Tribal Sun-shaped Tattoo Woman

Tribal Sun-shaped Tattoo Woman
Teks. Edo Wallad

: Tribal Sun-shaped Tattoo Woman

Maafkan aku, tapi aku sayang kamu. Aku tidak mau basa basi. Aku tidak mau membuang waktumu. Dan sumpah, aku tidak mau merubah semua apa yang
sudah menjadi kebiasaanmu. Aku tidak akan mengeluh soal maskara di matamu yang sesungguhnya sangat aku benci. Aku tidak akan berbicara soal caramu menyumpah serapah (tapi walaupun sangat kasar setidaknya kamu menyumpah dalam bahasa Indonesia, sebenarnya ini yang aku juga suka dari kamu ketimbang kamu sok kebule-bulean teriak f**k you! tidak karuan) saat berbicara soal bekas pacarmu yang sesungguhnya memekakan telingaku. Anyway aku suka tatomu… sebuah tato
matahari motif tribal di punggung kaki. Oh Tuhan… itu seksi sekali sayang. Di kaki demi surga! Aku seperti ingin menjilat habis matahari yang sama sekali tidak panas itu.

Iya sayang, aku memang tidak setenang dia bekas kekasihmu yang tidak bergeming oleh tangisan dan umpatanmu. Tapi mungkin ia hanya seekor reptil. Tapi aku bukan dia. Aku ini orang yang hangat, sayang. Aku penuh cinta. Dan, (hehehe) mungkin birahiku overloaded.

Aduh… lagu apa yang kau putar? Disko bukan metal juga nggak.

-----

Aku mau jadi tatomu

melekat dalam di bawah kulitmu
tertanam selamanya

menjadi tanda pengenalmu

maka,
ketika orang melihatku...
mereka akan mengingatmu

aku mau jadi tatomu
melekat dalam di bawah kulitmu

Jakarta,
1 Desember 2003

Sudah beberapa lama aku mengenalmu. Baru kemudian aku menyukaimu. Ada sesuatu saat kau duduk berseberangan denganku saat itu. Saat kau menyeruput kopi sedang aku berpuasa. Aku tidak haus melihat kopi itu. Aku jadi haus melihat bibirmu. Puasaku makruh karena bibirmu!

Aku tidak mau pernah membutuhkan seseorang. Aku tahu sesungguhnya kau juga tidak. Kita tidak membutuhkan siapa-siapa untuk menjadi bahagia. Tapi saat ini… rasanya aku membutuhkan orang sepertimu. Ah… sudahlah, aku ada deadline yang harus dikejar.

-----

aku mau jadi tatomu
sakit memang...

menusuk pori-porimu

namun,
jauh di bawah kulit mulusmu!

aku abadi!

Jakarta,
2 Desember 2003

Sudah beberapa hari lewat sejak sambungan telepon terakhir yang menghabiskan sepertiga malam itu. Sambungan telepon yang memerlukan adzan Subuh untuk menghentikannya.

Sejak itu tidak ada lagi percakapan hangat.

Walau sempat suatu kali aku datang ke kantormu untuk mengantarkan kado ulang tahunmu. Karena aku tidak dapat menghadiri pestanya. Padahal kau tahu tidak ada lagi hal yang paling kuinginkan saat itu selain datang ke pesta ulang tahunmu daripada menghabiskan waktu di pantai bersama keluarga mertua kakakku dan mendapatkan kulitku pecah terbakar di keesokan lusanya. Aku membelikanmu sebuah kaos. Having Pleasure! Itu tulisannya.

Kemarin aku masturbasi lagi. Setelah sebulan penuh aku tidak melakukannya. Bukan karena bulan puasa dan aku malas mandi wajib tengah malam. Tapi karena aku jatuh cinta sayang. Dan masturbasi ketika jatuh cinta sama dengan berselingkuh bagiku. Tapi kemarin aku masturbasi lagi. Aku tidak tahu. Mungkin ini karena aku sudah tidak sedang jatuh cinta lagi, atau aku memang sedang ingin berselingkuh.

-----

I don't know, I feel like writing every time I hear you whining…

Kenapa kau harus selalu merasa seperti sebuah gurun pasir yang kering dan tandus, gurun yang tak ada kehidupan lagi di dalamnya, ketika aku merasa kau adalah samudera luas yang kaya akan hayati. Dan speaker di telepon genggamku seperti cangkang kerang yang mengeluarkan hembusan angin laut dan bercerita tentang semua keindahanmu…

Sender:
Juan
+62818******

Sent:
02:50:61
27-11-2003

Aku ingin tidur, dan aku merindukanmu.

