JAM KE LIMA BELAS

JAM KE LIMA BELAS

Dia memintaku datang. Dia tak pernah memintaku datang sebelumnya. Ketika orang yang biasa kau cintai menelpon pada suatu malam dan memintamu datang tanpa alasan yang kau ketahui, kau akan tahu kenapa. Sesuatu telah terjadi dan kau pasti tahu apa. Ada yang tak beres dengan hatinya.
Aku berdiri di balik pintunya tanpa bersuara. Menjajal instingnya yang mencoba berhenti mencintaiku dan mempertanyakan hatiku apakah ia sudah mampu menerimanya.
Wanita itu membuka pintu di depan hidungku dengan pandangan meneduh, tidak marah meski aku tak mengetuk. Dia masih mencintaimu, bisikku sendiri, tersenyum, aku merasakan ujung rambutnya masih terselip di sela-sela serat hatiku, belum benar terlepas. Aku masih punya harapan.
"Maaf memintamu datang malam-malam begini." Katanya.
Ah betapa kaku suaranya itu. Betapa dingin usahanya untuk menghentikan kehangatan yang aku tahu sebenarnya masih bisa tercurah padaku.
"Tolong jangan begitu." Aku memohon, "Sebab kalau memang kau berusaha keras membuatku berbalik tidak mencintaimu, kau tak akan berhasil. Kau hanya akan menyakiti hatiku. Berkali-kalipun, kau hanya akan membuat lukanya mendalam. . .tengge. . "
"Masuklah."
Dia memotong. Dia tak pernah memotong sebelumnya. Sebelumnya ia memotong dengan lidahnya, ia pautkan padaku kemudian dikatakannya, "Diam, brengsek. Aku mencintaimu."
Kali ini dia memotong. Sunyi. Aku diam ketika melangkah mengikutinya.
Kami duduk di sebuah ruangan yang lengang. Bertatapan sesaat sebelum ia berpaling dan meninggalkanku sendirian.
Aku masih bisa mencium aromanya yang hangat malam itu. Lalu bahkan malam sebelumnya lagi dan juga ratusan malam yang lain. Ruangan yang kami pakai setiap malamnya untuk memadu kasih, dalam hitungan detik saja mengasingkanku. Aku mengamati setiap sudut yang tak mengajakku beramah tamah. Tapi hatiku tetap mengatakan ia masih menyintaiku.
Dia kembali padaku dan matanya sembab. Aku menikmati air matanya yang mengalir karena itu berarti aku masih bisa berharap. Tapi sakit karena rasa sakitnya terlampau mengerikan bagiku untuk sekedar merasakan kelegaan. Aku mencoba menyentuh sudut matanya, tapi ia menjauhkan yang biasa leluasa kusentuh itu dariku.
Tuhan, aku merasa aku tak pernah selemah hari ini.
"Tolong jangan membuatku melupakan apa yang segera akan kukatakan." Bisiknya.
"Tolong juga aku." Kataku, "Tolong jangan katakan sampai kau yakin benar. Apapun yang akan kau katakan itu."
Aku hampir kena serangan jantung ketika air matanya yang sebutir meluncur melewati kelopak matanya dan merembes di pori-pori kulit pipinya. Aku seperti telah menjatuhkan beban berat dari atap sebuah gedung dan baru saja menyadari ada seseorang yang bisa kapan saja lewat di bawah.
"Jangan." Lagi lagi aku memohon. "Tolong jangan."
Aku membungkam mulutnya dengan jariku. "Kalau bisa tolong jangan katakan apapun. Tak perlu."
"Tapi ada yang harus . . ."
"Kau tahu?" Aku memotongnya, "Aku tak mau membicarakannya. Kalau bisa, aku tak ingin mendengarmu mengatakan apa-apa. Kau sudah mematahkan hatiku. Kan?"
"Ya. Ya." Angguknya.
"Aku tidak ingin membicarakan apapun mengenai bagaimana kau telah mematahkan hatiku." Air mataku tak terbendung, "Tolong biarkan saja aku duduk di sini sebentar seperti ini. Hanya sedikit lebih lama saja."
"Jangan mencoba membuatku berubah pikiran." Katanya.
"Apa kau takut?" Tanyaku. " jika kau takut, berhentilah. Kembalilah padaku. Itu yang selalu kau katakan bukan? Setiap kali kau mengatakannya dari hatimu dan aku mendengarnya karena aku mencintaimu lebih darimu mencintai dirimu sendiri. Pergilah. Lakukanlah sesuatu dan abaikanlah aku."
"Kenapa kau tidak marah saja? Kenapa kau tidak marah dan pergi dengan perasaan benci padaku? Kenapa kau tak membuatnya mudah bagi kita berdua."
Bagaimama mungkin dia tega meminta hal semacam itu? Mulutku membeku tak mampu bicara apa-apa. Namun ketika dia mengulang sekali lagi permintaannya yang bagiku terlalu kejam, akhirnya aku memaksakan diri melafal: "Ini tak pernah mudah bagiku. Bagaimanapun caranya ini tak akan pernah mudah bagiku. Asal kau tahu. Pergilah. Tapi satu hal lagi, kalau kau mendengar sesuatu, jangan berpikir itu mungkin hanya perasaanmu."
Kami diam.
"Karena itu mungkin hatiku." Tambahku. Tak kalah pilu.

