Tantangan Bintang: Kehormatan Sejati

p { margin-bottom: 0.25cm; line-height: 120%; }

Tatapan Kalgeran jauh menembus kaca tebal jendela raksasa itu. Dilihatnya hamparan awan-awan luar angkasa berwarna hijau dan jingga di sana. Bintang-bintang bergerombol seakan bernaung padanya. Sungguh indah, pikir Kalgeran. Bak dataran surga, dengan gemerlap istana-istana yang teramat luas wilayahnya.

Kalgeran tidak habis pikir, kenapa makhluk-makhluk di alam semesta ini saling berebut semua itu? Padahal ada banyak sekali bintang di sana. Tak terhitung galaksi bertebaran hingga ke sudut-sudut luar angkasa yang belum terjamah. Sampai akhir masa mereka tidak akan mampu menghabiskan semua itu.

Namun dengan berbagai alasan: mulai dari kelangsungan hidup, ilmu pengetahuan, ideologi, bahkan hingga teologi sekalipun, mereka semua sanggup berperang untuk sebongkah asteroid. Mereka tega mengusir makhluk asli penghuni sebuah planet, dan tak jarang membantainya. Dan ujung-ujungnya, semua yang mereka lakukan itu hanya karena uang dan kekuasaan.

Menjijikkan, batin Kalgeran. Dia bergidik, karena selama tiga puluh tahun dirinya terlibat dalam kekejian semacam itu. Dia merasa muak.

Sebuah kapal perang ruang angkasa bersama armadanya melintas, membangunkan Kalgeran dari lamunannya. Kalgeran sangat kenal dengan kapal perang itu. Kapal tempur cepat kelas A bertipe korvet, satu-satunya di kelasnya yang memiliki kemampuan siluman paling mutakhir saat ini. Kecepatan dan kemampuan manuvernya hampir setara dengan pesawat tempur. Dan daya hancurnya pun tidak bisa dibilang lemah.

Kapal itu berhenti, menyejajarkan posisi. Kapal itu seakan sengaja melakukannya untuk menunjukkan nama lambung pada Kalgeran. Armada Tempur Antariksa (ATA) Kirga III, milik Kapten Miria.

Oh, tentu saja, pikir Kalgeran. Putrinya itu suka sekali menyombongkan diri padanya. Meski begitu, Miria selalu bisa membuatnya bahagia. Karena pada putrinya itu Kalgeran masih bisa menggantungkan harapan.

Kalgeran menoleh ke sisi jendela yang lain, menatap planet hijau giok tempat pertempuran besar akan berlangsung. Ya! Seru batinnya. Dia masih memiliki sesuatu yang lebih baik untuk masa depan.

****

“Kapten memasuki ruangan!” seru Letnan Yorik. Pria paruh baya yang tubuhnya masih tegap itu berdiri di samping pintu masuk anjungan.

Kalgeran menghampiri panggung di ruangan tersebut. Di saat yang sama dia mengangguk pada seluruh awak kapalnya yang berdiri dan memberi hormat. Dan ketika sampai di kursi kapten, dia menyempatkan diri mengamati seisi ruangan.

Mereka tampak tegang, sidik batin Kalgeran. Ya, wajar saja. Tidak ada yang pernah bisa merasa santai dalam kondisi berperang. Bahkan ketika mereka ditempatkan di anjungan yang luas dengan aliran udara yang dibuat senyaman mungkin sekalipun. Ini adalah kehidupan sehari-hari bagi para prajurit.

Setelah melontarkan senyum untuk sedikit mencairkan suasana, Kalgeran mempersilakan awak kapalnya kembali ke posisi semula sebelum dirinya duduk di kursi pimpinan. “Bagaimana statusnya saat ini?” tanyanya pada Yorik yang berjalan mendekat.

“Tidak ada banyak perubahan. Pasukan bangsa Dakuds tetap siaga di orbit planet Nisbitun. Mereka sepertinya membentuk formasi tempur. Tapi, tidak ada senjata yang aktif pada kapal-kapal mereka.”

