Bangku Taman

Langit biru kegelapan yang mengiringiku berjalan pagi ini perlahan-lahan berubah warnanya. Menjadi lebih terang. Matahari pagi yang sudah lama bersembunyi di belahan langit lain kini mulai menampakkan wajahnya. Sinarnya terlihat merangkak naik dari balik gedung putih yang berada di seberang danau ini. Hawa dingin yang sejak tadi menerpa jaketku perlahan menghangat, meski tetap saja masih terasa dingin di penghujung musim gugur ini.

 

Aku berhenti sejenak, menyandarkan kedua lenganku di atas pagar yang mengelilingi danau di tengah taman ini. Untuk apa aku ke sini? Aku mencoba mengingat-ingat kembali alasan kenapa aku kembali ke kota ini. Dan kurasa, semua berawal dari buku yang saat ini berada di saku bagian dalam jaket hijauku ini. Buku yang beberapa hari lalu kutemukan, tersembunyi di balik rak bukuku. Jatuh, sengaja kusembunyikan, atau buku ini yang berjalan sendiri, aku pun tidak ingat bagaimana buku ini bisa tersimpan di sana selama bertahun-tahun. Kalau bukan karena cincin platinaku yang berharga jatuh menggelinding ke balik lemari, entah sampai kapan buku ini berdiam di sana. Butiran-butiran debu halus yang menumpuk setiap harinya akan menyembunyikan bayang-bayang buku ini, seiring dengan menghilangnya memori yang tersimpan di dalamnya.

 

Kusingkapkan jaket bagian kiriku. Dari saku bagian dalam, kuambil buku tebal bersampul cokelat tanpa motif namun bertuliskan “Untuk Nathan” yang dituliskan dengan tegak bersambung secara diagonal di sudut kanan bawah sampulnya. Kubalik sampul depan buku cokelat ini dan kudapati halaman yang hanya bertuliskan sebuah kalimat, “Semua dimulai dari bangku taman kota.”

 

Tanpa perlu berpikir panjang, aku sudah dapat menebak bangku apa yang dimaksud. Kalau tidak, aku tak mungkin membeli tiket pesawat untuk kembali ke kota ini begitu buku cokelat ini kutemukan. Aku menutup buku di tanganku dan beranjak dari pagar. Aku kembali mengambil langkah ke arah utara, menyisiri pinggiran danau di sebelah kananku.

 

Semenjak pertama kali aku menginjakkan kaki di kota ini, aku menyukai suasana di taman ini. Bagaimanapun juga, memang itu tujuan utamaku begitu pertama kali sampai di kota tempat aku berkuliah selama tiga hingga empat tahun. Tempat yang nyaman untuk membaca buku. Dan setiap kali aku pergi ke taman ini untuk membaca buku, aku selalu pergi ke bangku yang sama. Bangku taman di sisi barat danau. Bangku keempat belas—jika dihitung dari bangku paling selatan—yang diapit oleh dua pohon yang masing-masing berjarak sepuluh meter dari bangku. Jika bangku ini ditempati oleh orang lain ketika aku datang, aku berpaling ke pagar yang mengelilingi danau di tengah taman ini dan membaca buku sambil bersandar padanya.

 

Aku beruntung ketika kulihat bangku yang biasa menemaniku itu masih ada di sana—dan kosong. Meski sudah bertahun-tahun lamanya, bangku kayu ini masih tetap dalam kondisi yang baik. Diganti? Atau hanya karena jarang diduduki orang? Aku tak begitu memusingkannya karena yang terpenting aku masih dapat melihat bangku ini.

 

Aku menduduki bangku kayu itu. Selalu di sebelah kiri dari bangku panjang yang bisa diduduki dua hingga tiga orang ini. Aku jadi kembali teringat masa-masa di mana aku sering membaca buku di bangku taman ini. Sebelum ada kelas, atau setelah dari kelas. Jika mahasiswa lain ada yang langsung pergi ke asrama atau hangout bersama teman-temannya, aku terbiasa menyempatkan diri mengunjungi taman ini, hanya untuk membaca buku dengan ditemani suasana taman yang ramai, namun tidak mengganggu.

 

Kutu buku. Penyendiri. Aneh. Antisosial.

 

Aku tak begitu memedulikan sebutan orang-orang padaku di waktu itu. Dan aku bersyukur. Kalau saja aku meninggalkan kebiasaan yang selalu kunikmati ini sekali saja, bisa jadi kita takkan pernah bertemu.