Aku seperti berada di sebuah kotak kecil yang berjalan di suatu lorong berdinding bingkai masa-lalu seketika ia menjauh. Melihat semua hal kembali berputar dengan khidmat dan bisu seiring ia berlalu.
Aku menangis juga. Melewati ratusan malam itu hanya dalam beberapa masa yang singkat dan menghadapi keharusan meninggalkan segalanya.
Rokokku habis. Padahal, hanya padanya aku menceritakan semua hal.
Aku terlalu sombong untuk mengaku dosa apalagi berdoa. Sejak dulu aku selalu melewatkan berbagai macam ritual doa karena bagiku, sungguh, Tuhan itu hanya seperti perangkat yang melengkapi kepentingan manusia saja. Aku tidak percaya puji-pujian atau kalimat mengiba meminta pertolongan akan mengubah apa yang seharusnya kau miliki. Jadi aku selalu mengabaikan doa. Terutama untuk hidupku sendiri. Karena hidupku adalah dia; kalau aku percaya pada Tuhan, yang akan aku panjatkan adalah kebahagiaannya agar bersamaku.
Tapi Tuhan tak senang sembarang mengabulkan permintaan orang yang tak terlalu dikenalnya makanya tak pernah secara resmi berdoa. Aku hanya melafalkan keinginanku saja. Tak pernah menujukannya kepada siapapun- hanya kalau kebetulan ada yang mendengar, siapa saja, dan kalau aku sedang beruntung, mungkin keinginanku bisa menjadi kenyataan. Aku juga tak pernah memuji. Kudengar Dia begitu senangnya akan pujian- yang banyak memuji-yang tidak akan sia-sia doanya- begitulah. Sementara bukannya memuji aku justru tertidur di gereja dan membersihkan sisa pizza yang tercecer di sprei tempat tidur dengan halaman kitab wahyu.
Aku memang terkutuk.
Dan tiba-tiba aku menjadi demikian merasa terhinanya dengan keterkutukanku karena ditinggalkan orang yang sangat kuinginkan. Kemudian aku menghiba. Mengemis entah pada siapa- berdoa agar Dia punya lebih banyak telinga supaya bisa mendengarku. Dan hati yang lebih besar supaya mengabulkannya.
Cinta telah mengubahku menjadi pengecut dan hipokrit pada saat yang bersamaan.
Karenanya kemudian aku duduk di dalam bilik pengakuan dosa sambil menangis karena toilet pria di kantorku penuh. Apalagi laki-laki yang biasa memperhatikan kehidupan pribadi semua orang sedang mengalami kelainan pencernaan berat. Sampai bagian belakang celananya lembab.
Pastor diseberangku berpikir aku telah menemukan jalan yang benar dengan bertobat. Aku cuma mau dia. Cuma dia. Persetan yang lain-lainnya.

