Aku Mendengar Semuanya

Putih.... Semua yang ada di depanku terlihat sangat terang. Matahari? Sepertinya bukan. Belum sempat aku menebak sumber cahaya menyilaukan itu, cahaya tersebut sudah berganti dengan cahaya yang tidak seterang tadi. Meski samar, aku dapat melihat cahaya di depanku saat ini berasal dari lampu yang terpasang di langit-langit ruangan. Selintas, timbul sebuah pertanyaan baru di benakku: di mana aku?
 
Tangan... kaki... kepala... aku mencoba menggerakkan seluruh tubuhku, namun tak ada satu pun yang mau menuruti kehendakku. Badanku terasa lemas sekali. Mataku saja tak mau memberikanku penglihatan yang jelas. Yang dapat kulihat hanyalah gambar samar-samar seperti yang dilihat orang ketika sedang mengantuk atau baru saja bangun tidur. Kenapa seluruh tubuhku tak ada yang dapat kugerakkan? Aku mencoba mengingat, namun tak berhasil.
 
“Kecelakaan mobil, terlempar melalui kaca depan, dan kepalanya terbentur.”
 
Aku menyadari bahwa masih ada indraku yang berfungsi ketika suara seorang perempuan bergema di telingaku. Kecelakaan? Mobil? Siapa? Apa itu yang terjadi padaku? Aku sama sekali tak ingat apa pun soal kecelakaan mobil. Aku hanya ingat bahwa pagi tadi aku sempat mencium kening istriku sebelum berangkat ke kantor.
 
Entah sudah berapa lama aku setengah sadar. Perlahan-lahan penglihatanku menghilang hingga semuanya menjadi gelap dan aku kehilangan konsep akan waktu. Aku bahkan tak tahu saat ini aku sedang sepenuhnya sadar atau sedang bermimpi.
 
Selagi aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, tiba-tiba sebuah cahaya terang mengisi kegelapanku. Hanya sesaat. Setelah itu semuanya kembali gelap dan aku bisa mendengar suara seorang pria di dekatku.
 
“Saat ini kondisinya sudah stabil, tapi kami tidak tahu pasti kapan dia akan terbangun,”  kata suara yang bergema di telingaku. Jika aku mengalami kecelakaan seperti suara yang kudengar sebelumnya, aku berdeduksi bahwa saat ini aku sedang terbaring di salah satu ruangan dan suara pria yang barusan kudengar adalah suara seorang dokter. Kilasan cahaya tadi mungkin berasal dari senter kecil yang biasa digunakan untuk mengecek mata, entah apa yang ia cari di mataku. Yang jelas, saat ini aku tak bisa melihat apa-apa.
 
Selain suara dokter itu, yang kudengar di sini hanyalah suara tangisan. Mungkinkah itu suara keluargaku? Aku menanti-nanti suara istriku, orang tuaku, atau anakku. Tapi, meski aku menunggu cukup lama, tak ada suara yang terdengar selain tangisan yang berkelanjutan, hingga suara dokter yang mengatakan untuk membiarkanku beristirahat dan kemudian aku mendengar suara pintu tertutup. Kini aku hanya ditemani oleh suara detakan dari mesin monitor detak jantung.
 
~ *** ~
 
Aku terbangun ketika sebuah sinar terang menyinari mataku. Setelah beberapa detik, sinar itu menghilang dan kegelapan kembali menemaniku.
 
“Masih belum ada perkembangan. Tapi, tidak ada salahnya untuk mencoba. Siapa tahu itu akan memberikan respons positif terhadap perkembangan otaknya.”
 
Dari caranya berbicara, aku tahu bahwa ada—paling tidak—seseorang di dekatnya. Tak lama, aku mendengar suara kursi menggeret lantai di sebelah kiriku. Kemudian, aku bisa merasakan sentuhan lembut di bagian belakang tangan kiriku. Jari jemari yang lembut itu perlahan mengangkat tangan kiriku, memeluknya dengan kedua tangan, dan menciumnya lembut. Tangan seorang wanita.
 
