Panggilan Darurat

Brrrttt! Brrrttt!

 

Kau mengangkat sebelah alis sembari mengalihkan pandanganmu dari layar komputer ke ponsel yang bergetar hebat di atas meja. Sebuah panggilan telepon. Kau meraih ponselmu itu lalu menyandarkan punggungmu pada sandaran kursi. Dorongan tubuhmu membuat kursi itu sedikit bergoyang dan menggulirkan keempat roda di bawahnya, membawamu dan kursi yang kaududuki sedikit menjauh dari meja.

 

“Halo?” katamu, membuka pembicaraan. Biasanya setelah kau mengucapkan kata sapaan, orang yang berada di seberang jaringan telepon akan segera membalas. Namun, kali ini kau tidak mendengar sepatah kata pun setelah menunggu beberapa saat. Sebaliknya, kau malah dapat mendengar sejumlah suara bising yang tidak begitu jelas dari ujung panggilan. Beberapa saat setelah itu, suara bising itu mereda dan berganti dengan suara napas yang terengah-engah.

 

“Erika?”

 

Akhirnya suara yang tak asing itu terdengar di telingamu. Hanya saja, suara itu terdengar begitu pelan dan tak bersemangat. Sepuluh tahun sudah kau mengenali pria yang meneleponmu ini ... sepuluh tahun juga kau hafal gelagat yang dimilikinya. Mendadak kau merasa sedikit tidak nyaman. Tanpa basa-basi, kau pun bertanya, “Kau terdengar aneh. Ada masalah apa?”

 

“Ada yang ingin kubicarakan.”

 

Sejenak, ia memberi jeda dengan helaan napas panjang sebelum memberi penegasan dengan kata “penting.” Mengingat kelakuannya sehari-hari yang begitu santai dan sering berkelakar, rasa-rasanya baru kali ini kau mendengar ia berkata dengan nada serius seperti itu. Ia kemudian memintamu untuk datang ke sebuah alamat.

 

“Memangnya tidak bisa kausampaikan lewat telepon saja? Apa kau tidak lihat berita di televisi?” Kau beranjak dari kursimu, meraih kacamata yang tergeletak di atas meja, dan kemudian berdiri menghadap layar televisi datar berukuran 32 inci yang tertanam di dinding, menampilkan seorang reporter wanita yang tengah membicarakan entah apa. Meski kau tidak dapat fokus pada apa yang dibicarakan wanita itu, kau dapat membaca kalimat “Berbahaya! Tetaplah berada di dalam rumah!” yang ditulis dengan huruf kapital dan dicetak tebal pada bagian bawah layar televisi.

 

“Tidak. Lagi pula, ada yang sesuatu yang ingin kuberikan juga.”

 

Kau berdiam dalam kebimbangan. Matamu secara bergantian memandang ke arah komputer, televisi, dan jendela. Sebenarnya masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Ditambah pemberitaan di semua kanal televisi meminta kepada para warga untuk tidak keluar rumah, mempertegas alasanmu untuk menolak permintaan misterius itu.

 

“Jadi, kau bisa datang kan?”

 

Kau melangkah ke pinggir jendela dan memandang ke arah alamat yang ia berikan. Dari jendela apartemenmu yang berada di lantai lima belas kau bisa melihat alun-alun sepi yang ia sebutkan tadi. Setidaknya lampu-lampu di sekitar alun-alun itu masih menyala terang. Lagi pula tempatnya tidak terlalu jauh dari apartemenmu.

 

“Baiklah, aku akan segera ke sana.” Setelah mendengar helaan napas yang terdengar ringan dari seberang telepon, sambungan komunikasimu terputus. Kau pun terdiam dalam lamunan, bergulat dengan kepentingan pekerjaan dan juga pertanyaan-pertanyaan yang mulai bermunculan di kepalamu.

 

Setelah membulatkan keyakinan, kau pun bergegas meraih jaket tebal yang tersampir di dekat pintu keluar, memakainya, dan memasukkan beberapa barang yang berada di atas meja kerjamu ke dalam kantong-kantong di bagian dalam jaket.

 

Semoga saja ia tidak sedang bercanda.

