Lelaki Ruang Operasi

Begini,

Waktu itu dia sedang duduk di depan televisi, di rumahnya. Rumah itu hasil mencicil susah payah. Tidak besar, tapi miliknya sendiri. Lalu, mantan pacarnya menata rumah itu seperti yang ada di katalog IKEA. Semua barangnya mereka buat sendiri atau beli murah di pasar loak lalu dibetulkan. Tapi, saat sarang cinta itu sudah siap, pacarnya pergi. Dus, mantan pacar.

Tapi, bukan itu awal cerita ini.
Begini,

Waktu ia sedang nonton televisi itu, di luar sedang hujan. Ia sedang minum teh. Ini kebiasaan yang ditularkan pacarnya. Mantan pacar. Teh herbal; katanya baik untuk kesehatan, sebagai ganti kopi dan juga rokok. Terlalu banyak keduanya tak baik untuk kesehatan. Sambil minum teh itu, ia memikirkan pacarnya. Mantan pacar. Ia merasa dadanya sedikit sesak. Di televisi, sedang ada acara bincang-bincang yang dipandu dua bintang radio. Acara ini lucu, atau seharusnya begitu. Lalu, bel pintu berbunyi.

Di luar hujan. Di depannya, sepasang mata nampak basah. Hujan dan air mata bercampur di pipi, mengalir ke bawah. Mungkin ingus juga. Rambutnya basah menetes-netes.

Baiklah, itu mantan pacarnya yang minggat empat tahun yang lalu, dan sekarang sudah kembali lagi. Tapi, bukan itu ceritanya.

Ceritanya: Sekarang ia sedang duduk di bangku plastik warna biru. Bangku biru yang tak nyaman. Sendirian.

Di koridor itu tak ada orang selain dirinya. Tak ada jam dinding. Di luar jendela yang berderet memenuhi sisi koridor, tampak halaman gelap. Hanya sebagian pepohonan dan tanaman bunga yang terlihat karena disorot lampu taman. Pukul 3 pagi. Sebentar lagi juga terang.

----

Mantan pacarnya itu, ia datang sambil menangis. Yang membuat teh dalam cangkir di ruang tamu jadi dingin, mereka berdua berdiri berhadapan lama sekali di ambang pintu. Hujan tampias ke dalam. Keset di lantai dan ujung celana lelaki itu jadi basah. Tambah basah karena mantan pacarnya itu. Dia ambruk ke pelukannya.

----

Lelaki itu membetulkan posisi duduknya di bangku plastik biru sambil mendesah. Ia mengganti posisi kakinya. Tadinya menumpangkan kaki kiri ke atas kaki kanan, sekarang kaki kanan di atas kaki kiri. Ruangan itu tidak dingin, tidak hangat juga, yang jelas tidak ada nyamuk.

Ia menoleh ke kiri. Koridor itu nampak lengang. Di koridor lain yang berpotongan dengan koridor itu, sesekali nampak perawat lewat sendiri atau berdua, membawa nampan atau mendorong sebuah rak besi atau hanya sebuah map status, atau tidak membawa apa-apa. Tidak ada satupun yang menoleh ke arahnya.

Ia mendesah lagi. Bersandar ke belakang, tapi tak nyaman. Akhirnya ia duduk tegak, kaki sejajar, tangan di atas paha. Ia tarik nafas dalam.

Dari tadi ia ingin merokok, tapi ini rumah sakit, ia mendadak ingat, dan tidak jadi menyalakan rokoknya.

Mantan pacarnya itu. Ia masih seperti dalam ingatannya. Wajahnya masih sama seperti yang terlihat kalau ia menutup matanya. Alisnya, matanya. Matanya yang jernih dan dalam. Bibirnya.

Lelaki itu menutup wajahnya dengan dua tangannya, menggeleng dan mengeluh. Ia berdiri, menarik nafas panjang, lalu berjalan mondar-mandir dengan tangan di saku. Jam berapa sekarang?

----

Mereka duduk di sofa ruang tamu. Sofa itu jadi basah. Ia menyodorkan handuk pada mantan pacarnya. Wanita itu menerimanya. Ruangan sepi. Hanya terdengar rintik hujan yang samar dari luar. Televisi masih menyala tapi di-mute. Tidak ada yang bicara. Tapi lelaki itu berulangkali mencoba. Ia menarik nafas, membuka mulutnya, mencoba bicara, lalu tidak jadi. Begitu berkali-kali.

Ia melirik ke cangkir teh. Sudah dingin. Ia berdiri, hendak mengambilkan cangkir baru dan mengisinya dengan teh panas. Untuk mantannya.

