Perjalanan Ke Empat

Dua tahun meninggalkan kota kecil ini, aku rasakan banyak perubahan. Sejak dari perbatasan kota, sejak aku berhenti di setiap perempatan, anak-anak kecil berleari berpencar ke empat penjuru, menggenggam sebotol air penuh busa. Di bawah tiang lampu merah, dua lelaki kecil basah kuyup duduk merapat. Tangan kanannya gemetaran menggenggam botol berisi air busa, sedang tangan kirinya menggenggam erat sesuatu yang tak nampak olehku. Mungkin uang receh.
Kain lusuh basah dibiarkannya terjatuh di trotoar mengalirkan busa-busa yang berbaris mengikuti aliran air hujan, menuju gorong-gorong. Di trotoar marka jalan itu. Di pondasi tiang lampu merah itu.
Aku berhenti. Serombongan anak kecil lainnya berlarian serentak ke arah barisan antrian kendaraan di belakangku yang kebetulan lumayan padat. Berbeda dengan jaluir lainnya yang didominasi kendaraan roda dua. Secepat kilat dimuntahkannya air busa dari botolnya, ke kaca depan mobil. Lantas mereka usap kaca mobil itu hingga mengkilap, dengan kain. Secepat kilat pula tangan anak-anak itu menadah di samping kanan pintu pengemudi. Dari balik jendela, pengemudi membuka kaca, lantas memberi mereka beberapa recehan uang logam.
Langit hitam pekat. Merkuri dan neon box mulai berpendar lampunya. Meski masih jam 12 siang. Aku juga tak luput dari sasaran. Kulempar sepuluh uang recehan ke arah jalan. Secepat kilat mereka berebutan recehan uang seperti menyambut hujan berkah dari udhi-udhi atau kue apem yang disebar pada puncak acara ritual. Salah satu dari mereka hampir saja tertabrak mobil box yang melintas dari arah berlawanan. Anak-anak selaksa pendoa yang menyambut berkah dari atas langit.
Lampu hijau menyala. Giliran aku melanjutkan perjalanan.
Kota kecil ini memang harus dilalui bila hendak menuju desa kelahiranku. Dan bila melintasi kota kecil ini, aku teringat masa-masa remajaku hingga selesai kuliah. Meski aku tinggal di desa, aku disekolahkan orang tuaku di kota kecil ini. Sampai sekarang aku masih ingat nama-nama temanku, seperti Gimin, Alex, Dodik, Lilik, Supri, Elen, dan Kadir. Selanjutnya, aku lupa. Mungkin aku ingat jika aku bertatapan muka secara langsung.
***
Sebelum masuk desa, di kota ini aku harus melalui empat perempatan besar yang dikepung lampu merah, dan dua orang polisi penjaga lalu lintas ; suatu saat menghadang jika ada sedikit kesalahan atau pelanggaran, ia menawarkan harga supaya bebas dari sangsi dan denda.
Siang ini sengaja aku tidak ingin segera lekas sampai di rumah. Meski tubuhku terasa letih selama perjalanan. Lagi pula, tinggal 30 menit lagi perjalanan ini berlangsung.
Semakin ke selatan, perubahan semakin aku rasakan. Hingga perempatan kedua ini. Seingatku dua tahun lalu hanya perempatan pertama saja yang dipenuhi para pembasuh kaca, itu pun satu dua anak. Kini di perempatan ke dua mataku menemukan keramaian, apalagi hujan tak segera berhenti turun melempari tubuh-tubuh yang basah kuyup itu dengan kerikil-kerikil air. Seorang gadis kecil aku lihat membawa payung di trotoar marka jalan di bawah lampu merah. Ia menghampiri mobilku yang berhenti saat lampu merah menyala. Diusapnya kaca depan mobilku dengan air busa yang disemprotkan melalui botol minuman itu. Seorang gadis kecil itu. Aku begitu terhenyak menatapnya. Aku rasa pilu dan teriris menatap keluguannya. Redup matanya semakin membuatku tergetar. Apalagi saat kutanya, dia menjawabnya dengan polos tanpa dosa.
”Siapa namamu?”
”Sinta.”
”Orang tuamu di mana?” Dia tak menjawab, lalu berlari menuju mobil di deretan beklakangku yang belum dibasuh, ”Sinta!” Kulemparkan selembar uang sepuluh ribu rupiah. Ia tersenyum lugu dan melambaikan tangannya. ”Terima kasih,” ucapnya.
Hingga di perempatan ke tiga aku temui pemandangan yang sama. Bedanya kali ini aku temui banyak gerombolan perempuan tinggi semampai bermain hujan, mendatangi setiap mobil yang berhenti menunggu lampu hijau. Tubuhnya basah oleh busa-busa yang mungkin sengaja tidak dibasuh. Tepat di depan mobil ia meliuk-liukkan tubuhnya, bak penari striptis. Pengemudi pria yang mendadak menelan ludah tanpa disyuruh langsung membuka kaca, dan menyodorkan selembar uang sepuluh ribuan, dua puluh ribuan, sampai lima puluh ribuan. Sedangkan pengemudia lainnya terpaksa kembali menutup kaca pintu begitu isterinya mencubit, pun juga dengan isteriku sembari mengusap-usap perutnya yang sudah enam bulan ini mengandung. Mulutnya komat-kamit merapalkan doa.