 

Aku ingat. Di pagi hari itu, aku tengah membaca sebuah buku yang kupinjam dari perpustakaan kampus. Aku tidak begitu ingat judulnya, namun aku hanya ingat itu adalah sebuah novel dengan sampul bergambar seorang pelaut yang di tangan kanannya dipegangnya sebuah teropong jarak jauh dan di tangan kirinya tergenggam sebuah gulungan kertas. Ya, itu sebuah novel tentang petualangan seorang pelaut dengan ambisinya dalam mengikuti petunjuk dalam peta yang dimilikinya. Saat itu memang aku sedang gemar membaca cerita-cerita petualangan, dan di saat aku sedang asyik membaca cerita tersebut, kau tiba-tiba mendatangiku dan bertanya,

 

“Boleh aku duduk di sini?”

 

Aku terperangah. Dengan cepat kualihkan pandanganku dari buku—yang kira-kira baru kubaca setengah—ke arah sumber suara. Seseorang berdiri di sana. Seorang perempuan dengan rambut pirang kecokelatan yang dikepang kuda, memakai jaket berwarna kuning dengan celana olahraga panjang hitam, membawa sebuah botol minum di tangan kanannya, dan dengan napas yang terengah-engah.

 

“Boleh aku duduk di sini?”

 

Kau mengulangi kembali pertanyaanmu itu. Tanpa bersuara, aku memberikan isyarat tangan untuk mempersilakanmu duduk di sampingku. Dengan cepat kau menjatuhkan badanmu di bangku sambil menghela napas panjang. Saat itu aku tak memedulikanmu. Aku kembali fokus kepada buku yang ada di genggaman tanganku. Namun, tiba-tiba kau kembali mengusikku dengan suara yang sedikit terputus-putus karena kehabisan napas.

 

“Hei, apa kaupunya air minum?”

 

Kau bertanya sambil membalikkan botol minum yang sudah kosong itu. Kau mungkin tak tahu kalau pada saat itu aku berpikir aneh tentangmu. Bagaimana mungkin kau meminta sesuatu pada orang yang belum kaukenal? Ya, setidaknya hal seperti itu terlihat aneh bagiku. Tapi, pada akhirnya aku tetap mengambil botol air minumku dari dalam tas dan memberikannya padamu.

 

“Terima kasih!” jawabmu singkat. Aku mencoba kembali fokus kepada bahan bacaanku pagi ini, namun entah mengapa kau kembali bersuara, dan perkataanmu itu jelas-jelas ditujukan padaku. “Hei, kau sedang apa pagi-pagi begini?”

 

Aku heran denganmu. Apa kau tak bisa melihat seseorang yang sedang membaca buku? Kutunjukkan sedikit sampul depan buku di tanganku padamu yang saat itu terlihat sangat penasaran.

 

“Wah! Kelihatannya menarik!” Kau berteriak. “Apa itu sebuah novel? Biografi? Atau pengetahuan umum?”

 

Aku tak memedulikan perkataanmu itu. Aku tak tahu apakah perlu kujawab pertanyaanmu itu. Lagi pula, kau tak memberiku kesempatan untuk menjawab.

 

“Sudah jarang sekali aku melihat orang yang membaca buku akhir-akhir ini. Orang-orang lebih senang berkutat dengan telepon pintarnya. Kalaupun membaca, pasti mereka mencari sesuatu yang bisa dibaca melalui telepon pintarnya itu. E-book ya namanya kalau tak salah? Kalau begitu, kenapa kau tak seperti orang-orang lain pada umumnya? Kenapa kau senang membawa buku yang merepotkan seperti itu? Kenapa—”

 

“DIAM!”

 

Aku berteriak, memotong kalimatmu yang tak pernah ada habisnya itu. Apa-apaan wanita ini? Kita saja tidak saling mengenal! Aku bertanya-tanya dalam hati, namun tak ada satu pun yang keluar dari mulutku ini. Kumasukkan buku yang sudah tak menarik untuk kubaca saat itu ke dalam tas dan aku beranjak dari bangku.

 

“Maaf, aku harus pergi. Ada kelas pagi,” kataku dengan nada yang dingin.

 

Aku memalingkan muka dan segera pergi dari tempatku berdiri tadi. Aku meninggalkanmu di bangku itu dan tak pernah terlintas di benakku kalau kita akan bertemu kembali. Tapi, sepertinya kita memang ditakdirkan untuk bertemu di hari itu. Kalau tidak, kau takkan kembali mengusik ketenanganku pada beberapa hari setelah itu.

 

“Ah, sudah kuduga kau akan kembali lagi ke sini.”