 

~ *** ~

 

Kau berjalan menyusuri sebuah jalan raya yang berada di seberang alun-alun yang kaulihat lima belas menit yang lalu dari jendela apartemenmu. Selagi berjalan, kau mengutuk diri sendiri dan berandai-andai dapat memutar kembali waktu ke lima belas menit yang lalu lantaran pergi terburu-buru dan tidak sempat mengenakan lapisan pakaian tambahan yang dapat menghalau dinginnya udara malam ini. Paling tidak seharusnya tadi kau sempat menyambar penutup kepala yang tergantung di balik pintu kamar karena rambutmu ini tak cukup panjang untuk dapat menghangatkan telinga dan juga lehermu. Sekarang ini kau hanya bisa menutup erat ritsleting jaketmu hingga menutupi leher dan menyimpan kedua tangan di balik saku jaket. Semoga saja tidak turun salju, kau membatin.

 

Sekitar tiga puluh meter di depan, kau menemukan pelang kayu yang diukir menyerupai bentuk ikan yang tergantung di atas pintu. Sebuah toko yang sudah lama ditinggalkan. Kira-kira begitulah kesimpulan yang dapat kauambil setelah melihat kondisi di sekitar tempat itu. Dari tempatmu berdiri, kau menyisir pandang ke sekeliling. Tidak ada orang yang kautemui, meski lampu penerangan jalan masih dalam kondisi yang utuh dan menyala. Padahal, biasanya di jam-jam sekarang ini seharusnya masih banyak orang yang berlalu lalang di jalan ini. Tampaknya malam ini orang-orang mengikuti apa yang disarankan oleh pemberitaan di televisi. Lantas, mengapa Markus memintamu untuk datang ke tempat seperti ini? Kenapa ia tidak datang langsung saja ke tempat tinggalmu jika apa yang ingin disampaikannya begitu penting? Meski di kepalamu masih terdapat banyak keraguan, namun sebagian lain dari dirimu berkata lain dan memerintahkan tubuhmu untuk mengetuk pintu toko itu.

 

“Markus?” Kau tidak mendengar jawaban. Kau mengetuk pintu itu sekali lagi. “Markus, ini aku, Erika.” Tak lama, pintu itu pun terbuka. Dari balik pintu, kau disambut oleh seorang pria yang mengenakan pakaian aneh dan lusuh serta helm yang setengah rusak menutupi kepalanya secara penuh. Sangat berbeda dari sosok yang bakal kautemui di bayanganmu sebelumnya.

 

“Akhirnya kau datang juga, Erika,” kata Markus dengan helaan napas yang mengisyaratkan perasaan lega dan tenang. Kau yakin benar pria itu adalah Markus karena kau dapat melihat sebagian mata dan bibirnya dari bagian helm yang rusak.

 

Kau berjalan mengikuti Markus yang menggiringmu masuk ke dalam bangunan toko dan menutup pintu itu. Lunglai, Markus bersandar pada tembok dan menjatuhkan badannya ke lantai. Ia kemudian melepaskan helm yang dikenakannya dan meletakkannya di samping. Dengan bantuan sedikit cahaya yang menerobos masuk melalui jendela toko, kau dapat melihat—meski tidak begitu jelas—bercak hitam di beberapa bagian tubuhnya, menodai pakaian berwarna dominan merah yang melindungi sekujur tubuhnya. Ya, pakaian merah yang sama dengan salah satu figur yang sering mewarnai pemberitaan di televisi dan jagat dunia maya. Kau sempat kehabisan kosakata, entah karena melihat Markus yang terlihat membutuhkan pertolongan tenaga medis, atau karena munculnya beberapa pertanyaan-pertanyaan baru di kepalamu.

 

“Apa yang terjadi padamu?” kau bertanya selagi duduk bersimpuh dan memeriksa luka yang terdapat di tubuh Markus. “Lagian, bisa-bisanya kau bermain cosplay di tengah situasi genting seperti ini.”

 

Meski kondisi Markus terlihat begitu mengkhawatirkan, kau masih dapat melihat tawa renyahnya yang khas itu di wajahnya. “Sayangnya, ini kostum sungguhan, Erika. Akulah si Bahadur Merah.”

 

Bahadur. Kau bisa saja menanyakan setiap orang di kota ini dan kau tidak akan menemukan satu orang pun yang tidak mengenal sebutan yang sering muncul dan meramaikan dunia pertelevisian dan internet setengah tahun belakangan ini. Sekelompok pahlawan super yang secara misterius muncul di kota ini, membantu pihak kepolisian dalam melindungi kota dari ancaman kriminalitas, persis seperti serial aksi yang pernah kautonton di masa kecilmu dulu. Namun, mana pernah terpikirkan olehmu jika sahabat yang sudah sangat lama kaukenal ini merupakan salah satu dari pahlawan yang terkenal itu, bahkan menjadi pemimpinnya! Kau berdiam cukup lama dalam posisi bersandar pada salah satu kaki meja, berusaha memproses semua informasi baru yang diceritakan Markus sambil memainkan kacamatamu di tangan—sesekali menggigiti ujung pegangannya.

