Namaku Laila, Istri Hamid

Suatu sore, abi pulang ke rumah dengan membawa seorang lelaki. “Ini suamimu, Laila!” Dia berkata. Disodorkannya lelaki itu kepadaku, jatuh terjerembab di lantai beranda. “Abi temukan dia di pasar. Bawa masuk dan beri dia makan!” Lalu kubawa lelaki itu masuk, kuberi sepiring tongkol segar yang masih mentah, dan berakhir-lah masa lajangku.

Baiklah, memang tidak seperti itu kejadiannya. Lelaki yang diambil abi sebagai suamiku bukan kucing liar yang ditemukan di pasar, tetapi abi benar-benar menikahkanku secara sepihak. Saat itu aku tengah menyelesaikan semester terakhirku di universitas. Aku mengambil jurusan Filsafat. Jean Paul Sartre adalah tema skripsiku.

“Berapa umurmu sekarang, Laila?”
Dua puluh satu tahun.
“Sudah waktunya anak kita menikah,” kata abi pada umi, “Bukan begitu, Umi?”

Kami duduk bertiga di ruang keluarga selepas Isya. Aku menghadapi laptop tuaku, abi membaca majalah dan umi mengupas mangga. “Sudah waktunya anak kita menikah, Abi.”

Aku belum lulus kuliah, Abi, Umi. Dan lagi pacar-pacarku selalu kalian tolak.
“Semua laki-laki yang kamu kenalkan pada abi dan umi bukan keturunan Arab.”
Kita kan sudah membicarakan ini dulu. Kenapa harus keturunan Arab?
“Karena memang sebaiknya begitu.”
Mana punya aku teman lelaki keturunan Arab? Kalau begitu, kalian saja yang mencarikan suami untukku.

Sesungguhnya saat itu aku hanya menggertak sambal, mencoba menyindir rasisme abi dan umi yang bersikeras bahwa darah keturunan kami harus terus dijaga. Selama satu bulan berikutnya abi dan umi bersikap mencurigakan. Mereka tampak sibuk mengurus sesuatu. Mereka banyak menemui kerabat dan kenalan jauh. Mereka juga sering berdiskusi diam-diam di malam hari atau saling berbisik jika aku berada di sekitar mereka, seolah-olah ada sesuatu yang mereka rahasiakan dari diriku. Dan rupanya memang begitu adanya.

“Kemari, Laila. Abi kenalkan dirimu dengan Hamid.”

Hamid adalah lelaki keturunan Arab. Suami yang abi pilihkan untukku. (Oh, biar kuralat). Lelaki yang kepadanya abi nikahkan diriku. “Ijab Kabul kami lakukan tadi pagi,” kata abi dan aku tidak menghadiri akad tersebut! Bagaimana bisa terjadi?

Jika menilik sejarah para nabi dan latar belakang keluarga kami, secara teori, ya: pernikahan semacam ini sah. Tapi demi Tuhan aku tidak menduga ini bisa terjadi di zaman modern, di Indonesia, di mana (bukankah) ada yang disebut sebagai surat nikah dan surat ini harus ditandatangai oleh kedua pihak: suami juga istri. Dan aku tidak merasa pernah menandatangi sesuatu yang berhubungan dengan konsep menikah. Maka seperti banyak orang menamakannya, ini adalah Nikah Sirih.

Nah, Hamid, kita tidak bisa tidur di dalam satu kamar yang sama.
“Kita sudah menikah, istriku Laila.”
Akan kupertimbangkan dulu.

Tidak kubiarkan lelaki itu memasuki kamarku. Aku tidak peduli dia tidur di mana malam ini. Abi dan umi tidak tahu, mereka sudah sejak tadi tidur. Tapi esok paginya, tentu saja, mereka menemukan lelaki itu tidur di ruang sembahyang dan terjadi-lah ceramah panjang yang membosankan dari abi dan umi untukku.

“Abi sendiri yang memilihkan Hamid untukmu. Dia lelaki yang baik.”
“Dan keturunan Arab,” umi menyambung.
Tapi kalian melakukannya tanpa sepengetahuanku.
“Ijab Kabul tidak membutuhkan kehadiran perempuan.”
Oh, Abi! Kita tidak tinggal di Saudi lagi dan di sini orang-orang menonton siaran berita lewat ponsel.
“Laila!”

