Kaleidoskop

Hari ini Randu datang lagi. Aren tidak ingin membiarkannya masuk tetapi bocah itu sudah punya kunci pintu cadangan, atau mungkin dulunya mantan maling. Saat Aren terjaga ia sudah mendengar suara berisik di belakang. Denting peralatan makan dan derum samar mesin cuci. Bocah itu sepertinya sedang mencuci tumpukan baju kotor dan perkakas makan Aren. Mungkin dulunya bocah itu ikut pelatihan TKI.

Aren menutup matanya, mendadak pening. Ia bisa mendengar kipas angin di langit-langit kamar berputar lambat. Lupa dimatikan semalaman. Aren lupa kenapa ia menyalakannya, kepanasan mungkin. Biasanya akan terbangun menggigil pukul empat pagi. Entah kenapa selalu pukul empat pagi. Apakah karena jam dalam sel tubuhnya telah eror mengatur alarm bangun, atau karena suhu jadi dingin sekali pukul empat pagi. Yang jelas terbangun bukan karena kokok ayam, atau berisik teriakan membangunkan orang untuk sembahyang. Apartemen Aren dekat dengan peradaban teknologi tetapi jauh dari peradaban religi.

Kesibukan terdengar berfokus di dapur. Bocah itu pasti sedang mengobrak-abrik kulkasnya, memasak. Minggu-minggu awal Randu melakukan itu, Aren mogok makan sebagai tanda penolakan. Ia samasekali tidak menyentuh apapun yang dimasakkan bocah itu. Selama dua minggu Aren memesan makanan sampah sampai dia sendiri mual karena bosan. Biarlah, yang penting protesnya tersampaikan. Randu tidak bereaksi. Ia membuang makanan mubazir itu, atau membawanya pulang, entahlah. Tapi ia terus saja datang tiap dua hari sekali, memasak, membersihkan rumah, dan mengomel sendiri sepanjang hari sambil melakukan semuanya.

Aren juga sudah pernah berlaku kasar padanya. Ia membentak Randu, menumpahkan semua barang yang disusun Randu rapi di meja kopi. Bahkan vas kristal pemberian Doni terbanting juga. Belakangan Aren menyesal bukan kepalang, tapi ini semua salah anak itu. Ia membuat apartemen Aren tampak seperti hidup, seperti ditinggali, hingga Aren merasa muak.

Aren melirik jam kayu di atas bufet. Pukul sembilan lewat delapanbelas menit. Perlahan Aren bangkit dari tumpukan bantal dan selimut lembut motif kulit hewan, membungkus dirinya dengan mantel mandi, membuka kunci pintu dan melangkah keluar.

Di ruang tengah ia duduk di sofa kesayangannya yang antik klasik berlapis kulit. Randu pasti mendengarnya keluar dari kamar karena dari dapur ia muncul menenteng baki berisi teh dan kue, tersenyum pada Aren, meletakkan baki itu di atas meja kopi dekat kaki Aren, mencium dahi dan menepuk bahunya lembut, lalu melangkah pergi.

Aren menyeringai. Diperlakukan seperti bayi kecil membuatnya gusar. Pernah, sebagai tanda hinaan ia memberikan celemek merah jambu penuh kerut dan renda pada Randu. Bocah gila itu malah memakainya setiap kali ia datang! Aren merasa ngeri sendiri tiap melihatnya, tapi ia sudah mati gaya, tidak bisa banyak protes.

Aren mendengus. Di baki, di samping tea set keramik warisan ibunya, terdapat sebuah bingkisan kecil yang manis. Dibungkus kertas kado ungu dan pita kecil warna kuning, dan sebuah kartu ucapan yang elegan.

“Apa ini?”, tanyanya heran, mengambil bingkisan itu dan menimbang-nimbangnya dalam genggaman jemari panjang kurus miliknya.

Randu muncul dengan senyuman lebar.

