Bagian I. Fazaha, SP Alternatif: Risky (Mengerjai ABG~!)

Jemari lentik Ocha menjalin dasi di seputar kerah kemeja Risky. Setelah simpul dasi terpasang rapi, Ocha mengembalikan kerah pada posisi semula lalu menepuk-nepuk bagian atas dada Risky. “Udah,” ia tersenyum.

Risky merasa bergetar oleh setiap tepukan itu. Ia menatap Ocha haru. Senyum Ocha padanya melebar.

Risky masih sulit memercayai momen yang dinantikan ini telah terwujud. Ia melepaskan pandang dari Ocha dan mengedarkannya ke seantero ruangan, tanpa meluputkan pemandangan di balik jendela. Istri yang cantik, rumah yang meski tidak besar namun tidak terlalu kecil berikut perabotnya, halaman yang paling tidak dapat menampung beberapa pot tanaman hias, serta mobil cicilan sendiri yang menanti di balik jendela—semua-muanya ia tebus dengan jerih payahnya bertahun-tahun menjadi romusa di perusahaan Jepang.

Risky kembali memandang Ocha. Setiap hari, setiap pagi, sejak yang terasa selamanya dari permulaan zaman, terasa berat baginya untuk meninggalkan dia biarpun hanya sampai petang—malam, kalau tidak dikerjai Shigeo dulu. Tetapi, inilah perjuangan berat yang harus ia lalui untuk memperoleh semua ini hingga mempertahankannya.

“Aku pergi dulu, sayang.” Risky mengecup buku-buku jari Ocha.

Ganbatte,” sahut Ocha dengan suaranya yang mungil menggairahkan.

Risky merasa semakin berat.

“Sebentar aja, ya …?” ucapnya sarat isyarat.

“Nanti kamu telat.” Ocha melepaskan tangannya dari tangan Risky dan menata lagi dasi yang sudah tertata.

“Sebentar … aja …” Risky mendekatkan mulutnya ke telinga Ocha dengan bisikan. Ocha balas mendorong dadanya dengan manja. Namun Risky mendesak. “Tiga menit.”

“Emang cukup tiga menit?”

“Tiga belas menit.”

“Nanti kalau telat gimana …” Ocha memilin-milin kancing kemeja Risky dengan lirikan ke atas yang mengundang.

“Makanya jangan buang-buang waktu—“ Risky mengangkat Ocha yang sontak berteriak. Ia memanggul dan membawa lari istrinya ke kamar tidur.

“Kiki …!” Ocha memukuli punggung Risky yang kemudian mengempaskannya ke tempat tidur.

“Hayo, mau ke mana …?” goda Risky sementara mengepung Ocha dari atas. Ocha mendorong dada Risky. Dengan sukarela Risky bergulir dan membiarkan Ocha merayap ke bagian bawah tubuhnya. Dalam posisi itulah ia melihat pintu kamar belum ditutup.

Terlambat. Muncul seorang anak berseragam SMP yang menggendong ransel. Anak itu mengulurkan tangan. “Jajan!”

Risky terheran-heran. Bukankah ceritanya ia dan Ocha masih pengantin baru? Bagaimana mungkin mereka sudah ada anak lagi? Anaknya sebesar si Ian pula! Dan, memang anak itu menyerupai adiknya. Ia sendiri mirip dengan adiknya. Jadi wajar kalau ia punya anak yang menyerupai adiknya. Tetapi—

Anak itu mendekat hingga mukanya berada tepat di atas muka Risky.

Risky menggeragap.

“Bangun, Kak.”

Risky mengembuskan napas keras-keras lalu membalikkan badan hendak melanjutkan tidur.

“Bangun, Kak, kata Mama, salat!”

Risky tidak menyahut. Matanya terpejam dan ia hendak meraih sisa lelap untuk kembali memasuki dunia mimpi.

“Kak ….”

“Kak ….”

“Kak ….”

Risky melempar selimut. Adiknya menyingkir ketika ia bangkit dan duduk di sisi tempat tidur.

Beberapa waktu lalu ketika ia baru bekerja di Karawang, pulang ke Bandung tiap akhir pekan—kalau berhasil kabur—dan hanya ingin beristirahat penuh di kamarnya sendiri yang lega dan nyaman, Risky sudah memberikan pengertian kepada adiknya.

Saat itu ia terbangun oleh adiknya yang pagi-pagi sudah meloncat di atas karpet permainan Dance Dance Revolution dengan volume disetel keras-keras—di seberang tempat tidurnya. Memang segala gim sengaja ditaruh di kamar Risky dan tidak boleh dipindahkan ke kamar adiknya, meskipun ia sendiri sudah jarang menggunakannya—di samping karena kehendaknya, memang itu juga kebijakan orang tua mereka.