Tidak pernah terjadi di dalam sejarah, saat aku dan abi berdiskusi keras (dengan umi di sisi abi, tentunya), kemenangan berada di pihakku. Maka, apa yang akan (atau sudah?) terjadi padaku, terjadi-lah. Aku menjadi istri orang, menikah tanpa embel-embel cinta, tanpa mengenal sebelumnya siapa suamiku yang abi pilihkan, apalagi pacaran.

“Pacaran dilarang agama!”
Oh, dunia!

“Dek Laila!”

Suatu sore yang lain, sepulangku dari kampus, aku melihat sejumlah tetangga berkumpul di depan pagar rumah kami. Lima perempuan berdaster motif kembang warna mencolok, rol rambut di kepala mereka, dan mulut tidak berhenti bicara, kental berlogat gaya bicara setempat.

“Dek Laila!” Mereka mengerumuniku beramai-ramai. “Lelaki muda yang kemarin dibawa pulang Abi Hasan, siapa dia?”
Oh. Lelaki itu bernama Hamid.
“Ah, jadi dia bernama Hamid? Kami lihat semalam lelaki itu menginap di rumah Abi Hasan. Kerabat dari jauh?”
Bukan. Bukan kerabat. Dia suami saya.

Aku tidak menunggu tanggapan. Kutinggalkan mereka yang lalu berwajah terperangah, mata melotot dan mulut ternganga. Jangankan mereka, diriku saja belum bisa menerima berita ini dengan baik. Karena itu, aku tidak heran saat keesokan harinya mulai beredar rumor miring seputar pernikahanku.

“Laila, anak perempuan Abi Hasan, menikah kemarin lusa.”
“Tiba-tiba sekali?”
“Itulah. Mencurigakan.”
“Sudah keburu hamil, mungkin. Padahal anak seorang syekh.”

“Padahal anak seorang syekh.”

Kutatap Hamid dengan agak sinis. Kami berada di dalam satu ruangan, kamar tidurku (aku tidak bisa berkelit lagi, abi dan umi kini mengawasi pintu kamarku dari kamar mereka). Apa maksud perkataanmu barusan, wahai Hamid? Aku anak abiku dan memang abiku seorang syekh.

“Kalau begitu kamu pasti mengerti, apa yang dirimu lakukan ini berdosa, Laila sayang.”
Dosa? Dosa apa aku?
“Memperlakukan suamimu seperti ini.”
Suami? Sudah kukatakan, akan kupertimbangkan dulu hal itu. Nah, Hamid, aku terpaksa tidur satu kamar denganmu. Aku tidur di atas sini dan kamu bisa menggelar karpet di bawah sana.

Kutarik selimutku. Menutupi tubuh rapat-rapat dari kaki sampai leher. Tidak kuizinkan Hamid melihat lebih dari yang biasa. Tidak mudah menerima lelaki yang sama sekali tidak kukenal sebagai suami. Kulihat lelaki itu menuruti kata-kataku. Dia menggelar karpet di lantai untuk alas tidur. Entah apakah dia lelaki yang sopan atau justru bodoh, tetapi itu tidak mengapa selama aku aman tidak tersentuh.

Rumor miring beredar di kalangan warga RT, Abi dan Umi tahu?
“Rumor? Rumor apa?”

Pagi hari di meja makan, kami belum beranjak seusai sarapan. Abi sedang menyelesaikan bacaan korannya, umi merapikan piring-piring dan Hamid sibuk menelpon para pembeli madu dagangannya.

Mereka bilang, aku menikah tiba-tiba karena keburu hamil.
“Hamil?” Hamid menyeletuk tiba-tiba. Suaranya bernada terkejut. “Benarkah kamu hamil, Laila?”
Tentu saja tidak! Rumor, kubilang.

“Jika memang rumor, maka tidak perlu dipedulikan.” Abi berkata dengan tenang. Dia tidak mengalihkan perhatian dari korannya. Umi juga terlihat tenang. Wanita itu menyeduh teh madu hangat untuk abi, sementara Hamid kembali sibuk menelpon dan tampaknya hanya aku yang merasa berada dalam situasi sulit.

Dan memang aku tengah berada dalam situasi sulit. Siapapun tahu, rumor tidak akan berhenti menjalar selama masih ada ruang dan energi para pelakunya belum habis. Kini setiap pagi dan sore, saat berangkat dan pulang kuliah, aku kerap mendengar para tetangga menggunjingkanku. Mereka berkerumun dan saling berbisik. Mata melirik penuh arti ke arahku.

