Potret

“Ah, akhirnya aku dapat!”

 

Aku menolehkan kepala ke samping kanan tatkala mendengar suara yang tiba-tiba muncul di tengah keheningan. Ternyata tak hanya aku yang memerhatikannya. Hampir semua orang di kolam pemancingan ini juga sempat menengokkan kepala mereka ke arah sumber suara sebelum akhirnya menarik kembali kepala mereka karena apa yang mereka lihat tak sesuai harapan. Orang-orang pun kembali fokus pada kail pancing masing-masing yang tenggelam di dalam kolam sambil berharap ada ikan yang memakan umpan mereka.

 

“Kau dapat apa?” tanyaku penasaran sambil bertopang dagu melihat sahabatku yang berdiri di sampingku dengan sebuah kamera di tangannya.

 

“Akhirnya aku dapat foto Anisa. Kautahu lah, Anisa yang di bagian keuangan. Sudah cukup lama aku suka padanya,” kata sahabatku sambil menunjukkan layar pada kameranya yang menampilkan foto seorang perempuan tinggi berjilbab yang tengah berjalan sambil menggenggam sebuah microphone dan sebuah kertas persegi di tangannya yang lain.

 

Tentu aku tahu siapa wanita yang dimaksud oleh sahabatku ini. Hanya saja aku baru tahu kalau ternyata ia pun menyukai perempuan manis yang baru saja pindah dari kantor cabang lain satu bulan yang lalu itu. Mendengar hal itu membuat dadaku tiba-tiba terasa sesak dan berat. Aku merasa seperti ada sebuah tangan yang melesak masuk ke dalam dadaku dan mencengkeram sesuatu di dalamnya dengan kuat. Aku tahu itu bukan jantung karena rasa sakitnya terasa tepat di tengah dada. Paru-paru mungkin? Aku tak tahu pasti. Aku bahkan tak ingat dengan pelajaran biologi sewaktu sekolah dulu. Badanku pun mendadak terasa lemas, terutama di daerah sekitar kepala. Raut wajah yang tadinya semringah karena rasa penasaran kali ini perlahan-lahan menurun dan meninggalkan ekspresi kekecewaan. Rasa-rasanya, pendengaranku juga ikut memudar. Aku mendengar sahabatku mengatakan sesuatu, hanya saja tak ada satu pun kata yang dapat membekas di kepalaku. Sementara itu, tatapanku pun kini seperti sedang berada di tempat lain. Aku melihat pepohonan yang daunnya menguning dan jatuh berguguran. Di antara pepohonan itu kulihat sahabatku sedang merangkul Anisa erat dan keduanya memandangi lensa kamera yang dijunjung tinggi oleh sahabatku di udara. Aku membayangkan hasil potret yang tercipta dan itu terpajang pada daftar kontak di telepon pintarku, melekat dengan jelas di samping nama sahabatku.

 

Seharusnya aku tidak merasa heran jika hal ini benar terjadi. Secara umur, jelas kalau umur mereka berdua lebih dekat. Dan tak jarang pula aku melihat mereka mengobrol bersama, apalagi karena memang pekerjaan sahabatku—yang satu kantor denganku ini—memang sering berhubungan dengan bagian keuangan setiap harinya. Seharusnya aku menyadari hal ini sejak awal. Tapi kenapa aku bisa luput meski sering kali aku berpikir terlalu jauh jika memerhatikan sesuatu?

 

Apakah karena ini pertama kalinya aku merasakan jatuh cinta? Ya, kalau diingat-ingat, aku memang tak pernah memendam perasaan lebih pada teman-teman perempuanku. Baru kali ini saja, saat mengenal Anisa aku baru merasakan sesuatu bergejolak di dalam diriku. Mana pernah aku tiba-tiba tersenyum walau hanya dengan membayangkan wajah Anisa? Sebelumnya aku juga tak pernah merasa perutku bergejolak karena grogi saat berbicara dengan perempuan. Dan kalau bukan karena Anisa yang menjadi pembawa acara kegiatan capacity building dari kantor ini, aku pun takkan mau menghadirinya karena tentu aku akan lebih memilih berada di rumah, mencicil pekerjaan kantorku yang bisa dibawa pulang.

 

Pluk...

 

Aku mendengar suara kecil dari dalam kolam. Aku tak langsung menyadari suara apa yang kudengar barusan sampai aku mencerna maksud dari sahabatku yang melompat-lompat di tempat sambil menunjuk ke alat pancing yang terletak di samping tempatku duduk. Aku melihat kumparan benang pancingku berputar dengan cepat seiring menjauhnya benang pancingku dari tempat asalnya.

 

“Kau menunggu apa lagi? Cepat tarik!!”

 

Kupegang alat pancingku dengan kuat sambil perlahan-lahan kuputar balik kumparan yang benangnya sudah menjauh karena ditarik ikan. Sepertinya ikan yang cukup besar. Cukup sulit untuk menariknya seorang diri, terlebih di saat aku sedang kehilangan tenaga dan semangat untuk memancing.