“Lalu bagaimana dengan status kita?” lanjut Kalgeran.

“Seluruh armada telah siap. Seperti yang kau tahu, armada kita memiliki satu kapal komando, satu kapal pengebom, dua korvet, lima puluh pesawat tempur dan dua ratus drone. Armada Kapten Ken dan Kapten Latisha memiliki komposisi yang sama, kecuali Kapten Ken kali ini tidak membawa kapal pengebombnya. Semantara Kapten Miria baru saja tiba dengan ATA Kirga III dan sekitar dua puluh pesawat tempur. Mereka semua dalam status siap.”

“Bagus,” kata Kalgeran, lantas memeriksa beberapa panel informasi pada layar hologram yang melayang di depan kursinya. Dia menyibukkan diri sesaat, sembari memikirkan sesuatu di luar detail misinya kali ini.

“Kapten,” cegat Yorik. “Apa kita akan memulai misi ini?”

“Tidak,” jawab Kalgeran. Dia bisa melihat wakil kaptennya itu terkejut atas ucapannya. “Belum saatnya, Letnan. Aku ingin membuka negosiasi dengan bangsa Dakuds terlebih dahulu.

“Apa? Kau yakin soal itu?” bisik Yorik yang membungkukan badannya, meski Kalgeran rasa itu tidak perlu. Awak kapal yang lain berada cukup jauh, suaranya tidak akan jelas terdengar jika dia hanya berbicara lembut. “Ini bukan seperti perintah Yang Mulia Kaisar. Jika kali ini kau menentangnya maka... Kau tahu apa niat Yang Mulia sebenarnya soal misi ini, bukan? Dia menginginkan kau—”

“Kau tidak perlu memberitahukanku soal itu, Yorik,” sela Kalgeran. Dia mendengus geli. “Aku sudah hidup cukup lama di alam semesta ini untuk mengetahui pemikiran adikku sendiri. Aku bisa mengatasi anak itu. Percaya sajalah.”

“Oh, dua puluh tahun aku mengabdi padamu di kapal ini, aku masih belum bisa mengerti bagaimana kau selalu bisa setenang ini. Baiklah, jika kau yakin akan hal ini, aku akan mengikutimu sampai ke neraka sekalipun. Dan kita memulainya dengan bernegosiasi dengan salah satu penghuni tempat itu.”

Tawa Kalgeran pun pecah, mengejutkan semua orang di anjungan.

****

“Apa aku harus mengulang perintahku, Kapten? Yang perlu kau lakukan hanyalah pergi ke planet ini, menghabisi pasukan bangsa Dakuds, lalu....”

Sejak beberapa saat lalu Kalgeran hanya berdiri mengamati citra hologram Sang Kaisar Ostrair berjalan mondar-mandir sambil mengoceh dan membentak-bentak di ruang strategi. Sang Kaisar, melalui satelit pemancar antar gerbang lompatan antariksa, langsung menghubungi Kalgeran begitu mendengar kabar soal negosiasi. Dia jelas tidak suka itu, dan memuntahkan semua kekesalannya dalam serangkaian kalimat yang sangat menyita waktu.

Untungnya, mereka berdua terpisah oleh ujung meja oval di mana grafis peta empat dimensi medan pertempuran melayang di atasnya. Karenanya sesekali Kalgeran memilih untuk memperhatikan pergerakan benda-benda angkasa dan pesawat di peta itu ketimbang adiknya.

“Apa kau mendengarkan ucapanku?” tanya Ostrair, akhirnya.

“Tentu, Yang Mulia,” jawab Kalgeran.

Ostrair mengerutkan kening. Tampaknya dia tidak percaya. “Terus kenapa kau bernegosiasi dengan musuh kita? Apa kau mau menentang perintahku? Kau tahu apa akibatnya padamu dan keluargamu jika kau melakukan itu, bukan? Kau dan keluargamu akan dicap sebagai pengkhianat!”