“Memangnya anak syekh tidak bisa hamil di luar nikah?”
“Bukan tidak bisa. Tidak pantas.”
“Justru karena itu Abi Hasan buru-buru menikahkan anaknya.”
“Jadi Laila sungguh hamil di luar nikah?”
“Bukan, ini masih dugaan saja, tetapi sepertinya perut Laila agak buncit.”

BUNCIT? Lingkar pinggangku hanya 58 cm! Demi Tuhan, aku harus melakukan sesuatu. Semua ini karena abi menikahkanku secara sepihak dan akan kubereskan masalah ini segera. Aku akan minta ce ...

“Biarkan saja mereka. Berdosa mereka karena bergunjing.”
Bukankah kita ikut berdosa karena tahu tapi membiarkan mereka?

Ucapanku (yang sesungguhnya sengaja kuucapkan untuk menjebak abi) kali ini mengena. Abi terdiam lalu umi mengambil alih pembicaraan. Umi berkata, “Abi, Laila benar. Ini tidak bisa didiamkan.”

Ya, Umi. Lebih baik, aku dan Hamid ce ...
“Menurut umi, Kita perlu mengadakan syukuran.”
Syukuran?
“Untuk memberitahu warga sekitar dan kerabat mengenai pernikahan ini.”
Bukan. Bukan syukuran yang kumaksud, Umi.
“Bagaimana, Abi?”
Umi ...
“Ya, rasanya abi masih punya sedikit tabungan.”
Bukan syukuran ...
“Kapan waktu tepatnya?”

AKU MINTA CERAI!

Suaraku memenuhi ruang keluarga. Terdengar histeris akibat akumulasi emosi yang menumpuk beberapa hari belakangan ini. Saat ini hanya kami bertiga di dalam ruangan. Hamid belum pulang (syukurlah dan aku berharap, dia lupa jalan pulang). Kulihat abi dan umi menatapku. Mereka tidak terkejut. Bagaimanapun, aku adalah anak mereka yang sudah terlalu sering mencoba membantah dan dengan tenang, seperti biasa, mereka akan menjawab.

“Cerai dilarang agama.”
Tidak jika dalam situasi tertentu.
“Apakah kamu merasa dalam situasi tertentu?”
Aku tidak mencintai Hamid, Abi!
“Kamu tidak harus mencintai suamimu.”
Lalu untuk apa aku menikah?
“Ibadah, tentu, maka abi pilihkan suami yang baik untuk menemanimu beribadah.”

Tapi ini hidupku.

Dan hidupku kini bergulir tanpa terkendali (olehku). Aku seperti melihat diriku sendiri bermain sebuah drama kehidupan lewat layar televisi. Drama yang (mungkin) tidak kusukai, tetapi aku tidak bisa melakukan apa-apa, selain menjadi penonton yang kerap menggerutu, sementara episode demi episode tidak bermutu terus berlanjut setiap harinya.

Syukuran itu diadakan di satu bulan yang panas. Abi dan umi mengundang tetangga dan kerabat, memotong kambing dan memasak kebab. Acara berlangsung sampai tengah malam. Riuh disertai iringan musik. Kini semua orang tahu bahwa aku, Laila, adalah istri Hamid, lelaki yang dipilihkan Abi Hasan. Mulut-mulut nyinyir yang bergunjing tentang kehamilanku, lama-kelamaan, kelelahan sendiri. Dan rumor-rumor yang mereka ciptakan dengan cepat tersapu oleh waktu.

“Laila, istriku.” Hamid memanggil di suatu malam. Setelah dua bulan, dia masih kubiarkan tidur di lantai, beralas karpet. “Sampai kapan aku akan tidur di lantai, sayang?”

Selamanya.
“Tapi aku suamimu.”
Itu masih kupertimbangkan.

Lalu Hamid terdiam. Aku juga terdiam dan malam menjadi semakin sunyi. Setengah mengantuk aku teringat pembicaraanku dengan umi beberapa waktu yang lalu. Membahas aku, Hamid dan cinta yang tidak pernah ada di antara kami. (Sungguh, saat pembicaraan itu terjadi, aku masih memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa cerai dari Hamid).

Saat itu, umi berkata lemah lembut, “Cukup cintai Tuhanmu, Laila, lalu berdoa-lah.”

Dan sesungguhnya (kemudian) aku berdoa. Dalam sepi di satu malam. Aku tidur setelahnya tapi tidak menantikan mimpi karena aku percaya, jawaban tidak datang lewat mimpi. Jawaban datang lewat hati.

Hamid.

