Orang Ketiga

Tak biasa. Semua memikirkan dan menceritakan cerita-cerita pilu serta kisah-kisah sendu  mereka. Apakah tak ada manusia yang bahagia?

Tak seberapa memang. Efeknya tak seberapa selain penerimaan yang dipaksakan. Dan itu bukanlah apa  yang disebut sebagai keterbukaan. Dunia memang mutlak dipenuhi kepiluan, sangat menekan, namun bukan alasan untuk tak mendapatkan sesuatu yang membahagiakan. Aku yakin, yang diharapkan Tuhan bukanlah sekedar penerimaan dari segala kesulitan, kesakitan dan kegetiran tetapi juga penghayatan untuk menikmati keadaan guna mencapai kedewasaan.

Hari-hariku kujalani dengan biasa hingga anak kecil itu tiba-tiba ada. Sejak saat itu, kujalani hari-hariku dengan tak biasa.

"Pergi, sana. Pergilah." Kataku.

"Om, tolong, Om. Kesasar Om." Katanya.

"Minta tolonglah kepada orang yang bisa memberikan pertolongan. Jangan padaku yang membutuhkan pertolongan. Untuk menolong diriku saja tidak bisa, bagaimana aku bisa menolongmu?"

Aku bersikap acuh dan ia tetap bersikukuh. Akhirnya kuminta ia menolongku terlebih dahulu baru aku menolongnya. Sebulan dijalanan meminta belas kasihan.

"Terkumpul cukup banyak karena ada kamu, ini untuk biaya aku pulang kampung dan mengantarmu pulang. Alamat rumahmu sudah kutulis dan kusimpan dengan baik. Sekarang mari kita pulang." Kataku pada anak itu.

Tak disangka banyak orang berseragam coklat dan semua diluar kendali.

Dituduh penculik anak bukanlah keinginan, ternyata itu yang harus kuterima dan aku tertawakan ketika kusadari mereka salah paham. Sehari mendekam.

Semua menjadi jelas berdasarkan pengakuan anak kecil itu. Hari-harinya bersamaku penuh dengan hal-hal yang bisa ditertawakan.

Aku ditawari bekerja dirumah orang tua anak itu. Melakukan segala sesuatu yang bisa dikerjakan. Raka, anak kecil itu, senang bersamaku. Padahal aku penuh kebodohan, orang dungu menurutku. Sepertinya begitu. Aku merendahkan diriku serendah-rendahnya. Rendah diri dalam kedunguan daripada merasa jadi orang rendah hati.

Bu Yuni dan pak Aris awalnya baik-baik saja sampai pak Aris mengetahui anaknya makan dengan lauk ikan asin. Marah, itulah yang terjadi. "Anak dikasih makan ika asin, kalau kena gizi buruk gimana?!!"

Bu yuni membelaku selalu dan itu karena cerita-cerita lucu selama sebulan kala Raka dijalanan bersamaku. Perlu diketahui jika bukan karena kalung yang Raka pakai tak akan dikenali. Kucel, gimbal, jarang mandi, bau, kotor dan sedikit legam. Sangat legam sebenarnya.

Pak Aris cemburu besar karena cintanya yang begitu besar. Terkadang sangat kasar dan memperlakukanku dengan tidak benar.

"Kau meninggalkan Afifah untuknya padahal ia sangat mencintaimu." Kataku suatu ketika saat bu Yuni tidak ada.

Aku bercerita banyak dan pak Aris terheran-heran. Bagaimana aku bisa tahu banyak hal tentang masa lalu mereka. Dan pada akhirnya aku hanya diam seribu bahasa dan pergi tanpa diketahui mereka.

Pada suatu ketika bu Yuni menemukanku dijalanan. Suaminya bercerita tentang apa yang kuketahui tentang masa lalu mereka dan sebab itulah ia mencariku dan menemukanku. Aku sedikit berkata padanya, "aku sedang bermimpi, tak berniat apapun tentang itu dan ini." Sebuah remot tv kutunjukkan padanya. Remot tv ajaib. Aku masuk kedalam sinetron. Kujelaskan padanya dan aku mendapat sebuah tanda tangan sebagai kenangan dan aku terbangun setelah dipukuli pak Aris yang tiba-tiba datang dan mengira aku selingkuh dengan bu Yuni.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post