Tujuhbelas Tahun ++ ( Part III )

Well, the story goes on…cerita berlanjut, aku ingin serius kali ini. Terlalu main-main juga nggak enak, dikira aku ngulur ngulur cerita kayak sinetron seragam. Aku harus urai satu satu, dimana posisiku, dimana posisi Wulan, juga Endah.

Jujur saja, aku bingung. (bahkan penulisnya juga nih !)

Coba bayangkan, kalau aku meneruskan cinta instanku dengan Endah, adalah satu petualangan derita tumor kenangan yang tyada habis bahkan menjurus stadium lara nestapa untuk Wulan. Karena ibunya itu pasti selalu ada di jadwal perjalanan asmara harian yang akan kujalani dengan Endah. Karena Wulan, walau semusim asmara dulu , adalah serpihan sekam masa lalu ku yang terendap, dan kini membara kembali karena sumbu memory telah tersulut dan siap meledak kapan saja aku mau menekan detonator hasrat.

Kalau aku kembali meneruskan episode cinta dengan Wulan yang dulu pernah tertunda karena masalah perjodohan konyol itu, bagaimana pula dengan Endah,…

Duh !, Endah akan patah hati tiga kali sehari karena kehadiranku bukan untuknya lagi, tapi gantian mengapeli ibunya yang jujur saja sebagai ibu muda, masih butuh belaian seorang lelaki apalagi seganteng aku. (ganteng?..itu kata perawan anak tetanggaku lho)

Duh !, Endah akan membenciku setengah mati, bahkan mungkin akan berlari pontang panting tak tentu arah untuk menghindari aku, pula ibunya.
Bisa anda bayangkan akibatnya, anak gadis seusia itu kabur dari muak kenyataan, mengemban gelisah dan menimbun mimpi, …konon biasanya, kalau tidak dijual oleh calo buas jahanam ke pulau Batam untuk dijadikan penari goyang ranjang, pasti terdampar di ketiak Oom – oom mesum yang dengan iming-iming N 70i atau W 800 , sudah bisa si Oom mempraktekkan smack down, bergelut dan melumat habis tiap inchi lekuk molek si gadis. (amit-amit, jangan sampe ya, Ndah! )

Lalu kemungkinan mana, peluang yang paling aman, paling kecil resiko dan paling menjanjikan prospeknya yang harus ku jalani ? (kayak Asuransi aja ya..)

Sang Waktu, berhentilah dirimu tuk beri aku jawaban.

Sang Hening, dekaplah aku dalam bijak keputusan.

Tetapi Sang Waktu diam. Tetapi sang Hening bisu, (tinggal aku sendiri terpaku menatap langit…barangkali disana ada jawabnya )

****

Pak Rusli, direkturku berbadan kerbau, pasang wajah ceria saat aku datang.

“ ini yang aku tunggu”
“siapa pak?” aku celingukan
“ya kamu itu, Pras, siapa lagi…”
“ ooh,..”

“ duduk Pras,…aku bersyukur kau sudah sehat dan nggak jadi stroke….ngga enak kan rasanya kalo sakit ? “

Aku bersungut. Mana ada sakit kok enak…kecuali Selebritis sakit yang bisa menunda persidangan. Lalu pasang wajah minta di kasihani, seolah nggak punya dosa, lugu,polos dan merasa terzalimi, waktu pengacara nya memberikan keterangan pada Pers yang sangat butuh berita memalukan moral bangsa tersebut. Padahal itu untuk dilupakan.

“ Ada apa, Pak?...” aku duduk ragu. Tak biasanya.

“ kabar baik !, …apalagi? “ dia menyalakan rokoknya. “ Rokok, Pras…(aku menggeleng), ..payah kamu, orang laki nggak ngrokok “

“ngrokok sih Boos…tapi kan baru sembuh “

Dia hembuskan dulu asapnya, lalu kembali bicara

“ Begini , Pras, …Dewan Komisaris telah sepakat, bahwa perusahaan akan melakukan perluasan pasar, dan mereka menyetujui untuk membuka cabang di salah satu kota di pulau Jawa inii …”

“ wah, hebat, perusahaan kita pak….bagus itu “
“ Iya dong, siapa dulu direkturnya….”

Kulihat ujung bibir lelaki gembrot itu bergetar. Gede kepala.

“ lalu ? “

“ Nah, melihat kemampuanmu selama ini yang diatas rata-rata manusia normal, dan aku yakin kau orang yang suka tantangan liar,….aku mengusulkan agar kau menjadi kepala cabang di sana …”

Aku belum bereaksi. Seperti yang diharapkannya.