“Hari ini aku membawa gambar buatan Henry. Setiap hari ia menggambar untuk ditunjukkan kepadamu. Aku harap kau dapat melihatnya.”
 
Aku dapat mendengar suara berisik seperti kertas yang berusaha dikeluarkan dari dalam tempat yang agak sempit. Tas? Atau map? Kemudian suara berisik itu berhenti. Aku dapat merasakan sesuatu diletakkan di atas tubuhku. Lalu tangan kiriku diangkatnya lagi dan diletakkan di atas sesuatu yang menempel di atas tubuhku. Sebuah kertas dengan tekstur lembut di beberapa bagiannya.
 
“Ini gambar Henry ketika guru sekolahnya memberikan tugas untuk menggambar sebuah pemandangan. Kau pasti bisa menebak apa yang ia gambar. Dua gunung hijau dengan matahari yang mengintip di tengahnya.”
 
Dua gunung dengan matahari di tengahnya? Aku ingat ketika kecil dulu pun aku pernah menggambar seperti itu. Bahkan teman-temanku pun sepertinya sepakat untuk menggambar hal yang sama ketika guru kami meminta kelas untuk menggambar sebuah pemandangan. Tiba-tiba aku menjadi kesal. Aku bisa mengingat apa yang kugambar dua puluh tahun yang lalu tapi aku tak bisa ingat apa yang terjadi dalam dua puluh menit setelah aku berniat pergi berangkat ke kantor pagi itu. Parahnya lagi, aku tak begitu mengingat pemilik suara yang kudengar saat ini. Yang kutahu hanyalah suara ini bukanlah suara orang asing. Apa itu suara istriku? Lalu, “Henry” yang berulang kali ia sebut itu adalah anakku?
 
Tangan kiriku tiba-tiba terangkat dan kertas yang tadinya diletakkan di atas perutku dipindahkan dan kertas lain menggantikannya di sana. Tangan kiriku kembali menyentuh kertas, namun kali ini teksturnya lebih lembut dan tidak sepadat kertas sebelumnya.
 
“Baru-baru ini ada kartun televisi baru tentang lima robot singa penjaga galaksi. Gara-gara menonton itu, ia jadi suka dengan hal-hal bertema luar angkasa. Dan beberapa hari yang lalu ia pun menggambar ini: Sebuah robot. Badannya berwarna hitam, kaki kirinya kuning, sementara yang kanan biru. Lalu kedua tangannya berwarna merah dan hijau. Tangan yang berwarna merah memegang pedang dan di belakang badannya ada sayap yang bentuknya seperti huruf ‘V’. Di samping robot itu ada bentuk lingkaran yang dipenuhi dengan warna biru dan hijau—Planet Bumi.”
 
Sepertinya aku kenal robot yang dimaksud. Tapi, bukankah itu kartun lama? Apakah sekarang ditayangkan ulang? Atau serial itu dibuat ulang? Kalau memang benar, jujur saja, aku pun ingin menonton serial kartun kesukaanku semasa kecil itu, tak peduli dengan umurku yang sudah berkepala tiga. Dan aku pun tak akan ragu kalau Henry meminta dibelikan robot mainan dari serial kartun itu. 
 
Berulang kali kertas di atas tubuhku diganti dan dengan jumlah yang sama tanganku menyentuh permukaan kertas yang berbeda-beda. Hanya sekali wanita itu membuatku menyentuh permukaan kain. Saat itu ia bercerita soal Henry yang mencorat-coret sapu tangan yang ia temukan di atas mejaku dengan spidol berwarna, menambahkan motif bintang-bintang di antara garis-garis lurus di sana. Tapi, dari semua yang ia tempelkan pada jari jemariku, yang paling kusukai adalah ketika ia mengatakan bahwa kertas terakhir yang kusentuh berisi gambar rumah yang di sampingnya ada sebuah pohon yang tak terlalu tinggi dan di sisi lainnya berdiri tiga orang—dengan satu orang lebih pendek diapit oleh dua orang yang lebih tinggi—tengah bergandengan tangan. Katanya, di kertas itu juga terdapat kalimat “Semoga cepat sembuh, Ayah!” yang ditulis dengan krayon di mana setiap hurufnya ditulis dengan warna yang berbeda-beda.
 
