2014

Aku dan perempuan itu berjalan-jalan di suatu tempat yang banyak bebatuan dan ilalang. Kami berbincang santai menuju tahap bincang serius tetapi tetap santai. Sersan, serius tapi santai.

Perempuan itu: "Kau tahu tidak?"

Aku: "Tidak tahu."

Perempuan itu : "Aku belum selesai bicara, jangan dijawab dulu."

Aku: "Maaf, aku tidak tahu."

Perempuan itu: "Ada dua orang bodoh di dunia ini. Yang pertama adalah orang pintar yang bodoh dan yang kedua adalah orang bodoh yang bodoh. Sama bodoh tetapi beda. Orang yang semakin tahu semakin ia merasa bodoh dan tetap bodoh lebih baik ketimbang orang bodoh yang tidak semakin tahu dan tidak merasa bodoh."

Aku: "Oh, aku tidak tahu."

Perempuan itu: "Kau lihat aku berdiri dan apa yang kuinjak?"

Aku: "Kau menginjak Alfatihah."

Perempuan itu: "Kau berarti tidak tahu. Aku bukan menginjak Alfatihah. Aku menginjak selembar kertas bertinta. Alfatihah ada di hatiku jadi aku hanya menginjak selembar kertas bertinta."

Aku: "Oh, maaf. Aku tidak tahu."

Perempuan itu: "Sekarang, kertas bertinta dibawah kakiku ini kuambil dan akan kubakar. Aku membakarnya. Apakah aku membakar Alfatihah?"

Aku: "Tidak. Kau membakar selembar kertas bertinta. Alfatihah ada dihatimu."

Perempuan itu: "Kau orang pintar yang bodoh."

Aku: "Aku tidak tahu."

Perempuan itu: "Alfatihah ada dihatiku dan yang kuinjak dan kubakar hanyalah salinannya saja. Tetapi, orang bodoh yang bodoh marah sedangkan orang pintar yang bodoh tersenyum saja."

Aku: "Aku tidak tahu."

Perempuan itu: "Alfatihah ada dihatiku. Aku bisa menuliskan salinannya di batu-batu maupun di pohon-pohon dan aku tidak memberhalakan kertas juga tinta."

Aku: "Aku tahu."

Perempuan itu: "Di tanah yang kau injak ada Alfatihah, di sungai-sungai, di tempat kau duduk dan berbaring juga ada Alfatihah. Dimanapun itu ada Alfatihah. Kau tidak menginjak Alfatihah, tidak buang air besar maupun kecil di Alfatihah, tidak duduk atau tidur di atas Alfatihah."

Aku: "Aku tidak tahu."

Perempuan itu: "Kau berada di bawah huruf alif tetapi kau tidak tahu. Kau akan tahu bila melihatnya dari atas sebab tempat ini ada Alfatihah besar dan kau tidak menginjak Alfatihah. Kau menginjak tanah. Aku juga."

Aku: "Kita tidak akan mengetahui apapun bila melalui sudut pandang mata di kepala kita ini sedang telapak kaki masih menempel di permukaan tanah jadi kita menggunakan alat bantu untuk melihat jauh diatas sana ke tempat kita berpijak dan kita melihat lebih luas."

Perempuan itu: "Ya, melihat dari sudut pandang yang lain. Maksudku sudut memandang. Maksudku mengarah pada arah titik pandang. Titik pandang."

Aku: "Aku tahu tetapi aku tidak tahu."

Perempuan itu: "Jauh di masa silam, orang melihat matahari dengan titik pandang dari bumi. Apakah di masa depan orang akan melihat matahari dari titik pandang bulan?"

Aku: "Aku tidak tahu."

Perempuan itu: "Di matahari ada Alfatihah. Di bulan ada Alfatihah. Dimanapun ada Alfatihah. Alfatihah yang bukan lisan dan tulisan. Alfatihah sudah ada sebelum manusia mengenal bahasa dan tulisan."

Aku: "Alfatihah adalah kalimat dari Sang Pencipta seluruh alam. Aku tahu tetapi tidak tahu. Dan, ingin tahu. Tetapi tidak tahu."

Perempuan itu: "Aku adalah orang bodoh yang bodoh."

Aku: "Aku juga orang bodoh yang bodoh."

Perempuan itu: "Tidak, kau orang pintar yang bodoh."

Aku: "Kau juga. Eh, kau orang pintar yang pintar."

