Aku Membaca Lalu Menulis

Psikologi positif ala Selligman berawal dari premis bahwa manusia itu "pada dasarnya happy" dan ilmu psikologi hadir untukmenguatkan perasaan itu. Psikologi positif sering juga disebut psikologi bahagia. Tetapi yang akan dibicarakan adalah mengenai ilmu bahagia dari Ki Ageng Suryomentaram yang menurut banyakkalangan bisa menjadi cikal bakal teori psikologi lokal (psikologi jawa), atau nantinya akan berkembang menjadi ilmu psikologi Nusantara.

"Ngelmu begja" atau ilmu bahagia Ki Ageng tentu berhubungan dengan psikologi positif Selligman walaupun berbeda beberapa hal.

Happiness didefinisikan sebagai kondisi psikologis yang positif, yang ditandai oleh tingginya kepuasan masa lalu,tingginya tingkat emosi positif dan rendahnya emosi negatif.

Lantas bagaimana Alquran sebagai wahyu yang menjadi sumber ilmu pengetahuan mengenalkan ilmu psikologi yang berhubungan dengan bentuk kebahagiaan itu? Tidak ada pertentangan dalam setiap hal yang bernilai kebaikan sebab yang terpenting adalah pencocokan istilah agar terbentuk nilai sepemahaman di tentang itu.

Tentu saja Alquran mengajarkan tentang mawas diri (self monitoring), nerimo (merasa cukup), dan lainnya.

Dalam hadis Nabi juga diajarkan tentang BAITI JANNATI, rumahku surgaku. You build a home not a house. Dengan begitu semua memahami bahwa hidup itu sejatinya harus meaningfull.

Saya tidak suka dengan fitnah bahwa saya merusak Alquran. Saya tidak suka. Saya tidak suka. Dan saya ingin tetap merasa bahagia dalam keadaan yang tidakmenyenangkan ini.

Terkadang orang kurang memahami latar belakang dari suatu teori dan tak memahami bagaimana teori itu dibentuk untuk dijadikan bahan pembelajaran. Misalnya bila diketahui dalam doktrin Hindu yang mengandung TRI HITA KARANA; parahyangan, pawongan, palemahan; parahyangan berarti hubungan manusia dengan Tuhan yang diwujudkan dalam catur marga. Catur marga adalah empat cara pengamalan agama Hindu dalam kehidupan dan bermasyarakat. Dalam islam ada hablun min Allah dan hablun min annas. Secara teori tentu sama nilainya bahwa manusia dalam hidupnya harus berhubungan dengan Tuhan dan sesamanya juga terhadap alam sekitarnya.

Dalam bahasa jawa ada filosofi narimo ing pandum; menerima apapun yang telah diberikan Tuhan. Tentu tidak ada pertentangan dengan ajaran Islam yang dalam Alquran diajarkan untuk bersyukur dalam keadaan bagaimana pun. Semuanya sudah digariskan oleh Tuhan dan manusia hanya menjalaninya dengan sebaik-baik sikap sebab semua adalah ujian. Dikala lapang adalah ujian, dikala sempit adalah ujian, dikala sehat adalah ujian, dikala sakit juga adalah ujian, dan lain-lain hal yang terjadi pada masing-masing individu. Hubungannya dalam ilmu psikologi adalah bagaimana jelasnya dijabarkan bahwa pikiran manusia betul-betul mampu memengaruhi emosinya dan memengaruhi suasana hatinya serta tidak-tanduknya dalam hidup kesehariannya.

Saya bukan sedang mencampur atau mengaduk-aduk ajaran hindu dan Islam ketika menulis begini. Saya sedang mengajak orang lain melihat apa yang saya tulis ini sebagai suatu pendekatan di tentang Kalimatun sawa-un. Melihat persamaan dari perbedaan yang ada agar terhindar dari masalah kesalahan memahami kehidupan yang beraneka ragam dalam segala hal ini. Saya secara pribadi menyimpulkan bahwa dalam Islam tidak ada pertentangan dalam hal ajaran berkehidupan di tentang ajaran kebaikan dengan agama lainnya dan bahkan mampu melengkapinya.

Saya tidak suka ada orang ingin menyudutkan saya hanya karena saya belajar menulis.

Saya ingin ketika saya salat tidak merasa diperhatikan oleh orang lain seperti pengamera sembunyi-sembunyi itu. Sangat merasa terganggu. Bagaimana saya bisa membentuk keadaan "RUMAHKU SURGAKU" itu bila sejatinya rumah sebagai tempat bernaung dan berkumpul keluarga malah menjadi tempat yang tidak nyaman sebab merasa dikamera sembunyi-sembunyi.