“Dek,” kata Risky waktu itu, “Dalam seminggu ada tujuh hari. Lima harinya Kakak kerja enggak sempat tidur. Jadi Kakak butuh sehariii … aja buat istirahat. Adek mainnya nanti aja, ya?” Risky mengucapkannya dengan selembut mungkin.

“Masak Kakak enggak sempat tidur?”

Tentu saja sempat, tetapi hanya nabi dan pecandu ekstasi yang tahan tidur tiga-empat jam sehari.

“Enggak.”

“Kakak enggak usah kerja aja.”

“Enak aja.”

Risky menendangi bujur adiknya sampai anak itu keluar dari kamar. Lalu ia mengunci pintu.

Sekarang ia hendak mengulang pengertian itu, namun adiknya memotong, “Sekarang udah Minggu, Kak.”

“Heh?”

Risky meraih ponsel di atas kotak di samping tempat tidur. Terbaca “Sun” pada layar yang mengingatkan dia pada sun yang lain, yang luput dia peroleh dari Ocha barusan. Sudah hampir pukul sebelas pula: Dragon Ball sudah lewat. Tinggal “Flame of Love” dari Sweet Velvet, soundtrack Monster Farm di SCTV yang mengalun sendu memperingatkan bahwa akhir pekan akan berakhir setengah hari lagi.

Risky melirik adiknya dengan curiga, memikirkan kemungkinan anak itu telah mengeset kalender di ponselnya sementara ia lelap tadi. Anak itu balas memandangnya dengan polos.

Risky menendangi bujur adiknya sampai keluar dari kamar, namun kali ini ia ikut turun dan memasuki dapur.

Setelah mengisi gelas dengan air dispenser, Risky mendekati ibunya yang tengah menggoreng. “Ma,” tegurnya, sembari menyalami.

“Baru bangun, Iki?”

“Iya,” sahut Risky sembari mencomot tempe yang telah tiris.

“Tadi udah salat subuh belum?”

“Udah belum, ya …” Risky duduk di kursi makan sembari mulai mengunyah tempenya dan mengangkat sebelah kaki.

“Kerja itu penting, pulang boleh, tapi kalau sampai kecapaian, enggak sempat salat—”

Setelah menghabiskan tempenya, Risky mengambil piring kecil. Ia menaruh beberapa potong tempe di piring itu, mengisi ulang gelasnya, dan meninggalkan ceramah Mama.

Di kamar, sembari duduk dengan mengangkat sebelah kaki dan mengunyah tempe, Risky mengambil ponsel. Ia menghubungi nomor Ocha. Nada tunggunya cukup lama.

“Halo …” suara parau Ocha.

“Cha sayang …” panggil Risky.

“Hm …?”

“Masih tidur, ya?”

“ … iya.”

Risky membayangkan Ocha dengan rambut semrawut dan mata rapat oleh belek.

“Aku juga. Aku mimpiin kamu lo.”

“Mimpi apa?”

“Cerita enggak, ya ….” Kepala Risky berputar ke belakang. Ia mendapati adiknya duduk bersila di karpet memandangi dia. Kepala Risky menghadap ke arah semula. “Entar sekalian balik aku mampir ke kosan,” lanjutnya.

“Hm.”

“Jangan lupa sarapan.”

“Ya.”

“Pop Mie masih ada enggak?”

“Hm …. Ada susu.”

“Kamu atuh ke sini. Mama goreng tempe. Enak lo. Bumbunya enggak tahu pakai apaan, tapi rasanya enggak kayak tempe.”

“Hah?”

Sepertinya separuh nyawa Ocha masih terbenam di alam lain.

“Entar kira-kira tiga jam lagi aku ke sana.”

“Ya.”

“Dah Ocha.”

“Dah.”

Setelah meletakkan ponsel di meja, Risky membalik badan menghadap adiknya. “Apa?”

Adiknya tersenyum lebar kemudian berdiri sembari menyerahkan sebuah map plastik kuning dengan pengancing bertali.

“Apaan nih?”

“Buka dong, biar tahu.”

Risky memutar tali yang mengunci map itu kemudian mengeluarkan setumpuk kertas. Risky membuka beberapa halaman. Rupanya itu draf komik. Semuanya masih berupa guratan pensil, belum ditebalkan oleh tinta. Meskipun tulisan tangan di balon-balon suaranya berupa cakar ayam yang Risky malas memecahkannya, namun kualitas gambarnya sendiri cukup halus lagi mantap. Yang menggambar mestilah telah melalui bertahun-tahun melatih goresannya.

“Buatan kamu?”