 

Aku pasrah. Aku hampir saja melepaskan peganganku dari alat pancing kalau sahabatku tidak tiba-tiba mendekat dan membantuku menarik ikan yang cukup keras kepala ini. “Asalkan kita bisa buat ikannya di permukaan air, cepat atau lambat ikannya akan kelelahan dan di saat itu baru bisa kita tarik.” Dan apa yang dikatakan sahabatku itu ternyata membuahkan hasil. Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya ikan di ujung kail menyerah dan begitu mudah untuk ditarik.

 

Begitu ikan ini ditarik, entah mengapa orang-orang di sekitar kolam ini bersorak-sorai. Bukankah sejak tadi pun sudah banyak yang juga mendapat ikan? Tapi kenapa baru kali ini orang-orang berteriak dan memberikan tepuk tangan? Sahabatku mengangkat ikan yang sudah dilepaskan dari kail dan menunjukkannya padaku.

 

“Lihat, ternyata ini ikan berpita itu. Kau menang!”

 

Aku sampai lupa bahwa di acara capacity building ini, disediakan hadiah menarik bagi mereka yang berhasil mendapatkan ikan berpita yang sudah disiapkan oleh panitia sebelumnya. Tapi saat ini aku tidak begitu tertarik dengan hadiah atau ikan yang kumenangkan.

 

“Ayo, kau sudah dipanggil ke atas panggung.”

 

Aku melihat di atas panggung sudah berdiri sang pembawa acara—Anisa—yang tengah memanggil namaku berulang kali. Para pegawai kantor lainnya pun memandangiku sambil bertepuk tangan dan mengharapkanku naik ke atas panggung untuk menerima hadiah yang mungkin sangat diharapkan oleh pegawai lain.

 

“Aku sedang tidak enak badan. Kau saja yang naik,” kataku dengan suara pelan dan kepala yang sedikit tertunduk, setengah berbisik.

 

“Lho, tapi kan kau yang berhasil menangkap ikan berpita ini,” kata sahabatku sambil mengangkat ember yang berisi air dan ikan yang berhasil kami tangkap tadi.

 

“Bukan. Ikan ini kau yang menangkapnya. Kalau kau tidak membantuku tadi, ikan ini pasti sudah lepas dan ditangkap oleh pegawai lain.” Aku menyerahkan alat pancing di tanganku pada sahabatku itu sebelum berkata, “Sudah, kau saja yang ambil hadiah itu. Aku ingin ke toilet.”

 

Aku dapat membaca rasa kekecewaan dari tatapan mata sahabatku itu. Aku dapat mendengar ia menghela napas pendek sebelum akhirnya berjalan menuju panggung di pinggir kolam. Sementara itu, aku berjalan menjauh dari kerumunan orang yang memenuhi bagian depan panggung. Aku duduk di bawah sebuah pohon sambil memerhatikan mereka.

 

Anisa, sebagai pembawa acara, menyampaikan beberapa patah kata sebelum akhirnya secara simbolis memberikan hadiah dalam berupa lembaran kertas yang cukup lebar dengan tulisan mengenai hadiah yang dimenangkan di dalamnya. Sayangnya aku tak dapat melihat apa isi tulisan itu dari tempat dudukku saat ini. Setelah menerima hadiah itu, mereka berfoto bersama dan di saat itulah mataku seakan ingin memperlihatkan bayangan-bayangan yang tengah menghantuiku saat ini. Kesemua bayangan itu pada akhirnya mengaskan bahwa Anisa akan lebih bahagia jika bersama dengan sahabatku yang sudah kuanggap sebagai adik kandungku sendiri itu.

 

Aku mengambil telepon pintarku dari dalam saku celana dan membuka menu kamera. Dari kejauhan, aku tidak bisa mengambil foto mereka dengan begitu bagus, tapi meskipun pada akhirnya aku takkan bisa bersamanya, setidaknya memotret Anisa bersama dengan sahabatku merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri untukku.

 

~ *** ~

Fin

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Ginekologi
Ginekologi at Potret (3 years 20 weeks ago)

Wah, lagi-lagi mimin yang satu ini ketemu lagi.

Biasanya sih yang suka nulis beginian yang rajin banget, seperti buat puisi atau cerita panjang cewek2 sih. Tapi, mimin yang satu dari segi namanya laki2 yah? Wah, keren juga nih miminnya.

Kalau baca paragraf awal ceritanya agak serem yah?

Hehehe. Sorry belum baca semuanya dan kalau salah persepsi saya yah. Thanks loh buat mimin sudah berbagi cerita seperti ini.

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Potret (3 years 11 weeks ago)

Aku bukan "mimin" lho.
Pertanyaanku: Kok bisa mengira aku ini mimin? :D

Writer daniswanda
daniswanda at Potret (3 years 31 weeks ago)
80

Ini kayak slice of life gitu ya. Enak narasi dan gaya ceritanya. Tapi penyelesaian konfliknya bisa lebih baik lagi mungkin. Cheers.

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Potret (3 years 31 weeks ago)

Iya, slice of life.
Kalau penyelesaian konfliknya.... emang si "aku"-nya masih belum rela sih. Masih galau dia. :'(
*konflik ceritanya hampir nyata sih, jadi begini deh.

sijojoz at Potret (3 years 31 weeks ago)
80

kalo ada anak baru di kantor lalu sering dikerubungi ada julukannya: ratu lebah heheh

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Potret (3 years 31 weeks ago)

Wahahaha.... bisa, bisa... :D