Masih Tentang Cinta

“Apa lagi?” Saya pikir, pembicaraan antara saya dengannya benar-benar telah usai. Tepat sesaat setelah saya bilang, “Maaf, mungkin lebih baik kita harus berpisah.” Dan dia menangis dengan air mata yang putih. Sementara saya mencoba bersikap sedih.

“Aku mau ngomong sesuatu,” dia menarik tangan saya dari kerumunan beberapa orang teman.

Orang-orang memandangi kami. Ada siulan. Ada bisikan. Ada pergunjingan. Sejak awal saya kurang senang dengan reaksi-reaksi demikian. Tapi nampaknya dia suka menjadi pusat perhatian.

“Masuk!” entah perintah atau apa, dia membuka pintu mobilnya, lalu lebih dulu duduk. Bagaimana saya tidak menurut, kecuali dia semakin berpikir bahwa saya seorang pengecut.

Beberapa menit berlalu. Kami hanya dua buah maniken yang sedang duduk di balik kaca mobil yang gelap. Saya bosan memandang lurus ke depan. Sesekali melirik kiri-kanan. Semacam salah tingkah saja. Sedangkan dia, entahlah. Saya tidak bisa melihat wajahnya yang sembap, wajah yang dulu sempat saya rindukan siang-malam.

“Saya masih ada kuliah,” saya rasa sia-sia saja; hingga sehari-semalam pun sepertinya akan tetap begini adanya.

“Pergi saja, sana!”

Apa? Saya tidak paham, apakah saya sedang dipermainkan. Tapi kemudian saya berpikir, betapa tidak berhatinya jika lantas saya meninggalkannya begitu saja.

Oh, di mana letak kepekaan itu? Hati ini bahkan lebih dingin dari dunia para penguin ketika air matanya mengalir bening. Kata-kata pelipur yang dulu pun seakan terkubur. Dada ini tak lagi menjadi tempat terhangat yang mampu membuatnya nyaman, bahkan sampai tertidur lelap. Dan saya sendiri bukan lagi seseorang yang pernah jatuh hati padanya.

“Kenapa masih di sini?” suaranya setengah bergetar. “Masih ada kuliah kan?”

“Tadi kamu bilang mau ngomong sesuatu. Apa?” saya memberanikan diri menentang wajahnya yang telah benar-benar basah dan merah. Berharap bisa menemukan kembali kenangan-kenangan indah yang siapa tahu bisa sedikit lebih memperbaiki segalanya. Tapi apa? Bayangan hitam itu lagi yang datang. Bagaimana bisa saya berpikir di bibirnya masih ada sisa-sisa percumbuan antara dirinya dengan lelaki lain?

“Tadinya aku pikir aku perlu mengatakannya. Tapi, sudahlah. Nggak akan mengubah apa-apa.”

“Masih tentang...?”

“Terserah kamu menyebutnya apa. Dan kalau dibilang aku masih belum paham dengan keputusan yang kamu berikan, masih penasaran karena semuanya terasa membingungkan, itu juga benar. Tapi aku pikir, aku nggak berhak menuntut alasan yang lebih mendasar, atau memaksa kamu membatalkan semua ini. Lebih-lebih meminta kamu untuk kembali.”

Demi Tuhan, tidak ada bahagia sedikitpun saat mendengar kata ‘kembali’ itu, kecuali seonggok enggan yang menohok. Mungkin karena saya yang menginginkan perpisahan ini. Entah jika sebaliknya. Justru itu, saya terlalu ketakutan.

Dan mungkin karena dia terlalu sempurna sebagai seorang perempuan.

“Baiklah, sebut saya nggak tahu diri,” sahut saya. “Saya ini bukan siapa-siapa dan nggak punya apa-apa. Mestinya memang, saya bersyukur bisa mendapatkan kamu yang sempurna. Sementara banyak lelaki di luar sana-yang lebih dari saya-mengejar dan menginginkan kamu dengan susah payahnya, saya yang diberi kesempatan bisa berdampingan dengan kamu malah seakan menyia-nyiakan kamu.”

“Aku nggak suka kamu serendah-diri itu.”

“Tapi inilah saya. Dan semua orang punya pandangan seperti itu terhadap saya dan kamu.” Entah bagaimana bisa kata-kata itu terucap rapi. Padahal yang ingin saya katakan sebenarnya; kamu terlalu sempurna buat saya. Bukan hal mustahil jika kamu merasa bisa berbuat apa saja terhadap saya.