Kupanggil lelaki yang tidur beralas karpet di lantai. Dia menoleh, setengah terpejam menatapku. “Ada apa, Laila sayang?”

Naiklah kemari, Hamid! Aku di kanan dan kamu di sisi satunya. Jangan senang dulu! Di tengah kuberikan batas menggunakan bantal dan guling. Jangan berani menyentuhku atau kamu kembali tidur di lantai. Perihal pernikahan kita, masih akan kupertimbangkan.

Jakarta, 14 Januari 2008

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer dorarossi46
dorarossi46 at Namaku Laila, Istri Hamid (6 years 31 weeks ago)
90

andai laila tahu keutamaan mematuhi perintah orangtua & berbakti pd suami, mungkin dia tidak akan 'protes' sekeras itu...
*tapi ini bukan berarti saya setuju sepenuhnya dg sikap orangtua laila lho...hhehe

Writer Kika
Kika at Namaku Laila, Istri Hamid (6 years 38 weeks ago)
100

Mampir ke cerpennya salah satu master di kemudian :D
Aaahh.. Lanjutin dong kak windry, penasaran! Gaya penceritaannya asik, ringan juga ngalir. Ada unsur humornya juga :D
Suka pokoknyaa (y)
Btw, salam kenal ya kak :-)

Writer Kika
Kika at Namaku Laila, Istri Hamid (6 years 38 weeks ago)

Mampir ke cerpennya salah satu master di kemudian :D
Aaahh.. Lanjutin dong kak windry, penasaran! Gaya penceritaannya asik, ringan juga ngalir. Ada unsur humornya juga :D
Suka pokoknyaa (y)
Btw, salam kenal ya kak :-)

Writer blackhole
blackhole at Namaku Laila, Istri Hamid (7 years 34 weeks ago)
70

endingnya lumayan ngena....^^
kalo gw jd laila...sepertinya...gw bakal ky gt jg dah...
bener jg sih, proses nikahnya...tp iman saia pun sepertinya belum ckp kuat >,<
hahahaha

Writer H.Lind
H.Lind at Namaku Laila, Istri Hamid (7 years 36 weeks ago)
100

Poin ah, meski pun udah lama. Ehehehe :)

Writer Dedalu
Dedalu at Namaku Laila, Istri Hamid (7 years 42 weeks ago)

aduh kak, gantung nih T_T,
padahal saia masih menggebu-gebu membacanya (first time),
sumpaaahhh !!
masih pingin baca T_T

Writer just_hammam
just_hammam at Namaku Laila, Istri Hamid (8 years 5 weeks ago)
80

Cerita recomended by anggra_t http://www.kners.com/showpost.php?p=22604&postcount=10
Cerita yang menyenangkan... mengalir lancar meski tema yang disajikan sebenarnya berat.
Selamat miss worm... cerita yang indah.

Writer miss worm
miss worm at Namaku Laila, Istri Hamid (7 years 48 weeks ago)

terima kasih, Hammam

Writer neko-man
neko-man at Namaku Laila, Istri Hamid (8 years 5 weeks ago)
100

Bhew, temanya itu bagus banget. Menunjukkan pandangan budaya yang bikin miris tanpa menjadikannya terlalu berat atau terlalu sinis.

Writer miss worm
miss worm at Namaku Laila, Istri Hamid (7 years 48 weeks ago)

terima kasiiih :)

Writer redscreen
redscreen at Namaku Laila, Istri Hamid (8 years 44 weeks ago)
80

ceritanya bagus kak, mengalir, tapi agak membosankan -dibunuh fans kak miss worm- xD
kalau begini mah ku lebih baik tak beragama daripada hidup dalam paksaan

Writer ferliarostory
ferliarostory at Namaku Laila, Istri Hamid (10 years 37 weeks ago)
100

menikah memang ibadah, tapi kl menikahnya dengan cara seperti itu, yah ujian iman jg..!!

Writer Zhang he
Zhang he at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 22 weeks ago)
80

Wah.. aku agak gx biasa lihat format yang gak pake tanda petik, but again.. who cares!! XD ceritanya oenuh emosi, seakan aku bisa ikut ngerasain perasaan Laila..

Fiuuuh ^^ tapi Hamidnya baik, sabar juga. Hihihihihii..