“ satu tingkat di atas jabatan mu selama ini, Friend !..kepala cabang,..nggak main-main lho…gaji naik duapuluh persen, dan ada uang dinas luar kota rutin pastinya….belum uang jabatan,….gimana ?

Aku belum bereaksi. Dia penasaran makin gencar menawarkan misinya.

“ bonusnya ada juga lho, Pras… bukan tirai nomor satu atau tirai nomor dua, tapi uang tunjangan untuk anak ist…., eh kamu udah kawin belum sih ?....”

Aku langsung bereaksi

“ Belum, Boss…nah,…jadi nggak masuk kategori kan…horee…” aku bertepuk tangan.

“ siapa bilang, ….aku belum habis ngomong…maksudnya kalau belum kawin ya, tunjangannya buat keluargamu, …masa buat gundikmu,…ah boro-boro Gundik , aku yakin kau kawin aja belum bisa, apalagi punya Gundik….cemen kamu Pras “

“ Lho memangnya Boss punya ? “ kalau ini aku harus ngotot. Cemburu. Padahal terus terang aku tersinggung dengan kata ‘cemen’ nya itu.

“ makanya gaul, dong sama Bossmu ,..contoh nih contoh…ada dua Pras….nih…baru lelaki “ (menunjuk dadanya)

Lalu Hp. nya bunyi dan terdegar suara wanita nyerocos. (lupa kepencet speaker nya)

“ Pah, habis ngantor langsung pulang, ya…mamah bikin lontong sayur nih, baru ketemu resep masakannya.. (hari ‘gini lontong sayur aja pake resep). ..langsung pulang lho, nanti nggak ada yang ngabisin…langsung pulang, ya…awas..kalo mampir kemana, mana “

Dan kudengar jawaban Pak Rusli berikut mimik wajah yang takluk.

“ iya, mah…iya mah..iya aku langsung pulang,..nggak ..iya, nggak percaya banget sih…”

Aku tersenyum. Dia mendelik kearahku. Dan begitu dia mematikan Hp, giliran aku men-skak nya

“he..he..he.. begitu ngomongnya punya Gundik dua, Boss…Boss…”

Dia tersipu kunyuk.

“ kalo masalah Gundik, itu betul Pras..ntar deh aku kenalin”
“ ngapain lagiie..”

*****

Bukan maksud hati mau main belakang, atau ber backstreet yang berujung pengkhianatan, kalau akhirnya aku nglecehin Endah, menemui ibunya diam-diam. (sory ya Ndah, ini urusan orang dewasa) Selain masalah ini bisa menemui titik terang, sekalian juga kerinduanku menemui titik didih.
Darahku memang terasa panas bagai mendidih begitu mobil ku parkir diujung gang rumahnya. Dan dag dig dug mencoba menahan napas agar tak kaget lagi yang kedua kali. Malu dong , sama tukang kreditnya .

Dan aku tak berciluk bak lagi kaya dulu.

Adiknya yang kecil sedang jongkok, di ambang pintu kontrakannya

“mbak Endah Nggak ada “

“oh, ya…kemana “

“ ‘kan kerja…”

Aku berjongkok dan mencoba akrab.

“ Lagi main apa, nih..” padahal sudah tau yang dihadapi adalah kelereng.
“ya main kelereng, dong..masa main mahjong”
“ kalo ibu ada?...”

Dia tak menjawab. tapi berteriak kencang.

“ Bu, ada yang cari Mbak Endah,…orangnya nggak pergi pergi ! “

Dari dalam terdengar sahutan.

“ Endahnya nggak ada dek,…kerja., pulangnya sore…jam… “Wulan keluar sambil menyanggul rambutnya sembarang. dan tak meneruskan kalimatnya begitu yang dilihatnya sosok lelaki yang datang dari rimba Jumanji antah berantah masa lalu.

“ Oh, ka..mu..”

“boleh aku masuk “
“ Endahnya nggak ada…belum.”
“ aku tahu… justru itu aku kesini menemuimu..”.”

Dia menatapku sesaat. Mata indah itu memang milik masa lalu yang aku pernah katakan tak kalah oleh mata indah Yenny Rachman , tapi sinarnya redup tersaput kabut kecewa nan panjang dan derita hidup tyada habis.

“ masuk lah…”

Aku melangkah mendekatinya.
Menembus pintu hati, merebak khayal ilusi…(sory, puitis lagi )
Bagai masuk ke lorong rimbun yang kanan kirinya peri hutan menyambut segar bercahya, kulihat dia diujung jalan dengan busana bidadari berselendang kelabu dan mahkota bandana daun teratai, bertelanjang kaki menapak di titian warna pelangi.