"Aku tidak bisa..." Tegasku. Aku memang tidak bisa. Aku tidak bisa tanpanya.
"Julian..." Bisiknya memanggilku.
Suaranya seperti lelah. Dan yang lebih menyakitkan, kelelahannya bukan secara fisik, melainkan mental. Ahhh... apakah aku telah membuat perasaannya bekerja demikian kerasnya? Hingga aku merasa aku begitu tidak memiliki perasaan memaksanya mengetahui betapa aku tersiksa karenanya?
"Aku memohon..." Kataku. Merintih.
"Cobalah dulu, Julian... Baru empat belas jam sejak kau meninggalkan apartemenku..."
Ya... Rasanya seperti empat belas tahun.
"Apa aku begitu tidak kau inginkan?" aku menanyakannya. Aku tahu akan menyakitkan ketika mendengar jawabannya-tapi entah kenapa pada saat-saat seperti ini aku benar-benar merasa tak mampu menguasai sistem navigasi diriku.
"Jul..." desahnya. Dia mencoba menghindar dari membuatku sakit hati, aku tahu.
"Jawablah..." Tapi aku bersikeras.
"Aku sudah bersama orang lain."
Hatiku menghilang. Rasanya tiba-tiba saja tidak ada apa-apa dibalik tulang dadaku. Kosong. Sedetik kemudian jantungku yang mendobrak-dobrak berusaha melepaskan diri. Aku merengkuhnya secara harafiah. Meremasnya agar dia takluk. Tapi perlawanannya begitu kuat. Aku terdorong dan tertangkap oleh pintu telepon booth yang kemudian dengan kokoh menahan agar tubuhku tidak terlempar ke jalanan.
Aku megap-megap.
Mencoba mati-matian supaya tetap bisa bernapas. Seperti seekor ikan sekarat yang berenang di permukaan dan berusaha mengantongi udara sebanyak mungkin untuk kembali ke dasar dan berenang kembali, aku menggagapi meja tempat telepon secara permanen terpaku disana dan mendengarnya memanggil-manggil namaku.
"Siapa?" kupaksakan untuk mendesaknya.
"Sudahlah, Julian..."
"Siapa?"
"Seseorang yang tidak kau kenal..."
Oh. Jadi seseorang yang tak kukenal telah berhasil menikamku dari belakang? Kejam.
"Kau kejam..."Aku mendesis seperti ular.
"Ya. Kau benar. Aku kejam." Ujarnya tajam. Mengiris-iris telingaku sama perihnya seperti bagaimana Ia menganiaya hatiku.
"Kau kejam. Kau wanita jahat." Aku masih mendesis. Dalam sekali. Sampai aku tak juga bisa mengenali suaraku sendiri. Aku benci wanita yang jahat. Aku benci Ibuku yang pelacur. Nenekku yang lari dengan laki-laki lain dan melahirkan Ibuku. Dan dia. Yang kucintai dan berkhianat.
"Jul... Kamu harus belajar berdiri sendiri. Aku tak bisa menopangmu seumur hidup. Aku membutuhkan kehidupanku sendiri." Diuraikannya seperti aljabar. Sepertinya mudah bagiku untuk sekedar mengerti dan tidak mengerti.
"Kehidupanmu bersamaku!!" Pengertianku terbatas dan aku mulai memaksakan diri.
"Oh... Tuhan. Mengertilah."
"Aku menolak tuntutanmu! Lagipula kau sudah menolakku. Jangan sebut aku semacam itu. Aku tidak suka!"
Mungkin aku mulai gila.
"Kau mendesak seperti buldoser." Akhirnya dikeluarkannya juga, "Menempel seperti parasit. Menjerat seperti lintah darat dan mengurung seperti jeruji besi. Aku kelelahan untuk berusaha tetap diam dalam caramu mencintaiku. Aku ingin melepaskan diri. Maka lepaskanlah aku, Julian!!"
"Aku melepaskan apa saja demi kau!!" Aku tidak terima. Tidak terima!
"Dan aku melepaskan apa saja agar kau melepaskan aku..." seperti tidak pernah mencintaiku sebelumnya, seperti tidak pernah berbagi suka dan duka denganku sebelumnya, seperti tak pernah membicarakan masa depan denganku sebelumnya, Ia menyayat seperti sembilu.
Telepon terputus. Nut... nut...
Aku menjerit sekuat tenaga.
Menelpon lagi dan dia mengangkatnya namun tak ada suara sahutan sama sekali.
"Aku masih bisa membayangkan tata letak ruangan apartemenmu sebaik aku menggambarkan diriku sendiri saat aku berdiri berhadapan dengan cermin. Aku masih bisa mengingat berapa banyak dan dimana saja letak tai lalat dan bekas luka masa kecil di setiap inci tubuhmu. Aku memperhatikanmu dan tidak pernah jatuh tertidur setiap kali kau terlelap kelelahan sehabis kita bermain cinta. Aku menusukkanmu sebegitu dalamnya kedalam kehidupanku dan kau menganggapku parasit yang menempel?
Aku merasa aku pantas membunuhmu dan menyimpanmu ke dalam kloset-karena aku benci sekaligus mencintaimu setengah mati. Tak mau kehilanganmu..."
"Julian..." Ia merintih perih mendengar kalimat titik balikku.
"Jam kelima belas..." Ya. Aku akhirnya mencapai titik tersebut.
"Jul..." Dan bagaimanapun dia memanggilku kembali ke dalam pelukannya, aku tak mau terlempar ke titik nol lagi.
"Dalam lima belas jam kau menghancurkan perasaan yang tak pernah kupikir pernah ada sebelumnya. Kebencian yang dalam padamu. Selama ini aku hanya menyimpan rasa cinta yang besar. Terlalu besar sampai aku tak bisa membayangkan perasaan benci. Bahkan saat terakhir kali aku meninggalkan pintu apartemenmu lima belas jam yang lalu... aku masih belum bisa mengira-ira alasan apa yang sekiranya bisa membuatku berbalik membencimu.
Sampai sekarangpun perasaan cintaku tak berkurang. Tak menyusut. Tak hanyut.
Tapi kau menciptakan yang lain. Seperti Tuhan dalam kehidupanku, kau dengan seenaknya menciptakan dan menghanguskan sesuatu.
Lima belas tahun aku mencintaimu. Lima belas jam saja kau memintaku membumi hanguskan rasa cinta yang tertanam seperti pasak bumi. Kau jahanam..."
Aku menutup telponnya dengan tenang.
Terpuruk seperti sehelai kain yang terjatuh dari bahu...
Mungkin aku akan dipungut dan diletakkan dengan benar. Kalau aku beruntung, mungkin aku akan dicuci dan dikeringkan kemudian dihaluskan dan disemprot dengan pewangi. Semoga saja noda akibat terjatuh itu tak tertinggal.
Atau mungkin akan dibiarkan begitu saja. Dilewati atau bahkan diinjak-injak seperti tai.
Rasanya aku mau muntah lalu mati.
Untuk 15 jam yang menyesakkan dada
August 2, 2006
Dec 2, 2006-revised based on a friend's revision.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Popy RiLvia Luchan
Popy RiLvia Luchan at JAM KE LIMA BELAS (7 years 20 weeks ago)
90