 

“Aku memintamu datang ke sini bukan hanya untuk mengenalkan identitas rahasiaku.” Markus menjulurkan sebuah USB flash drive dari salah satu kantong kecil di pinggangnya. “Ini adalah virus untuk mematikan jaringan Mastermind. Kalau virus ini ditanamkan ke dalam server utama Mastermind yang berada di Gunung Silver, semua mesin-mesin pembunuh yang ia kendalikan itu akan mati.

 

“Aku kehilangan kontak dengan keempat Bahadur lainnya satu jam yang lalu. Kupikir dengan berpencar kami dapat mengelabui mesin-mesin itu, tapi aku salah.” Kau mengerti benar apa yang Markus maksudkan barusan dari nada suaranya yang sedikit bergetar dan memberat. Kalau saja ada penerangan yang cukup, mungkin kau dapat melihat air mata yang bercampur dengan keringat di wajahnya. Markus pun melanjutkan, “Dengan kondisiku yang sekarang ini, aku tidak mungkin sampai di Gunung Silver atau kembali ke markas utama untuk menyusun siasat baru bersama dengan pasukan militer yang tersisa. Sudah tidak ada lagi bala bantuan yang dapat menolongku. Hanya kau yang bisa kupercayai dengan benda ini sekarang. Dengan segala ilmu komputerisasi dan peretasanmu, aku yakin kau bisa melakukan sesuatu dengan benda ini.”

 

Kau meraih benda itu dari tangan Markus seraya berkata, “Kau yakin tidak salah orang? Aku tidak yakin bisa melakukannya.”

 

Markus menepuk pundak kirimu dengan tangan kanannya selagi kedua bola matanya memandang lurus ke arahmu. Tatapan itu begitu dalam dan mengunci penuh perhatianmu. Mendadak jantungmu berdegup lebih cepat dari biasanya. “Apa aku pernah melihatmu menyerah dalam mengerjakan sesuatu? Keras kepala, penuh tanggung jawab, meski kadang kesulitan mengontrol amarah. Aku tidak mungkin salah menilai kemampuanmu, apalagi salah karena telah menaruh hati padamu selama ini.”

 

Eh?

 

Sebuah debaran keras menghantam jantungmu untuk beberapa saat, melumpuhkan kemampuanmu untuk berpikir. Bukannya kau tidak pernah menduga apa yang barusan diutarakan oleh Markus, hanya saja ... saat ini bukanlah waktu yang tepat.

 

Markus memejamkan matanya sesaat sembari menghela napas panjang. Ia kembali menatap lurus ke matamu, tapi dengan sorot mata yang berbeda. “Kalau kau pergi ke sana dengan sembunyi-sembunyi, aku yakin kau bisa melakukannya. Lagi pula, sepertinya sang Mastermind belum mengetahui rencana utama kami, jadi kau punya kesempatan yang lebih besar untuk melaksanakan misi ini.”

 

“Tapi ... aku benar-benar tidak bisa,” katamu sembari memakai kembali kacamata yang sejak tadi berada di tanganmu, menyembunyikan cairan yang sejak tadi berusaha tumpah dari kantung air matamu.

 

Bertepatan dengan itu, sebuah suara letusan keras terdengar. Perabotan di kalian berdua tiba-tiba terhempas ke satu arah yang sama dan meninggalkan partikel-partikel debu yang memenuhi seisi ruangan. Kau dan Markus menoleh ke arah yang sama, di mana jendela yang berada tepat di samping pintu masuk sudah berganti menjadi lubang yang besar dan sesosok manusia besi yang tinggi besar muncul di sana.

 

“Erika, Cepatlah lari dari sini!”

 

Dengan cepat, Markus sudah berdiri menghalangi manusia besi itu dari pandanganmu. Melihat luka yang berada di kaki kiri Markus, kau yakin tidak mudah baginya untuk membentuk kuda-kuda seperti itu. Markus berjalan ke arah jalan raya dengan gontai sembari menembaki bagian kepala manusia besi itu dengan sebuah pistol yang termaterialisasi begitu saja di tangan kanannya, berusaha mengalihkan perhatian mesin besar—robot—di hadapannya.