Setelah mendengar cerita dari gambar terakhir itu, mendadak aku ingin menangis, tapi tubuhku tak bisa berbuat apa-apa. Kepalaku terasa sakit dan aku tidak mendengar apa-apa lagi hingga aku tak bisa membedakan apakah aku sedang tersadar atau tertidur karena keduanya sama-sama gelap dan hening.
 
~ *** ~
 
Aku kembali tersadar, namun kali ini dengan badan yang terasa ringan. Aku merasa seperti sedang terbang karena aku dapat merasa dan mendengar suara embusan angin yang menerpa pakaianku. Aku mencoba membuka mata. Gelap, namun aku dapat melihat banyak titik-titik putih—cahaya—di depanku. Aku menengok ke sekeliling dan akhirnya aku menyadari bahwa aku benar-benar terbang tertiup angin. Pantas saja aku merasa tubuhku terasa ringan. Apa aku sudah mati? Sesaat setelah kalimat itu terucap di dalam benakku, embusan angin yang menerbangkan tubuhku mengubah arah. Tubuhku dibawanya turun. Pelan, hingga kakiku dapat memijak tanah rerumputan. Aku menyapu pandang, namun yang kutemui hanyalah tanah rerumputan yang sama dan langit gelap yang disinari oleh beberapa titik cahaya yang tak terhitung jumlahnya.
 
Embusan angin keras tiba-tiba menerjang tubuhku sekilas dari belakang. Aku berbalik dan mendapati sebuah tempat tidur—seperti yang biasa ada di rumah sakit—dengan figur seseorang terbaring di atasnya, lengkap dengan segala peralatan kedokteran yang terpasang pada tubuhnya. Aku mencoba mendekati sosok asing yang tiba-tiba muncul di hadapanku. Namun, dari setiap langkah yang kuambil, embusan angin menyambar tubuhku kembali. Aku mencoba berlari, dan embusan angin itu pun semakin keras menyambar tubuhku. Aku menyerah ketika mataku kembali terasa silau. Aku terduduk, dan begitu kubuka mata, kegelapan kembali datang di hadapanku.
 
~ *** ~
 
Aku mendapati suara pintu tertutup, diikuti oleh suara sepatu mengetuk lantai, semakin mendekatiku. Entah bagaimana, aku dapat merasakan seseorang telah berada di samping kiriku. Sedikit kudengar suara kursi ditarik menyeret lantai.
 
“Selamat pagi, John.” Suara lembut seorang perempuan terdengar begitu jelas dan dekat di telinga sebelah kiriku. “Sudah hampir dua bulan kau tidak masuk kerja. Kami semua merindukanmu. Suasana di kantor jadi sepi tanpa ada celetukan dan gurauanmu setiap harinya.” Aku bertanya-tanya. Apakah aku orang yang lucu atau menarik? Aku bahkan tak ingat itu. Perempuan itu pun melanjutkan, “Maaf hari ini aku datang sendirian. Kau pasti ingat rencana kita untuk liburan bersama. Nah, aku sudah berusaha meyakinkan teman-teman untuk menundanya sampai kaupulih, tapi penginapan, transportasi, dan segalanya sudah terlanjur dipesan. Sudah terlambat untuk membatalkannya, dan kau tahu sendiri kan Kepala Bagian kita seperti apa? Apalagi kalau sudah menyangkut pengeluaran uang. Pernah satu kali aku mendengar dia berkata, ‘Masa, karena satu orang saja rencana ini harus batal?’
 
“Ah, sudahlah. Sebaiknya kau tak usah mendengarkan celotehanku barusan. Hari ini aku mau membacakan titipan salam dari teman-teman di kantor. Semuanya menulis doa dan salam untukmu di kain putih ini.”
 
