BangJho - Penghabisan

Seakan jam tangan ini berhenti pada pukul 12.10. Dua manusia beradu pandang, seakan tidak akan bertemu lagi. Menatap dalam diam, biar mata yang berbicara. Sesekali tersenyum, senyuman satu arti. Hanny seolah baru saja menemukan bagian dirinya yang hilang, menemukan dunia barunya.

“Dari tadi senyum-senyum. Kenapa?”, tanya Videl,

“Kangen sama kamu”, jawab Hanny, tetap tersenyum,

“Daripada kamu senyum-senyum nggak jelas, pergi makan, yuk”.

Hanny menjawab dengan anggukan, masih tersenyum.

Hanny menarik tangan Videl. Videl tetap ditempat, wajahnya tertunduk,

“Kenapa? Sakit?”, tanya Hanny sambil menyibakkan poni yang menutupi mata Videl,

“Nggak kok. Aku tiba-tiba kepikiran sesuatu”, Videl mengangkat wajahnya, memegang saku celananya dengan panik,

“Dompetku ilang!”.
***
Hari apa ini? Hari sialkah? Bukan, hari ini bukan hari Jumat tanggal 13. Tidak ada kucing hitam, tidak ada cermin yang pecah atau melewati bawah tangga. Tapi, hari ini, tepat pukul 12.10, perjuangannya mengejar bis dan bertemu kernet bis yang nggak manis, harus sia-sia. Skripsinya hilang. Dan bukan setelah turun, tapi Gita baru menyadarinya ketika sampai di depan pintu ruang dosen yang akan dia kunjungi hari ini.

Perjuangan Gita tidak berbuah manis, butuh waktu seminggu untuk membuat janji dengan dosen yang satu ini. Bukan Gita tidak rajin mengunjungi sang dosen. Setiap ada jadwal bimbingan, Gita selalu kehabisan waktu. Dan untuk membuat janji, baru kali ini Gita berhasil.

“Kalau besok, ibu masih ada waktu?”, Gita menawarkan solusi setelah menjelaskan kalau skripsinya hilang entah kemana, “Atau saya pulang dulu, saya print lagi? Cepet kok, bu”,

“Bukannya mau bikin kamu susah, tapi buat hari ini, jadwal kosong saya ya cuma jam ini saja. Besok kamu hubungi saya, buat janji lagi.”.

Keluar dari ruang dosen, pikiran Gita entah melayang kemana. Gita tidak ingin memikirkan skripsinya dulu. Tapi, ada yang aneh, kenapa si kernet ada di pikiran Gita? Gita menggelengkan kepalanya setiap dia teringat pada si kernet. Gita ingat betul sikap menyebalkan kernet itu. Gita ingat bagaimana kusutnya rambut keriting gondrong membingkai wajah panjangnya, bagaimana tubuh kurus tinggi itu tertutupi kaos junkies coklat tua, celana jeans skinny plus sandal jepit. Kalau dipikir lagi, penampilan kernet yang satu ini tidak terlalu jelek. Kumal juga tidak terlalu, hanya kotoran jalan yang menempel dibajunya yang membuat dia terlihat kotor. Bisa dibilang, kernet yang satu ini unik. Berapa banyak kernet yang berpenampilan, atau sekeren, anak band?

“Mbak!”, satu suara yang menyadarkan Gita. Gita menoleh dan vokalis All American Rejects, eh...kernet yang sedari tadi ada di pikirannya, sudah berdiri di depannya, sambil memegang map yang sepertinya Gita kenali. Map tempat skripsinya! Tanpa ba bi bu lagi, Gita menyambar map itu dari tangan si kernet.

