Silence

Entah aku tersadar atau tidak, menatap ke arah langit di malam hari dan tidak ada satu pun bintang yang tersenyum menyapaku malam ini. Sama seperti malam-malam sebelumnya, dan siang-siang kemarin. Kala aku menatap langit, hanya ada awan mendung. Awan mendung yang hitam, tapi tidak kunjung menurunkan hujan. Dan malam ini, langit hitam polos tanpa bintang. Membosankan, seperti jalan hidupku.

Aku masih duduk dengan dagu berpangku pada lutut. Duduk menunggu seperti biasa, dengan selimut putih yang membalut sebagian badanku. Sesekali menengok ke arah pintu. Kembali menatap jendela yang berlatarkan langit hitam membosankan itu. Walau ditemani barang-barang mewah, tetap saja duduk menunggu seperti ini terasa membosankan. Gaun tidur sutra yang membalut tubuhku. Cincin putih bertahtakan berlian melingkar di jariku, baru diberikannya kemarin malam. Kotak besar bernama televisi yang kuacuhkan terus mengeluarkan suara mendesis. Kali ini aku menunggu hujan turun. Langit itu, seperti jiwaku, mendung dan gelap.

Sudah lama, jiwa ini seakan mati. Sejak kata maaf pertama terucap dari bibir pria yang sangat aku ingin mencintainya. Dan aku yang sangat berharap dia juga begitu mencintaiku, dengan tulus. Kata maaf, entah sudah berapa ribu kata maaf yang pernah terucap dari bibirnya. Sudah berapa maaf mengikuti pengkhianatannya. Dan aku yang terus memaafkannya karena tidak ingin kehilangan cinta. Cinta…cinta…cinta…perduli setan dengan kata cinta! Tiga kata, aku cinta kamu, lalu diikuti kata maaf selalu saja terucap setelah aku melihatnya terus berkhianat di depan mataku. Dan aku terus membiarkannya membuatku luluh dengan pelukan hangatnya. Menyandarkan kepalaku ke bahunya. Lalu ciuman yang membuatku meleleh seketika. Entah kenapa aku begitu tidak ingin kehilangan dia.

“Maaf”, katanya saat dia pulang larut malam dan mendapatiku seperti malam-malam biasanya, duduk diam di ranjang dengan gaun tidur sutra. “Aku bawa sesuatu buat kamu”.

Dan dia mengeluarkan kotak kecil, menaruhnya di sampingku. Hanya kulirik, tanpa kusentuh. Aku bisa menebak apa isinya. Selalu saja, setiap minggu dia akan membanjiriku dengan berbagai hadiah.

“Kok nggak dibuka?”, tanyanya sambil memakai baju tidur, “Aku sudah susah payah cari itu buat kamu pakai di pesta kantor minggu malam besok”.

Aku mengambil hadiah itu lalu menaruh di laci meja tanpa membukanya.

“Buat acara besok, pakai gaun hitam yang kemarin aku beli. Kamu pasti cantik pakai itu”, katanya setelah duduk disampingku, bersiap untuk tidur, “Sebenarnya pakai apa saja kamu selalu cantik”. Aku menengok ke arahnya dan hanya bisa tersenyum. Lalu kembali menatap langit lewat jendela.

“I love you”, dia menyentuh wajahku dan dengan lembut mengarahkan wajah ini kepadanya. Aku hanya dapat membalasnya dengan senyuman, dalam diam. Dan dia mencium lembut bibirku, ciuman selamat malam.

Kata orang bijak, hidup itu adalah pilihan. Dan aku memilih untuk terus hidup dengannya. Memilih untuk terus menunggunya pulang sampai larut malam. Memilih untuk membuka pintu kamar malam itu ketika aku pulang dari rumah orangtuaku dan mendapatinya tidur dengan wanita lain, di rumah kami, di ranjang kami. Dan memilih untuk hanya diam ketika melihatnya karena dia sudah pernah lebih dari satu kali melakukannya maka aku tidak heran apabila dia melakukannya lagi.

Aku menaruh jam tangan di atas meja kecil, tanpa suara, yang berada di samping sisi ranjangku, yang saat itu ditempati oleh wanita lain. Kulit putih mulusnya diselimuti selimutku. Rambut hitam panjangnya berada di atas bantal milikku. Dan tubuhnya yang sempat dipeluk oleh tangan suamiku.

“Selamat pagi”, sapaku sambil membuka gorden sehingga cahaya matahari membangunkan mereka. Mimik muka itu, sudah biasa kulihat. Tidak ada yang istimewa dari momen itu. Aku hanya duduk diam di sofa dekat jendela, membelakangi ranjang dan menatap langit pagi yang mendung. Aku bisa mendengar suara barang-barang yang diambil dari meja dan suara pintu dibuka lalu tertutup. Lagi-lagi kata maaf yang kudengar.

Hujan belum juga turun malam ini. Pukul dua belas malam hanya tinggal menunggu beberapa menit. Aku masih terus menatap langit tanpa bintang sambil sesekali menengok keadaan pria yang berada di sampingku. Dalam posisi tidur menghadap ke arahku. Dia masih terjaga. Bisa kurasakan nafasnya semakin pendek. Mulutnya sedikit terbuka, berusaha untuk tetap bernafas.