“Yang Mulia, aku sudah bersumpah setia pada negeriku saat ayah kita masih hidup dan duduk di singgasana Kekaisaran. Dan saat kau menggantikannya, memberiku perintah atas nama negeri, maka aku tidak akan pernah berani menentang itu. Hanya saja!” Kalgeran sontak menyela ketika mulut adiknya hendak terbuka. “Dari sekian banyak misi mustahil yang kau berikan kepadaku, kali ini bukan hal yang sepele. Kau mengirimku ke depan pintu rumah salah satu makhluk dengan armada terkuat sejagat raya. Ya, kecuali jika memang keinginanmu untuk menempatkanku dalam situasi amat bahaya, maka biarkanlah aku mengatasi urusan di lapangan, Yang Mulia. Ini hanya sebuah taktik dalam pertempuran.”

“Omong kosong!” Sang Kaisar yang berwajah tirus dan bertubuh jangkung itu kembali mondar-mandir. “Aku tidak pernah menginginkan kau mati. Aku... Ini demi nama baik negeri kita. Mereka sudah merampok pos-pos cincin terluar wilayah kita, menghancurkan koloni-koloni baik milik negeri ini atau sekutu kita. Sekarang aku ingin kau membalas perbuatan mereka, setidaknya dengan mengambil apa yang paling mereka lindungi.”

“Tentu, Yang Mulia. Sebuah planet raksasa kaya akan mineral dan gas berharga, dengan satelit-satelitnya yang layak huni, tidak akan pernah sebanding dengan ribuan nyawa di koloni-koloni sekutu kita,” balas Kalgeran. Dia sedikit terkejut melihat adiknya membuang pandangan ke lantai. Sepertinya adiknya itu mengerti retorika yang dia maksudkan. “Aku rasa semua sudah jelas, Yang Mulia. Kau ingin aku merebut planet Nisbitun,” Kalgeran menunjuk miniatur hologram planet raksasa di atas meja, “Maka aku akan memberikannya padamu. Aku janji itu. Kurasa kau juga tahu bangsa Dakuds tidak akan menyerahkannya meski aku membuka jalur negosiasi. Pertempuran adalah satu-satunya jalan. Jadi, lupakan saja soal itu.”

Ostrair menoleh, tampak berusaha sekuat tenaga menatap langsung ke mata Kalgeran. “Baiklah, akan kulupakan. Tepati saja janjimu.”

“Sekali lagi, seperti yang sudah kukatakan, misi ini sangat berbahaya bagiku. Tapi aku sudah berjanji. Maka anggap saja planet itu sudah milikmu, Yang Mulia. Dan,” sekali lagi Kalgeran menyela. Kali ini sebelum Ostrair memutuskan hubungan komunikasi. “Adikku, sejak tadi aku tidak pernah berkata kalau kau menginginkan diriku mati. Aku tahu kau menyayangiku. Begitu pula dengan diriku.”

****

“Jadi, apa kata Yang Mulia? Apa dia tetap memaksamu melawan bangsa Dakuds? Apa dia mengancamu?” cecar Yorik begitu Kalgeran keluar dari ruang strategi dan menyusuri lorong menuju anjungan.

“Tenang, Yorik. Kau benar, dia mengancam menjadikanku pengkhianat jika menentangnya.”

“Apa Yang Mulia tidak menyinggung soal dirimu sebagai ancaman bagi dirinya. Kau dengan semua reputasi luar biasa, seluruh rakyat negeri kita tahu kau yang lebih pantas menjadi pemimpin mereka. Sang Kaisar pasti ingin melenyapkanmu. Jika tidak, dia tidak akan mengirim kita ke neraka ini.”