“Bukan apa-apa, hanya oleh-oleh.” Ia berdiri di samping Aren dengan tatapan penuh harap.

Aren membuka bingkisan itu yang ternyata isinya sebuah kaleidoskop. Ia menatap Randu. Pemuda itu tersenyum dan mengangguk dengan wajah berseri.
Aren membalas senyumnya tipis lalu meletakkan benda itu kembali. Ia menyibukkan diri dengan teh.

Randu memang tidak berharap Aren akan berterimakasih, namun sepertinya tetap kecewa tak mendapat sambutan yang sesuai. Ia kemudian mondar-mandir gelisah di sekeliling ruangan apartemen itu seperti twister merah jambu berkemoceng.

Ada tanaman jeruk kecil dalam pot dekat jendela. Randu yang membawanya. Tanaman mempercerah ruangan dan wangi jeruk membantu kesembuhan dan ketenangan jiwa. Jeruk itu juga teman bicara Randu kalau Aren mengurung diri di kamar, tidak mau keluar. Randu sedang menyemprot daunnya dengan pupuk khusus sambil bersenandung pelan.

“Ibuku datang kemarin siang,” mendadak Randu berkata keras.

Aren mendengarnya, berusaha tidak perduli tetapi tidak bisa. Bocah itu sering mengoceh tentang ibunya yang otoriter. Hubungan benci dan cinta yang aneh antara mereka yang mendorong Randu menjadi homoseksual. Setidaknya Randu berpendapat begitu.

“Seperti biasanya,” gumam Randu lagi. Kali ini lebih pelan. Tidak jelas maksudnya.

“Kamu kelihatannya nggak senang,” sahut Aren.

Randu terkejut mendapat tanggapan. Ia melongok ke ruang tengah dan menatap Aren. Lelaki itu ternyata masih asyik dengan tehnya.

“Ah, aku baik-baik saja,” katanya dengan nada jauh lebih gembira.

Randu meneruskan pekerjaannya dengan senyum lebar, merasa mendapatkan semangat baru.

Saat membersihkan tempat sampah ia menemukan sesuatu yang menyebabkan keningnya berkerut. Membungkuk, ia memungut benda itu.

Tugas Randu sebagai relawan selesai untuk hari itu. Sebelum pergi ia mendekati Aren yang sibuk membaca di sofa kesayangannya. Diletakkannya bungkusan kertas tisu berisi segenggam pil warna-warni. Koktil, campuran berbagai obat yang harus ditelan Aren setiap hari agar virus tak membunuh tubuhnya yang tanpa imunitas akibat HIV. Aren membuangnya di tempat sampah kemarin malam.

Aren tidak menatap Randu.

Randu memeluk pundak kurus itu. “Jangan lagi ya?”, mengusap punggung ringkih itu hangat, kemudian pergi.

Saat pintu depan menutup, setetes airmata mengalir di pipi Aren.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer miss worm
miss worm at Kaleidoskop (11 years 45 weeks ago)
60

adalah pilihan beberapa kata nya. pun, secara keseluruhan bukan cerpen yang kuat menurutku. akuilah, dirimu menjadikan cerpen ini bentuk latihan kan?

Writer panah hujan
panah hujan at Kaleidoskop (11 years 49 weeks ago)
80

bagus dink..
mengalir bgt..
dapet ide darimana sech???
btw, way beyond entu apaan ya???

Writer hege
hege at Kaleidoskop (11 years 51 weeks ago)
90

asyik

Writer brown
brown at Kaleidoskop (12 years 34 weeks ago)
90

tak salah lagi, kamu mmg lihai menulis cerita. aku bener2 ga bisa menebak arah ceritanya dr awal. unpredicttable ending. salute.

