Afternoon Coffee

MENYUSURI jalan di kota yang penuh dengan kenangan...

Jakarta

Aku berjalan seorang diri saat matahari tenggelam di ufuk barat. Mataku menatap langit senja yang indah. Burung-burung gereja mulai bertebangan, kembali ke sarangnya. Kota ini memang jauh berbeda dibandingkan tiga tahun lalu, sebelum aku berangkat ke Paris.

Kendaraan-kendaraan padat memenuhi hampir di seluruh sudut kota ini. Polusi udara, banjir dan entah apa lagi. Aku memang bukan Gubernur Jakarta, tapi sebagai masyarakat yang baik, aku merasa perlu untuk menjaga dan memperhatikan lingkungan.

Jakarta

Aku menelusuri jejak kenangan yang masih tampak basah. Tidak apa-apa. Hanya ruang kosong dan aku merasa kesepian. Bintang-bintang di langit mulai muncul menemani sang rembulan yang sendiri. Aku menatapnya seraya mengulas senyum tipis. Bayanganku kembali pada masa-masa indah itu, bersama Mia...

“Suka minum kopi?” tanya gadis bertubuh tinggi, berambut panjang dan berkulit kuning gading saat aku berada di ruang OSIS ditemani secangkir kopi.

Aku mengangguk. “Espresso.”

“Back to basic. Kau bukan tipe romantis, namun tegas dan sangat berpegang teguh pada prinsip.”

Aku menatapnya. “Oh ya? Kau suka meramal lewat kopi?”

Mia tertawa. Ia duduk di sampingku. “Aku juga suka minum kopi setiap sore.”

Gadis itu, Mia. Miashella.

Aku menyukainya saat duduk di kelas satu SMA, kami sekelas. Sejak memulai hubungan dengannya, aku mempunyai kebiasaan baru, minum kopi setiap sore. Pandanganku menerawang. Ah, seandainya saja kekerasan hatiku melunak, sedikit saja, tiga tahun lalu. Mungkin Mia masih bersamaku, menemaniku dengan secangkir kopi buatannya sambil menatap senja di kota Jakarta yang indah.

----

AKU membelokkan mobilku memasuki sebuah kompleks perumahan. Billy & Moon, aku membaca tulisan itu di gapura pintu masuk. Sebuah area perumahan yang cukup luas dan asri. Waktu seakan berputar, mengajakku kembali ke masa lalu.

Aku merindukan Mia.

Setiap kali menyeruput kopi hangat, aku berharap dapat menemukan setitik saja harapan untuk bisa kembali bersamanya di hitamnya kopi, sama seperti kelamnya duniaku. Semua memang salahku, memaksakan diri untuk pergi, sementara jiwaku di sini, bersama secangkir kopi di sore kelabu, saat aku dan Mia sama-sama terdiam dan memutuskan bahwa semua telah berakhir.

Di depan sebuah rumah bertingkat bernuansa Eropa, aku memakirkan mobilku. Aku menekan bel. Rumah itu tampak sepi. Aku menghela nafas panjang, perasaanku benar-benar tak menentu. Apalagi setelah mendapat kabar Mia masuk rumah sakit dan kritis!

“Permisi, Tante...” sapaku sopan pada wanita yang membukakan pintu.

“Cari siapa ya?”

“Saya Aji, ingin bertemu Mia.”

“Oh, Aji! Ayo masuk!”

Wanita itu, Farida Mahdi, ibunya Mia. Ia menyuruhku duduk di ruang tamu yang mewah dan elegan. Di sana kulihat bingkai foto besar. Foto Mia dan keluarganya. Senyumnya begitu manis. Sama seperti dulu pertama kali aku melihatnya.

Mia, que tu me manques... (aku merindukanmu)

Memang, tidak ada yang lebih indah dari Mia. Kecantikannya memancarkan kelembutan dan keteduhan. Aku selalu merasa damai ketika menatapnya. Pandanganku tertuju pada vas bunga yang berada di tengah meja.

“Ji, jangan lupa meletakkan vas bunga Violette di meja vestibule (ruang masuk) di apartemenmu ya...”

Aku tersenyum menahan perih mengingat kata-kata Mia. Bunga Violette dan Monaco adalah kesukaan Mia. Matanya selalu bersinar jika menceritakannya.

