Bebas

Aku ingin bertemu.
 
Kalimat pendek itulah yang kemudian muncul dalam pikiranku. Setelah semalam, setelah aku berteriak nyaring penuh kemarahan padamu, yang dapat aku ingat hanyalah punggung dinginmu berjalan menjauhiku. Ya, aku bersalah padamu saat itu. Kemarahanku menyebabkan dahimu terluka oleh pecahan gelas yang saat itu kulayangkan kearahmu. Aku ingat betul cairan merah yang kemudian mengalir dari dahimu menetes pada karpet kesayanganku. Dan aku juga ingat betul suara keras yang kau timbulkan akibat bantingan keras pada pintu rumah kita. Suara itu mengagetkanku dan menyadarkanku bahwa bisa saja ini adalah akhir dari semua rangka yang sudah kita bangun selama bertahun-tahun.
 
Aku tahu, kau menganggapku bodoh atas alasanku yang kemudian menjadi awal pertengkaran kita. Bagimu aku bodoh, ya mungkin aku memang bodoh, tapi persoalan ini menurutku adalah hal besar yang menumbuhkan kekhawatiran besar dalam hatiku. Pesan singkat yang ibumu kirimkan padamu mengusik keyakinanku.
 
‘…ceraikan Rina secepatnya. Ibu akan mempertemukanmu dengan perempuan pilihan ibu yang pasti bisa membahagiakanmu.’
 
Begitu pesan singkat yang dikirimkan ibumu padamu. Hatiku terasa seperti disayat pisau. Usahaku selama lima tahun ini ternyata sia-sia. Selama tujuh tahun kita menikah, memang belum pernah sedetikpun ada tanda hadirnya janin dalam rahimku dan aku tahu kau sudah lama mendambakan tangisan bayi dalam rumah kita. Aku pun begitu.
 
Apakah kau ingat suamiku? Memasuki tahun ketiga pernikahan kita, kita pergi ke tempat praktik spesialis kandungan untuk mencari kemungkinan yang menyebabkan kita belum bisa mendapatkan keturunan. Setelah hasil pemeriksaan keluar, kukatakan padamu bahwa dalam saluran telurku ada sumbatan yang menyebabkan terhambatnya proses pembuahan sehingga kita belum bisa memiliki anak. Aku memohon padamu untuk bersabar terhadapku. Kau tersenyum dan kemudian memelukku, mencium keningku, dan berkata ini semua jalan yang tuhan siapkan untuk kita berdua. Perlakuanmu saat itu menenangkanku.
 
Tiga tahun kita menghadapi keadaan itu, hingga pada akhir tahun kelima pernikahan kita, keluargamu berubah sikap terhadapku. Aku mencoba untuk terus bertahan dibawah tekanan keluargamu. Sampai pada puncaknya, tiga hari sebelum pertengkaran kita, tanpa sengaja aku membaca pesan singkat ibumu yang membuat keyakinanku mulai terusik.
 
Trigger terbesar yang meledakkan amarahku bukanlah pesan singkat ibumu, melainkan adegan yang kemudian kulihat setelah aku pulang berbelanja keperluan makan malammu. Kau, ibumu, dan seorang perempuan yang kutahu pernah menyukaimu tengah duduk melingkar di depan meja bundar kesukaan kita di kafe yang sering kita kunjungi. Mengobrol dengan akrab dan tampak intim. Ingin rasanya aku berlari menuju meja kalian, menarik tanganmu menjauh dari perempuan itu dan meng-klaim bahwa kau hanya milikku seorang. Akan tetapi rasa hormatku kepada ibumu-lah yang menahan langkahku. Aku kemudian berjalan gundah menuju rumah. Aku cemburu.
 
Amarahku meledak. Saat malam itu, kau tidak jujur padaku bahwa kau baru saja menemui perempuan pilihan ibumu. Aku menuduhmu bahwa kau akan membuangku. Aku menuduhmu bahwa kau lebih memihak pada ibumu. Aku menuduhmu bahwa kau akan melanggar janji suci kita saat kita menikah dulu. Aku menuduhmu bahwa kau sudah tak mencintaiku. Kau mencoba untuk menjelaskan dan menenangkanku, tapi kemudian aku lepas kendali saat kau tak sengaja menyenggol gelas kesayangan kita yang kita beli berdua hingga pecah berkeping-keping. Aku kemudian melukaimu.
 