 

Aku mendongakkan kepala tatkala bayanganmu menutupi sinar matahari yang sejak tadi membantuku untuk membaca. Kau berdiri di depanku sambil menyilangkan tangan di dada. Masih berpenampilan seperti di saat kita pertama kali bertemu: berpakaian olahraga.

 

Tanpa sadar, aku menghela napas pendek dan berkata pelan, “Nampaknya aku harus mencari tempat lain.”

 

Baru saja aku hendak beranjak dari tempat dudukku, tapi kau sudah kembali berbicara. “Eh, tunggu, tunggu dulu. Maafkan aku soal tempo hari yang lalu. Aku tidak sadar kalau aku benar-benar mengganggumu waktu itu. Aku hanya ingin mengembalikan ini.”

 

Kau mengulurkan tangan kanan yang menggenggam sebuah botol minum yang tak asing di mataku. Ah, itu botol minumku. Aku meraih botol itu dan langsung memasukkannya ke dalam tas.

 

“Maafkan aku juga... karena telah membentakmu,” kataku dengan suara yang pelan.

 

“Ah, tidak masalah. Sepertinya aku memang pantas untuk dimarahi,” jawabmu sambil merekahkan senyuman lebar. “Hei, apa aku mengganggumu lagi kali ini?”

 

Aku melirik ke buku yang ada di tanganku. Sejujurnya, aku masih ingin membaca kelanjutan buku ini, tapi untuk kali ini, aku tidak ingin membuat perempuan yang berdiri di depanku ini merasa bersalah.

 

“Tidak,” jawabku singkat sambil menutup buku dengan satu tangan. Lalu, kau kembali menanyakan pertanyaan yang sama itu lagi.

 

“Boleh aku duduk di sini?”

 

Percakapan kita dimulai dengan “Apa kau sering datang ke tempat ini? Kalau begitu, kurasa kita akan sering bertemu.” Dan apa yang kaukatakan saat itu memang benar. Kau yang rutin berjoging mengelilingi danau ini dan aku yang sering membaca di taman ini, membuat kita sering bertemu dan bercakap-cakap. Sebelumnya, aku tak pernah berbincang dengan seseorang sebanyak dan sesering saat bersamamu. Aku lebih sering memanfaatkan waktu luangku dengan menyendiri sambil membaca buku. Dan semenjak saat itu, kedatanganku ke taman ini tidak hanya untuk membaca buku. Bahkan kadang buku yang kubawa tak sempat terbaca di taman ini.

 

Tanpa disadari, beberapa bulan telah kita lalui bersama. Semenjak mengenal dirimu, aku jadi lebih sering berinteraksi dengan orang lain, namun aku tidak meninggalkan hobi membaca bukuku. Dan karena hobiku itulah, pada hari ulang tahunku yang ke-25, kau membuatkan scrapbook ini, yang di dalamnya berisi macam-macam hal tentang kita berdua.

 

“Ini adalah buku petualangan kita. Bukan sebuah buku fiksi yang dibuat oleh seseorang, tetapi sebuah buku non-fiksi yang kita buat bersama. Agar suatu saat, ketika kaubuka buku ini, kaubisa mengenang kembali semua yang telah kita lalui.”

 

Begitulah yang kaukatakan sewaktu memberikan buku ini padaku. Tapi, apa yang kaukatakan itu tidak sepenuhnya benar. Nyatanya, buku ini tak bisa membangkitkan kembali ingatanmu tentang diriku.

 

Kalau saja pada waktu itu aku mengikuti saranmu untuk menaiki bus kota. Kalau saja aku berhasil memaksamu untuk mengenakan sabuk pengaman. Kalau saja waktu itu aku mau mengalah saat berdebat denganmu. Kalau saja di akhir pekan sebelumnya aku mengecek kondisi mobilku. Dan masih banyak lagi “kalau saja” yang bisa kujabarkan yang mungkin bisa mencegah kecelakaan pada hari itu terjadi.

 

Aku masih ingat ketika kau pertama kali membuka mata di rumah sakit itu. Sebuah rasa syukur teramat besar menyelimuti jiwaku. Aku tak tahu harus berucap syukur seperti apa lagi hanya karena melihatmu membuka mata indahmu itu lagi. Namun, apa yang kau katakan berikutnya benar-benar membuat kebahagiaanku itu berlangsung sementara.

 

“Dokter, apa yang terjadi padaku?”

 

Kau tak mengenaliku.

 

“Sepertinya tadi aku sedang lari pagi, tapi kenapa aku bisa ada di sini? Kepalaku tiba-tiba terasa sakit. Apa aku terjatuh?”