“Kopi, Aji...” ujar ibunya Mia seraya meletakkan secangkir kopi di atas meja.

“Terima kasih, Tante.”

Aku menyeruput kopi Espresso itu. Rasa yang selalu kusuka setiap sore. Bayangan Mia berada di pendar hitam kopi itu. Ia selalu di sana. Takkan pernah beranjak. Mia mengajakku masuk ke dalam, namun aku tak tahu jalan aku keluar! Di dalam kopi itu, aku tenggelam. Tak ada dasar, semua tampak tak terbatas. Absurd. Aku terus mencari dasarnya, meskipun akhirnya kutahu, sia-sia. Aku akan terpuruk di dalamnya.

Benarkah semua ini telah berakhir? Aku menarik nafas. Aroma kopi itu. Aroma Mia. Terasa begitu melekat. Asap kopi kutiup perlahan, sama seperti aku mencoba membiarkan sayap Mia mengepak dan pergi jauh dari duniaku.

“Penyakit jantung Mia semakin parah...”

Aku terdiam menatap wanita itu. Kesenyapan menyergapku.

----

AKU sekarang berada di sampingnya. Di samping Mia. Wajah yang kurindukan, yang selalu kulihat bayangannya dalam secangkir kopi. Wajah itu pucat. Ia mencoba mengembangkan seulas senyum.

“Kau datang, Aji...” ujarnya pelan.

Aku menggenggam tangannya. “Ya, Mia.”

“Aji, mungkin kau takkan pernah tahu cintaku untukmu dalam secangkir kopi. Meskipun menyakitkan, namun indah. Tak apa jika aku harus terluka untukmu...”

Aku mengusap rambut Mia yang tergurai di bantal. Mataku berkaca-kaca. Sekian lama aku terus merindukannya, kini aku kembali melihatnya dalam keadaan seperti ini. Hatiku teriris. Jika aku boleh meminta, aku ingin merasakan rasa sakitnya, agar bisa kembali menatap keceriaan dalam binar mata indahnya.

“Dalam kopi itu, jantungku akan selalu berdetak untukmu, Ji...” ia menatapku sayu. Detak jantungnya melemah. Ada jelaga yang mengambang di matanya, ia menyentuh wajahku perlahan. “Kopi itu hitam seperti langit malam, jika aku masih diberikan kesempatan, aku ingin menunjukkan bintang terindah untukmu. Kopi itu pahit, namun aku ingin menjadi butir gula dengan kemilaunya, larut di dalamnya, masuk ke dalam tubuhmu dan berada di sana selamanya...”

“Sst... jangan bicara lagi, Mia...” mataku ikut basah.

“Peluk aku, Ji...”

Aku menunduk dan merengkuhnya. Mendengar degup jantungnya yang melemah. Aku terus mendekapnya, aku tidak ingin melihat Mia tertidur. Ibunya menjerit tertahan, ayahnya memeluk wanita itu. Malam semakin kelam.

“Kau akan jadi bintang yang paling indah, Mia. Takkan kuizinkan hujan turun agar kau dapat terus menatapku...” bisikku lirih.

----

AKU memandangi kopiku yang telah dingin. Tak ada lagi keresahan serta kegelisahan yang membelenggu jiwaku. Kulayangkan tatapanku pada langit senja kota Paris. Di sana aku duduk di salah satu kafe cantik di Champ Elysees. Lampu-lampu mobil bagaikan jutaan berlian mengalir di salah satu sisi jalan, dan dari arah hulu, berkelap-kelip ruby yang tak terhitung menuju hilir.

Aku tersenyum sambil menyeruput kopiku,bersamaan dengan bintang yang muncul di permadani malam.
“Mia, kopiku akan selalu hitam dan manis...”

Read previous post:  
Read next post:  
Writer vini_vidi_vici
vini_vidi_vici at Afternoon Coffee (12 years 18 weeks ago)
100

Mengikuti karya-karya lo, ini benar-benar pendewasaan, Sef! Lo berbakat banget!

