Luki Jadi Detektif: Sembilan Karakter

Ini mungkin jelek. Belum banyak dibenerin. Isi, ide, dan sebagainya. Pengerjaannya singkat, nggak sampai satu jam karena efek menunggu buka dan muncul ide dadakan akibat komen Daniswanda di cerpen Bintang Kejora soal Luki. Bantai sajalah! Kalau dibaca sih.

 

 

 

Luki tahu, dia tak pernah akur dengan Paris, kakaknya. Ia juga sadar kalau Paris cenderung gemar mengusik kedamaiannya, seperti setiap pagi yang tak pernah membangunkan Luki secara manusiawi. Luki juga paham akan kemuakan Paris dengan tatanan elit pejabat pada negeri ini, seperti yang selalu ia tulis dalam beritanya. Tapi tidak menyangka kalau Paris bisa menjadi aktor penting dalam aksi teroris kali ini.

Ironisnya, Luki sendiri yang berhasil mengungkapnya. Sekaligus memecahkan lokasi peletakan bom yang ternyata ada di atap gedung DPRD. Ketika para dewan sedang melakukan rapat, sementara di luar gedung jutaan mahasiswa dan rakyat jelata melakukan demo, menuntut turunnya harga barang yang kian melonjak.

“Ini sudah berakhir, Mbak. Kemarilah! Ikut denganku!”

Paris justru menyeringai.

“Kata-katamu seolah bom waktu yang ada di depanmu, bukan masalah besar!”

Luki sudah melihat bomnya tadi. Saat itu, waktu masih kurang dari lima belas menit. Tak masalah, ahli penjinak bom terbaik akan sampai lima menit lagi.

“Ngomong-ngomong, kamu lama sekali?”

Luki memang butuh waktu hampir lima jam untuk memecahkan petunjuk yang diperoleh saat mengumpulkan bukti dari salah satu teroris yang melakukan bom bunuh diri tadi pagi di lapangan Rampal yang sedang sepi. Mungkin, hanya sekitar satu kilometer dari tempat ini.

Hanya ada dua petunjuk, sepanduk utuh seratus meter dari tempat kejadian yang bertuliskan

Daripada hidup seperti mati di negeri sendiri, lebih baik mati dengan sendirinya

Petunjuk satunya adalah ponsel rusak yang isinya berhasil dilacak. Sebuah pesan singkat terakhir.

Buka jalan. Jalan keluar akan tertutup dengan sendirinya bagi merek yang serakah. Di sini, mereka tidak sadar kalau di tempat yang paling rapatpun masih ada tempat yang paling lapang.

“Aku butuh waktu untuk memahami maksud buka jalan dan menutup jalan dengan sendirinya. Sampai akhirnya Aku paham kalau bom pertama tadi pagi hanya pengalih perhatian. Tidak ada korban selain pelaku, karena sasaran utamanya adalah orang-orang yang ada di bawah kita.”

Paris tersenyum, tapi terdiam mendengarkan.

Menurut Luki, meski hanya ledakan tanpa korban, itu cukup membuat macet seketika sampai saat ini. Menutup jalur akses. Selain itu, kau berhasil memanfaatkan psikologi rakyat dan mahasiswa. Bukan sembunyi karena khawatir ada bom. Mereka yang merasa hidup seperti mati karena krisis, justru merasa terprovokasi dengan aksi peledakan diri itu. Massa yang melakukan demo semakin membludak. Semakin menutup jalur akses bagi para anggota DPRD untuk dievakuasi.

Paris tersenyum lagi dan masih diam.

Luki pun melajutkan analisisnya tentang dampak bom pertama kala penjagaan memang akan semakin ketat. Ribuan personil dikerahkan. Baik polisi maupun tentara. Tapi mereka justru terlalu fokus dengan massa dan menduga pelaku bom selanjutnya ada di antara massa yang berdemo. Itu masuk akal jika mengingat pesan spanduk provokasi itu. Dalam pesannya, seolah-olah mereka akan bunuh diri beramai-ramai mengikuti bom bunuh diri tadi pagi. Para aparat juga diyakinkan dengan isi pesan seluler, tempat yang ramai menjadi lapang adalah keadaan setelah ledakan bom.

“Dan hanya Kau yang punya pemikiran berbeda?” Paris masih tersenyum.

Luki diam. Dia penasaran dengan senyum Paris. Sejak tadi dia terus tersenyum mendengarkan analisis Luki. Seharusnya, seorang penjahat cenderung khawatir jika akan tertangkap dan dihentikan. Apalagi jika muslihatnya berhasil terungkap.

Tapi Paris tetap tenang. Entah itu hanya kepura-puraan atau ada sesuatu yang masih disembunyikan? Luki buru-buru menepisnya, lalu melanjutkan analisisnya.

“Yah, karena di tengah-tengah massa tidak ada penjagaan yang ketat!”

“Ah, rapat Kau analogikan dengan penjagaan yang ketat?” Paris mengangguk-angguk. “Dan, artinya Kau menyimpulkan kalau bom ada di balik penjagaan ketat itu sendiri? Begitu?”