“Aku jadi ragu tentang cinta yang pernah kamu nyatakan. Apakah itu hanya semacam senjata untuk melumpuhkan hati aku? Kamu hanya ingin nyakitin aku aja kan?”

“Justru kalau hubungan ini terus berlanjut, saya benar-benar ngerasa nyakitin kamu.”

“Pemikiran yang nggak masuk akal.”

“Mungkin ini cara mencintai yang belum kamu mengerti.” Oh, Tuhan, ampunilah saya. Entah harus dengan kata-kata seperti apa saya bilang bahwa saya tidak mencintainya lagi. Entah bagaimana harus saya katakan bahwa demi tidak tersakiti, saya mesti tega menyakiti. “Cinta nggak harus selalu saling memiliki, bukan?”

Dia terdiam, menelan mentah-mentah kata demi kata yang saya ucapkan. Namun nampaknya sudah jauh lebih tenang. Air matanya menguap perlahan-lahan. Dan saya masih di sampingnya, berusaha tetap bertahan.

“Hm, bodoh sekali aku,” kata-kata itu terlontar tiba-tiba dari mulutnya. “Selama ini, aku memang nggak banyak ngerti tentang cinta. Hubunganku dengan cowok-cowok itu juga bukan berlandaskan cinta. Entah apa.”

Ya, karena itu saya tidak mau bercinta dengan perempuan seperti dia. Karena bisa jadi, dia sama sekali tidak benar-benar mencintai saya. Hanya karena saya bilang mencintai dia, lantas dia mau pada saya. Dan semudah itukah dia percaya dengan kata-kata saya? Bagaimana dengan orang lain yang ‘lebih’ dari saya?

“Maaf, kayaknya saya udah terlambat,” kata saya sambil melirik jam tangan. “Kalau masih ada yang mau kamu bicarakan, nanti saja. Saya masih bersedia menjadi pendengar.”

“Sekalipun pembicaraannya masih tentang cinta?”

Saya tersenyum. Entah kenapa kemudian merasa lega.* * *

[Rabu, 18 Juli 2007 09:06:42]

Read previous post:  
174
points
(0 words) posted by dadun 12 years 14 weeks ago
82.8571
Tags: Cerita | cinta | cinta dan cinta | seri cinta
Read next post:  
Writer _aR_
_aR_ at Masih Tentang Cinta (11 years 28 weeks ago)
80

saya gak ngerti cinta...
tapi entah kenapa semua temen2 curhat masalah cinta ama saya...

diksinya keren2..., penuturannya aku suka..
te oo pe

Writer brown
brown at Masih Tentang Cinta (12 years 6 weeks ago)
80

aku bilang ini nice.

Writer fortherose
fortherose at Masih Tentang Cinta (12 years 9 weeks ago)
80

...dun, tapi aku setuju dengan noir, emosinya belum maksimal^^

^_^

Writer yugi_yakuza
yugi_yakuza at Masih Tentang Cinta (12 years 9 weeks ago)
80

Cinta, deritanya tiada akhir...
*patkay mode on

Keep writing bro
^_^

Writer KD
KD at Masih Tentang Cinta (12 years 9 weeks ago)
100

not spesial dun, seperti kamu yang biasanya

Writer on3th1ng
on3th1ng at Masih Tentang Cinta (12 years 9 weeks ago)
80

ngomongin cinta, emang ga ada habisnya..

Writer bluer
bluer at Masih Tentang Cinta (12 years 9 weeks ago)
80

setuju noir, tapi dah bagus kok. :)

Writer noir
noir at Masih Tentang Cinta (12 years 9 weeks ago)
70

Emosinya belum tergali secara maksimal, mungkin kalau ada disertai dengan latar belakang dan konflik yang lebih tegang, akan lebih menarik ^^

-kayaknya akhir2 ini tentang putus cinta semua, ada apa ya :D-

Writer dhika moreno
dhika moreno at Masih Tentang Cinta (12 years 9 weeks ago)
70

yach strowbery deh

manis dan asem...begitulah cinta!

Writer mansour
mansour at Masih Tentang Cinta (12 years 9 weeks ago)
50

klo kta ingin cerpen kita seperti produk jepang maka kita harus rajin2 mengedit ulang,tapi klopingin cerpen kita kayak produk cina maka lengsung saja lempar k publik tu' di konsumsi,sobat kau faham dengan maksud ku kan!

Writer picsou
picsou at Masih Tentang Cinta (12 years 9 weeks ago)
100

konfliknya dapet dan masalahnya jelas...

cinta...ahh...cinta... hehehe...