Galau Hati

Galau Hati

Ku buka album-album lama ku, di situ tertempel foto-foto lama semasa SMA dan kuliah, masa yang sangat menyenangkan, dan masa yang penuh dengan kenangan. Kenangan yang membuat ku tersenyum-senyum geli saat mengenangnya, bahkan kenangan yang juga membuat ku menangis.

Tapi, tak ada peristiwa lain yang dapat menyamai apa yang terjadi dalam hidupku saat ini. Yang terkadang membuat ku mengutuk diriku sendiri atas apa yang telah aku lakukan, yang membuat ku membenci bahkan jijik pada diri ini. Dan juga peristiwa yang tak jarang pula membuat aku menumpahkan air mata ini di atas bantal ku, mengeluarkan suara tangisan tertahan yang penuh dengan penyesalan di keheningan malam, saat semua orang sudah terlelap dalam tidur mereka dan berjalan di atas mimpi mereka.

Dan sudah hampir setengah tahun ini aku menjalani hubungan yang tak sepatutnya dan yang tak boleh terjadi. Sudah hampir setangah tahun ini, aku memadu kasih secara diam2 dengan Dhiwa, lelaki yang selama ini menjadi sahabatku yang sekarang menambah statusnya menjadi kekasihku. Aku mencintainya, aku sangat mencintainya walaupun aku tahu dan aku sadar bahwa aku tak bisa memiliki seutuhnya. Ya...aku mengambil resiko itu, resiko yang dapat menghancurkan hidup ku dan karir ku saat semua orang mengetahui hubungan kami, bahkan saat istri nya tahu. Tapi aku tak peduli, aku di mabuk kan oleh arak cinta kami, aku tak memikirkan apapun. Bahkan aku tak peduli bagaimana perasaan istrinya saat dia mengetahui affair ini. Dan di depan teman2 kantor kami masih bersikap biasa seperti layaknya teman, tidak ada yang berbeda. Kami sangat licin menutupi hubungan ini

Dengan rapat dan hati2 kami menutupi hubungan ini. Jika kami ingin bertemu dan melepaskan rindu yang tertahan, kami pun datang ke danau di mana kami biasa datangi. Danau yang cantik dan indah, danau dengan pemandangan yang membuat mata terpesona oleh kemolekannya, disertai dengan udara sejuk yang bersemilir seakan mereka menari dengan riang untuk cinta kami, dan air yang jernih yang menunjukkan murninya cinta ku untuk Dhiwa.
Danau ini juga yang menjadi saksi bisu saat Dhiwa mengatakan bahwa dia akan menikah, saat hatiku hancur dan perih mendengarnya. Saksi bisu saat diam2 aku datang sendirian ke sini untuk menumpahkan semua kesedihan dan tangisan ini, dan danau ini juga tempat aku berlari saat aku menahan tangis dan perih ku sekembalinya aku dari pernikahan Dhiwa. Dan danau ini juga yang menjadi saksi bisu saat Dhiwa mengatakan tentang nya dan perasaannya, mengakui perasaannya padaku. Dan kini...danau ini menjadi saksi bisu kisah cinta kami berdua.

Kami memadu kasih, dia memelukku dengan erat seakan takut kalau burung kecil ini akan terbang tinggi meninggalkannya. Dan saat dia mencium ku, ku rasakan aroma rokok nya dan bibir mungilnya. Indah....semua nya indah.
Hingga suatu hari kami melakukannya, kami melakukan hubungan yang semestinya dilakukan oleh sepasang suami istri. Suatu kejadian yang tidak akan aku lupakan seumur hidupku, yang membawa kami terbang di angkasa kenikmatan yang di selimuti oleh gairah, napsu dan juga cinta.
Dan kami tetap menjalani cinta yang terlarang ini tanpa sepengetahuan siapa pun, dan aku tidak perduli dengan apapun, aku mencintainya, dan aku ingin terus menjalani tali kasih ini.

Suatu hari atasan ku Pak Eko mengatakan bahwa di kantor bagian kami ada program pengiriman pegawai ke Jepang, dan beliau memasukkan namaku sebagai salah satu kandidatnya. Aku kaget mendengarnya, dan tak tahu harus bagaimana. Karena aku takut jauh dari Dhiwa, aku tak mau berpisah dari nya. Apalagi sekarang saat aku tengah...........ah.....................
”Kenapa Bapak gak tanya saya dulu ?”
”Buat apa saya nanya lagi, Dy. Kamu memang mengincar program ini kan dari 7 bulan yang lalu kan ? Lagian saya pikir kamu pasti senang mendengar bahwa nama kamu tercantum sebagai salah satu kandidatnya”
Memang aku menginginkannya dan memang aku sudah mengincarnya dari awal saat program ini diajukan, tapi itu dulu, 7 bulan yang lalu. Saat itu aku belum berhubungan dengan Dhiwa, saat itu aku belum merajut cinta dengannya. Lagipula aku mengincarnya dan berharap terpilih agar aku bisa pergi dari sini, melupakan semua peristiwa yang telah terjadi dalam hidupku, melupakan semuanya termasuk Dhiwa.
Tapi kini…………..