Seiring dengan hujan yang kian reda, berangsur menyingkir pula perempuan-perempuan penuh busa itu. Lampu hijau menyala. Tinggal satu perempatan lagi. Kini aku lihat pula anak-anak sudah menadahkan tangan. Tak ada jasa apapun yang ditawarkan. Wajahnya nampak begitu keras seperti tangan-tangan yang terluka usai memecah karang. Namun di seberang jalan, di sebuah tenda warung yang belum dibuka, nampak segerombolan lelaki seusia ayahnya duduk melingkar, membanting kartu demi kartu. Sedang seorang anak kecil sekelebat berlari menyodorkan uang recehan kepada orang-orang itu. Ingin kuhajar orang-orang itu. Namun begitu kubuka pintu, klakson kendaraan di belakangku sudah bersahutan. Beberapa pengemudi lainnya berteriak. Rupanya lampu hijau giliran menyala, tanda aku harus segera meluncur.
Baru sampai batas kota arus lalu lintas terasa lengang. Sebagian kendaraan memilih berbelok ke timur, mungkin piknik. Banyak kutemui jalanan berlobang. Memang sejak dulu, jalan ini belum segera diperbaiki. Terpaksa aku harus mengurangi kecepatan, mengingat isteriku yang sudah enam bulan ini mengandung. Aku takut goncangan. Jalan ini memang menyebalkan, dan membuat perjalanan terasa lama. Seingatku dulu sewaktu kecil, banyak terjadi kecelakaan, baik itu tabrakan sepeda motor, mobil terjungkal ke sawah, bahkan truk menabrak pohon. Setiap musim hujan, bisa delapan kali terjadi kecelakaan. Gara-gara jalan itu masih banyak lobangnya.
Di dewa ini aku tidak banyak melihat perubahan. Anak-anak kecil di bawah kolong jembatan meloncat ke sungai yang seidikit meluap. Tubuh-tubuh hitam, kecil dan lusuh itu tenggelam, lantas timbul lagi, kemudian menyelam lagi. Mereka merlambaikan tangannya. Sebagian menunjukkan seekor ikan hasil tangkapannya. Kebetulan isteriku ingin sekali makan ikan. Kesempatan itu tak aku lewatkan begitu saja. Kubeli hasil tangkapan itu dua puluh ribu. Pikirku biar ibu yang memasaknya.
Sudah hampir sampai di desa kelahiranku. Langit seperti kembali terbuka, tingkap-tingkapnya disambut lesatan burung-burung. Tak kutemui lagi butiran hujan jatuh di kaca depan mobilku. Sampai di halaman nampak ibu keluar melewati pintu utama menyambut kedatangan kami. Berkali-kali ia peluk, ia cium pipi Laras. Di samping rumah sebagian orang nampak berkumpul, membicarakan sesuatu yang entah aku sendiri tak tahu. Berguimam seperti tawon.
Kusalami satu persatu orang orang di antaranya panmitia persiapan hajatan pernikahan adikku, Kinanti. Kutatap satu persatu wajah-wajah adikku yang lain, sepupu, paman, bibi, dan nenekku yang kian keriput aja. Kutatap pula keponakan-keponakanku yang nampak kuyup kedinginan, usai bermain hujan. Namun wajah-wajah mereka tidak asing lagi bagiku. Wajah-wajah mereka persis seperti anak-anak kecil yang bermain hujan di perenmpatan jalan, dan di bawah kolong jembatan batas kota.
”Kok basah kuyup, dari mana saja kalian?”
”Dari bermain hujan,” jawabnya.
”Iya di mana?”
”Di mana saja,” jawab yang lebih kurus.
”Di perempatan,” si jangkung menyahut.
”Di jembatan,” sahut si keriting.
”Jadi, kalian tadi yang....”
”Sekarang sudah biasanya, Mas,” sahut adikku yang kedua.
”Kalau tidak begitu, kami tidak bisa hidup,” adikku yang ke lima menyahut.
”Sawah-sawah habis dijual bapak,” sambung iparku.
”Untuk apa?” jawabku setengah berbisik. Tak ingin pembicaraan ini menjadi pergunjingan tetangga.
”Pernikahan kami semua,” jawab adikku yang lain lagi.
”Juga pernikahan, Mas,” sahut adikku lainnya.
”Kami belum juga dapat pekerjaan, mungkin Mas bisa carikan kami-kami ini.”
”Kalau cari sendiri memang susah, Mas. Harus ada orang dalam yang kita kenal. Lagi pula aku tamatan SD.”
”Ijasah SD untuk apa?” jawaban terakhirku kepada adik bungsuku.
Ibu hanya bisa menangis. Ayah duduk termangu menatap burung perkutut di dalam sangkar. Semua adik-adikku tertunduk, juga keponakanku. Sedang isteriku, Laras hanya duduk mengusap-usap perutnya. Mulutnya komat-kamit merapalkan doa. Sementara orang-orang mondar-mandir mengangkat memasang segala perlengkapan untuk resepsi esok hari.
***
Dua tahun meninggalkan desa ini rasa-rasanya ada yang berubah, sejak dari jembatan sungai batas, hingga di rumah, tanah kelahiranku. ”Di mana Kinanti?” tanyaku.
”Dia mau melahirkan,” jawab Ibu, semoga lekas lahir anaknya.
”Bagaimana dengan resepsi?”
”Entah,” jawab Ibu mengusap air matanya.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Ancient
Ancient at Perjalanan Ke Empat (10 years 6 weeks ago)
60