Pertemuan pertama hanya menyapa kabar yang kurasa hanya mirip basa basi, tersela anaknya meminta uang jajan, dan aku memberinya sepuluh ribu. (ngganggu aja !) , lalu anak keduanya pulang sekolah , langsung makan di depanku (ini apalagi!)
Dan obrolan belum apa-apa, Endah sudah pulang kerja dengan wajah ceria.

“ Lho, Cinta,…kamu kok udah di sini?...” (sok dewasa) tak ada nada curiga, atau cemburu.

Dan segera posisi Wulan di gantikan oleh Endah untuk bermanja. Bahkan digeser kursinya hingga tak ada jarak denganku. Wulan masuk tanpa menoleh lagi .

Barulah pada pertemuan kedua, setelah memberi anak-anaknya jajan, dan mau tunggu rumah, aku bisa membawanya pergi.

Dan aku tak menunggu lama. Begitu mobil kuparkir di satu sudut Taman Mini, dia menghambur menangis panjang di dadaku. Tanpa sungkan, tanpa dia minta aku memeluk tubuhnya. Tujuh belas tahun sejak sentuhan terakhir, rasa itu kembali hadir di sini. Damai dan damai.

Bukan aku yang meminta, kalau di Radio Sonora melanjutkan syair romantic tadi.

Di hati ini sering melagukan rindu
Senyum tangismu dimataku

Andai waktu bisa menemukan semula
Akan kubina kasih dulu,….bersamamu..

Hampir setengah jam dia menangis tak henti, dan aku tak mau mengganggu nya, kecuali beringsut sedikit, karena pakaianku basah kena air mata. Dan begitu dia menengadahkan wajahnya, mata itu terlihat sendu namun seuntai senyum yang buatku paling indah di dunia ( Sorry Miss. Monalissa) terkembang di gondewa bibir pucatnya.

“ tujuh belas tahun aku tak menangis….rasanya bagai terlahir kembali …
…tujuh belas tahun aku mengembara di dunia asing…sendirian…. Kamu bisa bayangin, tujuh belas tahun aku bersama dengan orang yang tak aku cintai, , … Demi mendapat pengakuan kalau aku ini anak yang nurut orang tua…”

Ku biarkan dia nyerocos terus.

“ kalau toh ini berjalan hingga kini, ….anak-anak ku terlahir, adalah kepasrahanku menadah karma alam yang tak bisa ku tolak…. Dan ku hibur diriku dalam kebisuan, aku tak mau ngomong dengan ayahku selama ini….itu harga yang harus dia bayar. “

Aku memeluknya lebih erat. Erat sekali. Aku mencari naluri buayaku, menggeledah sisi otak kotorku, libido He-man kalau ada. Tapi semua bersembunyi. Semua sunyi. Semua tak ada yang curi kesempatan, walau satu kecupan juga aku singgahi di keningnya.

Ternyata hanya cinta. Hanya cinta dalam harfiah tanpa besutan nafsu yang kini merasuki jiwaku terhadapnya. Kutemukan itu.

Ya, cinta sesungguhnya.Nggak kurang, nggak lebih. Nggak mengada-ada. (deal?…deal !)

Dan Wulan makin mendekam dalam tahanan hangat pelukanku. Wajahnya puas seolah baru saja melepaskan beban berat yang menjerat lehernya.

Dan beban berat itu justru gantian di jeratkan pada leherku.

Aku makin bingung ! Bingung !

*****

Wulan is not enough ! …Wulan saja tidak cukup untuk membuatku pusing. Ini ditambah ulah keluargaku yang gencar menjodohkan aku dengan gadis-gadis bawaannya untuk disandingkan. Mereka sedih dan prihatin bahkan ayahku sampai puasa hajat segala dan ibuku minta contoh Do’a dari operator 93xx ( yang langsung bikin dia kapok, karena pulsa nya di keruk terus gak berhenti walau udah UNREG) agar anak sulung jomblo nya ini bisa segera mendapatkan jodoh.Aku tiga bersaudara, dengan dua adik perempuan yang telah menikah.

Memang, kadang ayah ibu dan tetanggaku juga heran. Sebenarnya apa yang kurang denganku hingga saat ini belum juga laku.