Namun muncul keraguan dalam hatiku bahwa aku akan terpilih dalam program itu. Karena saingan ku pun cukup kuat dalam hal ini. Dan aku pun juga sudah meyakinkan dan menenangkan Dhiwa soal ini, dan dia pun tak ambil pusing.
Hingga akhirnya surat pengumuman itu tiba, akhirnya terpilih satu nama untuk dikirim ke Jepang.

DYANI KUMIKO AZ-ZAHRA

Deg.......jantung ku serasa berhenti, rongga dada ini menyempit dan aku pun seperti kehilangan udara untuk bernapas. Nama itu, disurat itu tertulis nama yang tak ingin aku lihat. Di situ tertulis namaku dengan jelas, nama itu berdiri tegak dan angkuhnya. Tidak....ini tidak boleh terjadi, aku tidak mau pergi dari sini dan meninggalkan Dhiwa. Tidak boleh....
Saat semua teman2 menyalami dan memberi selamat kepadaku, aku mencoba tersenyum dengan keterpaksaan, dan aku langsung berlari. Dhiwa....di mana dia ? aku harus mencarinya, aku harus menceritakan ini. Aku harus menceritakan keadaan ku sekarang.

”Apa ? kamu kepilih ? jadi yang pergi ke Jepang kamu ? untuk berapa lama ?”
”Entahlah Wa. Setahun, 5 tahun bahkan mungkin 10 tahun”
”Selama itu ? tapi kamu bilang kamu yakin gak akan kepilih. Tapi nyatanya sekarang. Apa gak ada orang lain yang bisa gantikan kamu ?”
”Ada. Mereka bisa memberikan ini untuk orang lain jika aku tidak bersedia.
”Kapan kamu berangkat ?”
”3 bulan lagi. Tapi aku bisa membatalkannya kalo kamu itu yang kamu mau”
”Lakukan, Dy. Aku gak mau jauh dan aku gak mau kehilangan kamu”
Saat itu juga Dhiwa langsung memelukku dengan erat, erat sekali bahkan aku tak bisa bernafas karena pelukannya. Tapi aku tak peduli. Peluk, Wa....peluk aku seerat mungkin bahkan hingga aku kehabisan udara pun tak mengapa. Dan air mata ini pun jatuh karena bahagia ku.

Aku mantap menghadap Pak Eko hari senin besok untuk mengatakan padanya kalau aku menolak tawaran ini. Biarlah tempatku digantikan oleh orang lain yang lebih pantas. Hatiku mantap untuk melakukanya, sampai detik itu. Tiba2 Dhiwa menelpon ku dan mengajak ku untuk bertemu karena dia ingin membicarakan suatu hal katanya.

Tidak.....ini tidak mungkin. Kenapa ? kenapa ini harus terjadi ? apa yang harus aku lakukan ? aku.....aku......sakit....dada ini sakit........tidak Wa....ini gak mungkin....tidak sekarang.....
Naja, istri Dhiwa telat datang bulan, ternyata dia hamil, Naja hamil anak pertamnya dengan Dhiwa. Seorang bayi yang seharusnya keluar dari rahimku, bayi yang seharusnya aku yang dipanggil ”ibu”, bukan Naja.
Dhiwa....aku....sekarang aku.....ah..........
Kami berdua pun terdiam dan ditemani dengan kesunyian malam. Apa yang harus kami lakukan ? apakah kami harus mengakhiri semua ini ?
Dhiwa...........................................aku...........................................

Sebulan......dua bulan berlalu sejak pembicaraan terakhir kami. Itulah terakhir kalinya aku berbicara padanya.
Aku tidak berhubungan dengan Dhiwa, baik cara apapun. Aku ingin menelponnya namun aku takut, aku ingin mengirim sms tapi gmn kalau Naja baca ? aku ingin datang ke ruangannya tapi kaki ini seperti lumpuh. Aku mencoba menjauh walaupun Dhiwa masih terus mencoba menghubungiku, walau sebenarnya hati ini ingin menanggapinya tapi aku coba untuk menghiraukannya. Karena aku sibuk mempersiapkan semuanya.

Akhirnya hari itu tiba. Aku harus siap dan aku harus kuat menjalaninya. Walaupun hati ini beribu ribu kali hancur melebihi saat aku menghadiri pernikahan Dhiwa. Setelah semua nya selesai, dan sebelum pergi aku menitipkan sebuah bungkusan kecil dengan surat untuk Dhiwa ke Arnold, teman dekatnya di ruangan. Aku tak mau melihatnya sekarang, tidak saat ini. Tidak saat aku harus meninggalkannya.

