Kisah di Sebuah Perjalanan

“Ooooeee ... Ooooeee ....”

 

Aku tersentak dari tidurku tatkala mendengar suara tangisan bayi yang memekakkan telinga itu. Beberapa minggu belakangan ini aku memang sedikit takut dengan suara bayi, apalagi setelah membaca cerita-cerita di internet. Saking kagetnya, kepalaku sempat terantuk kaca yang menjadi sandaran kepalaku sejak tadi.

 

Aku mengamati keadaan di luar. Aku tidak tahu ini di mana, tapi dari balik kaca itu, aku dapat melihat pemandangan yang telah berganti. Sebelum tertidur, aku masih sempat melihat beberapa gedung yang menjulang tinggi, namun yang terlihat sejauh mata memandang kali ini hanyalah ladang persawahan yang diselingi dengan beberapa pohon yang tidak terlampau tinggi di pinggiran ladang-ladang tersebut. Jika melihat ke arah yang lebih jauh, aku dapat melihat dataran hijau yang letaknya lebih tinggi dari ladang-ladang di sekitar sini. Tampak seperti perbukitan. Begitu indah. Aku takkan bisa menemukan pemandangan seperti ini jika tetap berada di tengah kota metropolitan tempatku tinggal. Andai saja kau juga dapat melihat pemandangan indah ini.

 

Aku memandangi kedua lembar kertas tipis boarding pass untuk kereta antarkota yang terselip manis di sela antara jari telunjuk dan jari tengahku. Yang satu berlubang, namun yang satu lagi tidak. Aku masih ingat ketika kedua tiket di tanganku ini masih dalam kondisi yang utuh. Itu adalah satu jam terlama yang pernah kurasakan seumur hidupku ... cemas berharap bahwa kau akan menepati janjimu dan segera muncul dari pintu gerbang stasiun kereta pagi tadi. Tapi ... nyatanya aku bersandar sendirian di kursi panjang berwarna abu-abu ini.

 

Aku mengetukkan jariku dua kali pada layar ponsel pintarku. Layar itu kemudian menyala, namun sepi. Tidak ada pemberitahuan panggilan atau pesan masuk darimu. Pesan terakhir yang kaukirimkan padaku datang kemarin malam, berisi dua buah kalimat yang memberikan secercah harapan bagiku.

 

Tunggu aku di stasiun besok pagi. Percayalah, aku pasti datang.

 

Begitu aku tak menemukanmu di sisa satu menit terakhir, aku pun bertanya-tanya ... apa yang terjadi padamu? Mengapa kau berubah pikiran? Bukankah kita sudah sepakat? Tak tahukah kau betapa berartinya dua kalimatmu itu bagi masa depanku ini? Aku bisa saja meneleponmu saat ini, hanya saja ....

 

“Kopi ... teh ... sarapannya, Bu, Pak?”

 

Aku mengintip ke arah lorong yang berada di antara kedua baris kursi dalam gerbong kereta ini. Kulihat seorang perempuan dan seorang lelaki muda berseragam biru membawa nampan berisikan beberapa kotak makanan dan beberapa gelas kertas berwarna hijau dan abu-abu. Setelah membayarkan sejumlah uang, sang perempuan menyerahkan sebuah gelas kertas yang berwarna hijau padaku. Aku pun menyesap cairan yang ada di dalamnya melalui sebuah sedotan pipih. Ah, segelas teh di pagi hari memang terasa nikmat. Merasakan sensasi hangat yang mengalir ke perut dan kepala setidaknya dapat mengurangi kegundahanku yang terkumpul sejak tadi.

 

Selagi menikmati teh hangat di tanganku, aku melirik kembali ke layar ponsel yang kuletakkan di atas meja kecil di depan kaca. Masih belum ada tanda-tanda darimu. Aku memejamkan mata sejenak. Setelah konflik batin yang terjadi di dalam benakku selesai beradu pemikiran, akhirnya aku memberanikan diri untuk meneleponmu.

 

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi.”