karya tiap orang tetaplah berharga...

Writer arudoshirogane
arudoshirogane at JAM KE LIMA BELAS (7 years 26 weeks ago)

nice

Writer arudoshirogane
arudoshirogane at JAM KE LIMA BELAS (7 years 32 weeks ago)

wow, i-ini... boleh saya comot sdikit bagian dr crita ini :3

Writer frenalfarisi
frenalfarisi at JAM KE LIMA BELAS (9 years 26 weeks ago)

wow, menyentuh

Writer santorini.girl
santorini.girl at JAM KE LIMA BELAS (10 years 19 weeks ago)
90

Keren! Ternyata emang susah untuk survise selama 15 jam...

Writer estehpanas
estehpanas at JAM KE LIMA BELAS (12 years 13 weeks ago)
60

panjang nya..bwt cerita yang menyedihkan siiip,,,tapi ga sabar mbacanya.....panjang ya....kurang cepet apa ya alurnya...kalo aku lebih sabar mbacanya,nih crita bisa di bilang.....menyakitkan hati banget...- nice stroy -

Writer Bayangkari
Bayangkari at JAM KE LIMA BELAS (12 years 13 weeks ago)
50

nggrantess, gero-gero tapi masih capek aku bacanya. Kurang merangsang imajinasi pembaca

Writer MR.V2
MR.V2 at JAM KE LIMA BELAS (12 years 15 weeks ago)
100

ceritanya menyentuh banget neeh

Writer airy raylight
airy raylight at JAM KE LIMA BELAS (12 years 16 weeks ago)
50

ceritanya terlalu aneh...

Writer Cai
Cai at JAM KE LIMA BELAS (12 years 16 weeks ago)
60

aku suka kata-kata yang mengantarkan ceritanya, tapi bukan jalan ceritanya, terlalu umum...

