He's Everything 2.1

Aku punya rumah baru!

Keluargaku pindah hari ini. Rumahku sebelumnya ada di sebuah tempat bernama Yogyakarta, meskipun aku tidak benar-benar tahu apa perbedaannya dengan tempat yang kutinggali saat ini. Semuanya terlihat sama saja, kecuali bentuk rumah baruku yang terlihat lebih indah daripada sebelumnya. Semua barang baru saja diturunkan dari truk, tetapi mama berkata bahwa beberapa barang sengaja ditinggal di rumah lama agar tidak repot. AKu juga tidak mengerti apa yang membuat mereka repot.

Aku tidak melihat apapun ketika masuk ke dalam rumah, rumahnya terasa sangat kosong dan suaraku selalu bergema setiap kali aku membuka suara. Keadaan rumah sedang sangat sibuk dengan orang-orang yang memindahkan barang dan mama selalu saja menyuruhku menunggu di luar. Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan-jalan.

Kata mama aku tinggal di perumahan, tapi aku tidak tahu apa maksudnya. AKu hanya tahu bahwa perumahan berarti ada banyak rumah, kata-kata yang mirip dengan pegunungan yang berarti banyak gunung. Aku berjalan-jalan dan mendapati semua rumah dalam keadaan tertutup, seperti tidak ada orang. Tapi aku tidak kaget, karena rumah-rumah yang aku lihat selalu seperti itu.

Aku tidak sadar sejauh apa aku sudah berjalan, hingga aku menyadari bahwa rumah-rumah sudah tidak sama lagi dan aku juga baru sadar bahwa jalannya sudah berbeda. Ketika aku menengok ke belakang, aku sudah tidak ingat dimana rumahku. Tapi aku mendengar suara yang sangat ramai tak jauh dari tempatku berdiri sehingga tanpa sadar aku menghampirinya.

Tempat itu adalah sebuah lapangan dengan pohon-pohon menjulang di atasnya, sehingga menutupi matahari dan tidak akan terasa panas. Semua anak-anak disana seusiaku, dan mereka sedang bermain permainan kejar-kejaran. Ketika melihatnya, aku terpesona. Itu adalah pertama kali aku melihat ada anak sebanyak itu bermain bersama secara langsung. Aku hanya pernah melihat di televisi ada banyak orang sedang bermain dan tertawa, tapi tidak pernah melihatnya secara langsung. Itulah kenapa secara tidak sadar aku duduk di tepi lapangan dan hanya memandang mereka. Aku bisa ikut merasakan semangat bercampur rasa cemas dan takut dari mereka yang akan ditangkap oleh si musuh dan aku bahkan mendukung beberapa dari mereka. Mungkin seperti ini rasanya melihat konser.

“Hei, kamu nggak ikut main?”

Aku menengok ke belakang ketika mendengar seseorang menyapaku. Ia adalah anak laki-laki, seumuran denganku, memakai kaos biru dan celana selutut, dia juga memakai sandal. Ia memegang sebuah bola di tangannya, dan aku baru sadar kalau ia baru saja memungutnya tak jauh di belakang tempat aku duduk.

“Kamu mau ikut main?” tanyanya lagi ketika tidak mendapatkan jawaban apapun dariku.

Main?

Aku mengerjapkan mata. “Aku main?”

Anak laki-laki itu menganggukkan kepalanya semangat. “Iya! Ayo ikut! Aku daritadi lihat kamu kayak mau ikut main!”

Aku main?

Aku tidak pernah bermain sebelumnya. Aku juga tidak benar-benar tahu caranya. Kata main yang aku tahu adalah boneka-boneka dan masak-masakan dari mama. Tapi aku diam saja ketika anak laki-laki itu menggandengku dan mengenalkanku kepada teman-temannya.

“Nama kamu siapa?” tanya anak laki-laki itu sebelum mengajakku bermain.

“De-denada...” Aku menjawab lirih. Lalu anak laki-laki itu mulai mengumumkannya ke teman-temannya di lapangan tersebut.

“Ini Denada! Dia boleh ikut main kan?”