Kalgeran mendengus, “Yorik, kalau saja aku tidak mengenal dirimu sejak masa-masa di akademi, aku pasti sudah melemparmu ke ruang tahanan karena dengan lantang mengatakan hal buruk terhadap Kaisar. Kau tahu undang-undangnya, bukan? Tapi, Yorik,” Kalgeran menghentikan langkah tepat di depan pintu masuk anjungan. “Jika memang itu benar. Maka aku yang akan menanggungnya. Ini masalah keluargaku.” Dia lantas tersenyum dan menepuk pundak Yorik. “Ayo, kita selesaikan misi ini.”

****

Begitu berada di anjungan Kalgeran segara meminta informasi terbaru mengenai kekuatan musuh, seberapa besar armada mereka, persenjataan dan kemungkinan bala bantuan dari awak radar dan inteligen. Sebagai salah satu pasukan paling ditakuti sejagat raya, tak heran kalau bangsa Dakuds memiliki banyak kapal penghancur. Mereka pun tersohor akan kecepatannya dalam pertempuran. Desain kapal-kapal mereka disesuaikan dengan kemampuannya itu, bahkan kapal induk mereka yang besar memiliki kecepatan dua kali rata-rata kapal induk yang pernah tercatat ada di alam semesta. Namun mereka harus mengorbankan tenaga perisai, kekuatan lambung dan daya hancur persenjataan menjadi hampir setengah rata-rata.

“Kapten, ATA Kirga III baru saja mendapat informasi penting. Kapten Miria ingin berbicara pada anda,” ujar salah satu awak radar dan inteligen.

“Sambungkan,” jawab Kalgeran. Dan sekejap kemudian wajah Miria, dengan poni rambut pirangnya menyembul dari balik topi kapten, muncul di tengah-tengah layar raksasa yang melingkari separuh anjungan.

“Kapten,” sapa Miria, formal. Dia sangat jarang memanggil Kalgeran dengan sebutan ayah saat mereka di anjungan. “Aku dengar kau mendapat panggilan dari Yang Mulia. Apa ada masalah?”

“Tidak, semua baik-baik saja. Jadi, informasi apa yang baru kau dapat?” jawab Kalgeran, berusaha mengalihkan arah pembicaraan.

“Oh, ya, tim pengintai kami mendapati adanya aktivitas mencurigakan di sisi lain planet dari posisi kita sekarang. Pasukan Dakuds sepertinya sedang mengaktifkan sesuatu di salah satu permukaan bulan. Dari sana terdeteksi ada pancaran gelombang berfrekuensi lemah, namun planet Nisbitun dan satelit-satelit di sekitarnya tampak bereaksi.”

“Bereaksi seperti apa?”

“Kami belum tahu. Karena itu, saat Kapten menemui Yang Mulia, aku dan Kapten Latisha membahas situasi ini dan berencana untuk mengirim tim penghancur ke bulan ini,” jawab Miria.

“Kami pernah mendengar rumor kalau bangsa Dakuds memiliki senjata rahasia, jadi kami berpendapat kalau kami harus menghentikannya,” sambung Kapten Latisha yang sejak tadi sudah ada di layar dan juga Kapten Ken. Wanita berkulit cokelat itu tampak serius. Kedua mata hijaunya bergerak-gerak, seperti sedang meneliti informasi di panel hologramnya.

“Tidak, Kapten Latisha. Aku ingin kau tetap bersamaku dalam kekuatan penuh. Sedangkan kau, Miria. Bawa armada milikmu ke bulan ini dan lakukan pengintaian lebih lanjut,” ujar Kalgeran. Dia pernah pernah soal rumor itu juga, di mana bangsa Dakuds memiliki senjata rahasia yang ditempatkan di setiap wilayah mereka. Namun dia tidak pernah menyangka kalau aktivitas senjata rahasia ini bisa mempengaruhi seluruh planet berukuran raksasa.

“Tapi, Kapten. Kau membutuhkan armadaku untuk serangan tiba-tiba di medan pertempuran,” sanggah Miria.