Pikiran itu memengaruhi. Saya ambil contoh: Nama saya Salman dan sebelumnya Martono. Tapi saya lebih suka Martono. Saya tidak suka nama Salman itu. Tetapi saya harus bahagia dengan nama yang saya tidak sukai itu. Lalu saya berupaya untuk mengubah pikiran saya dan menyukai nama itu. Dan saya bisa menyukai nama itu dan membuat saya bahagia sebab tidak ada penolakan dalam diri di tentang itu. Namun, menyoal kamera sembunyi-sembunyi, saya tetap tidak bisa menerima hal itu sebagai sesuatu yang baik untuk saya dan saya harus menyukai keadaan itu. Saya jelas tidak bahagia sebab ada penolakan dalam diri untuk mau menerima keadaan itu. Pikiran saya kemudian mengganti keadaan itu sebagai sesuatu yang tetap ada hikmahnya alias ada sisi positifnya. Dan saya tetap belum merasa lega dan bahagia. Ayah saya selalu bilang bahwa itu adalah pikiran saya saja sebab tidak ada orang yang pasang kamera sembunyi-sembunyi di rumah; tetapi saya tidak bisa berpikir demikian.

Saya membaca dan saya menulis.

******

Aku Menonton Tv Lalu Aku Menulis.

Kemarin hari sabtu dan sekarang hari minggu. Kemarin saya menonton acara khutbah, hari ini saya menulis. Hari ini ada uang empat ribu jadi bisake warnet dan menulis. Kudengar kemarin di tv ada ustad bilang, "laki-laki salat di masjid, perempuan di rumah, BILA SUAMI IBU SALAT DI RUMAH SURUH PAKAI MUKENA". Terus ada yang satunya lagi bilang, "minta tolong itu jangan ke presiden tapi ke Allah, presiden itu ada masa jabatan dan bisa ganti presiden tetapi Allah tidak."

Saya pikir dengan tenang apa maksud kalimat itu. Saya tidak suka kalimat itu. Tetapi kalimat yang lain yang keluar dari lisan beliau-beliau itu saya suka. Saya hanya tidak suka kalimat  di atas tersebut dan kepada orangnya tentu saya tetap tak mendengki. Dengki itu penyakit hati. Dengki itu emosi negatif. Bila mendengki berarti takkan bahagia.

Trauma healing di kamera sembunyi-sembunyi itu saya lakukan sendiri. Saya banyak membaca sejak dahulu walaupun disadap pengamera sosiopat. Saya banyak membaca tentang psikologi untuk membantu diri saya menjadi lebih baik. Saya bukan suuzhan atau berprasangka buruk bahwa ada akonum tertentu yang memfitnah dan itu bisa saja oknum ustad yang dipengaruhi pengamera sembunyi-sembunyi itu. Jadi, begini, saya itu memposisikan diri saya sama dengan korban pemerkosaan, korban kekerasan, korban pelecehan. Saya memiliki trauma semacam itu dan dalam proses trauma healing yang saya lakukan sendiri untuk menghilangkan trauma itu.

Saya menjadi membayangkan diri saya sebagai korban pelecehan dan pemerkosaan sejak beberapa tahun lalu itu dan saya berpikir kenapa hal itu terjadi di dalam kehidupan saya. Bila itu adalah sesuatu yang disebut takdir maka alangkah buruknya takdir Tuhan itu untuk saya. Kenapa saya harus menjadi korban pelecehan dan pemerkosaan dan sedang orang lain tidak?

Hal-hal semacam itu dirasakan sebagai sesuatu yang menghambat bahkan memblok pikiran positif sehingga tidak memungkinkan dengan seseorang dengan perasaan terluka semacam itu untuk merasa bahagia dan bahkan bisa jadi menganggap bahwa Tuhan itu tidak adil atau lebih parahnya lagi menganggap Tuhan tidak ada.

Nah, apa yang harus dilakukan untuk menghilangkan trauma semacam itu agar meraih kebahagiaan walaupun mengalami peristiwa sangat buruk yang tidak diharapkan semacam pelecehan dan pemerkosaan itu. Saya tentu tidak benar-benar diperkosa apalagi saya ini laki-laki tetapi bagi beberapa orang yang mengalami itu tentu tidak mudah menjalani hidup dengan luka separah itu.