“ kamu kan ganteng, Pras…..bukan rahasia umum lagi kalau sebenarnya muka kamu tuh nggak beda jauh sama si Fery Salim …tolong kamu sadari itu. “

“ iya, bahkan kamu lebih Flamboyan, walau nggak keluyuran ke salon Jonathan Bridal…Cuma herannya kok nggak ada perempuan yang deketin ya ..pada goblok tuh perempuan”

Akhirnya untuk menyenangkan keluarga, dengan terpaksa kuterima juga order kencan kecil-kecilan. Dan repotnya, usai kencan aku harus meyakinkan mereka kalau aku tidak cocok dengan gadis-gadis yang mereka tawarkan.

Pertama , Rinda alias Liem Yuen , teman kerja suami adikku. Gadis keturunan Cina muslim Bogor. Supervisor di pabrik sepatu . kesan pertama memang menggoda. Tubuh putih sempurna, penampilan elegan, bahkan kuperhatikan seksama, mirip Maggie Chung,( itu lho, pemeran Janda gatel, peluluh hasrat dalam genre klasik Tsui Hark
‘ Dragon Inn’ ). Cuma saat kencan, saat itulah aku merasakan ke-bete an yang mendera. Dia selalu mencacat apa yang aku tawarkan walau dalam urusan sepele.

“ Nonton bioskop, mau nggak?,…film nya keren nih, Silent Hill “
“ aduuh,di bioskop ya? aku kan phobia gelap. Takut. mendingan beli DVD nya aja deh, kita tonton di rumah, kan semua keluarga dan saudara kita jadi ikut nonton “
“ sekalian aja undang tetangga satu erte “

Libidoku otomatis turun .

“ enaknya ujan-ujan sore begini kita ngopi yuk “
“ nggak ah, kopi kan ada kafein yang bisa memacu kerja jantung.Nggak sehat “

Aku boring, dan menyalakan rokok.

“ aduh, jangan ngrokok, dong…rokok kan mengandung empat ribu zat berbahaya buat tubuh dan bisa bikin impoten “

Aku salah tingkah. hingga menawarinya gorengan bakwan dan combro.

“ gimana sih, kamu itu,… aku kan vegetarian, nggak makan oncom “
“ lho, vegetarian bukannya nggak makan ikan asin ?,…nanti cacingan.

Dia melotot. Dan berlalu meninggalkan bekas tangan di pipiku.

Kedua namanya Susi.Nama panjangnya Susilowati Pradahlan Sindhu Kinayung perawan Surakarta tulen…jarang bergaul dengan lelaki. Rumahnya dekat kraton. Jadi etika unggah unguh sebagai kautamaan Putri Solo,terpancar di sikapnya. Dia anak kenalan ayahku waktu sama-sama antri ambil uang pensiun.
Kembali aku kecewa. Bukannya senang dengan wanita yang lugu dan santun itu, tapi geli dan kasihan untuk menjamahnya. Bayangkan, ditawari ini, menggeleng, ditawari itu, mboten mawon, aku pegang tangannya emoh,….aku paksa mencium bibirnya,… (keenakan mungkin), jadi dia diam saja….mau minta tambah malu,’kali.
…he..he..he..

Aku kasihan atas kepasrahannya. Dan berjingkat pergi manakala dia masih sibuk merem melek.

Dan yang paling parah, adalah Donna. Manager adikku di perusahan Advertising. Lajang tigapuluh tujuh tahun, penyandang empat gelar sarjana. Ikon yang mewakili wanita liberalis modern yang super bangga pada apa yang dimilikinya.
Bagai magnet memang. Cantik, lincah , seksi, cerdas, attractive, busana kelas ternama, dan cara bergaul didikan Jhon Robert Power.

Justru aku yang keder bagai ayam sakit encok.

Cara bicara, cara menatapku, level thema perbincangan, aku kalah. Lha iya. Walau manager, dan mengikuti perkembangan trend pola hidup yang ada, aku lebih cenderung menjadi manusia lelaki Indonesia normal nan fleksibel . Jadi makan di Hilton aku gak malu malu in, tapi nongkrong di warteg ujung kali Poncol pun masih pantas sambil mengangkat satu kaki ke kursi.

Dan tak menunggu lama, akhirnya perbincangan di dominasi habis olehnya.
Aku di kuliahi tentang prospek hidup. Dan baru empat jam kemudian aku sadar, kalau ternyata aku digiring untuk ikut bisnis MLM nya. Kampret !