“Justru itu, Miria. Kau satu-satunya yang memiliki kemampuan siluman dalam armada gabungan kita. Perang di posisi sekarang adalah perang frontal. Kau lebih diperlukan di belakang garis wilayah musuh. Susup dan selidik kegiatan mereka. Jika kau anggap aktivitas mencurigakan ini membahayakan misi, maka laksanakan operasi infiltrasi dan penghancuran. Apa kau mengerti?

Miria tidak langsung menjawab. Dia hanya memandang dari arah layar, seolah-olah sedang berhadapan langsung dengan ayahnya. “Baiklah. Pasukanku akan menyelinap ke balik planet Nisbitum begitu pertempuran dimulai.”

“Bagus. Kalau begitu semuanya bersiap!” seru Kalgeran. Dia berdiri dari kursinya dan berbicara lantang. “Mari kita laksanakan misi ini dengan sebaik-baiknya. Semoga Tuhan memberikan kita kehormatan tertinggi dalam kemenangan, atau kematian!”

****

Pertempuran pun pecah. Armada Kalgeran menjadi yang pertama bergerak maju, membentuk formasi jejaring, mengepung dari segala sisi. Namun lawan yang lebih dahulu memulai tembakan.

Seperti yang sudah diduga, pasukan lawan sangatlah cepat. Kalgeran pernah bertempur sebelumnya dengan pasukan bangsa Dakuds, tetapi belum pernah dengan kekuatan penuh mereka seperti ini.

Pada menit-menit pertama, pasukan penyergap dari armada Kalgeran seakan tidak berarti apa-apa. Pesawat tempur musuh dengan mudah mengubah formasi dan strategi, menyerang balik pasukan penyergap, membuatnya terpencar. Sementara kapal penyerang cepat kelas korvet mereka dengan sigap menjaga jarak, menyerang pasukan penyergap dengan laser dan menembakkan peluru kendali ke arah kapal-kapal besar armada Kalgeran. Dengan bantuan drone sebagai pengecoh, peluru-peluru kendali itu nyaris mustahil untuk dibidik oleh meriam anti-serangan udara.

 

****

 

“Kapten, dua korvet musuh menyerbu ke arah kita.... Mereka membuka palka torpedo—mereka menembak! Mereka menembak! Lima torpedo lebah pemburu mendekat dengan kecepatan 750km/jam. Benturan akan terjadi dalam: 40 detik, 39 detik, 38....”

Kalgeran berdecak kesal, diamatinya lamat-lamat bola radar tiga dimensi raksasa di awah panggung. Lima titik kecil mendekat dengan sangat cepat ke titik tengah, sementara di ujung terluar radar dia bisa melihat ada titik besar bergerak mendekat secara tiba-tiba.

“23, 22, 21, 20....”

“Tenaga penuh! Putar haluan 2, 45, 30, ke kanan. Lepaskan rudal pengacau ke arah torpedo. Dan jangan biarkan mengebom musuh itu menyasar mesin kita dari belakang atau atas. Serang sebelum dia melakukan apapun!”

 

****

 

Empat puluh menit berlalu, pertempuran sudah memasuki tahap kekacauan, manakala tidak lagi terlihat ada formasi yang terbentuk dari kedua belah pihak. Semua bergerak dalam moda bertahan dan menyerang. Mereka meliuk-liuk: menghindar, menyerang kapal musuh terdekat dan sesekali saja meneruskan objektif yang semula direncanakan.

Dalam situasi inilah armada Kalgeran sangat diuntungkan. Meski relatif lebih lambat dari lawannya, pasukan Kalgeran memiliki daya serang yang jauh lebih besar. Mereka memiliki banyak meriam dan peluru kendali.

Kalgeran memerintahkan kapal-kapal korvet untuk bergerak melingkar bersama dirinya, menjadikan kapal komando musuh sebagai titik acuan, memancing armada musuh untuk mengikuti tanpa banyak pilihan. Sementara itu, dua kapal pengebom dari tepi pertempuran bergerak maju, meluncurkan beberapa rudal berhulu ledak neutron yang menghasilkan ledakan sekaligus gangguan statis pada sistem kendali otomatis. Perisai kapal bergetar, drone pun berhenti bekerja, rudal-rudal kehilangan arah, dan pesawat-pesawat tempur bergerak menjauhi denyut elektromagnetik.