 

Aku mengulangi hingga empat kali, namun hasilnya sama saja. Rasa kecewa yang sedari tadi menumpuk di dada ini kian bertambah.  Hampir saja rasa kecewa itu berubah menjadi amarah kalau saja logikaku tidak menghentikan emosiku saat ini. Aku terus mencoba menghubungimu sambil mengirimkan sebuah pesan singkat—yang entah tersampaikan atau tidak—dengan harapan kau membacanya.

 

Aku menyandarkan lagi kepalaku pada sandaran kursi yang lumayan empuk ini sambil memandangi pemandangan di luar yang kini terdapat sebuah sungai yang aliran airnya tidak begitu deras. Dari kejauhan kulihat ada beberapa anak bermain di pinggir sungai. Tampak bebas seperti tak ada beban hidup. Aku menghela napas dan tersenyum kecil lantaran anak-anak itu memberikanku sebuah pemikiran yang lebih rasional. Rasanya aku ingin mengutuki diriku sendiri, tapi sudah terlambat untuk itu. Kalau saja saat itu aku tidak ragu, aku takkan gelisah memikirkanmu saat ini. Aku meraih ponselku dan mengetikkan sebuah pesan lain untukmu. Pesan itu berkata, “Lutfi, jangan cari aku. Selamat tinggal.”

 

~ *** ~

 

Drrrttt ... drrrttt ....

 

Sekali lagi aku terbangun dari tidurku. Perjalanan sejauh delapan jam dengan kereta api memang cukup membosankan, terlebih jika tidak ada teman perjalanan, tidak membawa buku bacaan, atau tidak membawa earphone hanya sekadar untuk mendengarkan musik. Karena itu yang bisa kulakukan sampai beberapa jam ke depan hanyalah mencoba untuk tidur kembali.

 

Rupanya yang membangunkan tidurku kali ini adalah getaran berulang kali yang timbul dari ponsel di saku jaketku. Sebuah panggilan telepon dengan nama pemanggil yang sejak beberapa saat yang lalu kucoba untuk dihubungi. Aku mencoba menenangkan hatiku sebelum menggeser ikon berwarna hijau di layar. Ingat, jangan termakan perasaan! Gunakan logikamu! seruku keras-keras di dalam hati.

 

Dari balik telepon, aku mendapati suara deru napas yang terengah-engah, seperti sedang terburu-buru. “Amalia ... kau di mana?”

 

“Aku di kereta, sesuai dengan rencana kita sebelumnya.” Aku memastikan bahwa nada suara yang keluar dari mulutku tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Aku tidak mau kau khawatir.

 

“Maafkan aku, Mal. Saat aku mau pergi tadi pagi, aku terpergok oleh orang tuaku. Terpaksa aku harus mengarang-ngarang alasan terlebih dahulu pada mereka sebelum akhirnya aku bisa berangkat ke stasiun, tapi karena macet, aku pun terlambat. Mana ponselku mati dan tertinggal di rumah pula. Sekali lagi, maafkan aku. Kamu jangan khawatir. Aku akan menyusulmu ke sana. Segera. Aku sudah mendapat tiket pesawat untuk sore ini. Kau bersabarlah.”

 

“Lutfi, ada satu hal yang ingin kubicarakan denganmu.” Aku berhenti sesaat. Sebelumnya aku sudah merangkai kata-kata yang perlu aku utarakan padamu, hanya saja kenapa semua kata-kata itu mendadak hilang dari kotak ingatanku? “Aku ... aku tak ingin kau menyusulku.”

 

“Hah?!” Kudengar nada kekecewaan terlontar dari mulutmu. “Tapi kenapa, Mal? Kita sudah rencanakan ini semua kan? Ini untuk masa depan kita.”

 

“Tidak!” Jawabku dengan intonasi suara yang meninggi tanpa kusadari. Aku yakin penumpang kereta di sekitarku dapat mendengar teriakanku barusan. Aku kembali menenangkan perasaanku dan mengatur nada suara sebelum melanjutkan. “Yang kita pertaruhkan di sini hanyalah masa depanku. Kau sama sekali tidak perlu terlibat dalam masalahku ini.”

