Taman Kota Sore Itu

Sore itu, dibawah payung langit sore, di sebuah bangku di sudut taman kota, seorang wanita sedang duduk sendiri. Namanya Fina, usianya kira-kira 22 tahun. Sudah satu jam ia disana dan entah sudah berapa kali ia melihat jam tangannya sesering ia berusaha menghubungi sederet nomor di ponselnya. Ia sedang menunggu sahabatnya, Rendy. Tiba-tiba di hadapannya berdiri seorang laki-laki pemilik nomor tersebut.

“Sory telat, macet tadi” kata laki-laki itu memecah keheningan.
“Ada apa kok tumben ngajak ketemuan disini, nggak ditempat biasanya? Mendadak lagi.” lanjutnya.
“Gue hamil Ren,”ungkap Fina.

Deg. Seolah jantung Rendy berhenti berdetak. Bahkan angin senja pun seolah berhenti berhembus.
Rendy terduduk lemas disamping Fina. Ia tak mampu berkata-kata. Ia benar-benar shock dengan apa yang Fina katakan. Ia tak menyangka ini hal ini akan terjadi. Mereka telah bersahabat sejak lama. Bahkan Fina menganggap Rendy seperti kakaknya sendiri. Selama ini hubungan mereka murni persahabatan, tanpa keinginan untuk merubah status mereka. Dan malam itu, persahabatan mereka ternoda oleh sesuatu yang terlarang. Semua terjadi begitu cepat.

“Hanya ada dua pilihan Ren, tanggungjawab atau lupakan.” lanjut Fina
“Gue pasti bertanggung jawab Fin, tapi...”
“Kenapa? Soal keyakinan?kalau memang loe berniat untuk bertanggung jawab, loe ikut keyakinan gue.”
“Lalu ayah ibu gue?saudara-saudar gue?”
“Terserah loe Rendy. Kalau loe nggak mau ikut gue, sebaiknya lupain gue dan anak kita untuk selamanya dan jangan pernah mengaku sebagai ayahnya.”

Hening. Semua terdiam. Fina tahu Rendy bingung berada diantara dua pilihan besar. Tapi Fina tak ingin menambah dosanya dengan meninggalkan keyakinan yang dianutnya selama ini. Lalu ia berdiri, bersiap untuk pergi.

“Pikirkan baik-baik Ren, gue tunggu keputusan loe besok sore di tempat ini.”
Fina pun berlalu, menembus senja yang kian temaram. Kini Rendy sendirian. Hatinya kalut, ia bingung, dan pikirannya kacau. Ia tak mampu berpikir jernih sekarang.

@@@

Hari ini adalah penentuan nasib Fina dan bayi tak berdosa di rahimnya. Di sampingnya sebuah koper besar menemani dan menjadi saksi bisu. Di bangku yang sama ia kembali duduk dalam cemas. Fina sudah memutuskan kalau Rendy tak datang atau tak mau bertanggung jawab, maka ia akan pergi meninggalkan kehidupannya sekarang dan memulai kehidupan barunya di suatu tempat dimana tak ada orang yang mengenalinya. Menit demi menit pun berlalu. Sudah hampir dua jam ia disana menanti sebuah kepastian dari Rendy. Sengaja ia matiken ponselnya karena ia tak ingin mendengar keputusan Rendy hanya dari ponsel.
Setelah dua jam menanti, ia putuskan untuk pergi. Baginya ketidak hadiran Rendy sama artinya Rendy memilih pilihan kedua, yakni memilih untuk melupakannya dan bayinya. Dengan hati yang hancur Fina melangkah menuju mobilnya, meninggalkan taman itu, kota itu, dan seluruh kenangannya termasuk Rendy.
Angin bertiup perlahan menerbangkan daun-daun kering yang berserakan. Mengiringi langkah Fina menuju hidup barunya yang tentunya lebih berat.