Writer miss worm
miss worm at Namaku Laila, Istri Hamid (7 years 48 weeks ago)

iya. aku baca ulang cerpen ini setelah, well, bertahun-tahun... dan aku merasa dialog-dialog tanpa tanda petik itu norak hahaha. waktu menulis ini, aku sedang belajar membuat dialog. tantangannya adalah membuat pembaca ngeh mana yang dialog, mana yang narasi. entah berhasil atau tidak. tapi, kalau cerpen ini satu ketika dipublikasikan ulang, kayaknya aku akan pakai tanda petik untuk Laila :p.

thanks for reading, ya!

Writer Rijon
Rijon at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 22 weeks ago)
90

Entahlah.....gak bisa komen aku, cc worm emang dah hebat EYD dan grammarnya......

Btw, cc worm, kometarin cerita aku donk kalo sempet, yg JASMINE tuh ^o^
Pingin dikomentarin cc worm ^o^

Writer snap
snap at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 29 weeks ago)
90

saya suka crita ini. tidak membosankan. ajari saya kalau tidak keberatan. trims.

Writer r.kusuma
r.kusuma at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 29 weeks ago)
50

ide ceritanya sederhana, tapi cukup bisa bikin saya baca sampai akhir cerita. Gaya cerita yang cukup bagus , tidak membosankan

Writer kavellania
kavellania at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 31 weeks ago)
50

ehmmm hampir mirip kayak siti nurbaya deh inti ceritanya doank lho

Writer iris
iris at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 31 weeks ago)
90

hehehe aku baca cerita ini sambil senyum - senyum..gaya cerita yang beda dari cerita miss worm biasanya, tapi beda ga selalu buruk kan?ceritanya malah terasa ringan dan segar:)
setuju sekali sama kata2, hidup mulai tidak terkendalikan (olehku).... kadang2 kita yang gak dijodohkan aja merasa seperti itu ko, atau karena kita yang menyerah begitu saja untuk dikendalikan orang lain?hehe just wondering..

Writer you_know_who
you_know_who at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 32 weeks ago)
80

Saiyaa bgg maw komen apa..bahasanya bagus..crita jg bguss..senior emg bda yaq..heheh..knapa masi ada pjodohan macem gt y??herann..pdhl ujung"nya jarang yang hepi ending..heheh..
mba..minta komennya dunk bwt 'bocah.ini.bingung' ama 'keladi'..heheh..cacian jg trima kuq..
tq yaq..
^^V

Writer kenary
kenary at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 32 weeks ago)
70

Jempolan.. panteslah klo sebentar lagi nyetak buku.. moga2 jadi hit..

ohya.. Makasih atas sarannya yang kemarin. Bedak & Kayu putih-nya udah direvisi jadi lebih ramping dari sebelumnya. selamat membaca ya..

Klo dah nyetak buku.. kabar2i ya.. mo beli.. hihi

Writer Rayaa
Rayaa at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 32 weeks ago)
90

YA.. YA... YA....
Selalu luar biasa dan meninggalkan sesuatu buat pembaca...
DON'T CARE about EYD, tanda kutip, SPOK and whatever... Semua bebas menentukan gaya penulisannya masing2...
Komunitas pembaca kita udah cukup cerdas untuk bisa mengerti tanpa harus didikte...
Mengundang orang membaca, mengajak dan menstimulasi orang untuk berpikir dan pada akhirnya memetik sesuatu...
BAGUS !!!
Kalo mau baca yang semuanya jelas tanpa harus capek2 mikir, they can read comics !! (even Conan pun ngajak pembacanya mikir !!!)
Windry... FOUR THUMBS UP FOR YOU !!!
SALUTE......

Writer vieajah
vieajah at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 32 weeks ago)
100

sanGat suka baca ini...

aKu gaG beRmasaLaH denGan tanda baca kaRna toh sepanJang ceRita kata2 LaiLa gag peRnah dipakein tanda ""

seTiap ceRiTa yanG sudah diBuaT gag munGkin bisa sama diTeRima sama seTiap oRanG toh?? Masing2 punYa peRsepsi sendiRi2... cocok2anLah isTiLahnya..

BuaT missworm, vie nYocok banGed dah... huhuhu,....

Writer Evo
Evo at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 33 weeks ago)
80

Yah.. emang bagus,, namanya juga senior. Buat tutor donk. hehe..
Beritahu yang awam2 ini. Inget! jadilah motivator bukan demotivator. Beri masukan bukan cacian. Ocre,, Keep writing..!! :D

Writer Uji
Uji at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 33 weeks ago)
80

Menarik dan mengalir. ini fiksi atau fakta. tapi ada beberapa kata yang tidak kuranng teratur, seperti "Mereka sudah sejak tadi tidur". tapi Sukses buat anda. salam kenal dari saya. komentari tulisan saya Selasa pagi bersama Oryza dan Salman Al farisi dari kota "Amoy.