“Lo dapet dari mana?”, tanya Gita sambil mengelus-elus mapnya yang tadi dia cari-cari,

“Ketinggalan di bis. Gue panggil sampai mulut gue kering, lo nggak nengok. Gue langsung turun, terus nyusulin lo”, jawab si kernet dengan ringan, “Dari pagi gue nungguin lo, sambil ngeladenin pak satpam main catur di pos”,

“Makasih ya”, nada bicara Gita kini melunak, “Mau gue traktir makan nggak?”.
Dan si kernet menjawabnya dengan senyuman tanda setuju. Kali ini, nilai 9, bahkan 10 dari Gita untuk senyuman manis itu, semanis aromanya. Aroma harum itu masih tetap sama, seperti aroma tadi pagi.

“Nama lo siapa? Gue Gita”,

“Koko”. Dan hari ini menjadi semanis senyuman Koko.
***
Transaksi dimulai pukul 12.10. Biasanya dia tidak pernah terlambat. Zaky melirik jam tangannya. Terlambat 5 menit sudah. Daerah Lempuyangan, dibawah jembatan layang, dekat rel kereta api, Zaky melihat ke sekitar. Keadaan aman, banyak orang berkumpul, tidak akan terlihat mencolok di tengah keramaian seperti ini.

Dari kejauhan, Zaky melihat lelaki berperawakan kurus, memakai jumper hitam, berjalan dengan kepala tertunduk. Wajahnya memang tidak terlihat, tapi Zaky tahu orang ini yang sedari tadi ditunggunya.

“Sori, telat”, sapa lelaki itu, membuka tudung jumper yang menutupi kepalanya,

“Mana?”, tanya Zaky, langsung pada pokok pembicaraan,

“Butuh berapa?”,

“Lo punya berapa? Kasih gue semua”,

“Gila! Gue dapet apa?”,

“Ridwan, nggak...”. Belum sempat Zaky menyelesaikan kata-katanya, laki-laki dihadapannya itu menarik tangannya kencang,

“Sebut nama gue disini, mati lo!”, ancam laki-laki yang ternyata bernama Ridwan itu, lalu melepaskan genggaman kencangnya di siku Zaky,

“Khusus hari ini, plis. Gue butuh banyak. Gue ngutang sama orang yang nekat main gila”,

“Makanya, jangan keseringan ngobat. Ini bagian lo”, kata Ridwan, menyerahkan dompet kulit warna coklat, “Isinya lumayan”.

Zaky membuka dompet itu, melihat isinya, lumayan juga. Diperiksanya seluruh celah. KTP, KTM, kartu ATM, kartu rumah sakit, berbagai nota dan kwitansi, sampai Zaky melihat ada foto terpasang di dompet itu. Wajah sang pemilik dompet. Didekatkannya dompet itu, melihat lebih jelas lagi. Jelaslah, pemilik dompet ini laki-laki, Zaky bisa melihat di identitas yang ada. Tapi, siapa gerangan perempuan di foto ini? Zaky mengenali wajah perempuan ini, si pemilik dompet memeluknya mesra.

Ditutupnya dompet itu, sudah cukup Zaky melihat.

“Lo bawa motor kan?”, tanya Zaky, tanpa ekspresi, hanya tatapan kosong, “Anterin ke tempat cewek gue, sekarang”,

“Dimana?”,

“Warung SS, yang di perempatan Condong Catur, dekat bangjho”,
***
Hanny duduk menunggu Videl yang sedang sibuk berbicara di handphonenya.

“Sori ya, mobilku nggak bisa beres sore ini”, kata Videl begitu selesai dengan pembicaraan di handphonenya duduk di samping Hanny, “Nanti kamu bisa pulang sendiri kan?”,

“Biasanya juga aku pulang sendiri”,

“Kenapa sih kamu selalu nolak aku anterin pulang?”,

“Nggak semua pertanyaan ada jawabannya”, jawab Hanny, tidak melihat ke arah Videl, “Dompetmu gimana? Mau lapor polisi?”,

“Biarin lah. Kalau jodoh, pasti ketemu”, Videl menjawab ringan, tidak perduli dengan dompetnya yang hilang. Tersangka utama yang Videl curigai saat ini hanya laki-laki ramah yang saat di bis berdiri di dekatnya. Dan Videl masih ingat betul wajah laki-laki itu. Wajah yang begitu mudah dilupakan, tapi Videl tidak ingin menghapus wajah itu dari memorinya.