 

Lamunanku buyar. Setelah membolak-balik setengah buku cokelat ini, akhirnya lamunanku tercerai tatkala mataku berhenti pada halaman yang hanya berisi tiga kata yang dituliskan dengan tinta hitam tebal dan besar.

 

SEMUA SUDAH BERAKHIR!

 

Tidak ada catatan apapun setelah halaman ini. Sepertinya, ketika kau melupakanku, perlahan-lahan kau pun menghilang dari catatan hidupku. Entah upaya apa saja yang sudah kulakukan untuk membangkitkan ingatanmu. Aku bahkan tak ingat. Tak ada catatan akan hal itu dalam buku ini. Lagi pula, tak ada lagi alasan untuk mengisi buku ini jika hanya aku sendiri yang mengisinya. Setelah masa perkuliahanku selesai, aku langsung kembali ke kota kelahiranku untuk memulai kehidupanku yang baru. Bisa dikatakan “menyerah,” untuk lebih tepatnya.

 

Dan kini, setelah sepuluh tahun, aku kembali ke kota ini lagi... taman ini lagi. Sesungguhnya apa yang kuharapkan dengan datang kembali ke tempat ini? Ingin bertemu kau lagi? Mengharapkan ingatanmu kembali? Kalaupun itu benar, lalu apa yang akan kulakukan setelahnya? Setelah dipikir-pikir, kedatanganku ke tempat ini adalah sebuah kesalahan.

 

Kututup buku cokelat ini dan sebelah tanganku yang lain mengusap kedua kelopak mata. Aku tak begitu yakin antara kelelahan atau untuk menahan air mata.

 

“Boleh aku duduk di sini?”

 

Eh? Aku mendongakkan kepala dan kulihat seorang wanita berdiri di dekatku. Seorang wanita dengan wajah yang dalam beberapa menit terakhir menghiasi lamunanku ini. Dari semua orang yang ada di taman ini, kenapa harus kau yang berdiri di dekatku dan meminta izin hanya untuk duduk di bangku taman ini.

 

“Boleh aku duduk di sini?”

 

Kau mengulangi pertanyaanmu itu selagi aku kembali hilang dalam lamunanku. Entah mengapa ada sesuatu yang mengganjal di dada sehingga suaraku tak dapat keluar. Aku pun hanya bisa menjawab pertanyaanmu dengan isyarat tangan dan kau pun duduk tepat di sampingku. Begitu dekat, hingga aku dapat mengingat kembali suasana hangat waktu itu. Tapi di sisi lain, kau seperti tak merasakan apapun. Kau begitu dekat, juga terasa jauh. Kau sama sekali tak mengingatku.

 

“Kau mau minum?”

 

Kau bertanya tiba-tiba sambil menyodorkan botol minum yang baru saja kautenggak setengah isinya. Aku menggelengkan kepala dan kau kembali menenggak air dari botol minum itu.

 

“Aku heran,” ucapmu sambil menolehkan kepala ke arahku. “Kau pasti punya alasan untuk duduk sendirian di sini. Kau tak seperti orang yang baru saja joging.”

 

“Aku hanya seseorang yang suka membaca buku,” jawabku tanpa memalingkan wajah dari buku yang kugenggam di depanku. Aku hanya tak berani menatapmu.

 

“Kau hebat! Sudah banyak orang yang tak betah berlama-lama membaca buku. Itu bagus untuk menambah pengetahuan.”

 

Aku tak menjawab. Cukup lama kita terperangkap dalam keheningan. Dapat bertemu denganmu saja sama sekali tak terbayangkan dalam benakku. Tapi, jika kau mengenaliku, mungkin suasana dingin ini bisa sedikit lebih mencair. Mungkin kehangatan yang dulu biasa terasa dapat kembali lagi. Tapi, bukan itu tujuanku datang ke tempat ini, kan?

 

“Hei, apa kita pernah bertemu? Kau tak terlihat asing bagiku.”

 

Walau tak memalingkan wajah, aku dapat mendengar napasmu yang begitu dekat di pipiku. Kau mengamati wajahku dekat-dekat dan tanpa sadar, aku berkata, “Kita tidak pernah bertemu. Kau pasti salah orang.”

 

Kau pun menarik kembali wajahmu menjauh dariku. Lalu, kau menempelkan tangan kirimu di pipi, seakan tengah berpikir. “Tapi, aku merasa pernah melihatmu entah di mana.”

 

“Aku yakin kau salah orang. Lagi pula, mukaku ini pasaran.”

 

Aku menjawab dengan menyunggingkan senyuman tipis. Sekarang hatiku kembali teguh. Tak mungkin aku memaksakan ingatannya untuk kembali, terlebih saat kulihat sebuah benda kecil melingkar di salah satu jari yang menempel di pipinya itu. Itulah tujuanku kembali ke taman ini, pikirku.