Writer F_Griffin
F_Griffin at Kaleidoskop (12 years 36 weeks ago)

Yihi ada yang konteks editing! Ada yang konteks editing! YAY!
===
jadi gini, "derum" itu memang sengaja saya pilih karena ada efek suara teredam. Dan memang "derum" karena mesin cuci itu jauh di belakang. Kalau Aren berdiri di depan mesin cuci itu, baru saya pakai "deru".
Kalau masalah tanda baca dan typo, hahaha... memang aku adalah monyet kibor yang matanya siwer. Kalau proof reading selalu so pasti banyak yang keliwat! YEAH!

PANAH HUJAN= Way itu artinya jalan. Beyond itu artinya di atasnya. Jadi Way Beyond itu artinya jalan di atas yang maksudnya adalah jembatan layang.

Writer v1vald1
v1vald1 at Kaleidoskop (12 years 36 weeks ago)
90

ckckckckck....tulisan F Griffin memang sudah "way beyond"
____
salute salute

Writer neko no oujisama
neko no oujisama at Kaleidoskop (12 years 36 weeks ago)
80

Sedikit saran:
- derum : sebaiknya deru
- "Apa ini?", tanyanya heran... sebaiknya jangan ada koma setelah tanda "

Overall, bagus banget. Gw suka cara nyeritainnya. Endingnya mantap.

Writer ayundra
ayundra at Kaleidoskop (12 years 37 weeks ago)
50

Mantap kali cerpen ini. Senang punya kesempatan membacanya. pemilihan namanya nggak basi dan nggak umum, ceritanya juga pas nggak kebanyakan bumbu. jadi bacanya juga asik.

Writer Azarya Mesaya
Azarya Mesaya at Kaleidoskop (12 years 38 weeks ago)
80

teror lagi saja pembaca. kalau bisa lebih dramatik lagi jika menggambarkan konmdisi fisik tokoh sedetail mungkin. Gud Lak

Writer KD
KD at Kaleidoskop (12 years 39 weeks ago)
100

biar gak tahu, tetep saya kasih sepuluh

Writer firmanwidyasmara
firmanwidyasmara at Kaleidoskop (12 years 39 weeks ago)
100

Ceritanya ngalir euy, gak heran lah kalo nulis dah jadi santapan sehari hari (selain online tentunya hehe) ... hayoh ajarkan kami lagi hehehe

Writer naGila
naGila at Kaleidoskop (12 years 39 weeks ago)
80

keren...keren... (maaf perbendaharaan kata-kata saya cuma sedikit)

Writer Valen
Valen at Kaleidoskop (12 years 39 weeks ago)
80

mengalir, dan buat kita merasa ada di dalamnya dan penasaran untuk tahu kelanjutannya

Writer NiNGRuM
NiNGRuM at Kaleidoskop (12 years 39 weeks ago)
80

awalnya kirain Randu itu cewe and pacarnya Aren....tapi
ternyata eh ternyata...gak disangka gak dinyana...keren bo'

Writer habibi
habibi at Kaleidoskop (12 years 39 weeks ago)
60

biar nikmat aku beri, nih...

Writer PoeTry_ThaMie
PoeTry_ThaMie at Kaleidoskop (12 years 39 weeks ago)
80

Jadi pingin belajar bikin cerita yang bagus dan bisa bikin orang penasaran. Yang jelas, bisa bikin orang terbawa dengan suasana yang diciptakan oleh karangan kita...
Gimana caranya, ya?

Writer cen nih...
cen nih... at Kaleidoskop (12 years 39 weeks ago)
80

sepakat juga..ceritanya bikin bertanya2, pertama kirain aren tuh cewe, he..tnyata..

Writer nightcrawler
nightcrawler at Kaleidoskop (12 years 39 weeks ago)
70

sepakat dengan sakauta. ceritanya mengalir, enak dibaca. bagus.

Writer sakauta
sakauta at Kaleidoskop (12 years 39 weeks ago)
90

cara berceritanya asyik sekali. tampaknya yang nulis paham betul gimana membuka dan menutup cerita. dahsyat betul. mengalir lancar nyaris tanpa cela. ini baru cerpen :)