Aku Pernah Jatuh

Aku mencari-cari kenangan masa lalu. Aku mengingat salah satu, ketika itu, saat aku tak tahu seberapa hebat seorang aku. Bagaimana aku harus menceritakan cerita ini, bagaimana aku memulainya?

Aku ingat, saat itu mungkin masih kelas tiga atau kelas sembilan tapi bisa jadi kelas dua atau kelas delapan; aku menemani ibuku belajar Alquran ke teman ayahku, sebab ibuku tak bisa menulis tulisan Arab juga lambat dalam menulis latin maka aku yang menuliskan untuknya.

Saat itulah aku melihatnya, mungkin ia masih kelas enam SD. Aku hanya melihat matanya dan aku mengingatnya. Waktu itu aku hanya bilang "cantik", aku bicara dalam hati.

Kemudian setahun berikutnya aku belajar dengan kakaknya, mengaji begitu, tapi sebenarnya karena hal lain, aku senang bisa melihat adiknya walau sebentar. Namanya curi-curi pandang.

Singkat cerita, suatu ketika, aku pergi berdua dengan adik temanku itu, tidak kemana-mana, punya uang juga tidak. masa ABG itu, entahlah sedang mau apa sebab hanya jalan saja. Begitu pulang kena damprat ayahnya itu. Memangnya kuapakan? Dipegang-pegang juga tidak. Aku tidak pernah pegang-pegangan dengan cewek manapun. Masa ABG yang menyedihkan, bukan?

Ayahnya marah besar. Diluar kendali. Adik temanku langsung menangis. Aku diam saja. Sedikit shock. Ternyata aku menjadi trauma karena kata-kata buruk yang dialamatkan padaku itu oleh ayahnya. Aku tak bercerita apapun ke orangtuaku, ke temanku juga tidak. Tetapi aku seperti biasa saja tak memperlihatkan trauma itu. Marahnya ketika itu bisa terdengar satu Rt mungkin. Sangat kasar. Tapi aku biasa seolah tak terjadi apa-apa dan tetap berkawan dengan temanku dan aku tak pernah becerita apapun tentang itu pada temanku itu.

Bisa jadi sejak itu aku malas belajar Alquran. Mungkin. Seperti ogah-ogahan.

Namanya Siti Nur Jannah. Aku tetap ingat pernah dikata-katai yang buruk oleh ayahnya padahal hanya jalan saja. Satu kali itu. Ternyata aku trauma dan aku baru sadar bertahun-tahun kemudian.

 

Itu rasanya seperti aku mengingat kata-kata buruk dari beberapa mudabbir waktu di pesantren dulu, ketika aku mau mengintip asrama putri waktu kelas satu Mts. Aku tidak bercerita apapun ke ayahku saat ayahku berkunjung ke pesantren menjengukku, padahal aku trauma sebab dikata-katai jelek, "anak tidak bermoral", dan mudabbir itu sepertinya malu sendiri sebab aku ternyata anak baik dan selalu dapat ranking. Baik tapi sedikit ngaleuyeud. Agak nakal sedikit.

Parahnya itu waktu ayahnya atau bapaknya si Nur itu marah dengan kata-kata kasar itu, aku seperti mengalami shock dan trauma lagi, sebenarnya aku diam itu menunjukkan aku tidak suka membalas hinaan orang lain. Itu bukti nyata. Dan apa aku kini yang suka marah ke pengamera dan penguntit itu dengan kata kasar itu, bukan karena habbit. Beberapa oknum memitnah dengan berlebihan. Betapa oh betapa hidup yang kujalani ternyata dipenuhi trauma yang mendalam. Tapi aku bisa tetap tenang.

Beberapa oknum menghubungkan aku dengan pengajian dan suka menghina karena pengajian. Itu layak diusut oleh penegak hukum yang berakal sehat.

Itu berbahaya sekali fitnahan semacam itu.

Aku itu tidak berani mengobrol dengan ayah atau bapak dari teman cewek, selalu was-was, berarti trauma. Kemudian peristiwa penguntitan dan pengameraan sembunyi-sembunyi menambah buruk situasi dan kondisi psikis menjadi labil.

Kakanya si Nur itu teman akrabku, sekarang tentu tidak, hasutan dan fitnahan dan adu-domba mengubah sudah menjadi curiga mencurigai. Tetanggaku ikut campur juga mungkin, membuat hubungan suami-istri jadi kacau. Teman akrabku itu dan si Nur itu mungkin dihasut juga. Aku tidak ikut aktif di pengajian manapun dan mereka itu menghubungkan segala sesuatunya dengan pengajian seolah ada kegiatan pengajian padahal sudah tidak ada dan hanya masalah-masalah keluarga biasa dari masing-masing orang yang selalu dicampuri oleh pihak penguntitku salama bertahun-tahun dan dihubungkan dengan pengajian lagi dan lagi. Selalu begitu.