Saat ia mengaduk gula, isi kepalanya hanya denting sendok beradu dengan gelas. Dua sendok teh. Ia masih ingat. Lalu, ia mendengar wanita itu berdiri di ambang pintu dapur. Bayangannya memantul di toaster. Toaster itu, mereka yang memilihnya bersama.

Ia menahan nafas.

“Maaf.” Wanita itu juga menahan nafas.

----

Terdengar pintu geser otomatis terbuka. Lelaki itu berbalik dan menatap langsung ke mata dokter.

“Istri anda selamat.”

Ia menghela nafas. Menjabat tangan dokter itu. Tangan yang hangat. Ia merasa dokter itu adalah seorang santo.

“Tapi pasien yang satunya lagi, maaf. Kami berusaha sekuat tenaga.”

Lelaki itu menatap sang dokter nanap.

“B..bayinya juga?”

Dokter menggeleng. “Maaf”

----

Mantan pacarnya itu. Ia datang untuk memberitahu bahwa ia hamil. Anak itu anaknya. Siapa sangka gelora rindu dua bulan lalu itu menghasilkan sesuatu yang lebih dari sekedar nostalgia? Hanya satu kali itu saja mereka bertemu lagi. Satu kali itu saja.

Lalu, istrinya keluar dari kamar, karena mendengar ada yang datang. Dan istrinya mendengar itu. Dan menghunus pisau cemburu.

Ia hanya bisa berdiri di situ. Hanya bisa menunggu. Menunggu ambulan datang menyelamatkan mantan pacarnya yang tergeletak penuh darah di dapurnya. Menunggu ambulan datang menyelamatkan istrinya yang menabrakkan mobil mereka ke pagar pembatas. Cicilan mobil itu belum lunas.

Saat menunggu kabar dari ruang operasi Ia tidak berdoa. Tak ingin memilih diantara ketiganya. Ketiga jiwa yang sama-sama ia cintai.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer santorini.girl
santorini.girl at Lelaki Ruang Operasi (10 years 13 weeks ago)
100

parfait!! Aku pengen banget bisa nulis kayak gini...

Writer panah hujan
panah hujan at Lelaki Ruang Operasi (10 years 26 weeks ago)
80

aku suka :)

tapi benar-benar, awalnya kupikir, tokoh utamanya yang membukakan pintu itu adalah seorang perempuan. deskripsimu nampak feminin :) tapi ternyata.. hmm. penyamaran identitas mungkin, ya.

ending yang tak terduga. sungguh sebuah kejutan. :)

Writer hege
hege at Lelaki Ruang Operasi (12 years 18 weeks ago)
60

deskripsinya variatif, tapi ceritanya kering,
bahkan tenggorokanku pun ikut kering...

Writer nectarinostrum
nectarinostrum at Lelaki Ruang Operasi (12 years 29 weeks ago)
70

alurnya suka..

Writer splinters
splinters at Lelaki Ruang Operasi (12 years 33 weeks ago)
100

karya eksperimental yang berhasil dengan sangat baik; setidaknya untuk saya :) jadi penasaran ketika berkali-kali membaca "tapi, bukan itu ceritanya", tidak sadar sudah di-engage untuk terus mencari tahu ... emosinya dapet banget. deskripsinya indah; serasa lagi nonton video klip. ngiri, deh. hehehehe.

Writer v1vald1
v1vald1 at Lelaki Ruang Operasi (12 years 36 weeks ago)
70

Sebenarnya, cerita ini termasuk berbeda. Gelap, tapi tidak juga. Dan,gak tau kenapa,aku kurang suka.Apa itu yang aku nilai sebagai kurang 'greget'? Yep,sptnya begitu. Mungkin, dengan semua kebolehan yang aku lihat dari F Griffin, aku merasa karya ini bisa lebih dasyat lagi! Yah, mungkin karena itu. Karenanya kali ini, aku menjadi kurang suka, karena kurang puas, kurang klimaks, kurang pusing, kurang getar, kurang... kurang... kurang... kurang suka.

Writer niwatori
niwatori at Lelaki Ruang Operasi (12 years 37 weeks ago)
80

Gaya yang menarik, dikocok dulu mundur maju di awal lalu dilanjutkan secara pelit dan flashback. Cukup unik, salut.

Writer cahayarembulan
cahayarembulan at Lelaki Ruang Operasi (12 years 37 weeks ago)
90

Ya, bagus. Seperti kata Alm. Pak Tino Sidin :) Tapi bagian depannya mungkin perlu dibuat lebih nyambung lagi dengan akhir cerita.