Perempuan itu: "Pengetahuan manusia itu ibarat setetes air dari seluruh samudera pengetahuan yang ada."

Aku: "Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis ditulis kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan lautan sebanyak itu pula. (Al-kahfi:109)."

Perempuan itu: "Al-quran ada di hatiku dan aku bukan orang suci. Aku tetap pasti berbuat salah dan tetap pasti berkesempatan belajar dari kesalahan yang kuperbuat. Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba'da idz hadaitanaa."

Aku: "Sudah selesai apa belum bincang santainya?"

Perempuan itu: "Belum."

Aku: "Sudah saja. Nanti disambung lagi."

Perempuan itu: "Ya, sudah."

Aku: "Kau memang orang pintar yang pintar."

Perempuan itu: "Pelajaran selesai. Dan itu pelajaran yang ringan, bukan?"

Aku: "Seringan kapas."

Perempuan itu: "Kapas satu kilogram dan besi satu kilogram, mana yang lebih berat?"

Aku: "Kapas sepuluh ton."

Perempuan itu: "Ya, kau memang tidak terlalu serius dan itu tidak lucu."

Aku: "Jawabannya tentu lebih berat besi ketimbang kapas walaupun sama berat satu kilogram."

Perempuan itu: "Kenapa?"

Aku: "Pergilah ke tengah samudera lalu lemparkan besi dan kapas itu. Apa yang tetap di permukaan air berarti lebih ringan."

Perempuan itu: "Yakin jawabanmu benar?"

Aku: "Kalau begitu tak perlu ke tengah samudera. Tuangkan air kedalam bak mandi lalu taruh kapas dan besi sama berat satu ons mungkin besi akan tenggelam dan kapas tetap di permukaan."

Perempuan itu: "Kau sebetulnya sedang berasumsi dan kau akan tahu kebenarannya ketika kau memeragakannya di rumah. Benar-benar kurang lucu."

Aku: "Satu kilogram ikan mati dan besi satu ons lebih berat besi sebab ikan mati tetap di permukaan dan besi tenggelam."

Perempuan itu: "Berat jenis benda itu berbeda. Kau bermaksud melucu tetapi tidak lucu."

Aku: "Tak perlu melucu untuk membuat orang tertawa sebab tingkat kelucuan itu berbeda menurut masing-masing orang. Bagimu tidak lucu tetapi bagiku lucu. Aku tertawa. Hahaha."

Perempuan itu: "Sudah saja dulu. Mungkin perbincangan ini harus selesai disini. Sampai jumpa untuk selamanya. Semoga tidak berjumpa lagi."

Aku: "Ya, selamat tinggal."

Tak lama kemudian perempuan itu tertawa.

Perempuan itu: "Hahaha. Aku tertawa akhirnya. Benar-benar lucu."

Aku: "Kau pasti membayangkan manusia yang mendayung di atas ikan paus mati saat manusia belum bisa membuat perahu, ya?"

Perempuan itu: "Ya. Itu joke yang lucu. Jangan lupa menghafal Alquran, ya!"

Aku: "Ya."

Dan cerita selesai.

Cerita ini entah lucu atau tidak aku tak begitu peduli.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at 2014 (10 weeks 5 days ago)

kadang-kadang suka nonton stand up komedi, jadi pengen bikin yang lucu-lucu gitu

Writer nusantara
nusantara at 2014 (10 weeks 3 days ago)

Pesan dari cerita ini adalah isi otakmu dengan hafalan walaupun satu ayat kemudian memahaminya dan mempraktekannya di kehidupan sehari-hari.
-orang bodoh yang bodoh akan mendiskreditkan dan mengintimidasi sebab membaca dengan kedengkian dan salah menyimpulkan menjadi "cerita buatan psikopat, membolehkan menginjak Alquran."
-orang pintar yang bodoh akan berpikir positif dan tak berpikiran negatif.
-orang pintar yang pintar akan tersenyum sebab mengetahui bahwa seluruh ciptaan Allah di semesta angkasa dan di dalam planet bumi diciptakan karena cinta-Nya kepada manusia, kasih-sayang-Nya kepada manusia.
#ini cerita karangan jadi jangan disalah pahami ngaku-ngaku mimpi dan lain-lain. Saya menulis cerita ini terinspirasi dari mimpi jadi bukan ngaku-ngaku mimpi.