Hymne Tidak Semua Malam

Merkuri masih menyala, dan benar memang. Tidak semua malam itu kudus. Tidak semua malam itu sunyi. Tidak semua malam itu sepi. Tidak semua malam itu remang-remang. Tidak semua malam itu gelap. Malam adalah pesta. Malam adalah tarian. Malam adalah drama kebohongan. Malam adalah gelak tawa lepas. Mungkin hanya Nancy yang berpesta dengan kesunyian di lubuk hatinya. Kesunyian yang lebih nikmat dari segala macam persetubuhan, karena kesunyian lebih bergairah dari segala macam daging yang kian tahun-kian membusuk dimakan sang kala.
Malam adalah cacimaki. Malam adalah bunyi-bunyian berisik. Malam adalah bercampurnya dengus-dengus anjing rakus dengan lendir-lendir anggur memabukkan. Malam adalah berkumpulnya, berpestanya para jahanam dari berbagai kelas.
Bartender itu, yah bartender itu. Parsha namanya. Semalam ditamparnya dengan hak sepatu lantaran nekad mengajaknya sekamar, di hotel, atau di atas pasir pantai yang dikeramatkan. ”Tugasku hanya mengajak mereka menawari minuman, tidak lebih!” serunya, sedangkan Parsha merintih, meraba ujung mulutnya yang sobek, berdarah.
***
Kali ini nasib Nancy memang sedikit beruntung. Tidak hanya minuman yang ditawarkan, melainkan juga bertugas melantunkan tembang-tembang di atas panggungb berukuran kecil. Dia bebas dari segala macam paksaan. Tugasnya hanya satu. Menyanyi. Ternyata Manajer Kafe baru tahu, bahwa Nancy bisa bernyanyi, juga menari. Tubuhnya luwes. Suara merdu.
Nancy cukup bahagia, meski hanya malam-malam tertentu saja dia bernyanyi. Rabu dan Jumat. Khusus malam itu memang kebanyakan diisi para tamu yang masih ingin menentramkan hati, dan pikirannya dengan lagu-lagu lawas. Karena memang karakter suara Nancy lebih bercorak oldies.
Oosyalalala
Ouoooo...
Begitu syair lagu Yesterday Ones More dinyanyikan Nancy. Gerak gayanya kala menyanyi cukup pelan, santai dan seolah tanpa beban apapun. Sebagian bartender yang melihatnya begitu terkagum, karena selama ini Nancy hanya dikenal sebagai seorang gadis desa yang tak memiliki daya tarik. Namanya saja diganti Nancy setelah bekerja di kafe ini, nama aslinya adaklah Ngatmi Sri Suprihatin.
Di depan duduk, para lelaki seusia ayahnya. Wajah mereka mungkin tak asing lagi bagi Nancy. Mungkin ia melihatnya di televisi lokal, atau koran lokal. Bisa jadi juga dalam poster-poster yang bagian atasnya bertuliskan angka coblosan, dan bagian bawahnya bertuliskan semboyan. Poster yang meski ia lihat sekilah kala melintasi jalanraya, berhenti di halte, dan makan di warung-warung.
Namun pada hari-hari tertentu Nancy juga harus menemani para tamu. Sebatang rokok sudah terselip genit diapit dua jemarinya. Namun lekas-lekas ia matikan rokok itu ke dalam asbak. Bukan karena takut dianggap sundal. Bukan karena itu, tapi karena si tamu ternyata malah terbatuk-batuk, saat ia berusaha mendekati, bermaksud menawarkan minuman. ”Bapak tidak merokok?” tanya Nancy. Tamu itu menggeleng dan masih sibuk mengurusi kacamata.
Ia jadi serba salah. Otaknya terus berputar dan mencari jalan keluar, supaya tamu itu tidak hanya duduk termangu, minumk soft drink. Padahal tidak hanya sekali manajer memberinya kode. Nancy kian salah tingkah. Apalagi mata sitamu menerobos penuh rasa ingin tahu, “Siapa namamu?”
”Nancy,” jawab Nancy sambil mengulurkan salam. Tapi sayang lelaki itu tidak membalasnya. Nancy lantas menarik kembali tangannya. Beberapa temannya berseloroh ; jangan mau mbak, dia kurang panas!
Lelaki itu tak berkutik, namun secepatnya berusaha tak menghiraukannya.
”Nancy?”
”Iya, Nancy.”
”Namaku Padoyo.”
”Om, Pa tidak minum?”
”Kan sudah.”
”Bukan yang itu, mungkin Jack D, Civas, atau yang ringan saja? Martini mungkin?”
”Ah, gila apa? Kau pikir aku seperti mereka-mereka?” Padoyo sedikit berteriak lantaran sumbang suara seorang penyanyi lain mengalahkan segala bisikan dan percajkapan masyuk malam itu. ”Sory, mungkin saya salah.”
”Sebenarnya aku suka dengan lagu-lagu itu, tapi kenapa semua menjadi bising?” tukas Padoyo ketus. ”Tak adakah tempat yang lebih hening?”
”Mungkin tempat ibadah? Di seberang ada gereja.”
”Tidak.”
”Kenapa? Bukankah anda orang taat?”
”Ehm,” jawab Padoyo seraya membenahi kembali kacamatanya. ”Maksudku di tempat ini.”
Dada Nancy berdesir, lalu ia kirim pesan melalui telepon genggamnya. ”tamu ini ingin VIP, gimana? Siapa yang menemani?”
”Ya, kamulah!”
”Busyet,” pikir Nancy
”Tapi kau ajak minum dia!”
