belajar

"Agama adalah juru tafsir tatanan sosial-budaya dan sekaligus menjadi sumber tatanan tersebut" . Emile Durkheim.

Antropologi agama adalah "pengkajian agama berdasarkan budaya", mengkaji manusia yang beragama. Agama bukan produk budaya tetapi agama melahirkan budaya dan itu berarti budaya adalah produk agama. Agama melahirkan kebudayaan dan peradaban.

Manusia berawal dari ketidaktahuan hingga ia menjadi tahu (sapien). Sehingga berawal dari pra sejarah dan menjadi bersejarah (memiliki sejarah). Setelah mengenal ilmu (wahyu) dari Allah maka manusia mengarungi sejarah hidup baru berdasarkan ilmu. Sudah mengenal tatanan hidup yang baik berdasarkan ilmu tersebut. Itu disebut masa Adam. Itu disebut masa terang (nur) hingga kemudian terjadi masa gelap (zhulumat) sesudahnya. Dan ada lagi utusan Allah dari masa ke masa melakukan pengembalian hidup untuk berdasarkan ilmu (wahyu). Setiap utusan itu disebut Nabi dan Rasul yang mengeluarkan manusia dari kegelapan hidup itu menuju kehidupan yang terang benderang oleh ilmu.

Manusia kini yang beragam warna kulit dan suku bangsa tentu mencari tahu dan mempelajari asal muasal manusia hingga berkembang sedemikian rupa menjadi penghasil berbagai kebudayaan dan peradaban yang berlainan di muka bumi ini. Unsur-unsur pembentuk dari semua kebudayaan dan peradaban yang ada itu tentu tak begitu saja alias terkonsep dengan baik. Konsep hidup zhulumat (gelap) itu juga terkonsep dengan baik hingga setiap kelompok terbawahnya dalam lapisan masyarakat sosialnya merasa bahwa kehidupan yang mereka jalani itu adalah takdir dari Tuhan padahal itu adalah suatu keadaan yang dibuat-buat dan dikondisikan sesuai kepentingan penguasa. Dan itu digambarkan di Alquran pada konsep kehidupan yang dibangun di mesir purba oleh Firaun dengan sistem piramida sosialnya. Nabi Musa diutus bersama Nabi Harun untuk meruntuhkan konsep kehidupan yang dibangun Firaun itu. Maka ibarat itulah, sepertihalnya kaum Bani Israil yang tak memiliki sejarah di masa Firaun itulah, umumnya manusia memahami bagaimana perjalanan sejarah kehidupan berbangsa dan bernegaranya. Begitulah bangsa Indonesia memulai sejarahnya selepas masa penjajahan. 17 agustus 1945 bangsa Indonesia memulai sejarahnya.

Maka budaya penjajah yang menjajah itu disebut sebagai sistem yang tidak mencerahkan. Bukan menyoal cara berpakaian si penjajah atau cara makannya melainkan perilaku menjajahnya itu. Itu menempatkan kelompok lain yang minor di bawah kelompok lain yang super. Superioritas golongan menjadi sesuatu yang salah dalam pemikiran manusia dari zaman ke zaman. Nahnu ulu quwwah, ulu ba-sin syadid. Kita adi-daya, kita super-power, kita kuat dan bisa menguasai si lemah. Ya, itu konsep hidup buruk yang diwujudkan pada masa era kolonialisme dan imperialisme. Itu sangat buruk. Dan, kita bangsa Indonesia menyatakan sikap anti terhadap penjajahan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.

Maka manusia itu dalam merumuskan baik dan buruk dalam kehidupannya harus bersumber pada wahyu sebab bila tidak tentu akan membangun sistem sosial masyarakat bak konsep piramida sosialnya Firaun. Sehingga baiknya menurut baiknya kepentingan golongan yang di atas alias penguasa dan buruknya juga menurut buruknya kepentingan golongan penguasa.

#pengamera sembunyi-sembunyi di rumah saya itu mungkin bermain-main menjadi Tuhan dan bermain-main menjadi hantu. Mengganggu hidup saya itu namanya. Bila ada oknum ustadnya ingatkan bahwa itu perbuatan setan, zina mata itu ngamera kamar orang tahunan dan kamar mandi juga. Apa iya begitu? Saya merasa diintip setiap hari oleh orang yang memitnah saya.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post