Writer someonefromthesky
someonefromthesky at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 33 weeks ago)
90

saya baru tau, sy kira salah satu syarat sah'nya nikah adalah adanya mempelai pria dan wanita. Dan seseorang bisa menolak lamaran orang yang tidak disukainya. Menurut pemahaman saya, dalam Islam tidak ada pernikahan yg dipaksakan. Well, tapi cerita ini memberikan perspektif yang berbeda dengan sudut pandang saya ttg agama. Sangat menarik. Gaya ceritanya nyaris sempurna. Penggunaan tanda baca seperti tanda petik dan tanda kurung buat saya sih nggak masalah, karena saya juga suka mengorbankan peraturan demi sebuah eksperimen yang jauh lebih menantang. Baca tulisan ini bikin jadi semangat lagi nih...

Writer ssssss
ssssss at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 33 weeks ago)
50

suka banget bergabun g disini banayak orang2 yang memiliki bakat menulis,termasuk kamu,cerita ini unik dan amat menarik untuk disimak.maju terusss

Writer SBN
SBN at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 33 weeks ago)
80

hehe, seneng juga ikutan komunitas dimana ada orang yang punya kemampuan menulis seperti ini..

walaupun saya kalau dalam kehidupan nyata mungkin gak bisa menyalahkan abi dan Hamid 100 %. Tapi setiap alasan yang dilontarkan Laila membuat saya jadi pengen marah ke abi dan Hamid.

Bi.. zaman Rasul pun, ada seorang wanita yang menolak untuk dinikahkan. Walaupun kemudian dia menerima pernikahan tersebut.

Bi, Mi, Mid... pentingnya syukuran (walimahan) adalah menghindari fitnah (seperti yang terjadi pada Laila). Kalau memang Abi, Umi dan Hamid mementingkan agama, bukankah ini juga harusnya Abi, Umi dan Hamid tahu..?

Hehehehe.. saya jadi panas nih miss worm.. tapi bukan pada anda.. pada karakter yang anda tulis.. ^_^

Writer Iphrite
Iphrite at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 33 weeks ago)
100

sangat pro! member senior memang beda hehehe..

Writer athadarmawan
athadarmawan at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 34 weeks ago)
90

bagus lhooo..^^

Writer neko no oujisama
neko no oujisama at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 34 weeks ago)
70

Tanggapan kedua untuk miss worm:

Saya memang tidak pernah komentar masalah substansi, karena saya pribadi mementingkan tanda baca pada sebuah cerita kecuali puisi. Kenapa saya menyoroti masalah seperti tanda kutip dua ini? Karena saya sebagai pembaca selalu ingin membaca dengan persepsi yang sama dengan penulis. Saya selalu ingin masuk ke dalam tulisan, menjadi tokoh, berada di sana, berinteraksi dalam situasi yang digambarkan. Oleh karena itu, sebagai seorang yang dididik terlalu keras akan tanda baca sewaktu di SMP, saya memakai tanda-tanda baca sebagai alat untuk bisa merasakan keadaan seperti pada kalimat saya sebelumnya. Saya ingin benar-benar tahu apakah si tokoh hanya berguman, berpikir, atau berkata, atau bahkan berteriak. Saya pribadi tidak ingin salah persepsi, atau kalau parah sekali, tidak ingin tersesat. Dalam hal ini saya tidak mengkategorikan tulisan anda parah, agar anda tidak salah persepsi dalam membaca komentar saya.
Untuk penulis luar negeri, saya tidak terlalu peduli karena kadang setiap negara mempunyai EYD-nya sendiri. Tapi sepanjang saya membaca tulisan-tulisan dari penulis terkenal seperti Stephen King, misalnya, mereka benar-benar berusaha untuk membuat pembaca merasakan situasi dalam tulisan dengan, tentu saja - pemakaian tanda baca yang sempurna.

Teringat Laila, saya jadi teringat novel 'Always, Layla' yang sampai saat ini menempati urutan pertama dalam tanda baca menurut saya. Tulisannya ringan, tapi hampir tanpa cacat masalah tanda baca ini. Saya ketahui belakangan bahwa penulisnya punya satu orang teman berdebat masalah tanda baca ini.

Untuk komik, bahkan mereka membedakan untuk pikiran, gumaman, teriakan, atau perkataan, melalui balon, huruf besar-kecil, font size, letak tulisan, bahkan bold atau tidaknya.