*****

Entahlah sampai kapan aku harus bersandiwara dengan Endah. Aku coba menjauh dan berubah sikap untuk menyayanginya sebagai seorang adik, mungkin juga sebagai anak, tapi justru dorongan hasrat wanita dewasanya mulai tumbuh dan tak malu-malu lagi dipublikasikan padaku. Dia selalu bermanja dan bermanja.
Kadang sepertinya dia mulai tahu bagaimana untuk menyenangkan aku sebagai lelaki dewasa tulen. Dia pasrah dan tak malu lagi bila animal insting ku hadir, ingin mencumbunya. Bahkan seakan menawari bagian-bagian yang belum sempat aku jamah….(untung Cuma cerpen, coba kalau film, sudah kena tegur ‘ Nek Titie Said dari Lembaga Sensor Film )

Dan ibunya, Wulan, seolah tak lelah mengundang akan episode cinta yang hilang dahulu. Berupaya agar aku ingat akan tangisanku dulu dan ketak relaanku dulu tentang kepergiannya, dia menyeretku untuk memugar lagi puing puing janji yang pernah terrenda berdua.
Ah, mengapa manusia selalu merindukan masa lalu, sepahit apapun itu.

Sementara aku harus pergi ! aku di desak waktu.

Presiden Komisaris perusahaan telah menandatangani SK pengangkatanku sebagai Kepala Cabang di Jogjakarta. Dan efektif berlaku bulan depan.

Aduh, bagaimana ini !

Bagaimana aku harus memutuskan urusan cintaku.

Siapa yang harus aku pilih, Wulan atau Endah !

******

Aku tak pandai bertutur kata, karena aku bukan Pujangga, aku ini apa adanya. Tapi kumohon tolonglah aku, wahai Pembaca yang mulai bete.
Berilah aku alasan agar aku legowo meninggalkan Endah, dan ksatria menerima Wulan kembali. Berilah aku alasan, bila harus tega-tegaan mengacuhkan Wulan dan terus bermuka badak memacari Endah.

Nggak perlu repot, kok. Cukup beri tanda “ X “ ( silang) pada pertanyaan pilihan berikut ini, disertai alasannya. ( jadi inget ujian SMP jaman dulu)

A.Aku memilih Endah, ……….
B.Aku memilih Wulan, ………
C.Memilih A dan B kedua duanya ( dasar wong edan ! )

Komputer sudah lelah aku pelototi mencari jawaban untuk kutulis (bolak-balik screen saver terus).Rokok sudah habis dua bungkus, dan kopi tiga kali nambah.
Winamp sudah malas me-return lagu yang itu -itu lagi buat menemani.
Mau nggak mau aku ‘Shut down ‘ dulu. Layar hitam. Sayonara !

Adalah malam merambah kelelahanku.
Dan Rembulan pucat terbias di kaca arloji tanganku.

Udah jam 01.23 WBD (Waktu Bagian Depok)

Capek !

Kota Kampus, usai hujan Imlek

Read previous post:  
59
points
(2099 words) posted by rinojoe 12 years 32 weeks ago
73.75
Tags: Cerita | cinta | ( From Gombong with Love )
Read next post:  
Writer Bramanti
Bramanti at Tujuhbelas Tahun ++ ( Part III ) (3 years 27 weeks ago)

..

Writer l4dy1241n
l4dy1241n at Tujuhbelas Tahun ++ ( Part III ) (12 years 30 weeks ago)
100

aduhhh lucu bgt seh.. bacanya jd seru... waalu dipanjangin tp ga nge-bosenin.. ditunggu tamatnya ya...

Writer anty
anty at Tujuhbelas Tahun ++ ( Part III ) (12 years 30 weeks ago)
70

kayak KDI TPI aja pake pilih2.hee....he...he....

Writer KD
KD at Tujuhbelas Tahun ++ ( Part III ) (12 years 30 weeks ago)
100

Pilih Endah, sambil sesekali selingkuh sama Wulan; ha..ha..ha..(16384x)

16384 = 2 pangkat 14

Writer Super x
Super x at Tujuhbelas Tahun ++ ( Part III ) (12 years 30 weeks ago)
70

Ini kan cerita bersambung nih. Coba digunakan fasilitas PARENT..... Letaknya setelah kita klik tambah cerita --- terletak di bawah TITLE... biasanya default dari menu ini (top-level) --- nah kalo kita bikin cerita SERI ke -2, maka di PARENT itu cari judul SERI ke-1 --- jadi kita pembaca nggak kesulitan mencari di mana seri 1 dan seri 2 atau seri-2 sebelumnya.... karena di postingmu yang terbaru bisa kita liat koneksi menuju ke postingan dari pertama hingga sekarang.
****
Coba bayangkan kalau sampai 10 atau 20 seri... kan capek nyariin seri pertamanya... ^_^