 

“Tapi aku mencintaimu, Mal. Dan—“

 

“Tolong jangan katakan soal cinta padaku, Fi. Aku tidak ingin kau menikahiku hanya karena kau merasa kasihan padaku. Kau pantas mendapatkan perempuan yang lebih baik ... yang jauh lebih suci dariku.”

 

“Amalia, aku bukannya ingin mengasihani kamu. Aku benar-benar tulus men—“

 

“Sudah cukup, Fi!” Aku memotong kalimatmu dengan suara yang kembali meninggi. Kali ini aku sudah tidak peduli lagi dengan orang-orang di sekitarku. Aku bahkan sudah tidak bisa mengendalikan emosiku, terbukti dengan air mata yang mulai mengalir dari sudut mataku. Sesungguhnya berat untuk mengatakan ini, tapi ini semua demi kebaikan hidupmu, Lutfi. “Aku tidak mencintaimu. Aku sama sekali tidak pernah mencintaimu, Lutfi! Lagi pula, bukan kau yang harus bertanggung jawab atas apa yang ada di dalam rahimku ini.”

 

“Bukankah aku sudah mengatakannya berkali-kali, Mal? Aku tidak mempermasalahkan itu.” Aku heran denganmu. Di tengah pembicaraan seperti ini, kau masih terdengar sangat tenang sementara aku sudah merasa seperti manusia yang sangat rapuh. “Sudah, kau lupakan saja lelaki keparat itu dan menikahlah denganku. Kau tak perlu menanggung kebiadaban pria itu sendirian. Aku berjanji akan menjaga dan membahagiakanmu sepenuh hidupku.”

 

Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Aku tidak menduga kalau kau akan keras kepala seperti ini. Kau terlalu baik. Orang baik sepertimu tak pantas menikahi wanita penuh dosa sepertiku ini.

 

“Lutfi ....” Aku mencoba kembali bersuara, namun suaraku seperti tersangkut dan tak mau keluar. Berbicara sambil menangis bukanlah hal yang mudah. “Kalau kau ingin membahagiakanku, tinggalkanlah aku. Itu satu-satunya cara yang dapat membuat hatiku tenang.”

 

“Tapi ....”

 

“Oh iya, kalau tidak salah, perempuan yang mau dijodohkan denganmu itu terlihat baik. Kurasa kau cocok bila bersanding dengannya.” Jujur, lebih mudah membayangkanmu bersanding dengan perempuan yang dikenalkan orang tuamu itu ketimbang membayangkan kita yang berjalan beriringan.

 

“Amalia ... aku ....” Aku dapat mendengar nada kekecewaan dalam suaramu. Maafkan aku karena telah menyakiti perasaanmu. Tapi, ini semua memang tentang hidupku ... masa depanku, bukan tentangmu.

 

“Fi, sudah dulu ya. Aku mau tidur. Selamat tinggal.” Aku langsung menekan ikon berwarna merah pada layar ponselku, mematikannya, dan mengeluarkan sim card  dari dalam ponsel. Tanpa ragu, kupatahkan kartu telepon yang berukuran sangat kecil itu. Aku menyapu air mata yang sudah membanjiri pipiku sejak tadi dengan jari-jari tanganku. Rasanya lega sekali setelah menyampaikan semua itu. Aku pun menyandarkan kembali kepalaku pada sandaran kursi selagi menyilangkan tanganku di depan perut dan memandangi pemandangan di luar yang sejak tadi tak jauh berbeda. Mungkin, sekarang aku sudah dapat tidur dengan tenang sampai kereta ini tiba di stasiun tujuanku. Apa yang akan terjadi berikutnya biarlah dipikirkan nanti. Aku sudah lelah.

 

~ *** ~

Fin

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer danib3bz
danib3bz at Kisah di Sebuah Perjalanan (2 years 48 weeks ago)
40

lumayan menarik