Bagus tapi kurang rapi penulisannya, jadi dibaca rada susah.....

Writer Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan at Perjalanan Ke Empat (12 years 24 weeks ago)
70

Daerah yang dulu jarang bencana sekarang bencana bagaikan arisan. Sebelum pesawat Adam Air ditemukan kita dapat informasi tenggelamnya KM Senopati. Baru sadar ada kapal tenggelam isu berubah dengan banjir Jakarta. Belum kering di Jakarta, datang tanah longsor yang menimpa Manggarai, NTT. Baru saja kita sadar ada longsor di Manggarai, eh … KM Levina tenggelam. Lalu tanpa diduga Sumatera Barat dilanda gempa. Belum sempat presiden ke Sumbar, jatuh pesawat Garuda. Semua memang sedang berubah. Semoga negeri kita berubah menuju kebaikan dan terhindar dari berbagai bencana. Amiin

Writer loushevaon7
loushevaon7 at Perjalanan Ke Empat (12 years 27 weeks ago)
70

endingnya asyik, deskriptifnya mungkin spt kritikan za_hara buat cerpenku tempo hari.

Writer za_hara
za_hara at Perjalanan Ke Empat (12 years 27 weeks ago)
40

untung aku pembaca, jadi kubaca semuanya walau dengan kening berkerut. andai aku redaktur suatu majalah, aku pasti bete. minimal dalam 2 halaman aku "harus" sudah tahu akan dibawa kemana meskipun tidak tahu endingnya seperti apa. tapi aku tidak merasakan itu di sini. aku seperti cuma diajak bertamasya melihat apa yang kamu lihat selama perjalanan. yeah, right, aku diajak dalam sebuah perjalanan. tapi untuk "jalan2" pun aku perlu tahu mau dibawa kemana, kan? Aku butuh teaser di depan. Jadi pesan cerita tidak sekadar sekonyong-konyong keluar di paruh akhir kisah.

Writer KD
KD at Perjalanan Ke Empat (12 years 27 weeks ago)
100

plok..plok..plok..