“Videl!”, suara perempuan menyapa, memanggil. Videl menoleh,

“Gita!”, Videl balas menyapa melihat satu sosok yang sudah lama tidak dia temui, berdiri, memberi salam hangat,

“Apa kabar? Lama nggak ketemu, kemana aja?”,

“Biasa”, jawab Gita sambil menyambut salam Videl, “Sama siapa?”.

Videl menjawab tanpa kata, hanya menunjuk Hanny. Hanny memberi senyum pada Gita.

“Sendirian?”, tanya Videl,

“Berdua, sama teman”, jawab Gita, menunjuk ke arah Koko yang sedang berada di meja kasir. Videl melihat seseorang yang dimaksud Gita, lelaki kurus, hanya tampak belakangnya saja.

Gita berjalan meninggalkan Videl, menuju ke arah Koko. Menepuk bahu Koko, berbicara sebentar, lalu kembali lagi ke tempat Videl.

“Gue yang traktir”, kata Gita,

“Makasih banget lho. Tahu banget kalau gue baru kecopetan”,

“Serius? Kok bisa?”.

Belum sempat Videl menjelaskan, percakapan itu terhenti. Koko sudah berdiri di samping Gita, memberi senyuman hangat pada Videl dan Hanny, yang kini berdiri di samping Videl.

“Habis ini kalian kemana?”, tanya Videl,

“Kalau gue sih niatan balik lagi ke kampus. Kalau Koko, gue nggak tahu”, jawab Gita, menoleh ke arah Koko,

“Gue....”, Koko berpikir sejenak, pikirannya seakan menerawang entah kemana, “Mau bunuh orang”. Meniru mimik wajah di komik Jepang, semua tersenyum garing mendengar jawaban Koko.

“Jam berapa?”, tanya Hanny. Semua berjalan keluar dari warung.

“Setengah dua”, Videl melirik jam tangannya.
***
Perempatan Condong Catur, pukul 13.30, bangjho menyala pada warna merahnya. Semerah wajah Zaky saat ini. Kakinya bergerak-gerak gelisah, berharap apa yang ada dipikirannya bukan kenyataan. Ini mimpi, semoga ini hanya mimpi. Merah di bangjho, segeralah berubah hijau. Zaky terus berharap, bayangan Hanny terus terlintas, Hanny bersama laki-laki pemilik dompet yang saat ini ada di genggaman Zaky. Kencang Zaky menggenggam, sekencang degup jantungnya. Jantung ini ingin meledak, ledakan dahsyat. Sedahsyat api cemburu yang terus berkobar.

Merah berganti hijau, Ridwan tancap gas. Melaju menyalip kendaraan menghadang didepan. Pedal rem diinjak kencang, laju motor berhenti. Zaky segera turun. Matanya menelusuri ke dalam warung SS, mencari-cari bidadari pujaannya. Tidak ada. Kemana Hanny?

“Zaky!”, panggil Ridwan dari tempat parkir, “Hanny diseberang!”.

Zaky berlari keluar, tidak perduli ada orang memaki, orang yang ditubruknya sembarangan. Nafas Zaky naik turun, api cemburunya semakin menyala, wajahnya memerah. Ingin rasanya berlari ke seberang jalan, memukul mati laki-laki yang menggandeng mesra tangan bidadarinya itu.

“Lo tunggu disini, gue pinjam motor lo”.