Teman akrabku yang dulu itu mungkin sekarang musuh sebab bisa jadi memusuhiku dan bisa jadi dia sudah sosiopat. Mana kutahu?!

Tapi bisa juga tidak sosiopat.

Ini hanya kisah-kisah kecil yang diceritakan asal saja. Ini bukan cerpen.

Aku tahu dipabrik percetakan tempatku bekerja dulu itu suka selalu ada gosip tentang beberapa orang, aku pun bergosip, menggosipkan diriku sendiri, dan ternyata gosipku itu bisa keluar  pabrik dan menyebar ke luar pabrik. Situasi tak terkendali. Berbagai cerita yang belum tentu kebenarannya terlanjur jadi bahan pembicaraan orang banyak diluar pabrik, termasuk tetanggaku, mungkin.

Aku sendirian bertahun-tahun tanpa teman. Sejak 2013 hingga kini aku merasa tak punya teman.

Aku tahu aku menulis dengan sangat buruk di tentang ini, cara  menulis yang asal menulis; sengaja.

Penguntitku berbahaya. Aku pasrah saja.

Aku ingin berkata-kata kasar, tapi sebelumnya minta dimaklumi dulu dan jangan dihakimi.

"ANJING TEH, GOBLOG. MATAK NAON PAREUMAN KAMERANA, ZINA MATA ETA TEH GOBLOG, NOONGAN AING SUSULUMPUTAN, API-API TEU NOONGAN. AING BARETO EK NOONG TEU JADI OGE DIGAPLOK, EK NOONG ASRAMA PUTRI BASA DI PASANTREN TAPI KABURU KANYAHOAN, DIGAPLOK, ALHAMDULILLAH. ASA TEU KUDU SIH SABENERNA MAH. NAHA NU NOONGAN AING MAKE KAMERA SUSULUMPUTAN UWUH NU NGAGAPLOK. MUN AYA NU NGAGAPLOK MARANEHNA MAH PASTI EURUEN TAH NU NGAMERANA TEH!"

Wow, itu kata-kata buruk sekali.

*

Ceritanya membingungkan, di paragraf pertama terkesan masa lalu dalam pengertian past life, padahal bukan. Sepertinya salah penggunaan kata. Seharusnya jangan mencari-cari kenangan masa lalu.

Tambahkan cerita saja lah.

Pernah suatu ketika, singkat cerita, ketika aku bekerja di tempat yang sama dengannya, ia memintaku untuk sama-sama ambil cicilan motor, dibayar berdua patungan. Tapi aku menolak dengan halus. Sebab aku belum tentu kerja selama tiga tahun. Apalagi waktu itu aku hanya seorang cleaning service.

Aku tahu bos di tempatku bekerja waktu itu orang baik, jadi aku bukan tak suka bekerja karena bosnya dan berencana bekerja sebentar saja. Tentu ada hal lain. Bosku itu namanya pak Fury. Dia orang baik. Aku berhenti bekerja bukan karena bosku. Dan ketika aku menolak untuk mengambil cicilan motor itu juga keputusan yang tepat meski alasannya tak dibicarakan.

Aku bekerja terlebih dahulu lalu ia masuk kerja belakangan. Pak Ade bilang harus yang someah. Kujawab: "Iya someah."

Aku tidak pernah mengingat-ingat kata-kata buruk ayahnya bertahun-tahub lalu itu dan aku terbukti bukan pendendam. Dan aku tidak pernah mencampuri urusan rumah tangganya di tahun-tahun berikutnya setelahnya ia menikah. Dan aku tak pernah berpikir apa-apa tentangnya.

Aku terbukti tak pernah ingin membalas perlakuan buruk dan terbukti tidak mendendam.

*

Bertahun kemudian aku meneruskan berjualan nasi kuning di dekat tempatku bekerja untuk menggantikan ayahku. Biasanya ayahku, setelahnya ku menganggur setelahnya keluar bekerja dari pabrik percetakan. Dan akhirnya aku sekarang di kampung. Aku sekarang di kampung dan kesal dengan penguntit. Itu saja.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at Aku Pernah Jatuh (5 weeks 12 hours ago)

aku tidak hebat, boong aja lah...

Writer nusantara
nusantara at Aku Pernah Jatuh (5 weeks 12 hours ago)

QNQfL

Writer nusantara
nusantara at Aku Pernah Jatuh (5 weeks 12 hours ago)

irQXA