 

Seketika itu, kutarik sedikit lengan kanan jaketku untuk melihat posisi jarum yang tersimpan di balik kaca pada benda berbentuk bulat pipih di pergelangan tanganku. Aku pun beranjak dari bangku seraya berkata, “Maaf, aku sedang ada janji dengan seseorang. Senang bertemu denganmu.”

 

Aku sangat bersyukur bisa bertemu denganmu, tambahku dalam hati. Aku berjalan ke arah utara dengan perasaan yang jauh lebih lega. Tanpa melihat ke belakang, aku berjalan meninggalkan kau yang masih duduk terpaku di bangku yang telah menjadi saksi bisu kisah kita, bersama dengan buku peninggalan yang telah kaubuatkan untukku. Aku pun harus segera kembali, karena ada seseorang yang sedang menunggu untuk kulingkarkan jarinya dengan benda yang tersimpan di saku jaketku ini.

 

~ *** ~

Fin

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Robospider_no6
Robospider_no6 at Bangku Taman (3 years 6 weeks ago)
80

Apik dan rapi. Twistnya keren. Ditulis dengan baik. Memang inti cerita ini fokus di plot, karakternya memang jadi sederhana. Terutama karakter cewek yang cuma jadi pacar ideal satu dimensi. (Tapi kalau karakternya lebih menarik perlu jadi penulis sadis yang membuat pembaca patah hati.)
Paragraf-paragraf awal diperkuat dengan hook. Pembaca dibuat penasaran. Permulaan hubungan cinta juga agak kerasa dipaksakan. Tapi ini bagus menurutku. Patah hatinya kerasa banget.

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Bangku Taman (3 years 6 weeks ago)

"hook" di sini maksudnya gimana ya?
*ga ngerti istilahnya

Writer Robospider_no6
Robospider_no6 at Bangku Taman (3 years 6 weeks ago)

Yg memancing perhatian.

Writer nyamuk
nyamuk at Bangku Taman (3 years 9 weeks ago)
80

Agak-agak kayak sinetron tapi ini mengaliiir.... sekali. Enak bacanya. Enggak banyak permainan kata yang aneh-aneh jadi lancar aja bacanya. Tapi coba kalau lebih banyak porsi dikasih ke hubungan Aku dan cewek, yang di "berbulan-bulan kemudian" itu, secara itu bagian penting tapi cuma satu paragraf gitu, mungkin impact-nya bakal lbh kuat.

Maaf, cuma berpendapat:)

Writer The Smoker
The Smoker at Bangku Taman (3 years 10 weeks ago)
80

Sepaham dengan momod di bawah: apik dan bagi pembaca seperti saya ini sudah terlanjur bosan dari awal. Namun saya sabar karena tertolong oleh pembawaanmu bertutur.
.
Dari bentuk juga sii yg memakai 'serangan cuaca' di awal, saya udah dikit menduganya cerpen ini akan mendayu ala romance.
Gak bisa komen panjang dan berarti, maaf kalo nggak kenan.

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Bangku Taman (3 years 10 weeks ago)

Ah, ga papa kok. Saya sih memang ga berharap komen yang lebih.
Saya udah sadar sendiri kalau tulisan yang ini ga ada apa-apanya. Hehehehe... xD

Writer Shinichi
Shinichi at Bangku Taman (3 years 10 weeks ago)

saya enggak yakin bisa ngasih masukan. secara keseluruhan, cerpen ini apik. hanya saja, saya cenderung bosan mengikutinya. saya pikir karena penulis enggak bisa mendekatkan permulaan cerita dengan konflik. atau ya, konfliknya enggak terlihat sejak awal mengganggu tokoh. pembaca akan cenderung bosan bila keadaannya demikian.
.
tadinya, saya pikir semua itu terobati dengan kehadiran kejutan. namun, mustahil rasanya mengharap kejutan pada romance. kira-kira, itu aja yang bisa saya sampaikan di mari.

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Bangku Taman (3 years 10 weeks ago)

Apiknya di mana, Om?
Saya ga gitu berharap banget sih sama tulisan yang satu ini. Itung-itung pemanasan sebenernya, karena udah lama ga nulis. -.-

Writer Shinichi
Shinichi at Bangku Taman (3 years 10 weeks ago)

narasinya. susunan kalimat di cerpen ini apik.

Writer Shinichi
Shinichi at Bangku Taman (3 years 10 weeks ago)
70

poin dulu.komen kemudian