He's Everything 1.2

“Ini kenapa lagi, Nad?”

“Kecantol jemuran, bu...” jawabku acuh. Ini sudah kesekian kalinya aku datang ke UKS dan membuat Bu Ratna selalu sibuk menempelkan entah perban, handsaplas, atau betadine ke setiap jengkal di kulit-kulitku. Karena sudah tak terhitung lagi, aku sudah lama juga tidak memikirkan apakah jawabanku adalah jawaban yang sama seperti sebelumnya, atau jawabanku terdengar terlalu aneh dan absurd. Tapi aku tidak peduli, toh, tidak ada yang benar-benar peduli padaku ketika sudah sampai tahap-tahap seperti ini. Termasuk Bu Ratna meskipun dia tanya seperti itu.

“Cuma kamu lho, Nad, yang dikit-dikit dateng kesini karena luka-luka. Kamu makannya kalo main jangan sama berandalan kenapa sih?”

That’s word again.

Aku menghela nafas.

“Ini bukan dengan siapa aku bergaul, bu...”

“Lho saya tau lho gosip-gosip kamu di sekolah. Kamu suka pacaran sama orang-orang yang bermasalah di sekolah ini kan? Ya wajar sih kalo kamu temenan sama temen mereka yang nggak kalah bermasalah...”

Kemudian aku sama sekali tidak mendengarkan apa yang Bu Ratna katakan sampai ia selesai menempelkan handsaplas di telingaku, dan setelah itu aku langsung keluar ruangan. Aku tidak peduli rambutku masih basah, tapi aku sudah berusaha untuk membenahi sebisaku sehingga seharusnya ini sudah baik-baik saja. Tapi lagi-lagi aku kena amuk sama Bu Amel, guru matematika yang tidak pernah menyukaiku, karena aku terlambat masuk kelas karena ke UKS dan lama membenahi diri. Aku hampir tersenyum pada diri sendiri karena aku berusaha untuk tidak terlambat masuk sekolah, tapi nyatanya aku tetap terlambat masuk kelas.

“Darimana kamu?”

“Dari UKS, bu.”

“Berantem lagi?”

Aku mengerutkan dahiku, menatap Bu Amel bingung. “Bu, saya tidak pernah berkelahi.”

Bu Amel tersenyum hambar “Kamu kira saya percaya?”

Aku menelan ludah, menyadari bahwa seisi kelas sedang memperhatikanku. Tapi satu yang kusyukuri adalah bahwa Rian tidak sedang ada disini sehingga ia tidak tahu bahwa saat ini aku sedang dipermalukan di depan kelas. Sial, tetap saja tanganku bergetar. Siapa sangka bahwa gadis yang selalu dibenci oleh guru ini ternyata penakut? Tapi kucoba untuk menghentikan getarannya dengan menggenggap kedua tanganku erat-erat.

“Jadi kamu kenapa terlambat? Habis main dimana?”

“Bu, saya dari UKS!”

“Kenapa kamu dari UKS? Mana surat ijin ke UKSnya?”

Aku tidak lagi bisa mendapatkannya sejak Bu Ratna jengah dengan kehadiranku yang terlalu sering. Ya ampun, kenapa aku tidak berfikiran untuk membeli alat P3K sendiri dan membawanya kemana-mana saja?

“Bu!”

Aku dan Bu Amel menoleh ke arah suara, dan aku mendapati Deva sedang mengangkat tangannya.

“Kenapa, Deva?” tanya bu Amel jauh lebih lembut. Well, efek Deva kepada semua wanita segala umur.

“Bu, kita sudah membuang waktu 10 menit, kapan pelajarannya bisa lanjutkan pelajarannya? Karena kalau ibu lebih memilih untuk marah-marah disana, saya akan keluar dan ke perpustakaan daripada tidak mendapat apapun dari kelas ini.”

“Oh, iya iya, kita lanjutkan. Dan kamu!” Bu Amel kembali menoleh ke arahku “Kamu, keluar! Saya nggak mau murid saya terlambat masuk kelas!”

Aku menghela nafas bosan “Ngomong dari tadi kek.”

“Apa kamu bilang?”

Aku langsung menutup mulut. Sejujurnya aku tidak bermaksud mengatakannya dengan keras. Sebelum masalah semakin runyam, aku langsung keluar dari kelas.

 

***

 

Bodoh.

Ngapain lo masuk kalo tau bakal diusir?

 

Pertama, karena aku lupa. Kedua, karena aku iseng, siapa tahu boleh ikut pelajaran. Tapi aku tidak mengetiknya ketika mendapati pesan dari Deva di kantin yang sepi dan hanya ada aku seorang. Karena dia sedang ingkar janji dengan mulai berkomunikasi seperti ini.

 

Makasih, Deva.

NB: Hapus ini sebelum pacar lo tau.

 

Kenapa lo terlambat masuk? Gue tau lo tadi sampe lebih dulu. Lo beneran dari UKS?

 

Keras kepala.

 

Your promise, Deva.

Delete this message.

 

Barulah setelah itu aku tidak mendapat pesan apapun lagi dari Deva.

Mencoba untuk terbiasa mengenai hal-hal yang sudah biasa kau lakukan selama 13 tahun terakhir merupakan hal yang sangat sulit. Aku tahu, Deva tahu, tapi janji sudah terlaksana dan tidak seharusnya begitu saja diingkari sebelum satu hal berjalan untuk membuktikan bahwa aku tidak bersalah.

 

***

Read previous post:  
15
points
(1967 words) posted by alinaza 3 years 50 weeks ago
50
Tags: Cerita | Novel | cinta | remaja | sahabat | SOULMATE | young adult
Read next post:  
Writer adlinaraput
adlinaraput at He's Everything 1.2 (3 years 10 weeks ago)
90

keep spirit

Writer sinyohlia
sinyohlia at He's Everything 1.2 (3 years 33 weeks ago)

ceritanya ringan. jadi inget jaman sekolah baca novel yang bahasanya kayak gini. teruskan kakaa

Writer alinaza
alinaza at He's Everything 1.2 (3 years 33 weeks ago)

haloo makasih yaa udah mampir :D