Writer aisha shiifa
aisha shiifa at Lelaki Ruang Operasi (12 years 38 weeks ago)
70

Temanya Oke..
Tapi jujur di awal cerita aku nggan ngerti maksudnya, takutnya pembaca yang tadinya antusias untuk membaca, jadi males bacanya karna mungkin nggak ngerti maksudnya apa.
Aku suka kata-kata ending-nya.
Ia tidak berdoa. Tak ingin memilih diantara ketiganya. Ketiga jiwa yang sama-sama ia cintai.
Mengharukan..........
Tetap BERKARYA yach.......

Writer BTU
BTU at Lelaki Ruang Operasi (12 years 38 weeks ago)
90

o...ya...ya..ya

Writer KD
KD at Lelaki Ruang Operasi (12 years 39 weeks ago)
100

aha...benar-benar mantap

Writer ima_29
ima_29 at Lelaki Ruang Operasi (12 years 39 weeks ago)
100

Penggabungan kata yang sederhana tapi yahud punya!!Cara bercerita yang unik nih!

Writer firmanwidyasmara
firmanwidyasmara at Lelaki Ruang Operasi (12 years 39 weeks ago)
100

Speechless euy.. gue demen cara berceritanya... yang kebayang menghantam adalah ketika visual di kepala gue nyampuradukin sang wanita yang menabrakkan mobilnya dan toaster penuh cinta itu ... huhuhuhhh.... tob!

Writer nightcrawler
nightcrawler at Lelaki Ruang Operasi (12 years 39 weeks ago)
70

Yap! Alurnya mendesak pembaca makin ke dalam, makin ke belakang... kalo ditulis pake bahasa Inggris mungkin banyak menggunakan past perfect tense? Hehehe.. sok tau banget gw ya?! Tapi ending-nya kurang menggigit ya? Apa karena temanya terlalu ringan? Mungkin benar kata Azarya Mesaya, konfliknya belum dieksplor lebih dalam...

Tapi kalo cerpen dimaksudkan sebagai eksperimen, berhasil kok.

Writer Azarya Mesaya
Azarya Mesaya at Lelaki Ruang Operasi (12 years 39 weeks ago)
50

maslaah tema dalam cerita ini tak ada masalah sih. Gue suka banget. tapi alur coba digarap lebih berani lagi. Awali dengan konflik tentang bayi itu sendiri. sebuah pertanyaan, bayi siapa yang lahir. Ending bisa begini = bayi ini bukan anak siapa-siapa, tapi anakku. iar pun lelaki ayah bayi ini tertawa mengatakan aku bodoh. Begitu juga orang kampung yang mencemooh, dia tatap anakku. Bayi ini anakku. Nah, karakter siaku secara subyektif ini bisa kuat lho!

Writer v3ndy
v3ndy at Lelaki Ruang Operasi (12 years 39 weeks ago)
80

Gaya penulisan mundur...ide baru nih. Content juga tak kalah menarik.

Writer edowallad
edowallad at Lelaki Ruang Operasi (12 years 39 weeks ago)
60

sebenarnya masih byk yg bisa diangkat. detail juga masih di hiperbola. tapi intrik menarik

Writer NiNGRuM
NiNGRuM at Lelaki Ruang Operasi (12 years 39 weeks ago)
80

jujurnya awal baca agak2 bingung, tapi pas diserapi lebih. Ternyata...hiks...hiks...sedih tapi
Wow....wow....top....

Writer cen nih...
cen nih... at Lelaki Ruang Operasi (12 years 39 weeks ago)
80

paling suka kata2 terakhirnya. dia tidak ingin berdoa, karena tidak ingin memilih di antara ke3 jiwa yang sama2 dia cintai..tapi..berarti dia selingkuh ya? duh..he..sad story...tapi menarik dari awal hingga akhir..congratz..

Writer dhan-chan
dhan-chan at Lelaki Ruang Operasi (12 years 39 weeks ago)
50

awalnya ga jelas. tapi pas udah nyampe tengah mau ke akhir, cerita berubah menjadi menyedihkan... dalem banget!!!

Writer Farah
Farah at Lelaki Ruang Operasi (12 years 39 weeks ago)
70

iya neh,,,drama perselingkuhannya serem banget,,,sampe ngebunuh segala,,,,nyata,,,nyata banget rasanya

Writer iyin
iyin at Lelaki Ruang Operasi (12 years 39 weeks ago)
50

its complicated bgt yah...

Writer miranti alamanda
miranti alamanda at Lelaki Ruang Operasi (12 years 39 weeks ago)
50

aduh, drama perselingkuhannya seremm amat...