baca di tengah-tengah. Mungkin bisa diselipi kejutan-kejutan kecil atau konflik-konflik mini biar pembaca bisa lanjut dan tertarik terus untuk baca sampe abis.
Sekian aja Mas Kukuh yang kayaknya uda nyaman nulis cerita di luar Luki Luck. heheh.

Writer kukuhniam
kukuhniam at Tantangan Bintang : Bintang Kejora (3 years 16 weeks ago)

itu lah masalahnya. saya belum andai menghidupkan cerita seperti anda.heheh

ini sedang belajar keluar dari zona nyaman. erasaan luki juga gak nyaman bikinnya. ancur juga.haha

90

Soal pertanyaan pembagian telur itu, kayaknya anak umur 3th gak bakalan nanya gitu deh. Mungkin saja kalo 5th ke atas.

Writer kukuhniam
kukuhniam at Tantangan Bintang : Bintang Kejora (3 years 16 weeks ago)

soal itu saya kurang pengalaman mbak. saya hanya mengambil sisi ketidaktegaan balita pada orang yang disayangi. Ada kan kayak gitu?
Bukan condong pada jumlahnya.
gitu mbak kar

Writer aocchi
aocchi at Tantangan Bintang : Bintang Kejora (3 years 16 weeks ago)
100

Saya kasih poin penuh dulu buat yang ikutan. Review lengkap tunggu tanggal 23 ye~

80

Ini manis, hoho.
Tapi jujur sii, saya skip beberapa bagian.
Pacenya lambat menurut saya, terus nggak ngerasain greget.
.
Yang saya garis bawahi ya hal2 kecilnya aja, adegan ini berlangsung ketika Algar berkutat sama sepatu sandalnya kan. Juga pertanyaan nohok tentang pembagian telur bagi neneknya. Hal2 macam itu yg menurut saya manis. Mhehehehe

Writer kukuhniam
kukuhniam at Tantangan Bintang : Bintang Kejora (3 years 16 weeks ago)

Kalau diskip menurut saya wajar om smo.
saya juga ngerasa Algarnya kurang hidup.
Awalnya hanya pendek sekali memang, mengikat sepatu sandal dan soal cerita telur itu dan berakhir ke pertanyaan Algar.
Karena tidak memenuhi kuota, saya mencoba mengembangkan>
Pengembangannya ini yang saya rasa kurang panas, kurang hidup. saya utak atik lama, belum ketemu yang pas juga