Sekilas aku dapat merasakan kibasan kain menyentuh kulit lenganku. Meski tak dapat melihatnya, aku bisa menduga kain yang dibawa perempuan ini cukup besar untuk menampung tulisan sekitar lima belas hingga dua puluh orang. Aku pun dapat membayangkan tulisan-tulisan yang ada di kain itu. Pasti ditulis tidak beraturan. Ada yang ditulis miring, ada yang ditulis besar-besar, ada pula yang ditulis di ujung kain. Rasanya aku pernah membuat yang semacam itu ketika masih duduk di bangku SMA.
 
“Dokter bilang ini mungkin percuma, tapi aku percaya kau bisa mendengarku.” Aku dapat mendengar perempuan itu menghela napas sebelum mulai membaca. “Dari Edward: Baiknya kau segera sembuh kalau tidak mau isi kotak permen di mejamu habis. Hahaha.... Dari Shania: Cepatlah pulih! Aku rindu berlari sore denganmu. Kemudian dari Mario: Kuharap kau cepat kembali. Dokumen-dokumenmu sudah menumpuk di mejaku. Selanjutnya dari ....”
 
Perempuan itu membacakan kalimat-kalimat yang tertulis di kain satu per satu. Sesekali ia tertawa saat membacanya, namun ada juga saat ketika ia membaca dengan suara yang pelan. Seperti sebelumnya, aku tak begitu ingat suara perempuan ini, tapi suaranya yang lembut itu terdengar begitu familier. Apakah karena kami rekan kerja dan aku sering mendengar suaranya di kantor? Ah, pasti begitu. Aku sudah jarang berkomunikasi dengan teman-teman lama, jadi pasti perempuan ini salah satu rekan kerjaku di kantor. Jika aku sering mendapat kunjungan dari orang-orang terdekat seperti ini, aku jadi semakin bersemangat untuk segera bangun dan memulai kembali aktivitas yang tak begitu kuingat. Kalaupun aku terbangun nanti, hal pertama yang harus kulakukan adalah mengembalikan memoriku yang telah hilang sebagian ini. Pertanyaannya adalah: Bagaimana cara agar aku bisa terbangun dari kondisi ini?
 
~ *** ~
 
Entah bagaimana—mungkin dengan kekuatan Yang Maha Kuasa—aku dikembalikan ke padang rumput berbintang ini lagi. Bedanya kali ini aku sudah langsung berada di atas tanah, telungkup memeluk rerumputan basah.
 
Aku membangkitkan diri dan sekali aku menemui tempat tidur dengan figur yang sama di atasnya. Apa maksud semua ini? Aku mencoba mendekati objek yang berada sekitar lima puluh meter di depanku. Kalau sebelumnya langkahku dihalang oleh tiupan angin, kali ini aku dapat melangkah dengan ringan.
 
Aku terus berjalan ke depan hingga aku menyadari bahwa objek di depanku tidak terlihat semakin dekat. Kupercepat langkahku, tapi aku merasa seperti berlari di tempat. Sontak, sesuatu menyandung kakiku hingga keseimbanganku hilang dan aku jatuh dengan wajah menghadap tanah. Aku menutup mata, bersiap untuk menghantam tanah. Tapi, setelah beberapa detik, aku tak merasakan impak yang kupikir seharusnya sudah terjadi. Aku membuka mata dan kini aku kembali menemui kegelapan.
 
~ *** ~
 
Aku lelah. Aku sepenuhnya terjaga. Hanya saja bagian tubuhku tak ada yang menurut ketika kuperintahkan untuk bergerak, mataku pun tak mampu terbuka. Yang bisa kulakukan lagi-lagi hanyalah mendengar suara di sekitarku. Suara dari mesin monitor detak jantung yang berbunyi setiap dua detik sekali dan jika kufokuskan untuk menghiraukan suara benda itu, aku bisa mendengar pergerakan jarum jam tepat di atas kepalaku. Sesekali aku dapat mendengar dokter atau perawat yang keluar atau masuk ruangan dan tak jarang aku mencuri dengar obrolan mereka. Rasanya aku ingin berteriak, namun sekali lagi, itu pun hanya dapat kulakukan di dalam pikiranku saja. Tak bisakah aku bangun saja dari tempat ini?
 
