Kebetulan

Kamu percaya dengan pepatah bijak yang berkata kalau Tuhan sering bercanda dengan mendatangkan jodoh dari arah yang tak disangka-sangka?

 

Bagaimana dirimu memaknainya?

 

Mungkin, berbeda dengan cara Bambang memaknainya. Sesuatu yang tak disangka-sangka pasti merujuk pada sebuah kebetulan. Kebetulan berjumpa, kebetulan saling pandang, kebetulan saling jatuh cinta.

 

Dari sekian banyak skenario kebetulan, Bambang berusaha menjadi asisten sutradara yang baik bagi sutradara utama, dengan memilih tempat yang pas untuk peristiwa kebetulan itu. Bus antar kota Malang-Surabaya.

 

Tentu saja bukan tanpa alasan mengapa Bambang memilihnya. Bahkan, dengan sangat niat dia sudah membuatkan proposal alasan pemilihan lokasi secara lengkap dan detail. Dia berharap, sutradara utama akan merasa terbantu dengan kinerjanya sehingga proposal itu segera mendapatkan tanda tangan ACC.

 

Menurut Bambang yang pernah menempuh mata kuliah statistika di semester akhir perkuliahan sebelum skripsi, pertemuan dengan jodoh secara kebetulan di tempat umum memiliki peluang paling besar dibandingkan tempat lain. Dan kendaraan umum seperti bus kota memiliki peluang yang lebih terukur. Setidaknya, penumpang bus berkisar d angka 40. Karena ini bus antar kota Malang-Surabaya yang jarak tempuhnya bisa sampai 2 jam lebih, kemungkinan jumlah penumpang wanita akan lebih besar dari laki-lakinya. Kebanyakan, laki-laki lebih sering menempuh perjalanan antar kota dengan mengendarai kendaraan sendiri. 

 

Demi memuluskan skenario kebetulan itu, Bambang menambahkan dengan draft skenario pendukung. Seperti menaiki bus yang sama baik saat berangkat dari malang ke Surabaya, atau saat pulang dari Surabaya ke Malang. Bukan hanya itu, dia sengaja memesan bangku yang sama kepada kondektur agar setiap naik bus tersebut tidak berpindah-pindah lagi.

 

Seminggu pertama, masih belum membuahkan hasil. Kebetulan itu belum tiba. Terasa ganjil, tak satupun wanita duduk sebangku dengannya di dalam bus. Terkadang sendirian, ditemani kakek-kakek, remaja laki-laki, sampai lelaki paruh baya.

 

Bambang berusaha merubah strateginya. Dia meningkatkan intensitasnya naik bus. Yang tadinya hanya sekali pulang pergi menjadi lima kali atau bahkan lebih. Dari subuh hingga gelap.

 

Sudah ada sedikit peningkatan, meski hasilnya belum melegakan hati. Setidaknya sudah ada wanita yang pernah duduk sebangku dengan Bambang. Mulai dari nenek-nenek, sampai istri orang. Tak satupun dia sebangku dengan wanita sebaya ataupun lebih muda yang masih lajang.

 

Delapan bulan berjalan, Jodoh kebetulan itu belum ditemukan juga. Bambang memikirkan strategi lain. Mungkin ada waktu dimana dia tidak sedang berada di bangku bus yang biasa ia naiki, sementara jodoh yang ditunggu secara kebetulan itu duduk di sana. Bambang menuliskan sebuah surat cinta dan menyelipkan di sela-sela bangku, agar kelak jodoh itu bisa membacanya dan kemudian membalas surat cinta itu.

 

Keesokan hari, Bambang memeriksa sela bangku itu. Berharap suratnya telah terbalas.

 

Sayang, masih surat yang sama yang ia buat. Lalu, ia menyelipkan lagi di sela yang sama.

 

Dua hari setelah itu, masih sama. Belum ada balasan.

 

Hari ketiga, keempat, seminggu, sebulan, dua bulan, tiga bulan. Tetap saja, masih mengecewakan. Surat yang ia buat sampai tampak sudah mulai kusam.

 

Tapi Bambang masih bisa lebih sabar lagi. Keyakinannya masih teguh tentang jodoh yang dipertemukan Tuhan secara kebetulan dari arah yang tak disangka-sangak.

 

Hingga, di suatu pagi yang sudah turun gerimis meski di antara musim kemarau. Surat cinta Bambang akhirnya berbalas. Jemari Bambang gemetar saat mengambil surat balasan itu dari sela bangku yang sama. Penantiannya mulai ada titik terang.

 

Lalu, ketika surat balasan itu dibuka,

 

" Maaf Mas, Saya Anto dan mas-mas yang duduk di samping Saya namanya Wahyudi.

Mas Bambang mau kenalan sama yang mana? "

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at Kebetulan (16 weeks 3 days ago)
70

lumayan lucu tetapi tidak membuat tertawa terpingkal-pingkal alias lucu banget makanya lumayan lucu aja.

Writer Shinichi
Shinichi at Kebetulan (2 years 18 weeks ago)
50

Hmmmm...
Gimana ya. Menurut saya cerpen ini jelek secara komedi. Sisi "fun" enggak muncul. Penulis mungkin berharap pada endingnya, karenanya penulis mengupayakan narasi betapa tokoh utama mendambakan impiannya terwujud. Lantas, menjatuhkannya ke isu jenis kelamin sebagai poin komedi. Di satu sisi, itu enggak buruk dan umum dilakukan penulis, tapi rasanya itu untuk status facebook atau fiksi mini saja. Atau, bahan open mic. Saya tadinya berharap ini komedi yang sarat pada narasi, peristiwanya dari awal sampai akhir.
.
Btw, ada 3 typo yang mengganggu dalam penulisan. 1) Dikau masih menulis merubah alih-alih mengubah. Pemahamannya sila cari di Google. Ada banyak. 2) Partikel "pun". Setahuku, hanya ada 13 bentuk terikat "pun" yang ditulis serangkai. Lain dari itu, harus ditulis terpisah. 3) Penggunaan kata "di mana" di tengah kalimat. Menurut yang kubaca, bahasa Indonesia enggak menggunakan semodel itu. Bahasa Inggris, iya. Mereka pakai kata tanya di tengah kalimat meski bukan untuk bertanya, pada kasus ini "di mana" malah menjelaskan tempat/ waktu. Seharusnya, itu enggak bisa. Kita enggak pakai itu, tapi bisa diganti dengan kata "tempat, saat" dll, sampai mengubah pola kalimatnya.
.
Mohon maaf bila kurang berkenan.

Writer Nine
Nine at Kebetulan (2 years 21 weeks ago)
100

Ini lucu (^^) dan komedinya juga simpel. Nggak dipaksa-paksain dengan kejadian tertentu.
.
membacanya juga nyosor, nggak ngadat. Asik lah, keep writing!

Writer pecundang jalanan
pecundang jalanan at Kebetulan (2 years 22 weeks ago)
80

Tulisanya Rapi dan enak dibaca. Ceritanya menarik, keep writing!

Writer Suwoko
Suwoko at Kebetulan (2 years 23 weeks ago)
60

cerpen yang menarik, dan endingnya ituloh... bikin ngakak :v :v

Writer rirant
rirant at Kebetulan (2 years 23 weeks ago)
90

Endingnya bikin sakit perut haha. Anyways, niat banget mas Bambang ini ya~