Bagian I. Fazaha, SP Alternatif: Risky (Mengerjai ABG~!)

“Kak Iki … bangun ….”

Risky menatap wajah adiknya yang bersimpuh sayu di sisi tempat tidur. Risky meraih ponsel dan mengecek kalender. Baru Sabtu pagi dan tidak ada agenda khusus hari ini. Ia berbalik memunggungi adiknya seraya kembali memejamkan mata.

“Kak Iki …” suara adiknya sendu.

Risky melepas kentut, berharap dapat mengusir adiknya Tetapi yang ia peroleh malah punggung anak itu menggilas-gilas sisi tubuhnya.

“Apa sih?!” Risky bangun.

Adiknya menatap dengan wajah berkerut-kerut dan bibir manyun.

“Pacar aku ….”

“Pacar …?” Risky terperangah. “Pacar siapa?”

“Aku.”

Risky mencerna.

“Suruh siapa pacaran.” Ia melabuhkan lagi badannya ke kasur dengan memunggungi adiknya.

“Kak Iki!” adiknya merengek.

“Kamu tuh udah SMP, makanya jangan pecicilan,” geram Risky dari balik guling.

Adiknya mengerang. Namun Risky mengabaikan dan dengan segera terlelap lagi.

Ketika terbangun saat petang dengan perasaan cukup tidur, Risky bangkit menurunkan kaki di karpet dan terkejut. “Astaga, masih di sini!?”

Adiknya yang meringkuk di karpet menatap minta dikasihani.

Risky berdiri tanpa mengacuhkan adiknya. Setelah minum, makan, mencuci muka, dan seterusnya, baru ia menegur adiknya yang masih dalam posisi sama. “Kenapa?”

“Dia marah.”

“Kamu ngapain?”

“Komiknya …” suara adiknya pelan.

“Komiknya kenapa?”

Adiknya mengerang.

“Komiknya yang kemarin itu?”

“He-eh.”

“Gemblung sih, udah ditanyain boleh apa enggak, juga.”

“Tapi ….”

Risky duduk bersila di hadapan adiknya yang tidak hendak mengubah posisi.

“Dek, gambar satu wajah yang bener aja itu susah, apalagi satu komik. Cara orang narik garis tuh beda-beda. Ya jadi jeleklah kalau seenaknya aja diutak-atik gitu.”

Wajah adiknya semakin kusut. “Terus gimana?”

“Ya, rasain.”

Adiknya mengerang terus. “Tapi dia enggak mau ngomong lagi sama aku ….”

“Hadeh ….” Risky mengeluarkan laptop dari ransel dan membawanya ke meja belajar.

“Tapi emang dia yang minta dibenerin …” lanjut adiknya.

“Minta dikomenin aja kali, bukan dibenerin.”

Lama adiknya diam saja, sampai malah Risky yang merasa tidak wajar. Ia menoleh ke belakang dan mendapati adiknya duduk termenung. Ia kembali ke laptopnya, membuka satu folder, dan menyetel satu video klip.

“Dek, lihat, nih, lagu kesukaan kamu.”

Adiknya bangkit dan berjalan gontai mendekati.

“Kayak orang kebelet pipis, ya,” Risky terkekeh sendiri mengomentari gaya vokalis dalam video itu. Melihat adiknya tidak merespons, Risky mengimbuhkan, “Ini soundtrack Samurai X itu lo.” Adiknya tidak berubah. Risky kecut melihatnya.

Read previous post:  
16
points
(2410 words) posted by d.a.y.e.u.h. 22 weeks 6 days ago
53.3333
Tags: Cerita | Novel | kehidupan | minimalis | pemanasan | slice of life
Read next post:  
100

EH, DAYEUH..
MBA DAYEUH ATAU TEH DAYEUH?
PASWORD SAYA KAN INDONESIA, JADI BIAR GA DIGANTI SAMA ORANG LAIN, CEKIN YA BIAR GA DIGANTI SAMA HACKER,
KAN BISA JADI ORANG LAIN ONLINE TANPA SEPENGETAHUAN SAYA.
nusantara paswoed indonesia itu sudah diketahui banyak orang.
kamu juga bisa buka nusantara, paSswordnya indonesia.

masnya waras? udah ngobrol sama psikolog?

80

Jadi sekarang, sudut pandangnya berasal dari 'kak Iky' ya?
Just step back for awhile Alfian. Hahaha :D
Di bagian kak Iky dan teh Ocha on their 'swift moment' bikin saya deg-degan. Ini termasuk tulisan yang berani karena saya selalu berpikir dua kali untuk membuat tulisan seperti ini.
Please, that's a full compliment for you :)
Yang bikin saya penasaran, judulnya mengarahkan pada satu nama (Fazaha) tetapi sejak tulisan yang pertama dan kedua ini belum ada cerita dengan sudut pandang Fazaha. Saya benar-benar kepo soal Fazaha ini dan bagaimana jalan pikirannya.
Akan saya tunggu terus kelanjutannya.
Keep going! Keep writing!
Love xoxo

hai, terima kasih sudah datang lagi, membaca dan meninggalkan jejak :D
karena sebenarnya bagian ini mau ditulis dari sudut pandang Fazaha. cuma karena saya masih kurang bacaan sementara udah kebelet nulis, jadi takut narasinya jelek, makanya saya tulis dari sudut pandang alternatif--yaitu sudut pandang tokoh lain yang berinteraksi dengan sudut pandang tokoh utama.
terima kasih atas minatmu untuk menunggu kelanjutannya. aku terharu, hiks :')) mudah2an enggak sampai enam tahun lagi, ya, ahaha.

wah, orang pinter komennya beda sama saya...
hehe,
belajar komen mirip gitu deh saya..

Hahaha, saya nggak merasa pintar kak.
Sama-sama masih belajar kok, dan saya merasa masih harus banyak belajar.
Thanks BTW buat compliment-nya, semoga jadi doa dan kembali kepada yang mendoakan :)
Love xoxo

100

panjang sekali ceritanya, nanti lanjut baca lain waktu