 

***

 

Ternyata bermain bukan kegiatan yang cocok untukku. AKu menyadari ketika anak laki-laki itu mengajakku untuk ikut bermain. AKu tidak tahu apa yang mereka mainkan, sehingga aku seringkali ditabrak dan jatuh, dan sering membuat anak-anak di lapangan marah karena katanya aku membuat mereka kalah. Anak laki-laki yang mengajakku tadi akhirnya berkata bahwa aku tidak usah dihitung dulu, sehingga aku tidak akan kalah meskipun tertangkap.

Hanya saja itu juga membuatku merasa seperti hantu dan tidak dianggap. TIdak ada satupun dari mereka yang menargetkanku untuk ditangkap karena mereka tidak akan mendapatkan apa-apa dariku. Sampai akhirnya tidak ada yang sadar ketika aku kembali ke tepi lapangan. Dalam waktu yang cukup lama aku benar-benar diabaikan, dan aku tidak menyukai perasaan yang muncul setelahnya. Aku merasa seperti ingin menangis tapi aku tidak tahu apa yang harus kukatakan pada mereka. Oleh karena itu, akhirnya aku memutuskan untuk pulang.

Sayangnya ketika perjalanan pulang aku teringat bahwa aku lupa jalan pulang. Hari semakin gelap, aku mendengar dan melihat ada banyak burung-burung beterbangan di atasku, mereka berkumpul dan membuat suara-suara yang membuatku takut. Seolah-olah burung-burung itu akan terjun dan memakanku. Aku takut. Hari sudah gelap. Aku ingin pulang.

Aku tidak berani untuk maju ataupun mundurkarena aku takut aku semakin jauh dari rumahku, aku juga tidak berani duduk, aku tidak berani melakukan apapun. Aku hanya menggenggam tanganku sambil menangis. Aku ingin pulang. Mama, Papa…

“Denada?”

Aku menengok cepat ketika mendengar suara yang cukup familiar. Anak laki-laki yang tadi.

 

to be continue

Read previous post:  
9
points
(655 words) posted by alinaza 3 years 37 weeks ago
45
Tags: Cerita | Novel | cinta | He's Everything | remaja | sekolah | young adult
Read next post:  
Writer duvernoy
duvernoy at He's Everything 2.1 (3 years 1 week ago)

Ada beberapa typo sepertinya, kata 'AKu' ada 3 atau 4 kali sy temukan dan kata 'daritadi' yang seharusnya dipisah. Btw ini bahasanya sederhana, cocok untuk cerpen anak atau remaja yang genre slice of life dan tidak berat untuk dibaca. Sy baca ini karena liat update an yang ke 2.2 sih. Saran sedikit, mungkin daripada dibagi jadi bagian-bagian yang sangat sedikit seperti ini akan lebih baik (saran dan pendapat saia saja, tidak dituruti juga tidak kenapa-kenapa hehe) kalau digabung karena untuk ini saia nggak dapet konflik atau klimaks atau yang bikin greget, hanya semacam perkenalan saja. Itu aja sih. Maap panjang. Saia suka nama Denada btw. Salken kaka, keep up the good work!

Writer alinaza
alinaza at He's Everything 2.1 (2 years 48 weeks ago)

Haaay Denada. Salam kenal :) makasih yaa mau baca cerita ini. Dan terimakasih juga masukannya, panjang nggak apa kok, saya malah suka :))
Nanti saya cek lagi deh soalnya emang ini typo masih banyak banget. Sebenernya juga maunya gak dipotong2 biar langsung jadi satu, tapi jadinya satu bab bs panjang banget ada kali ya 10 halaman A4.... kasian ntar yg baca pegel, tapi sebenarnya tiap bab niatnya (kmrin pas bikin niatnya) ada konfliknya.
Oya, cerita ini sebenarnya sdh saya selesaikan tp saya upload d wattpad (kalo mau iseng mampir dan saya akan senang hati dapet saran dan kritiknya hehe): https://www.wattpad.com/story/95500620-he%27s-everything-complete

Writer adlinaraput
adlinaraput at He's Everything 2.1 (3 years 12 weeks ago)
90

good

Writer samuel33
samuel33 at He's Everything 2.1 (3 years 31 weeks ago)

membaca cerita ini mengingatkanku pada saat masih usia kanak-kanak hehehe

______________________________________
Patung Manekin Setengah Badan | Mikroskop Digital