 

Tembakan yang dilontarkan Markus nyatanya tidak memberikan dampak yang begitu berarti pada lapisan logam yang membentuk tubuh robot itu. Tapi setidaknya perhatian robot itu kini sudah terpusat pada Markus. Robot itu mengubah kuda-kudanya. Ia membuka telapak tangan besinya ke arah Markus dan seketika itu pula cahaya yang menyilaukan berkumpul di sana. Dengan sigap Markus melemparkan pistolnya ke udara yang kemudian berubah bentuk menjadi sebuah perisai besar. Ia menancapkan perisai itu di tanah lalu bertekuk lutut di baliknya. Perisai itu berhasil menghalau pancaran energi yang dilontarkan si robot, namun perisai itu tidak cukup kuat untuk menahan terjangan pedang besi berlapiskan kobaran api tipis—yang terbentuk dan menyatu dengan tangan kiri robot itu—yang menyusul begitu cepat sehingga Markus tak memiliki cukup waktu untuk menghindar dan harus menerima tusukan telak di perutnya.

 

Setelah melihat kejadian yang berlangsung cukup singkat itu, kau berjalan pelan menghampiri Markus yang masih tertancap oleh tangan—pedang—mesin pembunuh di hadapannya.

 

“Erika ... jangan mendekat. Cepatlah ... lari!” pinta Markus dengan bersusah payah. Kau dapat melihat sorot mata penuh harap darinya selagi robot itu tidak bergerak sama sekali. Tapi, bukannya mengikuti apa yang diminta Markus, kau malah terus berjalan menghampirinya, masih dengan mata yang sembap.

 

“Kenapa?” Kau mengelap sisa-sisa air mata yang menggenang di ujung mata dan pipi dengan lengan jaketmu. “Kenapa harus kau—Markus!—yang menjadi Bahadur Merah?! Kenapa harus kau yang menghalangi semua rencanaku dan bukan orang lain?!”

 

Sekilas, kau dapat melihat ekspresi kebingungan dari raut wajah Markus meski ia tidak sanggup berkata apa-apa lagi dalam kondisi seperti itu.

 

“Sesungguhnya aku tidak ingin semua berakhir seperti ini, tapi maafkan aku .... Aku tidak bisa menjalankan misimu itu. Terlalu berbahaya.”

 

Kau membanting flash drive di tanganmu itu ke tanah lalu menginjaknya berkali-kali hingga hancur berkeping-keping. Meski sekarang persona lain yang kaupunya juga telah terbongkar, tapi anehnya kau tidak merasakan aura kebencian dari Markus. Ia malah meninggalkan senyuman tipis yang diikuti dengan kedipan mata terakhir. Pusing karena tak sanggup membaca respons aneh itu, kau mengetuk pinggiran kacamatamu dua kali. Robot di sampingmu itu mencabut tangannya yang menghunjam Markus dan kemudian berjalan pelan di belakangmu, mengikuti irama langkahmu. Beberapa minggu belakangan memang merupakan hari-hari tersibuk yang kaualami, tapi setidaknya untuk malam ini kau bisa tidur dengan tenang mengingat rintangan terbesar di hadapanmu telah sirna. Tapi, siapa sangka pekerjaan ini dapat lebih cepat diselesaikan di luar rumah?

 

~ *** ~

Fin

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Panggilan Darurat (27 weeks 4 days ago)
70

wah, akhirannya mengejutkan. kasihan Markus. cuma sayang kurang terjelaskan cerita latarnya gimana.

Writer nusantara
nusantara at Panggilan Darurat (32 weeks 5 days ago)
60

wah, super hero itu di indonesia kurang digemari, buktinya ga ada tokoh super hero indonesia yang membahana dari sabang sampai merauke,
bagus lah bikin cerita begini,
apa bisa saingan sama marvel dan dc? hehe
ah, ngomong melantur lagi saya ini,
tar bikin cerpen cerpen super hero lokal lah biar banyak,
saya nanti bikin the gatot-kacaman, aduh, namanya kepanjangan. GKman. ya, GKman aja.
dulu ada gundala,

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Panggilan Darurat (32 weeks 5 days ago)

Dulu jaman ada Saras 008 sama Panji Manusia Milenium cukup terkenal kok. Cuman ya ga pas kalau dibandingin sama Marvel atau DC yang udah mengglobal dan berumur lebih dari 50 tahun itu.
Hehehehe...