Luki mengangguk, “Dan hanya tiga golongan yang bisa masuk di balik penjagaan itu!”

“Maksudmu, para aparat itu sendiri, orang-orang munafik di bawah, dan wartawan sepertiku? Seharusnya, tak bisa dengan mudah menduga kalau wartawan adalah seorang pelakunya bukan?”

“Tak begitu sulit sebenarnya.” Luki mulai merasa ada yang aneh. Ketenangan Paris dan semua tanggapan tentang analisis Luki. Seolah untuk mengulur waktu. Penjinak bom memang belum tiba. Memang masih menit ke sebelas. Dan detiknya mulai berkurang terus. Dia putuskan untuk melanjutkan analisisnya sambil memikirkan apa yang sebenarnya terasa mengganjal.

Luki menganggap aparat bukan pelakunya. Ledakannya akan kecil, karena mereka berada di luar gedung dan lebih cenderung merapat pada massa yang berdemo. Mereka juga tak bisa bergerak bebas karena sudah diplot dalam pos masing-masing. Pergerakan bebas dan lokasi gedung itulah kuncinya.

Dia sempat menduga para anggota dewan. Tapi analisisnya masih terbentur fakta-fakta yang masih penuh tanda tanya.

“Jika mereka membawa barang yang terlalu mencolok akan kelihatan. Di letakkan seperti rompi? Bisa saja. Itu kemungkinan terburuk. Memang masih ada kemungkinan mereka pelakunya. Tapi sayangnya aku tidak menemukan jejak rekam satupun anggota dewan yang terlihat benar-benar pro rakyat. Atau sebenarnya ada yang pro rakyat tapi karena tekanan politik dia terpaksa bungkam selama ini? Bisa jadi.”

“Lalu, kau menyimpulkan pelakunya seorang wartawan?”

Luki ingin memberikan jawaban sekaligus lanjutan analisisnya. Tapi terusik oleh tiga anggota tim penjinak bom yang sudah tiba. Dua orang dengan tangkas memeriksa bom. Dan satu orang menodongkan senjata kea rah Paris.

“Tidak perlu!” Luki menenangkan seorang yang menodongkan pistol pada Paris. “Dia sudah bisa dikendalikan!”

Paris tertawa nyaring.

“Kau meremehkanku Dik! Tapi belum waktunya kau tahu kehebatanku. Aku masih ingin mendengar analisismu itu. Bagaimana kau bisa tahu kalau pelakunya adalah aku?” Paris melipat dahi, lalu tersenyum. “Ah, atau kau sebenarnya tidak tahu kalau pelakunya diriku? Bukankah tidak ada petunjuk?”

“Tentu saja aku tahu itu dirimu! Aku tahu pelakunya itu wartawan dan lokasinya di atap gedung” Protes Luki sedikit meninggikan suara. Nampaknya ia merasa diremehkan.

Seperti yang ia sadari kalau petunjuknya adalah lokasi gedung. Lokasi yang aman untuk meletakkan bom. Dia sadar lokasi aman adalah atap saat menyadari isi pesan petunjuk dalam ponsel tentang tempat yang lapang. Asumsinya menuju ke pelaku. Hanya wartawan yang bisa bebas berkeliaran ketika di dalam terjadi rapat.

Pemilihan atap sebagai lokasi meletakkan bom juga masuk akal. Jika atap meledak, akan menghancurkan bangunan. Tidak ada yang bisa lari. Berhasil kaburpun akan kesulitan keluar karena banyak massa dan aparat di luar.

Tadinya Luki ingin minta bantuan Paris agar bisa melacak identitas semua wartawan. Anehnya, dia tak menemukan keberadaan Paris, sementara daftar hadirnya ada. Kemungkinannya hanya ada dua. Paris diculik dan identitasnya dipalsukan atau Paris sendiri pelakunya, kemungkinan yang ingin disangkal.

Sangat terpukul saat Luki tahu kemungkinan kedua adalah kebenarannya. Beruntung, mimiknya bisa berlagak tetap tenang.

“Kemampuanmu memang tak pernah kuragukan, Dik!”

Pujian itu bukan mengembangkan hati Luki. Tapi justru semakin mengganjal. Terasa ada yang aneh. Seolah Paris tahu Luki bisa menyelesaikan kasusnya.

Perihal seolah Paris tahu semuanya itu membuat Luki teringat pertanyaan kakaknya itu di awal bertemu. Mengapa Luki lama? Seolah Paris sengaja menunggu Luki.

Berada di atap selama itu dan tidak pergi meski sudah meletakkan bomnya. Bahkan tetap bersikap tenang tanpa memberi perlawanan. Hanya berdiri mematung di tepi atap dan sesekali tersenyum. Seolah memberikan waktu agar bom tersebut mampu dijinakkan.

Luki melihat penjinak bom yang masih belum berhasil. Masih ada waktu empat menit lebih.

“Kau jangan geer, Dik! Aku tak melakukannya untukmu!” Paris membuyarkan lamunan Luki. Seolah tahu apa yang ada dipikirkan Luki. Membuat hanya Luki yang bisa menyelesaikan kasus agar karirnya meroket.