Kalau dipikir-pikir, daripada tersadar dalam kondisi tak mampu berbuat apa-apa seperti ini, akan lebih baik jika aku terjaga dalam mimpi itu. Dalam mimpi di padang rumput itu, aku bisa bergerak bebas. Aku jadi menduga-duga, sebenarnya apa arti mimpi itu? Kenapa aku bisa terdampar itu tempat itu? Kenapa aku dihadapkan pada seseorang yang berada di tempat tidur? Kenapa setiap embusan angin itu membuatku merasa sangat ringan dan perlu usaha lebih untuk dapat tetap berpijak? Kenapa juga aku harus memikirkan logika di balik sebuah mimpi? Apa itu sebuah pilihan?
 
Pertanyaan terakhir yang muncul dalam pikiranku itu membuatku diam. Sebuah pilihan.... Setelah menyatukan beberapa hal yang kualami dan kemungkinan yang bisa saja terjadi, aku berkesimpulan bahwa di mimpi itu aku memang dihadapkan pada sebuah pilihan. Ngeri, tapi aku berpendapat bahwa pilihan yang dimaksud adalah pilihan antara hidup dan mati. Kalau aku menyerah pada embusan angin, tubuhku—jiwaku—akan terbang meninggalkan dunia yang sementara ini. Namun, jika aku ingin memilih untuk tetap hidup, aku harus bisa menggapai sosok yang dihadapkan di depanku, yaitu tubuhku yang terbaring di rumah sakit. Selanjutnya, yang menjadi pertanyaan adalah kenapa setiap kali aku berusaha untuk menggapai tubuhku itu seperti ada kekuatan yang menghalangi? Apakah ada sesuatu yang harus kuketahui sebelum mengambil keputusan yang terlalu cepat? Tapi, apapun itu, sudah jelas aku akan memilih untuk tetap hidup. Siapa pun yang berada di posisiku saat ini juga pasti akan memilih hal yang sama, bukan?
 
“... tahu semuanya.”
 
Di saat aku sedang bergulat dengan pikiranku, tiba-tiba aku mendengar suara seseorang. Berpikir terlalu keras membuatku kehilangan fokus pada indra pendengaranku, hingga aku tidak menyadari bahwa seseorang telah memasuki ruangan. Aku bahkan tak mendengar begitu jelas apa yang dikatakan orang itu barusan.
 
“Aku juga tahu kalau kau tak pernah melembur. Bosmu sendiri yang menceritakannya padaku. Kau sering tak pulang ke rumah pasti karena kau pergi ke tempat perempuan itu, kan?”
 
Aku terkejut kala mendengar kalimat pertanyaan yang dilontarkan orang itu—wanita itu. Meski tidak dikatakan seperti layaknya orang yang sedang marah, aku dapat merasakan kepedihan hati dari setiap kata yang terucap. Kedengarannya seperti aku telah mengecewakan dia. Tapi, aku tak ingat apa-apa. Kalau dia berkata dengan nada seperti itu, apakah itu berarti aku memang telah mengkhianati istriku sendiri?
 
“Aku juga sempat memeriksa laptop kerjamu yang masih utuh di dalam mobil,” lanjut wanita itu dengan nada bicara yang diselingi sedikit isak tangis. “Kelihatannya beberapa bulan terakhir kau membeli pakaian olah raga dan sepatu lari, tapi kenapa aku tak menemukannya sama sekali di rumah? Aku pun sudah mengecek ruang kerjamu dan aku tidak menemukan barang yang kau beli lewat internet itu.”
 
Lari? Ya, kalau tidak salah di salah satu pesan salam yang dibacakan oleh rekan kerjaku itu menyinggung soal lari sore. Mungkin saja aku membelinya untuk kegiatan lari sore. Hobikah? Tapi aku tetap tak menemukan korelasinya dengan apa yang dijabarkan wanita ini.
 