------

Dalam sebuah pesta penuh substance dan alkohol, kita berjumpa lagi. Aku ingat pertama kita bertemu juga dalam pesta seperti ini. Ada perbedaan yang sangat terlihat. Waktu itu kau terlihat sangat hidup. Dalam dekapan kekasihmu kau pecahkan seluruh energimu menggoyang lantai dansa. Meledak seperti petasan di tahun baru. Kau begitu berjaya dan bersemangat hingga saat kita bertemu tanpa ragu kau lumat bibirku. Mungkin ini pengaruh substance dan alkohol, tapi aku tidak keberatan. Aku begitu mengagumimu meskipun hanya dari kejauhan, apalagi bisa berbagi liur denganmu. Tapi kini kau sangat berbeda. Ada kehidupan yang mati di matamu. Kau tersandar di pojokan sofa sendiri menatap keriaan yang dipompa manusia bersesak di bar itu. Sambil berjoget kencang dari lantai dansa aku melihatmu.
Memperhatikan penuh seksama dengan rasa iba yang menyesak-nyesak. Oh… seandainya aku bisa jadi pemicu ledakan energi kebahagiaanmu. Akan kunyalakan kau dengan cintaku, sayang.

-----

Melodi itu bermain lagi…

Kamu menghubungi aku selepas tengah malam. Sudah beberapa bulan lewat semenjak kita berjumpa di bar penuh sesak itu. Aku mencoba mengumpulkan kembali kepingan citramu yang mulai berantakan di hempas hari-hari panas dan malam-malam dingin dari kenangan lalu. Aku mencoba mengikuti setiap petunjuk yang kutangkap dari pembicaraan kita. Namun aku tetap tidak bisa menemukan apa yang salah dari dirimu.

Aku memintamu untuk datang. Kau hanya butuh tiga puluh menit untuk sampai di depan pintuku. Aku memang tidak pernah begitu mengenalmu, tapi aku cukup peka untuk merasakan apa yang ada dalam dirimu dulu.Yang kini telah berubah menjadi seseorang yang lain. Yang semakin aku rindukan. Maskara hitam itu sudah tidak ada. Terhapus air mata mungkin, karena aku masih bisa melihatnya di ujung kelopak matamu. Umpatan dan makian telah menjadi keheningan yang bagiku bercerita lebih banyak tentang kegalauan yang mendesakmu. Dan tato itu tetap menggairahkanku, walaupun saat ini sepertinya saat untuk kita (atau tepatnya kau) berkabung. Entah dari apa, dan tetap, aku tidak pernah tahu aku bisa menyelamatkanmu dari apa.*

Melodi itu bermain lagi…Masuk ke kamarku sayang. Mungkin kita bisa lebih mengerti semuanya di sana.

aku mau jadi tatomu

jadi kalau kamu ingin menyingkirkanku
kamu harus membuang bagian darimu juga...
dan kamu tahu
itu akan sakit sekali

sekali lagi sayang...
aku mau jadi tatomu

Jakarta,
2 desember 2003

* (bagian ini terinspirasi lagu `I don't know what I can save you
from' dari Kings of Convenience)

+cerpen ini merupakan gabungan antara beberapa cerita pendek sekali di tambah beberapa puisi yang pernah dimuat di kwaci dan buma. Sudah di muat di majalah soap februari edisi gentle

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer v1vald1
v1vald1 at Tribal Sun-shaped Tattoo Woman (12 years 32 weeks ago)
90

Justru dalam tulisan semacam ini kau lebih "garang" lagi.
-gaya "berkicau" favoritku berikutnya; setelah beberapa tulisan F Griffin yang serupa ini-
-CIAMIIK! kalo mengutip kata pikanisa!-
-TABIK-

Writer niawmiaw
niawmiaw at Tribal Sun-shaped Tattoo Woman (12 years 39 weeks ago)
100

tdk ush panjang lebar, point saya sudah menjelaskannya 8)

Writer Valen
Valen at Tribal Sun-shaped Tattoo Woman (12 years 39 weeks ago)
80

Bagus banget gambaranmu ttg cowok yang lagi kasmaran. Penuh sensasi dan bener2 jujur, sedikit liar.he he.
Edo, komentarin cerpenku yang sudah direvisi dong...In this life (Revisi). Thanks ya.

Writer KD
KD at Tribal Sun-shaped Tattoo Woman (12 years 39 weeks ago)
50

liar banget, salut

Writer Farah
Farah at Tribal Sun-shaped Tattoo Woman (12 years 39 weeks ago)
100

gilaaaaa,,,,bagus bangetttttt,,,,,no wonder there so many people in love with you dude,,,,,,

Writer ratihsugarzels
ratihsugarzels at Tribal Sun-shaped Tattoo Woman (12 years 39 weeks ago)
100

lama2 aku jadi tidak terkesan, sayang... kau sudah demikian profesional.
bukan berarti ini tak bagus.
sebaliknya, aku bosan karena ceritamu selalu menawan.
mendesak kerongkonganku dan mencegahnya dari bernapas.
kau mengerikan;)