MUSCLE, SI DADA BINTANG 9

Entah kenapa kedua orangtuaku menamaiku Muscle. Kenapa tidak Mus Mujiono atau Mus Mulyadi, padahal saat ku lahir aku bukan bayi pria berotot. Maksudku bukan bayi lelaki berotot. Dan aku juga tidak berharap menjadi pria berotot seperti binaragawan atau atlet cabang atletik.

Hobiku makan. Sebab itulah ku gemuk. Orang lain menyebutku penderita obesitas. Lain halnya dengan orang kebanyakan, teman perempuanku memanggilku Gempal. Itu menjadi nama keduaku. Maksudku nama alias.

Berbanding terbalik denganku, teman perempuanku itu sangat langsing, tinggi semampai, cantik sudah pasti. Pokoknya serba aduhai. Kalian tahu tidak, setiap ia memanggilku Gempal itu terdengar seperti kata "sayang", "tampan", "gagah".

"Hai, Gempal. Kita bertemu lagi. Kau terlihat lebihhebat dengan penampilanmu hari ini."

Itu adalah kalimat yang selalu ia katakan saat pertemuan seminggu sekali itu tiba. Benar-benar dusta sebab penampilanku tak pernah berubah. Aku mengenakan setelan yang itu-itu saja sebab hanya itu yang terbaik yang kupunya. Ya, benar-benar dusta tapi dusta yang kusuka sebab ia mengucapkannya dengan penuh manja.

Pernah suatu ketika, saat aku sedang mengantarnya berbelanja, beberapa dari mereka yang memehartikan kami terlihat menahan tawa. Kukatakan dengan indah pada teman perempuanku bahwa aku tak suka cara merekamemerhatikan. Kalian tahu dia bilang apa?

"Kita pasangan sempurna. Seperti angka 10. Mereka iri pada kita, Gempal sayang."

Aku bangga pada teman perempuanku. Sempurna. Dan aku tak perlu merasa rugi membelikan apapun yang dia mau. Mungkin Tuhan mengirimpesan perjodohan bahwa dia adalah sebaik-baik calon istri dan calon ibu yang keren bagi anak-anakku kelak; begitu pikirku dibuai mimpi-mimpi. Lalu, lalu, tak perlu menunggu waktu sebulan ia sudah pindah ke lain hati. Aku kecewa. Marah. Sebab itu selalu berulang dan terulang untuk kesekian kalinya.

Dia bukan satu-satunya perempuan yang mencampakanku dan sudah barang tentu bukan yang pertama.

Untung saja aku tidak patah arang dan mencoba berusaha dengan lebih keras lagi. Aku selalu positif dan mampu mengendalikan amarah dan kekecewaan dengan baik dan semakin baik. Aku melampiaskan kekesalanku dengan makan. Makan lagi. Makan banyak. Dan aku semakin bulat saja. Tapi aku menjadi bukan tipe manusia pendendam.

"Untung saja aku tidak pendek, bila pendek mungkin orang akan mengiraku babi gempal piar5aan nona-nona cantik yang menggemaskan." Suatu ketika kubergumam dalam hati sambil memandangi cermin besar sembari tersenyum.

***

Orangtuaku keduanya sudah meninggal sebab kecelakaan saat ku masih balita. Mereka sangat kaya raya dan semua harta serta aset-asetnya diwariskan padaku seorang sebabku anak semata wayang.

Orang-orang melihatku seperti orang yang tidak pernah berkeluh-kesah. Padahal selalu. Pernah suatu ketika asisten pribadiku menyarankan agar aku memeluk agama lain biar lebih tenang.

"Pak Mus, carilah orang bijak dan pelajarilah agama islam." Begitu katanya.

"Baiklah." Kataku menjawab untuk menyanggupinya. Tentu dengan senyuman.

Keesokan harinya aku terbang ke Iran. Tiga bulan kemudian terbang ke India. Tiga bulan kemudian terbang ke Saudi Arabia. Lima bulan kemudian terbang ke Irak. Lima bulan kemudian terbang ke Afghanistan.

Di Afghanistan aku terjebak peperangan. Beberapa kali aku menyamar menjadi teroris agar selamat. Lalu, singkat cerita aku berkelana sampai ke Suriah. Di Suriah menjadi tawanan teroris. Ah, terlanjur basah.

Dalam kurun waktu itu lemak ditubuhku susut. Tampak atletis. Teroris itu menawanku dan meminta tebusan atau nyawaku melayang.

Kopndisi darurat hebat. Hidup dan mati setipis jarak daun dan ulat. Untung saja Gatotkaca lewat. Akhirnya aku selamat.

Usut punya usut ternyata Gatotkaca diberitahu dua temannya tentang keberadaanku. Dalam waktu 15 menit ia berhasil membebaskanku.

Setiap memukul dan menembak musuhnya ia selalu berkata: "fast combat, fast combat, fast combat. Done." Dan aku selamat.

Aku akhirnya tahu bahwa islam dan terorisme adalah dua hal. Jadi, aku memeluk islam dan memerangi terorisme. Aku bergabung dengan 3G (three Gatot) lalu tentu saja berubah menjadi 4G. Semoga saja ada yang kelima agar seperti Power Rangers.

Islam itu agama yang tinggi sebab mengajarkan manusia berbudi pekerti yang luhur. Luhur itu tinggi. Sedangkan teroris itu membolehkan memerkosa dan bisa saja membolehkan mengintip dalam tujuan pornografi. Entahlah,kira-kira begitu sajalah.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post