“Kalaupun kau bangun, yang kau pedulikan pasti perempuan jalang itu, kan? Kalau begitu buat apa aku membiayai perawatanmu selama tiga bulan ini? Kau pikir semua ini murah?!”
 
Di akhir kalimat, intonasi suara wanita itu meninggi. Tak lama, aku dapat mendengar isak tangis yang disembunyikannya itu meledak hingga akhirnya kudengar langkah kaki menjauh yang diakhiri dengan suara pintu tertutup—lebih tepatnya dibanting. Aku mencoba mencerna semua kata-kata yang diucapkan wanita itu, tapi aku tak dapat menemukan fakta dan menarik kesimpulan tanpa berbekal memoriku yang hilang. Mencoba mengingat-ingat pun malah membuat kepalaku semakin sakit, ditambah lagi mesin yang ada di dekatku ini membuat suara bernada tinggi yang memekakkan telingaku.
 
~ *** ~
 
Embusan angin yang lembut menerpa wajahku. Aku membuka mata dan kudapati rerumputan di sekitarku menari dan membuat suara gerisik karena tertiup angin. Sekali lagi kulihat sosok tempat tidur yang sama di depanku. Hanya saja, kali ini tempat tidur itu berjarak satu jengkal dariku. Aku bisa melihat tubuhku sendiri yang tengah berbaring di sana. Samar-samar aku dapat melihat bayangan pria berjas putih di samping tubuhku itu. Ia terlihat tergesa-gesa sambil jarinya menunjuk-nunjuk ke arah mesin di samping seorang perempuan berseragam merah muda di seberangnya. Aku baru menyadari kalau saat ini aku tak sedang menginjak tanah berumput, melainkan setengah melayang dan setiap detiknya aku terangkat lebih tinggi.
 
Sesuatu terjadi dengan kepalaku. Aku merasakan semacam percikan timbul di dalamnya. Aku merasa dapat mengingat semua hal yang perlu kuketahui. Semua ingatanku kembali. Jadi ini kesempatan terakhirku untuk membuat pilihan. Tanpa sadar, aku menyunggingkan senyuman kecil. Aku tahu pilihan mana yang harus kuambil. Hanya saja, aku belum bisa memutuskan alasan kenapa aku harus mengambil pilihan itu. Kenyataan bahwa istriku telah mengetahui rahasia kehidupanku yang lain atau fakta bahwa yang kulihat di depan rumahku sore itu adalah mobil dinas bosku.
 
~ *** ~
Fin
 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Popy RiLvia Luchan
Popy RiLvia Luchan at Aku Mendengar Semuanya (2 years 9 weeks ago)
90

Good job

Writer Robospider_no6
Robospider_no6 at Aku Mendengar Semuanya (3 years 35 weeks ago)
70

Aku suka endingnya. Perpindahan scenenya bagus. Referensi Voltron bonus poin. Deskripsi dan kepadatan masih kurang. Tapi nggak buruk.

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Aku Mendengar Semuanya (3 years 35 weeks ago)

Mau diperpanjang deskripsinya cuman susah, karena si tokoh cuman bisa dengar doang, ga bisa melihat. Ada saran?

Writer Robospider_no6
Robospider_no6 at Aku Mendengar Semuanya (3 years 35 weeks ago)

Dia dulu masih bisa melihat bukan. Deskripsi dari ingatan bisa juga detail.
-
Misal suara punya warna intonasi, berat, emosi warna. Ini impresi. Selanjutnya ada hubungan, analisis, memori dsb.
-
Contoh : Suara daging tongseng itu renyah dan ringan, mendesis seperti marah, mengingatkanku warna warni pasar malam.

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Aku Mendengar Semuanya (3 years 35 weeks ago)

Oh iya, bisa juga kayak gitu. Ga kepikiran. Biasanya deskripsiku kebanyakan dari mata sih. -,-