Tidak menyia-nyiakan kondisi tersebut, armada Kalgeran mengubah moda penyerangan dari semi-otomatis menjadi manual. Seluruh meriam pada kapal-kapal besar dikendalikan oleh satu orang di setiap posnya, menghabisi kapal-kapal musuh yang sedang kebingungan. Dan ketika efek statis bom neutron mulai menghilang, seluruh armada Kalgeran pun melontarkan torpedo ke arah kapal komando musuh.

****

Sorak kemenangan pecah di dalam anjungan. Tak lupa Kapten Ken dan Latisha pun memberi selamat pada Kalgeran. Kapal komando musuh dipastikan telah hancur dan sisa pasukannya pun melarikan diri.

“Tidak satu pasukan pun yang bisa mengalahkan kekuatan penuh bangsa Dakuds, Kapten. Tidak sebelum kita,” ujar Yorik, terdengar penuh bangga. Namun Kalgeran hanya tersenyum, sementara matanya tetap mengawasi radar dan layar. “Ada apa, Kapten? Apa ada masalah?”

“Yorik, bagaimana status Kapten Miria?” tanya Kalgeran.

****

Mendengar pertanyaan Kalgeran, awak radar dan inteligen pun berusaha mencari keberadaan armada Kapten Miria. Bukan persoalan mudah jika armada itu berada dalam moda siluman. Mereka bisa ada di mana saja. Radar tidak akan bisa memindai mereka dan komunikasi terenkripsi satu arah. Kalgeran hanya bisa mengirim ketukan radar, karena hanya Miria yang bisa lebih dahulu menyabung komunikasi dengannya.

Beberapa menit berjalan, anjungan menjadi begitu sepi layaknya kuburan. Semua orang menunggu, dan sebagian tanpa sadar menahan napas mereka. Pertempuran belum berakhir. Mereka lupa akan informasi dari rumor sebelumnya kalau pasukan musuh memiliki senjata rahasia. Belum adanya kabar berarti bahaya masih mengintai entah dari mana.

Dan ketika ruang anjungan yang hampir seluas aula teater itu seakan menjadi semakin sesak, suara radio statis terdengar dan gambar Miria muncul di layar. Hampir semua orang di sana terperenyak.

“Kapt... permuk... markas... senjata rahasia mereka... nyata....”

Kalgeran tidak bisa berbuat apa-apa. Komunikasi satu arah itu terganggu, dan hanya Miria yang bisa memperbaikinya dari ujung sambungan. Samar-samar dia hanya bisa menerka kalau putrinya sudah tidak berada di kapal. Dia dan awak kapalnya mungkin sudah turun ke permukaan bulan, tempat aktivitas misterius yang dikatakan sebelumnya berlangsung. Dia bisa melihat seseorang di belakang Miria mengenakan zirah siluman. Mereka dalam operasi infiltrasi.

“Sudah... tapi tidak ada res... bahaya... tapi kami... atasi....”

Ada raut cemas yang cukup hebat di wajah Miria. Entah hanya khayalannya atau tidak, Kalgeran bisa melihat butir-butir keringat menggantung di kening putrinya. Entah mereka sedang bersembunyi dari musuh, atau ada sesuatu yang lebih besar, yang harus dikhawatirkan oleh ayahnya. Walau sepertinya Miria merasa yakin bisa mengatasi masalah tersebut.

“Kapten, berhati-hat... mereka... gil de.... Aku ulang, mereka beru... manggil dewa-dewa mereka!”

Sambungan terputus, dan semua orang saling memandang sampai akhirnya tertuju pada Sang Kapten. Kalgeran bisa mengerti sorot mata tidak percaya yang mengarah padanya sekarang. Bahkan dia, detik itu juga, masih belum bisa menerima perkataan putrinya sendiri.