Saya bicara sederhana saja sebenarnya, bahwa orang kebanyakan terkadang tak mampu mengerti apa yang dirasakan oleh orang-orang yang mengalami peristiwa buruk sampai-sampai menjadi kesulitan untuk melanjutkan hidup tanpa rasa luka itu. Misalnya saja ketika saya mendengar "laki salat di rumah suruh pakai mukena", saya merasa dihina sebagai banci sebab saya suka salat di rumah, ke masjid juga sebenarnya suka. Itu trauma saya yang kecil. Saya trauma jadi saya menerimanya saya dikatai banci. Tetapi saya memahami bahwa hanya kalimat itu saja yang membuat saya kesal sedang kalimat yang lain tidak.

Saya berpikir bahwa salat di rumah itu tidak apa-apa. Saya salat untuk menebalkan hafalan alias biar tidak lupa apa yang sudah dihafal. Terkadang salat sendirian di rumah lebih khusyu tetapi sering juga tidak. Sesimpel itu sebenarnya. Tetapi pengamera mengganggu dan suka menebar fitnah.

Saya kalau salat berjamaah itu suka kalau tidak ada stigma dari pemitnah. Terkadang saya merasa bahwa pendapat saya tentang salat harus tahu isi bacaan salat agar khusyu itu tidak salah. Orang lain juga banyak yang sependapat. Terkadang saya menghayalkan bahwa ketika salat berjamaah itu semua makmum tahu arti dari surat yang dibaca oleh imam salat dan salatnya jadi benar untuk mencegah berbuat keji dan munkar. Hal itu bisa terjadi bila imam salat itu di waktu tertentu mengajarkan melalui tausiyah atau apapun itu lah tentang ayat yang hendak dibaca dalam salat. Misalnya selepas magrib ada bahas ayat baru terus salat isya dibaca imam terus imam menganjurkan menghafalkepada makmum. Ya, semacam begitu.

Laki salat di rumah juga boleh untuk latihan jadi imam salat. Pertama jadi imam buat istri dan anaknya dan setelah itu jadi imam salat di musola atau masjid. Orang pun bergantian jadi imam. Melatih hafalan san bacaan lalu akhirnya menjadi rata orang itu dalam berpemahaman di tentang agamanya. Itu hayalan saya. Nyatanya tidak terjadi demikian. Sering ada orang berpikir bahwa yang penting salat berjamaah, mau ayat yang dibaca oleh imam salat itu belum tahu artinya apalagi paham tak masalah. Imam salatnya juga sering di banyak tempat membaca ayat saat salat yang oleh makmum kebanyakan tidak atau belum dipelajari dan itu jadinya yang penting salat berjamaah dapat pahala banyak, tak mengerti bacaannya tak masalah.

Saya berhayal itu ada suatu perubahan cara pikir dimana setiap imam salat harus meyakinkan makmum bahwa makmumnya tahu apa yang sedang dibaca saat salat. Jadi ada pembelajaran. Misalnya setelah magrib membahas satu ayat dengan artinya dan dijelaskan lalu isya dipakai dalam bacaan salat setelahnya diterangkan dan makmumnya tahu isi bacaan salat. Saya pernah dapat pengalaman saat salat berjamaah itu saya tidak mengerti arti ayat dari yang dibaca imam salat dan saya merasa tidak enak. Apa yang dibaca itu tadi artinya, ya? Begitu pikir saya. Makanya saya jadi suka munfarid. Salat sendirian. Saya menghafal satu ayat, mempelajari, mencoba memahami,lalu saya bawa ke salat. Lucunyaadalah pengamera sembunyi-sembunyi mengganggu konsentrasi saya.

Saya kira saya menulis begini tidak menyalahi hukum. Saya belajar menulis.

***

Saya melanjutkan menulis sore hari sepulang membeli nasi aking untuk pakan bebek. Apa yang menjadikan saya menulis itu adalah saat saya membawa motor dengan kecepatan lamban. Saya berpikir bahwa  kecepatan laju kendaraan itu tergantung saya sendiri yang mengatur. Itu berarti banyak. Waktu yang saya lewati saat berkendara di jalan raya menjadi berbeda dan saya bisa lebih melihat pemandangan kiri-kanan jalan. Apa yang terjadi bila saya cepat membawa motor? Tidak tahu. Yang jelas hidup pun dalam hal lainnya itu begitu. Saya terus berpikir sambil membawa motor perlahan.