Dia menerima surat dan bungkusan mungil itu dengan raut wajah yang penuh dengan tanda tanya. Saat surat itu dibuka dan dia membacanya
”Dear Dhiwa.......
Maafkan aku karena aku menghubungi mu dengan cara seperti ini, dan maafkan aku karena sudah hampir 2 bulan ini aku gak pernah mau terima apapun yang berhubungan dengan kamu dan maafkan aku juga karena harus berpisah dengan cara seperti ini . Dua bulan waktu yang sangat lama bagiku,Wa, dan aku lalui itu semua dengan perasaan yang sakit dan berat. Aku tahu aku gak berhak dan bahkan gak punya hak untuk marah apalagi kecewa sama kamu atas semua nya yang terjadi. Ini bukan salah kamu atau siapapun. Kalau ingin mencari orang yang di salahkan, orang itu adalah aku. Akulah orang yang sangat bersalah dalam situasi ini, seharusnya aku menolak saat kamu meminta ku menjadi pacar kamu, dan seharusnya aku bisa menahan diri dan hasrat ini saat bercinta denganmu. Tapi aku gak bisa, aku luluh dan aku serasa lemah di hadapanmu, karena aku sangat mencitaimu, bahkan melebihi cinta Naja kepadamu.
Karena cinta ini lah aku memilih untuk pergi, menjauh dari kehidupan kalian berdua dan membiarkan kebahagian itu tetap ada di kamu dan Naja. Aku masih menganggap dan melihat mu sebagai sahabat ku yang dulu, dan aku juga masih menyimpan cinta ini untuk kamu. Aku akan menyimpan semua cinta dan kenangan dengan mu di suatu ruangan khusus di hati ini, aku akan menguncinya dengan rapat dan hanya kamu yang punya kunci itu dan hanya kamu yang bisa membuka ruangannya, Wa. Biar semua cerita dan kisah kita menjadi cerita lalu.
Bungkusan kecil ini untuk calon keponakan ku nanti, aku harap kamu mau menerimanya soalnya ini yang bakalan nanti bikin keponakan ku kenal sama aku, kenal sama tante nya yang cantik ini hehehehehe................jangan sampai hilang ya.....awas kalo hilang.......
Saat kamu baca surat ini, aku sudah dalam perjalanan ke bandara. Maafkan aku jika harus dengan cara seperti ini aku pamitan sama kamu, tapi menurut aku ini jalan yang terbaik. Maafkan aku ya, Wa. Selamat tinggal dan semoga kita masih bisa bertemu lagi, dan sampai kapanpun kamu tetap menjadi sahabatku. Kirim salam sayangku untuk Naja dan bayinya. Aku bahagia kalau kamu bahagia.

Dari yang selalu mencintaimu
Dyani”

Aku meneteskan air mata ini di dalam pesawat, pesawat yang akan membawa ku terbang ke Jepang dan entah untuk berapa lama aku akan ada di sana. Air mata yang kembali aku tumpahkan untuk Dhiwa, dan untuk semua kenangan. Dan juga air mata kebahagiaan yang aku tumpahkan saat aku mengingat sesuatu sambil mengelus lembut perut ku. Di perut inilah, akan lahir sebuah kehidupan baru. Calon kehidupan yang Dhiwa berikan padaku, calon kehidupan yang akan aku bawa selalu, yang akan aku sayangi dan cintai dengan sepenuh hati seperti aku mencitai ayahnya. Calon kehidupan yang tidak Dhiwa ketahui hingga kepergianku.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer KD
KD at Galau Hati (12 years 38 weeks ago)
100

Iya khan, akhirnya hamil khan. Dari tengah aku sudah menduga begitu.

Writer v3ndy
v3ndy at Galau Hati (12 years 38 weeks ago)
90

bermain-main dengan perasaan . . . nice :)

Writer hwarakadah
hwarakadah at Galau Hati (12 years 38 weeks ago)
80

bener gak sih cinta tidak harus memiliki? bener gak sih kalau kita dihadapkan situasi kaya gini kita akan berbesar hati atas kebahagian orang terkasih yang gak bisa kita sentuh ?

Very touchy dan cerita yang bagus.

Semoga Berkenan, Salam Kenal

Writer ima_29
ima_29 at Galau Hati (12 years 38 weeks ago)
90

aku pernah baca novel...tapi lupa judulnya..tentang "selingkuh" juga. Hampir mirip ceritanya...Tapi cukup membuat aku sedih..hiks..hiks

Writer Farah
Farah at Galau Hati (12 years 38 weeks ago)
80

akhirnya di submit juga ni cerita bu,,,,congrats yah,,,sugoi ne