Writer -riNa-
-riNa- at Afternoon Coffee (12 years 19 weeks ago)
100

Hiks...hiks...jadi pengen nangis. Setuju ama komen dari noir, gimana kalo nggak usah pake bold? Kayaknya Italic dah cukup. Soalnya mata gw jadi kaget pas baca bagian yang di-Bold itu.

Billy & Moon? Mia? Waduh, kok sama persis ama temen gw ya? Namanya Mia n tinggalnya juga di situ.

Writer bleu_freak
bleu_freak at Afternoon Coffee (12 years 19 weeks ago)
100

ngopi yuuuuuuuuuk

Writer heaven_waiting
heaven_waiting at Afternoon Coffee (12 years 20 weeks ago)
90

nggak nyangka yah, kopi bisa jadi romantis+sedih gini...

Writer yugi_yakuza
yugi_yakuza at Afternoon Coffee (12 years 20 weeks ago)
100

g bsa comment apa2 mba,,,
cz bner2 cerita yang mengharu biru...
^_^

Writer chau
chau at Afternoon Coffee (12 years 20 weeks ago)
100

tulisanmu mba,,,
pffuugghhh
nyesek,,merinding,,nangis,,
saaakkkiitttt
(sumpah!msh pagi niy!!)*_*

Writer trans_former
trans_former at Afternoon Coffee (12 years 20 weeks ago)
100

kamu kok bisa banget sih tulis cerita bagus??

Writer edowallad
edowallad at Afternoon Coffee (12 years 20 weeks ago)
50

tinGgal disana? dulu tiap hari kesana. kopi dan sma memang bukan pasangan yang baik

Writer miss worm
miss worm at Afternoon Coffee (12 years 21 weeks ago)
70

senja dan kopi nice couple...

dan

entah mengapa... SMA dan kopi doesn't match for me.

Writer aji_core
aji_core at Afternoon Coffee (12 years 21 weeks ago)
100

sef, sumpah gue gak percaya lo bisa nulis cerita gue jadi T-O-P kayak gini!!!

jadi kangen Mia...

kapan novel barumu terbit?
kirim-kirim ke Paris ya. hahaha..
semangat!!
salam buat yang lain juga anggota kemudian.com...

be your best friend, always..

Writer loushevaon7
loushevaon7 at Afternoon Coffee (12 years 21 weeks ago)
80

cukup mengharukan para pembaca nih..

dadun at Afternoon Coffee (12 years 21 weeks ago)
80

ya... menggigit. ah, kopi... jadi inget splinter (lho?)

(",)

Writer FrenZy
FrenZy at Afternoon Coffee (12 years 21 weeks ago)
70

cerita sedih yang ingin kamu gubah cukup berhasil :)

Writer wehahaha
wehahaha at Afternoon Coffee (12 years 22 weeks ago)
80

boleh....

Writer noir
noir at Afternoon Coffee (12 years 22 weeks ago)
80

begitu bitter....
Bagus...cuma flash back dengan bold nya agak mengganggu ya...gimana kalau italic saja?

Writer redshox
redshox at Afternoon Coffee (12 years 22 weeks ago)
100

sedih ya....

Writer cibo
cibo at Afternoon Coffee (12 years 22 weeks ago)
90

Jangen Pengen Ngopii

Writer fortherose
fortherose at Afternoon Coffee (12 years 22 weeks ago)
90

...dan senja? hmmm... matching^^

seperti kata ayas, cerpen ini seperti rasa kopi^^

Writer Littleayas
Littleayas at Afternoon Coffee (12 years 22 weeks ago)
90

cerpen singkat yang pahit tapi terasa manis di lidah...

Writer KD
KD at Afternoon Coffee (12 years 22 weeks ago)
100

hiks

Writer sefry_chairil
sefry_chairil at Afternoon Coffee (12 years 22 weeks ago)

thanks ya buat semua yang udah kasih komen..

cerita ini adalah cerita temanku, Aji. Aku sengaja memberi judul Afternoon Coffee karena sahabatku itu dari SMA suka kopi (gara-gara nyobain kopi espresso kotak di kantin, eh ketagihan! hihi..) dan Mia, pacarnya yang meninggal dua bulan lalu, juga suka kopi.

----
Billy & Moon? aku tinggal di pondok kelapa, deket dari sana..., pasti tau. hehe..