Lalu, saya saat di jalan memikirkan tentang apa yang pernah saya tonton di tv acara ajang pencarian bakat luar negeri. Saya ingat tentang teknologi VR (virtual reality) yang dipakai game untuk menyembuhkan atau mengurangi phobia. Kedua kontestan di acara itu psikolog.

Lalu saya berpikir tentang metode hipnosis di acara tv lain yang pernah saya tonton. Saya berpikir bahwa saat orang dihipnotis diberi sugesti-sugesti membayangkan dalam pikiran di tentang sesuatu. Sama juga seperti VR itu sepertinya bisa mencitrakan visual buatan, yang satu dibayangkan, yang satu terprogram dalam mesin. Intinya membentuk citra visual buatan atau bikinan atau hayalan untuk tujuan penyembuhan. Ya, semacam itu. Lalu saya berpikir tentang mimpi-mimpi aneh yang kadang lucu yang saya alami. Kemudian saya berpikir bahwa mimpi itu semacam simulasi keadaan yang saya dapatkan dalam mimpi. Simulasi keadaan.

Ya, saya kemudian berpikir ada benarnya berpikir positif di tentang mimpi-mimpi yang kadang lucu dan aneh serta kadang seram itu sebagai suatu simulasi keadaan. Berarti saya menghadapi ketakutan-ketakutan dalam diri saya dalam mimpi-mimpi itu. Saya menghubungkannya dengan berbagai bacaan yang pernah saya baca di waktu dahulu saat sering membaca. Saya ingat pernah membaca teori perkembangan kognitif Piaget. Saya menghubungkannya dengan mimpi atau efek cara berpikir saya dari mimpi yang pernah dialami. Menyenangkan memikirkan hal-haldi tentang itu sambil membawa motor perlahan.

Semisal pemikiran begini, saya memikirkan seseorang yang bisa disebut bayangan imajiner yang memberikan saya pengajaran. Uang itu tidak membawa kebahagiaan sebab uang itu hanya salah satu alat untuk meraih kebahagiaan tetapi bukan sebagai pembawa kebahagiaan. Ilustrasi atau simulasi keadaan itu dibayangkan dengan seseorang yang memberikan uang dua miliar. Apakah saya bahagia mendapat uang dua miliar? Tidak.

Seseorang itu memberi dan mengambil. Jadi uang itu yang tadinya membawa kebahagiaan akan menjadi mendatangkan kesedihan sebab hilang. Lantas mengapa harus bersedih? Toh, asalnya juga tidak punya uang dua miliar. Nah, jadi hayalan-hayalan itu hanya sebagai simulasi keadaan mimpi yang memberikan pengajaran di tentang beberapa hal. Itu juga yang membuat orang mengerti, terutama lelaki, bahwa bukan perempuan cantik yang membawa kebahagiaan, kalau sudah pergi apa jadi bahagia? Nilai itu sebanding dengan ilustrasi uang dua miliar di atas. Dimana saat rasa memiliki itu menjadi sesuatu yang salah dipahami maka berujung pada penolakan atau penyangkalan terhadap keadaan yang diterima dalam kehidupan itu. Jadi, dalam  islam itu mengajarkan banyak hal yang baik di tentang pengaturan perasaan memiliki itu. Ada banyak hal.

Memiliki uang dua miliar jadi senang seolah akan bahagia sekali tetapi saat hilang menjadikan stress luar biasa. Nah, karena ada rasa memiliki itu. Jadi, tidak memahami bahwa uang dua miliar itu pun sebelumnya tidak ada. Maksudnya itu pun sama bila seseorang berorientasi pada perempuanj cantik yang dianggap akan mendatangkan kebahagiaan padahal tidak. Bukan itunya. Jadi, semua hal itu harus dipandang sebagai alat untuk meraih kebahagiaan itu bukan sebagai sumber dari kebahagiaan itu.

Saya berpikir itu dari mimpi. Mimpi dikasih uang dan uang hilang lalu yang ngasih bertanya: "Kamu tidak stress pikiran karena hilang uang? Tidak menjadi gila?". Saya jawab: "Bukan uang saya, kalau hilang pun ya tidak apa-apa. Tadinya juga saya tidak punya uang dua miliar. Ini, simulasi keadaan di mimpi. Aku bermimpi."

Nah, semisal itu. Menjadikan cara berpikir dalam mengambil keputusan itu berdasarkan ilmu pengetahuan itu.

Saya pernah ditanya, mau istri cantik atau baik?