@@@

3 Tahun Kemudian
Sebuah mobil Honda Jazz warna hijau berhenti di depan sebuah taman. Dari dalam mobil itu keluar seorang wanita. Ia berjalan memasuki taman kota. Tangan kanannya menggandeng seorang bocah berusia tiga tahun. Dialah Fina yang tiga tahun lalu datang ke taman ini dengan segudang kecemasan. Bocah yang digandengnya adalah sumber kecemasannya saat itu, anaknya, yang diberinya nama Rendy. Nama yang sama dengan nama ayah si bocah.
Di sebuah bangku di sudut taman ia duduk. Dibiarkannya si bocah bebas bermain dengan bola kesayangannya, namun tak dibiarkannya keluar dari sudut matanya. Taman ini tak banyak berubah dibanding tiga tahun lalu, pikirnya. Fina mulai hanyut mengenang masa lalunya.

Ciiiiieeeettt...gubraaak..!!!
Sebuah sedan hitam menabrak tong sampah di tepi taman. Fina kaget, pandangannya lalu menyapu seluruh penjuru taman. Ia mulai panik karena tak menemukan anaknya.

“Rendy...Rendy....kamu dimana ..??”

Fina berteriak-teriak memanggil anaknya. Berlari kesana kemari, bertanya kepada setiap orang yang ditemuinya. Tiba-tiba sebuah percakapan yang didengarnya menambar kekhawatirannya.

“Apa yang terjadi dengan mobil sedan itu ya Bu..”tanya seorang wanita pada wanita yang di sebelahnya.
“Itu mobil mau menghindari anak kecil yang lagi ngejar bola, eeh..banting setir kekanan dapat tong sampah deh,”sahut wanita yang satunya
Tanpa pikir panjang lagi Fina berlari menuju kerumunan orang. Ia pun memanggil-manggil anaknya.
“Rendy...Rendy...”
Tak ada sahutan an Fina semakin panik.
“Mama...” suara itu...
Di belakangnya Rendy tersenyum di gendongan seorang pria. Segera ia menghampiri dan memeluk buah hatinya itu.

“Kamu nggak apa-apa kan sayang ?”
“Om itu yang nolongin Rendy, Ma..”
“Sory tadi gue terburu-buru dan gue hampir menabrak anak loe yang.....” pria itu tak melanjutkan kalimatnya. Ia tertegun melihat Fina. Begitu pula Fina, seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pria yang berdiri di hadapannya itu...
“Kamu..??” ucap Fina.
“Iya Fin, ini gue Rendy.” pria itu mengaku
“Lalu anak ini...”
“Ini anakku, namanya Rendy.”
“Anak kita, Fin?”
“Kamu lupa, dulu aku pernah bilang tak ada tanggung jawab maka tak ada pengakuan..” tegas Fina
Fina sudah berubah, pikir Rendy. Ia jadi wanita yang kuat. Tutur bahasanya pun sekarang sopan. Saat ini Rendy merasa yang dihadapannya ini bukanlah Fina yang dulu. Baginya Fina seperti orang asing.
“Loe keliru Fin, hari itu gue datang tapi loe udah keburu pergi. Gue tahu kalau saat itu gue udah telat, tapi gue punya alasan kenapa gue telat. Ijinkan gue kasih penjelasan..?!please...”
Dari dulu Fina tak pernah tega melihat Rendy memohon seperti itu. Fina mengangguk.
“Hari itu gue udah berangkat. Waktu di jalan, gue lewat depan mesjid. Gue mikir alangkah baiknya kalau gue ketemu loe udah dalam keadaan mualaf. Ya udah akhirnya di mesjid itulah gue menyatakan keislaman gue. Ternyata di Mesjid itu gue hampir dua jam dan akibatnya gue telat ketemu loe.” tutur Rendy panjang lebar.

Tetes demi tetes air mata mengalir dari kedua mata Fina. Ia tak menyangka Rendy melakukan hal itu. Tak peduli semua mata yang memandang kearahnya, ia pun menghambur dalam pelukan Rendy. Dalam pelukan itu, Rendy membisikkan sesuatu pada Fina,
“Will you marry me ?” bisik Rendy.
Tak ada kata-kata yang dapat terlontar dari mulut Fina hanya anggukan mantap sebagai jawabannya.
Kembali payung langit sore itu serta taman kota itu menjadi saksi bisu perjalanan mereka.

@@@

Read previous post:  
57
points
(2529 words) posted by dhewy_re 11 years 49 weeks ago
71.25
Tags: Cerita | cinta | Cinta | dhewy_re | lembayung | persahabatan
Read next post:  
Writer azelia
azelia at Taman Kota Sore Itu (11 years 12 weeks ago)
90

hampir aja nih mata basah.... kok bisa sih bikin cerita menyentuh kek gini...