“Mereka berusaha memanggil dewa?” gumam Kalgeran.

****

Sekonyong-konyong ruang anjungan bergetar hebat. Sensor di semua layar menggila, mengatakan kalau kapal hendak menabrak atau jatuh ke dalam atmosfer benda langit. Sebuah medan gravitasi muncul di tengah-tengah armada, mengacaukan semua sistem komunikasi dan radar. Gerbang lompatan antariksa terbentuk di sana. Ukurannya begitu luar biasa hingga semua mata terbelalak ke arah layar utama.

Kalgeran segera memerintahkan seluruh armadanya untuk menjauhkan kapal dari gerbang tersebut. Namun sayang, sebagian dari mereka terlambat bereaksi. Sebuah objek kubus hitam bercahaya ungu super masif muncul dari balik gerbang lompatan antariksa. Medan gravitasi dan perisai benda tersebut menghancurkan kapal dan pesawat yang dilaluinya hingga berkeping-keping. Dan ketika objek tersebut mengubah bentuknya menjadi tidak beraturan, memisahkan bagian-bagiannya yang berotasi pada bangunan bola raksasa di titik pusat, seluruh kapal tertarik ke arahnya. Kapal Kalgeran harus memaksa mesin bekerja mati-matian untuk bisa keluar dari medan gravitasi yang semakin membesar.

“Itu gila! Bagaimana mereka bisa membangun benda seratus kali lebih besar dari kapal ini... dan menerbangkannya?!” gumam Kalgeran begitu kapal terbebas dari medan gravitasi.

“Mungkin yang Kapten Miria katakan itu benar. Mereka telah memanggil sesosok dewa. Kita harus segera menjauh, Kapten,” ujar Yorik. Walau samar, Kalgeran bisa mendengar suara wakilnya itu bergetar.

Dalam situasi seperti itu memang seharusnya lebih baik mundur. Namun Kalgeran menyadari sesuatu. “Tunggu, kenapa benda itu tidak menyerang kita? Benda itu bergerak menjauh.”

Semua menoleh ke arah Kalgeran. Dia lantas meminta awaknya untuk menampilkan proyeksi jalur pergerakan benda tersebut. Sebuah citra planet Nisbitum dan satelit-satelitnya pun muncul di layar. Benda super masif tadi ditandai dengan petunjuk “Objek Tak Dikenali”, bergerak dengan lintasan elips menuju salah satu bulan. Dari perhitungan kecepatannya, benda itu akan sampai pada tujuan dalam waktu satu jam.

“Tunggu, Kapten. Kau tidak berencana untuk menghentikan benda itu, bukan? Tidak. Kita tidak mungkin bertahan melawan benda itu,” kata Yorik, seakan-akan dia bisa membaca pikiran Kalgeran saat ini. Namun, kalau benar begitu, dia pasti juga tahu kalau Kalgeran tidak akan mengubah niatnya.

“Aku akan hentikan benda itu, apapun caranya.” Kalgeran merasa Yorik mungkin mengira dirinya sudah gila. Namun dia kemudian menjelaskan. “Mungkin ini saatnya aku harus menghadapi masalah keluargaku, Yorik. Adikku memang cerdas dalam memberiku tantangan. Sekarang bawa awak kapal lainnya untuk menyelamatkan diri, dan beri kabar pada Kapten Ken dan Latisha untuk mundur dan menjemput putriku. Bawa dia ke tempat yang aman.”

“Aku menolak, Kapten. Bagaimana kau mau melawan benda itu?”

“Ini bukan permintaan, Letnan,” geram Kalgeran. Namun kemudian suaranya melunak, “Aku selalu punya caraku sendiri, Yorik. Kau tahu itu. Jadi pergilah. Dan,” Dia mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya, sebuah media penyimpan data mini. “Berikan ini pada putriku.”