“Kau jangan berpikiran aku ingin membantu karirmu itu! Aku hanya ingin menyaksikan bagaimana kalian kesulitan menghadapi bom itu!”

Luki melipat dahi, lalu bertanya. “Apanya yang kesulitan, tak lama lagi bom itu berhasil dijinakkan!”

“Bom ini bukan bom waktu biasa!” Ujar salah satu penjinak bom yang tampak sudah banyak keringat menetes di kening dan pipinya. “Bom ini memiliki password!”

Luki kaget, Paris tertawa nyaring untuk kedua kalinya.

“Kau lihat Dik, bom itu berbeda. Sangat canggih. Dan hanya aku yang tahu apa paswordnya.”

Luki mulai gelisah. Waktunya tak lebih dari tiga menit lagi.

“Pakai namaku, namanya, nama orang tua kami, nama kekasihnya, coba semua tentangnya!” Teriak Luki, dan para penjinak bom itu bergegas mengikuti instruksinya. Semua dicoba, tak ada yang berhasil. Luki semakin khawatir. Ketenangannya pun sirna. Hanya tinggal dua menit lagi, dan waktu masih berjalan mundur.

“Mbak, kumohon! Banyak orang yang tak berdosa!”

Paris menyeringai, “Mereka semua berdosa Luki, adikku!”

“Mungkin kamu tidak termasuk berdosa seperti mereka meski selalu nakal dan menentangku. Tapi tenang, aku ini kakak yang baik. Akan kuberikan satu petunjuk. Paswordnya hanya sembilan karakter. Itu tidak akan sulit, bukan bagimu yang seorang detektif hebat?”

Luki mengumpat. Petunjuk apanya? Itu hanya jumlah karakternya saja. Tidak memberi gambaran apa paswordnya. Dia sudah tidak sabaran. Paris sudah diabaikan. Bergegas ikut menekan tombol-tombol dalam bom. Entah itu angka, huruf yang jelas berjumlah sembilan karakter dan berhubungan dengan Paris.Ini seolah mustahil. Pasword yang hanya 6 karakter saja sudah sulit dipecahkan. Apalagi ini yang berjumlah sampai Sembilan.

Tak sampai satu menit. Hanya 59 detik, lalu 58, 57, dan semakin kecil.

Sekali Luki melirik kakaknya, berharap Paris iba. Tapi perempuan itu justru menyeringai puas melihat Luki kalang kabut dengan detik bom waktu yang semakin mengecil angkanya.

Sudah angka 30, lalu 29, 28, dan semakin kecil.

Luki sudah semakin sulit berpikir jernih. Isi kepalanya campur aduk. Menerka-nerka apalagi yang bisa menjadi password. Semua dicobanya tanpa henti.

Luki masih belum menyerah saat angka sudah menunjukkan 20, lalu 19, 18, dan semakin mengecil.

Saat itu, nostalgia kenangannya dengan Paris muncul. Kebiasaan mereka yang sulit akur hari-harinya. Meski sebenarna, mereka saling menyayangi. Ketika Luki sakit, Paris suka berbaik hati membuat minuman hangat dan membelikan makan enak. Meski ketika sembuh es jeruk rasa garam sering disuguhkan. Paris yang dirindukan Luki. Dia yang menghadapi hidup dengan santai dan sederhana. Patah hati pun tak pernah menangis. Justru Luki jadi dapat banyak traktiran makan selama seminggu.

Saat detik sudah di angka 10, lalu 9. Luki melipat dahi. Mencoba menerka isi pikiran Paris yang seharusnya tak masuk akal. Detik ke 5 dia bergumam sendiri sambil menghitung jemarinya sampai sejumlah Sembilan jari yang terbuka. Yakin tidak yakin dia buru-buru mengetik saat angka sudah mengecil jadi 3.

9KARAKTER

Dan detik bom berhenti di angka 2. Luki nyengir sendiri.

 

 

 

 

 

 

 

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

Kenapa ya, waktu baca ini tuh saya kebelet pengen cepat selesai aja (jangan ditiru).
.
Apa ya, apa ya, apa ya, waktu baca tuh unsur tegangnya kayak kurang, atau saya saja yang gak peka saat ini. Mendadak si Paris jadi pelakunya, mendadak Luki mencari-cari alasan, banyak kemendadakan yang sepertinya bisa diceritakan lebih pelan biar plek! Pas ending jadi puas (yah! Ngomong sih mudah).
.
Terus semangat menulis ( '-')9
Salam~~~

70

Setelah pembacaan yg kelar beberapa hari lalu, lalu tadi gw sempet bego mikirin judulnya, mas, fufufu...
Apa yak, nggak tau persis sii mau komen apa. Karena gak ada kesan gimana juga pas kelar baca. Nggak jelek, tapi nggak greget juga. Mungkin cerita ini gak nawarin hal baru. Jadi ya biasa aja. Mungkin hal yg sempet gw niimatin tuh adalah pergulatan batinnya si Luki, meski gak terlalu hanyut juga.
Dan pas ending the smoker nyengir sendiri ikut2an Luki. Wakakakaka.
Oke, mas kukuh. *salaman*remesjemuran*