Nancy tak habis pikir mengapa pejabat yang duduk di kursi dewan ini meminta dirinya yang harus menemani. Sempat Nancy menawari supaya ditemani yang lain, namun ia menolak, bahkan tersinggung. Ini peristiwa bodoh bagi Nancy. Nancy juga tak habis pikir, mengapa mau-maunya Padoyo mengajaknya di ruang VIP. Wajahnya juga tidak cantik. Pakaian yang dikenakannya pun tidak membuka lembutnya paha, dan daya tarik pusar atau belahan dada. Memang lantaran begitu, jarang-jjarang ia mendapatkan tips, seperti waitres lain.
Jika benar Padoyo mengajaknya ke ruang VIP, maka benarlah Nancy segera akan melupakan Dargo. Dargo yah Dargo, ia pergi meninggalkan anaknya hidup tanpa ayah. Betapa sakitnya saat mengingat dia duduk di pelaminan tanpa suami. Hingga melahirkan, Nancy mengasingkan diri, minggat ke sebuah kota kecil. Ia hanya berbekal pengalaman menyanyi dari panggung-ke panggung campur sari di acara hajatan.
Jika Padoyo benar-benar membayarnya, maka ia pulang dan membeli buah hatinya di gizi, pakaian, susu, mainan, apapun yang dibutuhkan anaknya. Dan memang benar, tangan Dargo mulai merayap di balik kutang Nancy, meninggalkan beberapa lembaran uang. Dan jika benar Padoyo mengajaknya tidur, maka musnahlah bayangan Dargo. Nancy sudah pasrah dan ingin melewatkan malam itu secepatnya. Dilepaskannya seluruh pakaian yang menempel di tubuhnya yang berkulit sawo matang. Mata Padoyo terbelalak, ia mulai melepas jaketnya, tapi tiba-tiba saja kakinya bergetar hebat. Ia berlutut dan menangis sejadi-jadinya. Nafasnya terengah-engah.
”Ya Tuhan, aku tak bisa. Aku tak bisa. Sory!” Padoyo merintih. Nancy hanya berdiri terdiam. Mulutnya seperti terkunci, tak ada bahan omongan yang sekiranya dapat menghibur lelaki itu. “Aku memang tidak bisa, aku tidak bisa. Tapi jangan kau ejek aku!!!” rengeknya, “mereka selalu mengejekku, mencampakkanku, seperti sampah! Keparat!!! Bangsat!!!”
“Memang...”
“Memang aku tak bisa menjadi lelaki! Terima kasih Nancy, setidaknya kau bisa buktikan pada mereka, aku tetap lelaki, paham?”
Nancy mengangguk. “Meskipun aku ingin mencobanya lagi, tetapi tetap tidak bisa.”
Pelahan Nancy mengenakan lagi pakaiannya. Padoyo bergegas keluar dari ruang VIP, lalu menerobos hiruk pikuk, ingar bingar, tawa, dan makian orang-orang yang berjalan geleyotan seperti zombie. Berlalulah ia dari sesaknya Pub itu.
Nancy termangu, lalu keluar dari ruang itu. Di tengah hiruk pikuk, deru musik dan gelegak tawa kebohongan, Nancy menghampiri manajer. ”Bang, besok aku libur ya!”
”Kenapa?”
”Pokoknya aku libur,” sergah Nancy.
Bergegas ditinggalkannya kafe itu. Ia berjalan sendiri menuju pinggir jalan, tempat biasa orang-orang menunggu taksi atau ojek. Kebetulan sekali melintas taksi dengan lampu atasnya masih menyala, tanda tak ada penumpang.
Merkuri masih menyala, dan benar memang. Tidak semua malam itu kudus. Tidak semua malam itu sunyi. Tidak semua malam itu sepi. Tidak semua malam itu remang-remang. Tidak semua malam itu gelap. Malam adalah pesta. Malam adalah tarian. Malam adalah drama kebohongan. Malam adalah gelak tawa lepas. Mungkin hanya Nancy yang berpesta dengan kesunyian di lubuk hatinya. Kesunyian yang lebih nikmat dari segala macam persetubuhan, karena kesunyian lebih bergairah dari segala macam daging yang kian tahun-kian membusuk dimakan sang kala.
Malam adalah cacimaki. Malam adalah bunyi-bunyian berisik. Malam adalah bercampurnya dengus-dengus anjing rakus dengan lendir-lendir anggur memabukkan. Malam adalah berkumpulnya, berpestanya para jahanam dari berbagai kelas.
***
Sudah lama Nancy tak bekerja di sini, jawab seorang waitres saat Padoyo mencarinya. Pada sebuah malam, pada kebohongan yang mulai berbaris duduk berjajar berpadu suara. Juga pada sebuah kebohonganku tentang cerita yang kutulis malam ini. Karena malam adalah cacimaki.
Solo, Maret 2007

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Azarya Mesaya
Azarya Mesaya at Hymne Tidak Semua Malam (12 years 26 weeks ago)
10

Bung David, gimana cara masang foto? di blog ini? Jujur saja saya gatek berat nech hahaha

Writer KD
KD at Hymne Tidak Semua Malam (12 years 27 weeks ago)
100

fotomu mana bang Za, banyak cewek kemudian yang ngefan tuh!!

Writer edowallad
edowallad at Hymne Tidak Semua Malam (12 years 27 weeks ago)
100

nama nancy catchy
seneng banget gue
mengingatkan pada pasangan sid vicious...

Writer ariekoeswoyo
ariekoeswoyo at Hymne Tidak Semua Malam (12 years 27 weeks ago)
90

Ceritanya menguatkan sisi klasik dari malam dan aktor yang terlibat didalamnya, Tumben aku betah bacanya . padahal cerita buat aku bosan