Tanpa persetujuan Ridwan, Zaky menyalakan mesin motor. Tancap gas, mengendalikan motornya ke arah Videl. Tidak berpikir panjang, ingin ditabrakkannya segera motor itu tepat di tubuh laki-laki itu
***
Videl melihat ke seberang jalan, ada yang tertangkap dari sudut matanya. Wajah laki-laki ramah yang sempat ditemuinya di bis, yang dicurigainya sebagai tersangka utama yang mengambil dompet miliknya. Penampilannya berbeda dari sebelumnya, tapi Videl masih ingat betul wajahnya. Videl melepaskan pegangannya dari tangan Hanny. Mencoba menyeberangi ring road, kendaraan lalu lalang dengan kecepatan tinggi. Ingin dipegangnya laki-laki itu, menyeretnya ke kantor polisi.

Videl melangkah, fokus pada laki-laki dengan jumper hitam di seberang jalan, yang juga melihat ke arah Videl, tersenyum bangga, menunggu kedatangan Videl dengan tangan terbuka. Sementara, di kejauhan, terlihat Zaky melaju dengan motornya.

Begitu cepat dan malaikat maut pun datang. Warna hitam aspal di jalan, seketika berubah merah. Videl terkapar, entah masih bernyawa atau tidak. Zaky terjatuh dari motornya, lecet dibadan diacuhkannya, tersenyum penuh kemenangan. Melihat ke arah Hanny. Hanny bergantian melihat ke arah Zaky dan tubuh Videl yang tidak bergerak. Dan Hanny membalas senyuman Zaky.

Gita diam tak bergerak, menatap ke arah tubuh Videl yang terkapar di jalan, bersimbah darah. Suasana pun seketika berubah menjadi ramai. Banyak orang berkerumun, terdengar suara sirene kendaraan polisi.

Hanny berjalan mendekati Zaky, dengan Koko disampingnya, serta Ridwan yang tiba-tiba saja sudah berdiri dibelakang Koko. Hanny memainkan rambutnya. Seketika Zaky menyadari, ini bukan Hanny yang dikenalnya, ini bukan bidadarinya. Wajah Hanny seketika berubah menjadi iblis yang siap menerkamnya. Hanny mendekatkan wajahnya di telinga Zaky,

“Kali ini lo bunuh orang yang tepat. What a sweet revenge”, Hanny berbisik pelan, meninggalkan Zaky dengan berjuta pertanyaan.

Kejadian berdarah terulang kembali di bangjho. Bagaimana Hanny, Koko dan Ridwan ingat betul kecelakaan itu, di tempat yang sama, beberapa bulan yang lalu. Mereka ingat bagaimana Zaky menabrak dan pergi begitu saja, membunuh sahabat mereka. Meninggalkannya dalam keadaan sekarat. Dan mereka ingat betul, seharusnya sahabat mereka masih bisa diselamatkan, seandainya Videl dan Gita mau perduli, memberikan tumpangan ke rumah sakit. Dengan alasan tidak ada waktu, Videl dan Gita membiarkan malaikat maut datang mencabut nyawa.

Sebelum pergi, Koko menyempatkan menepuk pelan bahu Gita. Gita menoleh dengan air mata bercucuran. Koko tersenyum senang, seakan baru saja mendapatkan kebahagiaan yang tiada tara. Gita melihat sosok yang berbeda, bukan Koko yang polos dengan aroma menenangkan lagi. Kali ini aromanya, bahkan kehadirannya seakan membuat bulu halus berdiri, bukan aroma surga lagi.

Read previous post:  
40
points
(1080 words) posted by -riNa- 12 years 29 weeks ago
80
Tags: Cerita | kehidupan | bis | hidup | hubungan antar karakter
Read next post:  
Writer KD
KD at BangJho - Penghabisan (12 years 27 weeks ago)
100

bravo

Writer Super x
Super x at BangJho - Penghabisan (12 years 27 weeks ago)
70

Alur menurut aku mantap... tapi ini entah cerpen keberapa dalam seminggu ini yang temanya soal pembunuhan... hhh

Writer punk5
punk5 at BangJho - Penghabisan (12 years 27 weeks ago)
100

lumayan...keep rockin rin!e..kd blm kemari y?halah!