Jam di atas meja kecil itu mengeluarkan bunyi nyaring kecil, pukul dua belas malam. Aku mengeluarkan diri dari balutan selimut dan beranjak dari tempat tidur. Menuju meja kecil yang berada di sisi lain tempat tidur, sisi miliknya. Mengambil gelas yang berisi air yang tadi ia minum. Membawanya ke kamar mandi dan membuang airnya.

Kembali menuju tempat tidur dan duduk berselimut. Aku melihat dia yang masih terjaga. Kulihat lebih dekat lagi, kemudian aku mencium bibirnya. Aku tidak merasakan udara keluar dari hidungnya.

Dan aku kembali menatap langit tanpa bintang. Entah kenapa tiba-tiba langit menangis, hujan turun dan membasahi balkon rumah. Angin membawa hujan sehingga titik-titik air membasahi jendela.

Langit yang mendung itu akhirnya menangis juga. Tetapi jiwaku yang segelap malam dan selalu dirundung mendung belum juga bisa menangis. Bahkan ketika aku menatap pria yang tertidur di sampingku, aku tidak juga menangis.

“Selamat ulang tahun pernikahan”, aku menutup kelopak matanya yang masih terbuka dengan tanganku, “I love you too”.

Lalu aku menciumnya sekali lagi. Memberikan ciuman dan membalas kata-kata cinta yang selalu diucapkannya untuk terakhir kalinya. Ketika hidup harus memilih, aku memilih untuk melepaskannya dalam diam. Hening. Hanya suara hujan yang menemani kepergiannya, tanpa isak tangis dariku. Aku tidak tahu apakah aku harus menangis sedih atau bahagia karena aku adalah orang yang sengaja membiarkan jiwanya pergi.

Jogja, 15 Januari 2008

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer lophyounee
lophyounee at Silence (10 years 40 weeks ago)
90

wew

dadun at Silence (11 years 14 weeks ago)
90

baru bisa komen...
sudah baca berbulan lalu, berkali-kali pulak.
tetep KERENNNNNNNNNN. i like it.
kejutannya itu lho, ndak keduga.
g.i.l.a!!!

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at Silence (11 years 29 weeks ago)
90

Sewaktu aku memberi comment di ceritamu E9, beberapa hari kemuadian beli Majalah Femina dan ternyata Cerpen E9-mu ada di Femina edisi tersebut.

Oya, ceritamu yang ini juga bagus pisan euy.

Writer snap
snap at Silence (11 years 33 weeks ago)
70

awalnya agak membingungkan. ==kata orang bijak.......== kata-kata di alinia ini juga membingungkan.

Writer cibo
cibo at Silence (11 years 36 weeks ago)
90

selalu, bikin bulu merinding bacanye..

Writer noir
noir at Silence (11 years 36 weeks ago)
80

Pengantaran menuju akhir yang lembut namun menghentak ^^

Writer cat
cat at Silence (11 years 37 weeks ago)
80

dalam sunyi nyawanya melayang..
wuih keren banget ..
perlahan tapi pasti

Writer Ari_rasya
Ari_rasya at Silence (11 years 38 weeks ago)
100

Ak suka bgt ceritanya =>

Writer shafira
shafira at Silence (11 years 38 weeks ago)
80

bagus...
jalan critanya bikin penasaran.

Writer urinomeeru
urinomeeru at Silence (11 years 38 weeks ago)
70

Wah, ketika seorang wanita lelah dengan perlakuan tidak adil kepadanya nih..^_^

Writer Super x
Super x at Silence (11 years 38 weeks ago)
80

wah rina, kerennn... biar tembus 100 nih gue kasih tambahan hehehe ^^

Writer Villam
Villam at Silence (11 years 38 weeks ago)
90

kiss of death...
i like it...

Writer dhanang wibowo
dhanang wibowo at Silence (11 years 38 weeks ago)
80

kematian yg indah..:P~~

*aduh2.. bsk klo selingkuh mending bikin minum sendiri ahh.. kekekek*

Writer my bro
my bro at Silence (11 years 39 weeks ago)
90

CIUUUMMMM !!

*kabuuurrr ^_^

Writer azura7
azura7 at Silence (11 years 39 weeks ago)
80

harum

Writer brown
brown at Silence (11 years 40 weeks ago)
90

sunyi sekali...

Writer hege
hege at Silence (11 years 40 weeks ago)
90

unjuk gigi.

Writer F_Griffin
F_Griffin at Silence (11 years 40 weeks ago)
90

Agak terlalu pelan buat seleraku, tapi rapi!

Writer avian dewanto
avian dewanto at Silence (11 years 40 weeks ago)
50

boleh nih ceritanya. salam kenal ya.

Writer fortherose
fortherose at Silence (11 years 40 weeks ago)
100

...wah, I LOVE IT!

salam unjuk gigi!

Writer FrenZy
FrenZy at Silence (11 years 40 weeks ago)
90

Rin, kangen deh sama tulisanmu. sampe sekarang masih keinget ceritamu yang dulu-dulu.

Intrigued by the ending, the surprise in the character's flaw. I like it! Menurutku, awalnya sedikit tersendat tapi sisanya mengalir lancar.

Writer miss worm
miss worm at Silence (11 years 40 weeks ago)
100

uhuks diriku ikut terhanyut membaca inih ^^ halus sangat penuturanmu.
terima kasih sudah berpartisipasi

salam unjuk gigi