Jawaban saya adalah istri yang cantik perilakunya. Lantas, yang bertanya biasa saja alias tidak bersikap aneh. Saya lalu ditanya, kalau punya istri cantik mendatangkan kebahagiaan atau tidak?

Saya menjawab, hanya alat untuk mendatangkan tapi bukan sumber kebahagiaan itu. Sebab ada juga yang punya istri cantik tapi stress sebab istrinya cantik, jadi bukan bahagia malah tidak bahagia.

Kalau cantik lagi baik? bertanya lagi orang itu.

Itu satu hal yang diharapkan semua orang. Silahkan tanya sama semua orang. Saya jawab begitu.

Sejatinya orang seperti kamu takkan pernah merasa kehilangan sebab tahu pasti yang datang akan pergi hilang. Tetapi bukan berarti tak punya rasa memiliki. Kalau kamu punya istri kemudian kamu mencintainya lalu dia pergi hilang diambil oleh Tuhan, jasadnya saja yang kau lihat sebelum dia dikubur di dalam tanah. Kau tidak akan merasa kehilangan?

Aku tertawa sejenak. Kujawab, aku belum menikah. Mana kutahu?!

***

Aku Menonton Tv Lalu Aku Menulis

Saya menonton film di trans tv, kemarin. Judulnya knock knock. Pengamera ikut menonton. Mereka mungkin bertiga atau berempat, bisa lebih. Ayah saya tidur di kursi dan saya menonton sendirian. Sebagian warga kampung pergi ke tempat pengajian Ulin Nuha.

Rasanya tidak enak ada penguntit dan pengamera sembunyi-sembunyi. Ada profokator di antara pengamera sembunyi-sembunyi itu. Saya sering menyebutnya setan sunda sebab profokator itu berbicara bahasa sunda. Tapi tidak tahu dimana sebab saat naik motor pun di jalan tetap bisa  saya dengar membicarakan saya selalu setiap hari. Lucu, mereka memfitnah yang tidak-tidak. Jadi, mereka menonton film yang saya tonton dan saya tidak tahu apa isi kepala mereka sampai bertingkah demikian selama bertahun-tahun.

Bila ada yang ingin tahu apa isi kepala saya saat menonton film knock knock saya akan menulisnya. Ada quote di film itu, tentang obrolan tokoh jahat yang membicarakan masalah takdir, kita sudah ditakdirkan bertemu ini bukan kebetulan, rupanya si tokoh baik itu insinyur arsitek, jadi tidak percaya takdir begituan, hidup itu berdasar rancangan sendiri, di film itu percakapan begitu.

Saya belajar dari situasi di film tentang segala sesuatu bukan kebetulan itu benar, bahwa semua itu ditakdirkan itu benar, karena semua berdasar rancangan hidup baik dan jahat sehingga ada orang baik dan ada orang jahat, itu benar. Tetapi manusia memilih sebenarnya itu, mau jadi orang jahat atau baik?.

Hampir setiap penjahat di dalam kehidupan nyata itu mengincar korbannya dan si korban tidak tahu sedang dalam bahaya besar dan itu bukan berarti sudah takdir Tuhan penjahat menemukan korbannya dan memperdaya korbannya. Manusia jahat itu karena dia memilih menjadi jahat dengan perbuatan jahatnya dan ketika manusia jahat menemukan korbannya dan memperdaya sampai si korban benar-benar tidak berdaya itu bukan berarti Iblis lebih powerfull ketimbang Tuhan sampai-sampai Tuhan tidak bisa menolong orang yang tak berdaya akibat diperdaya oleh orang jahat itu. Lucu bila ada penjahat melakukan kejahatannya dan memperdaya orang sampai tak berdaya lalu ia bilang ini sudah takdir Tuhan. Hahaha.

Itu sedikit isi kepala saya saat menonton film knock knock. Dan,di film reclaim juga saya belajar situasi kehidupan jahat dan baik yang menimpa si manusia itu. Walaupun itu cerita bohongan tetapi secara situasional itu ada di dalam kehidupan nyata banyak orang. Kalau film itu kan antara sutradara satu dan lain boleh saling krtik dan kalau tidaksuka boleh bikin film menurut versi masing-masing, cerita pendek juga sama, novel juga sama, tulisan lain juga sama. Kalau orang film paling bilang, make your own movie. Kalau penulis paling bilang, make your own story. Nah, jadi lucu kalau pengamera sembunyi-sembunyi salah mengartikan kegiatan menulis saya bagaikan saya ini dalam kegiatan propaganda. Hahaha.

Saya belajar menulis.

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post