Suara benturan keras pintu yang kau tutup saat itu menyadarkanku dari amarahku. Menyadarkanku bahwa aku akan kehilanganmu. Aku berpikir, tuhan sedang menghukumku karena aku telah berbohong padamu.
 
Aku ingin bertemu.
 
Aku berlari berusaha mengejarmu, berusaha mencari sosokmu, berusaha mencari punggungmu yang terakhir tadi kulihat. Aku sadar, aku sangat mencintaimu. Mungkin kau berbohong agar kau tak menyakitiku. Mungkin pertemuanmu dengan perempuan itu adalah bentuk penghormatanmu kepada ibumu. Mungkin kau benar-benar mencintaiku hingga kau terus bertindak sendiri tanpa melibatkanku untuk menyelesaikan permasalahan itu. Kau takut aku tersakiti, tapi aku menyakitimu.
 
Aku menemukanmu.
 
Kau sedang duduk di depan kafe kesayangan kita. Selembar kertas membentang di depanmu. Kau sedang sibuk dengan smart-phone milikmu, mencari kontak yang ingin kau hubungi. Kau tampak sangat lelah. Kemeja biru yang kau pakai tampak kusut. Kelopak matamu tampak menghitam akibat kurang tidur. Luka yang kusebabkan waktu itu sudah tak berdarah lagi, kini sudah berganti dengan scar halus yang nyaris tak tampak. Aku berjalan mendekatimu, saat itulah aku tahu kau sedang menelpon ibumu, karena saat aku sampai disampingmu aku dapat mendengarmu berbicara padanya.
 
“Ibu, ini aku. Maaf bu, aku tak bisa menuruti kemauan ibu. Aku tidak mau menikah dengan perempuan pilihan ibu. Aku sangat mencintai Rina, aku tak ingin mengkhianatinya. Lagipula, walaupun aku menikah dengan perempuan lain, aku mungkin tetap akan sulit memiliki anak. Akulah yang infertil bu, bukan Rina. Ini bukan salah Rina…”
 
Aku baru menyadarinya. Kertas yang berada didepanmu adalah laporan hasil pemeriksaan kita yang dulu kusembunyikan. Dalam laporan itu, tertulis bahwa kelainannya terletak pada hasil analisis spermamu, bukan pada saluran telurku. Aah, ternyata kau menemukannya.
 
“Maafkan aku Rina.” Katamu lirih setelah kau menutup telponmu.
 
Aku tersenyum. Kesedihan perlahan merambati hatiku. Kupeluk kau agar kau menyadari bahwa aku ada didekatmu, tapi kau tak menyadarinya. “Tidak ada yang perlu kumaafkan. Akulah yang bersalah karena tidak jujur padamu. Aku mencintaimu.” bisikku, berharap kau mendengarnya. Sudah jelas bagiku, bahwa kau benar-benar mencintaiku. Lima tahun kau bertahan bersamaku, padahal yang kau tahu saat itu akulah penyebab kita tak bisa memiliki anak. Jelas bagiku bahwa kau mencintaiku karena kau menolak perintah ibumu untuk menikah dengan perempuan lain. Seketika keraguan hatiku hilang. Hanya kesedihan yang tersisa.
 
Kau kemudian bangkit dan berjalan menembusku, berjalan perlahan meninggalkan kafe kenangan kita berdua. Ada sedikit penyesalan dalam hatiku karena kita harus berpisah saat kita bertengkar, tapi keraguan yang selama ini menahanku sudah tidak ada lagi. Kini, aku bisa meninggalkanmu dengan tenang.
 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at Bebas (47 weeks 6 days ago)
70

bagus, saya ga ngerasa perlu ngritik karya ini,
saya kira saya ini tipe orang yang kurang pandai mengomentari karya orang lain.
daripada nanti dikira sok pinter atau sok tahu, disini ga ada jump story nya ya??
haha,
mana karya terbaru nya??
posting lagi dong..
saya siap membacanya tanpa saran dan kritik tentang penulisan,
hehehehe
just reading..
keep writing!!!!