Masalah SPOK, dalam menulis tidak harus SPOK, terutama jika ada kalimat lain sebagai pembukanya, atau terusannya. Setidaknya itu yang pernah saya tahu.

Sekali lagi, mungkin ini masalah perfeksionisme saya dalam membaca. Jadi sebagai orang yang gemar membaca, saya sangat concern masalah tanda baca ini.

Sebagai saran, tidak ada ruginya apabila miss worm menggunakan tanda baca yang lebih baik, kecuali tujuan anda memang sengaja seperti itu, yang saya kurang mengerti alasannya.

Sekali lagi, saran saya tidak harus diikuti kok. Dicuekin juga tidak apa-apa. Hehehe namanya juga cuma komentar.

---------------------------

Cerita dan bahasanya memang bagus, tapi ada beberapa hal mengenai tata bahasa dan penulisan yang sepertinya kurang layak jika tidak diikuti oleh seorang miss worm yang selalu memegang EYD di tangan kanannya.

1. Kenapa dialog yang dilakukan oleh Laila tidak dilengkapi dengan tanda kutip dua seperti dialog biasanya? Walaupun sudut pandang cerita adalah orang pertama, tapi pada saat dialog yang diucapkan oleh tokoh, seharusnya tetap menggunakan tanda kutip dua karena merupakan kalimat langsung. Kecuali digunakan kalimat tidak langsung.
Contoh:
"Kita sudah menikah, istriku Laila."
Akan kupertimbangkan dulu.

Kalau dialog tersebut diucapkan, maka seharusnya "Akan kupertimbangkan dulu."
Kecuali dengan kalimat tidak langsung yang menjadi. Aku katakan padanya bahwa aku akan mempertimbangkannya dulu.

2. Pemakaian tanda kurung dua(). Pemakaian tanda kurung seperti yang dipakai miss worm tidak lazim digunakan oleh penulis sekaliber miss worm, kecuali oleh penulis2 baru seperti saya. Hehehe... lebih baik pakai koma atau - atau malah disambungkan saja. Contoh:
Tapi demi Tuhan aku tidak menduga ini bisa terjadi di zaman modern, di Indonesia, dimana bukankah ada yang disebut ...
Contoh lagi:
Tidak pernah terjadi di dalam sejarah, saat aku dan abi berdiskusi keras, dengan umi di sisi abi - tentunya, kemenangan berada di pihakku.

Demikian kira-kira. Maaf kalau kesannya menggurui, tapi saya mengharapkan miss worm, yang notabene dianggap guru menulis di kemudian, untuk lebih baik lagi dalam menulis. Ini demi teman-teman juga.

Piss Yo....

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 34 weeks ago)
100

Gila! ceritanya bagus-bagus. Harusnya buat cerita-cerita yang > 100 pts dibuatkan media sendiri.
Jadi para pendatang baru seperti aku juga bisa langsung langsung klik di sini. Karena cenderungnya menurutku untuk pencari point wajib baca karya-karya penulis >100 pts.
Buat miss worm, aku suka banget. Ajari aku lewat koemntarmu ya.

Writer azura7
azura7 at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 34 weeks ago)
90

menurutku pernikahan semacam itu tidak pernah sah dalam Islam. yoo. tapi karena ini fiksi... boleh betul atuh...

lagian keren juga

Writer Ibnu Alwi
Ibnu Alwi at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 34 weeks ago)
90

tapi kok saya merasa ceritanya seperti terburu-buru, teresa-gesa, terlalu cepat. dari satu kejadian ke kejadian yang lain cepat banget ngalirnya.
tapi memang pendeskripsiannya bagus banget.
tapi sayang, saya dikecewakan oleh ending ceritanya
datar konfliknya, menurun nggak, menaik juga nggak

komentarin juga ya
Aduhai.....aduh CAntiknya...
ini juga
Wanita

Writer rhe_91
rhe_91 at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 34 weeks ago)
90

Dalam syariah Islam,Ijab kabul memang hanya terjadi antara pengantin laki dengan ayah kandung/ wali dari pengantin perempuan. Detailnya silahkan googling atau tanya kiai.

Cerita ini menurutku adalah kegelisahan hati karena melihat syariat agama yang berbenturan atau tidak nyaman untuk dilaksanakan.