Writer bonbon ajaah
bonbon ajaah at Taman Kota Sore Itu (11 years 21 weeks ago)
70

iya siyh, tapi ceritanya dpt koq...

Writer starof hope
starof hope at Taman Kota Sore Itu (11 years 38 weeks ago)
100

buru2 aja sebagus gini,
gimana kalo enggak?

Writer 77_DB
77_DB at Taman Kota Sore Itu (11 years 42 weeks ago)
80

Semuanya bilang tentang alurnya, emang sich... alurnya terasa begitu cepat. tapi menurutku itu nggak masalah aku malah mau ngasih saran ditambahin dikit awal dan endingnya. terserah gimana...

Writer someonefromthesky
someonefromthesky at Taman Kota Sore Itu (11 years 45 weeks ago)
80

Pas baca awalnya, saya pikir bakal jadi cerpen dengan 1 latar waktu. Tema yang sederhana itu sebenarnya menarik, dan sy suka idenya. Tapi menurut saya cerita 3 tahun kemudiannya nggak usah dibikin. Soalnya, kalo ada itu kesannya jadi kurang greget. Perasaan si Fina dan Rendy kalau lebih dieksplor di awal cerita...bakal jadi sesuatu yang menyentuh, tanpa peduli bagaimanapun penyelesaian nasib si anak itu. pokoknya No sex before married!

Writer Villam
Villam at Taman Kota Sore Itu (11 years 45 weeks ago)
80

semua udah dikomentarin temen-temen yang laen. plotnya udah ada, tinggal ditambahin alasan2nya, tambah deskripsi ruang dan tempat, dan sedikit bumbu emosi lagi.
salam kenal...

Writer noir
noir at Taman Kota Sore Itu (11 years 48 weeks ago)
60

buru buru (walau sudah 'diperingatkan' di awal).

Karakter dan konflik tidak tertata dengan baik. Akan lebih bagus kalau diselipi dengan kilas balik dan juga emosi pada masing2 tokoh.

Alasan mengapa keduanya (eh ketiganya) berada di taman itu lagi juga masih kurang jelas.

-keep writing-

Writer wehahaha
wehahaha at Taman Kota Sore Itu (11 years 48 weeks ago)
70

Memang terburu-buru kesannya. Laen kali, kalo emang buru-buru, jangan diposting dulu. Siapa tau masih bisa dikembangin.

Writer angkasa
angkasa at Taman Kota Sore Itu (11 years 48 weeks ago)
50

keren sekali ceritanya

Writer dimas_rafky
dimas_rafky at Taman Kota Sore Itu (11 years 48 weeks ago)
80

Ceritanya cantique. Ga peduli apa kata yg lain, aq suka. Cuma perlu diedit bwt memperbaiki kata2 yg salah ketik.

Komen2 jg tulisan2qu ya..

Writer miss worm
miss worm at Taman Kota Sore Itu (11 years 48 weeks ago)
50

... membaca dan jam terbang menulis.

Writer ice
ice at Taman Kota Sore Itu (11 years 48 weeks ago)
60

kl ga terburu-buru, pasti lebih bagus..hehe..

Writer mocca_chi
mocca_chi at Taman Kota Sore Itu (11 years 48 weeks ago)
60

Alurnya terlalu cepat. jadi nggak bisa ngerasain konflik masing-masing tokohnya. jika saja ceritanya tak tergesa-gesa, ceritanya bisa dipanjangin dengan nambah-nambahin sedikit alasan kenapa posisi mereka seperti itu, tidak cukup dengan satu kalimat,
Dan malam itu, persahabatan mereka ternoda oleh sesuatu yang terlarang. Semua terjadi begitu cepat

akan lebih keren lagi kalau dibuat alur balik dhewy_re

terlalu jujur ya?

Writer dhewy_re
dhewy_re at Taman Kota Sore Itu (11 years 48 weeks ago)

Kemaren emang nulisnya keburu-buru...tau aja neh...hehe...
thx ya...

Writer Tedjo
Tedjo at Taman Kota Sore Itu (11 years 48 weeks ago)
70

cara ngenalin tokoh diawal paragraf..nggak enak...terkesan keburu buru..
..just my comment..sama sama belajar