Writer imoets
imoets at JAM KE LIMA BELAS (12 years 22 weeks ago)
80

hmm...sangat menyentuh menyakitkan

Writer Rebo Paijo
Rebo Paijo at JAM KE LIMA BELAS (12 years 32 weeks ago)
70

Saya menyukai kalimat ini: "Cinta telah mengubahku menjadi pengecut dan hipokrit pada saat yang bersamaan"

Writer neko no oujisama
neko no oujisama at JAM KE LIMA BELAS (12 years 32 weeks ago)
100

Membuatku berpikir bagai teater yang sedang ditulis. Bagus banget...

Writer Valen
Valen at JAM KE LIMA BELAS (12 years 32 weeks ago)
80

Ternyata baru skrg kasih komen nih. Padahal this is one of my favorites.
Love the first paragraph:
"Dia memintaku datang. Dia tak pernah memintaku datang sebelumnya. Ketika orang yang biasa kau cintai menelpon pada suatu malam dan memintamu datang tanpa alasan yang kau ketahui, kau akan tahu kenapa."

Bener-bener ngena!

Writer niwatori
niwatori at JAM KE LIMA BELAS (12 years 37 weeks ago)
40

Paragraf pertama bagus banget, sayang lanjutannya agak meliuk-liuk. Tapi memang cukup dramatis.

Writer Azarya Mesaya
Azarya Mesaya at JAM KE LIMA BELAS (12 years 38 weeks ago)
10

Kurang ekspresif. Jadi kaya Indonesian Idol nech...

Writer walank
walank at JAM KE LIMA BELAS (12 years 38 weeks ago)
50

penceritaannya bagus, juga endingnya manis. gayanya gitu!

Writer Farah
Farah at JAM KE LIMA BELAS (12 years 39 weeks ago)
50

berasa sakitnya hati julian,,,jadi inget diri sendiri nih,,ups

Writer itsjayuz
itsjayuz at JAM KE LIMA BELAS (12 years 39 weeks ago)
50

inti ceritanya oke.. cuma banyak tambahannya jadi aga bosenin..
tapi teteeeep..
makin banyak nulis.. makin berpengalaman..

Writer youngroorkee
youngroorkee at JAM KE LIMA BELAS (12 years 39 weeks ago)
30

Maaf, saya enggan untuk terus membacanya. Intro cerita ini aja sudah membuat saya capek membacanya. Terlalu banyak menggunakan kata kerja aktif, coba dilenturkan sedikit.
Anyway, terus menulis!

Writer edowallad
edowallad at JAM KE LIMA BELAS (12 years 39 weeks ago)
50

dari nama tokoh julian
aja udah mirip karena gue selalu kasih nama juan utk tokoh laki-laki.
terus intrik drama yg terjadi juga bagus tapi terlalu mengumbar kata bos...
buang karakter banget
tapi oke lah

Writer jaya sampurna
jaya sampurna at JAM KE LIMA BELAS (12 years 39 weeks ago)
50

Lumayan, tapi kata - katanya berlebihan ?
tak apa maju terus....

Writer dian k
dian k at JAM KE LIMA BELAS (12 years 39 weeks ago)
80

Love hurts.

Writer PoeTry_ThaMie
PoeTry_ThaMie at JAM KE LIMA BELAS (12 years 39 weeks ago)
40

Gak sanggup baca lagi. Gak ada semangatnya. Suka sih, tapi terlalu kaku dan menyedihkan dibuatnya. Kata-kata dan bahasanya bagus dan klop dengan suasana dan tema.

Writer cen nih...
cen nih... at JAM KE LIMA BELAS (12 years 39 weeks ago)
80

i know someone who has gone through a similar situation as this..ternyata begitu kali ya perasaannya pada saat itu..jadi sedih..hiks..good..i like this...

Writer v3ndy
v3ndy at JAM KE LIMA BELAS (12 years 39 weeks ago)
80

Alurnya agak meloncat, tapi isinya nice.

Writer F_Griffin
F_Griffin at JAM KE LIMA BELAS (12 years 40 weeks ago)
90

Bagus ah ini...
dramatis gitu.

Writer firdha gonzy
firdha gonzy at JAM KE LIMA BELAS (12 years 40 weeks ago)
50

lumayan kok..bagus..semangat ya!

Writer aanmansyur
aanmansyur at JAM KE LIMA BELAS (12 years 40 weeks ago)
30

kurang greget! tetap menulis!