Pengetahuan tentang agama memang makin dangkal sehingga Laila yang sudah mahasiswa sekalipun masih keheranan dengan hal ini. Asumsiku Laila ini kurang mendapat pendidikan agama. ini realita sih.

hamid lebih parah, jika dia juga mendapat pendidikan agama yang cukup tentu mengetahui cara mendidik istri yang tidak taat dalam islam. Tentu bukan cara kekerasan karena islam tidak pernah mengajarkan kekerasan.

mengenai tekhnis...you 're the best.

Mampirlah dan berikan kritik pedas yang panjang dalam ceritaku

Writer kamilia
kamilia at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 34 weeks ago)
100

unjuk gigi apa miss?
:( kenapa gue slalu telat?

(bagus bo' tulisan lo)

Writer cat
cat at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 35 weeks ago)
90

wuih.. penulis-penulis top k.com kembali unjuk gigi,
hati-hati para kemudianers yang lain akan diadakan pemeriksaan gigi tuh.

Windry makin keren aja.

Writer noir
noir at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 35 weeks ago)
80

Ini hasilnya win? Bagus bagus.... Nuansanya berbeda, cuma tulisan tentang lokalitas masih di tatar bagaimana menolak adat ya...belum sepenuhnya menyatu dengan adat itu ^^ -belum selesai bahasannya tuh hehehe-

Writer Tedjo
Tedjo at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 35 weeks ago)
90

Selamat buat moment unjuk giginya, diskusinya sudah, tinggal kasih point..10 tak kurangi satu, untuk Laila yang masih belum punya sikap..

Writer brown
brown at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 35 weeks ago)
90

kurasa aku sama siriknya dengan F_Griffin. kamu memang makin luwes. dan makin dewasa. i like the way 'she' thinks and speaks the most.

dadun at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 35 weeks ago)
90

asyik banget bacanya. terhibur. terhibur. cuman memang, kerasa agak gimanaaaa gitu pas pergantian adegan (kalo dalam film). tapi, oke sih. unjuk giginya oke banget.

Writer hege
hege at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 35 weeks ago)
100

hege baca estafet... wakakak...
jadi inget seseorang.

Writer -riNa-
-riNa- at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 35 weeks ago)
90

No comment, dah bagus, titik!

Writer on3th1ng
on3th1ng at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 35 weeks ago)
90

dalam rangka unjuk gigi atau tidak, ceritamu emang udah uokeh kok win..

:D

Writer eggiedwiananda
eggiedwiananda at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 35 weeks ago)
100

Uh, miss worm... ceritanya sangat menggelitik! Saya bacanya gak putus2.. terus aja...

Mungkin kalau diksinya sedikit pakai istilah atau bahasa arab lebih gurih dan kental kali ya... (kayak mie kare!)

Writer ghe
ghe at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 35 weeks ago)
100

aku suka sih..
tapiiii..
eh ga ada tapinya deng..
suka aja.
eh ada tapinya deng: judulnya ga suka ah.
:p

Writer F_Griffin
F_Griffin at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 35 weeks ago)
100

Memang terasa bedanya antara yang sering latihan dan yang tidak. Hiks. Lentur gemulai, nih. Luwes memikat!

Writer OrangMalas
OrangMalas at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 35 weeks ago)
60

IMO, tulisanmu yang ini masih sangat kurang matang. Tapi aku suka smangatnya dan bbrp isyarat dalam tulisan, serta progres di ending.
CMIIW.

KeepLearning,
OrangAwam

Writer v1vald1
v1vald1 at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 35 weeks ago)
90

Awal yang keren, dilanjutkan dengan tehnik penceritaan yang baik sekali. Tema yang tidak pernah basi, dan diangkat lagi dengan gaya bertutur menarik. Lebih hebat lagi, akhirnya dibuat dengan kocak. Karakter Laila khas karakter perempuan remaja menginjak dewasa. Bagus. Bagus. Cerita seperti ini, mudah sekali mendapatkan penggemar! -met unjuk gigi!- ;)

Writer Nanasa
Nanasa at Namaku Laila, Istri Hamid (11 years 35 weeks ago)
90

Kocak di bagian akhirnya,

Wuihh... hebat!! aq suka karya ibu komandan yang ini :

Bahasanya enak, n lokalitasnya masuk.

Tapi kok ucapan2 si aku nggak dikasih tanda petik? Kadang aq ga bisa bedain mana yg ucapan dalam hati, mana yang ucapan beneran.

Mm.. kereeennn.

Betewe, tagnya unjuk gigi? hati2 kalo kelamaan bisa kering tuh :o

Hayo2 teman2 dari sel 1C, semangat!!!