Kalgeran pun berdiri dan mendorong lembut Yorik untuk menjauh darinya. Dia lantas membuat pengumuman agar semua awak meninggalkan kapal. Situasi sudah tidak dapat dikendalikan, dan seluruh misi dibatalkan.

Beberapa menolak perintah itu, namun suara tegas Kalgeran menghentikan niat mereka. “Aku sudah tua. Karena itu aku ingin mati dengan kehormatan di hadapan Tuhan, dengan berada bersama pesawat ini sampai akhir hayatku, sebagai pemimpin. Tapi kalian belum kalah, kalian harus pergi untuk kembali menjadi pemimpin-pemimpin baru dan menghancurkan beda itu menjadi berkeping-keping apapun caranya,” Kalgeran memberi jeda, lantas mengaum, “Kalian harus mendapatkan kehormatan dalam kemenangan!”

****

“Miria, putriku yang kusayang. Mungkin ini kedengaran agak klise, tapi, ya, jika kau melihat video ini berarti ayahmu sudah berkelana jauh melebihi semesta ini: jauh darimu, dari adik laki-lakimu, dan ibumu. Ya, kuharap nanti kita bisa berkelana bersama lagi, kita bertiga, menjelajahi bintang-bintang megah dalam situasi yang selalu menyenangkan. Oh, tapi jangan sekarang. Aku punya tugas terakhir untukmu. Jagalah ibumu dan lindungi adik kecilmu sampai dia bisa melindungi dirinya sendiri. Jagalah dirimu juga dan, oh, jangan keras kepala seperti ayahmu ini.

Satu hal yang perlu kau ketahui, Miria. Jangan pernah percaya pamanmu, Sang Kaisar. Dia menginginkan dirimu, adikmu dan ibumu mati. Pergilah ke galaksi Strantor-44, cari orang yang bernama...”

Miria mematikan rekaman tersebut ketika mendengar nada panggilan dari pintu kabin. “Masuk,” katanya. Seorang pemuda tanggung melangkah masuk setelah pintu kabin terbuka. “Ada kabar apa?”

“Oi, Kapten. Sepertinya domba-domba tersesat kita sudah ditemukan.”

“Bagaimana dengan bulu-bulunya?”

“Oh, sangat lengkap dan kualitasnya sempurna.”

Miria tertawa. “Bagus, mari kita jemput makhluk-makhluk malang ini. Dan pastikan kali ini Sang Kaisar sendiri yang mengetahui kalau dia telah kehilangan domba-dombanya.”

“Aye, Kapten!”

 

**Tamat*

Read previous post:  
20
points
(262 kata) dikirim aocchi 3 years 19 weeks yg lalu
66.6667
Tags: Cerita | Cerita Pendek | lain - lain | tantangan | tantangan bintang
Read next post:  
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.
50

tasuka cerita yang kepanjangan. ahak hak hak. penat membacanya :v

Waduh, berarti dikau gak suka baca novel, ya, Dem? Kan bisa dicicil, tuh, bacanya. Gak harus langsung selesai. ^^7
.
Anyway, makasih udah mampir. :)

Komen Testing 123

Eh, malah berhasil lagi.. Ngahaha, sory om test doang

Ehe..ehehehe... *ketawa hambar*
.
Ini ngepos komen pake cara normal, kah?

Iaa, di hape pake ucbrowser, biasa, lancar kok..

Hoo.... Kayaknya emang gak semua kena redirect ke skyshi.

100

Lapak ini susah dikomen, yak? Kena redirect ke server-nya kekom (skyshi), kayaknya.
.
Hmm, klo memang ada yang berkenan kasih komentar, coba jangan langsung klik "save". Biarkan kotak captcha kosong dan pilih "preview" terlebih dahulu, baru selanjutnya isi chaptcha dan klik "save" setelah dapat error: "What code is in the image? field is required.". Jangan lupa login-nya pake PC. :)
.
PS: Poin 10 cuma buat testing. XD

Open sesame! ^^/