Writer Kuro_kaze@akiba
Kuro_kaze@akiba at Bebas (38 weeks 4 days ago)

Kritik dan koreksi yang membangun dan disampaikan dengan baik juga merupakan media pengembangan diri lho kak :)
Memang sengaja dibuat dengan flow yang halus kak, lebih kepada supaya pembaca dapat merasakan apa yang dirasakan tokoh di dalamnya. Well, saya masih perlu banyak belajar.
Karya selanjutnya sedang "on process" kak, agak lama sepertinya. hehe
Terima kasih banyak sudah menyempatkan untuk mampir dan membaca :)
Love xoxo

Writer ryandachna
ryandachna at Bebas (2 years 43 weeks ago)
80

Bagus ceritanya.

Kalo dipaksa ngritik mungkin paragraf pertamanya agak gimana gitu.

Writer Kuro_kaze@akiba
Kuro_kaze@akiba at Bebas (38 weeks 4 days ago)

Kritiknya sukarela kok kak, hehe.
Ada yang mengganjal kah di paragraf pertama kak?
Terima kasih sudah mampir dan menyempatkan untuk membaca.
Love xoxo

Writer Naomi Amaris
Naomi Amaris at Bebas (2 years 51 weeks ago)
90

Oalah, ternyata... Twistnya keren. Tadinya kukira mereka bakal baikan kembali. Penyampaian ceritanya bagus. Penyesalan memang selalu datang terlambat ya. Jadi kebawa ceritanya, hehe. Jangan lupa penulisan kata depannya, Kak.
.
Kearah, dibawah --> ke arah, di bawah.
Setahu saya (Maafkan kesoktahuan saya), 'arah' dan 'bawah' itu menunjukan tempat, jadi penggunaannya dengan 'ke' dan 'di' dipisah; diberi spasi.

Ehm, tidak bermaksud menggurui. :D Saya suka cerita kakak.

#Saya sebagai pemula yang masih harus banyak belajar,
salam kenal dan keep writing!

Writer Kuro_kaze@akiba
Kuro_kaze@akiba at Bebas (2 years 51 weeks ago)

Wah, Terima kasih sekali.
Senang kakak bisa mampir dan menyempatkan untuk membaca.
Ternyata masih banyak yang harus diperbaiki ya? Terima kasih sekali lagi atas koreksinya. Saya akan berusaha lebih baik selanjutnya.
Salam kenal juga, saya pun masih pemula, member lama yang selalu merasa sebagai newbie ;p
Terima kasih lagi :D
Love, xoxo

Writer danib3bz
danib3bz at Bebas (3 years 1 day ago)

lanjtin ceritanya menarik

Writer Kuro_kaze@akiba
Kuro_kaze@akiba at Bebas (2 years 51 weeks ago)

Terima kasih kak.
Terima kasih juga sudah mampir.
Love xoxo

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Bebas (3 years 2 days ago)
90

Jadi ... jadi ...
Oke, ini cukup keren. :)

Writer Kuro_kaze@akiba
Kuro_kaze@akiba at Bebas (2 years 51 weeks ago)

Waw, Terima kasih.
Saya tersanjung.
Love xoxo

Writer anggaady
anggaady at Bebas (3 years 3 days ago)
100

Bagus ceritanya

Writer Kuro_kaze@akiba
Kuro_kaze@akiba at Bebas (2 years 51 weeks ago)

Terima kasih kak.
Love xoxo

Writer anggaady
anggaady at Bebas (3 years 1 week ago)
90

Wah artikelnya bagus dan bermanfaat lanjutkan kawan buat ceritamu lebih menarik lagi

Writer Kuro_kaze@akiba
Kuro_kaze@akiba at Bebas (2 years 51 weeks ago)

Terima kasih.
Terima kasih juga sudah menyempatkan mampir.

Love xoxo