Adiknya mengangguk diiringi dengan senyum.

“Udah suka bohong, ya …” ucap Risky dengan nada memuji.

“Hehehe,” adiknya menyengir, “gimana, Kak?”

“Bagus,” ujar Risky, tanpa jelas memuji komik itu atau kebohongan adiknya, sembari mengamat-amati gambar komik itu sekali lagi dari halaman pertama sampai terakhir. Risky membereskan lembaran itu, memasukkannya ke map, menguncinya, dan mengembalikannya kepada adiknya. “Buatan siapa?”

“Teman aku.”

“Cewek, ya?”

Adiknya menyengir lebar-lebar dengan tersipu-sipu yang mencurigakan. “Kakak kok tahu?”

“Kelihatan lah, shoujo.”

Risky mengeluarkan laptop dari ransel kemudian menyalakannya. Ia membuka beberapa fail: pekerjaan kilat sebelum kembali ke Karawang via kos Ocha.

Beberapa saat kemudian ia menyadari adiknya masih berdiri di sampingnya, memandangi dia.

“Apa?” Risky menoleh.

Adiknya menggeleng disertai tersipu-sipu lagi, “enggak,” dan berlalu dari pandangan Risky.

Setelah merasa cukup dengan pekerjaannya, apalagi azan zuhur telah lewat, Risky mematikan laptop. Ia menoleh ke belakang. Adiknya menelungkup di karpet, sedang asyik mencoreti salah satu halaman komik yang diperlihatkannya tadi. Sesekali anak itu mengganti pensilnya dengan penghapus, kemudian menggambar lagi.

Risky mendekat dan memerhatikan perubahan yang dibuat adiknya pada komik itu.

“Emang boleh?” tegur Risky.

“He-eh. Orangnya minta dibenerin kok.”

Risky mengerutkan kening. Apanya yang dibenerin? Yang terlihat malah sebaliknya.

Tetapi Risky harus bergegas supaya tersedia banyak waktu untuk Ocha. Ia menjambret handuk dan meninggalkan adiknya.

Read previous post:  
16
points
(2410 words) posted by d.a.y.e.u.h. 23 weeks 1 day ago
53.3333
Tags: Cerita | Novel | kehidupan | minimalis | pemanasan | slice of life
Read next post:  
100

EH, DAYEUH..
MBA DAYEUH ATAU TEH DAYEUH?
PASWORD SAYA KAN INDONESIA, JADI BIAR GA DIGANTI SAMA ORANG LAIN, CEKIN YA BIAR GA DIGANTI SAMA HACKER,
KAN BISA JADI ORANG LAIN ONLINE TANPA SEPENGETAHUAN SAYA.
nusantara paswoed indonesia itu sudah diketahui banyak orang.
kamu juga bisa buka nusantara, paSswordnya indonesia.

masnya waras? udah ngobrol sama psikolog?

80

Jadi sekarang, sudut pandangnya berasal dari 'kak Iky' ya?
Just step back for awhile Alfian. Hahaha :D
Di bagian kak Iky dan teh Ocha on their 'swift moment' bikin saya deg-degan. Ini termasuk tulisan yang berani karena saya selalu berpikir dua kali untuk membuat tulisan seperti ini.
Please, that's a full compliment for you :)
Yang bikin saya penasaran, judulnya mengarahkan pada satu nama (Fazaha) tetapi sejak tulisan yang pertama dan kedua ini belum ada cerita dengan sudut pandang Fazaha. Saya benar-benar kepo soal Fazaha ini dan bagaimana jalan pikirannya.
Akan saya tunggu terus kelanjutannya.
Keep going! Keep writing!
Love xoxo

hai, terima kasih sudah datang lagi, membaca dan meninggalkan jejak :D
karena sebenarnya bagian ini mau ditulis dari sudut pandang Fazaha. cuma karena saya masih kurang bacaan sementara udah kebelet nulis, jadi takut narasinya jelek, makanya saya tulis dari sudut pandang alternatif--yaitu sudut pandang tokoh lain yang berinteraksi dengan sudut pandang tokoh utama.
terima kasih atas minatmu untuk menunggu kelanjutannya. aku terharu, hiks :')) mudah2an enggak sampai enam tahun lagi, ya, ahaha.

wah, orang pinter komennya beda sama saya...
hehe,
belajar komen mirip gitu deh saya..

Hahaha, saya nggak merasa pintar kak.
Sama-sama masih belajar kok, dan saya merasa masih harus banyak belajar.
Thanks BTW buat compliment-nya, semoga jadi doa dan kembali kepada yang mendoakan :)
Love xoxo

100

panjang sekali ceritanya, nanti lanjut baca lain waktu