Anjing Piaraan Mirah

Sudah berapa kali ayah memperingatkan Mirah supaya membuang seekor anjing piaraanya. Tiga tahun anjing itu cukup meresahkan masyarakat, bahkan pernah juga menjadi bulan-bulanan para pemabuk di pos ronda. Lantas anjing itu pulang ke rumah Mirah dengan goresan-goresan luka di tubuhnya. Bulu-bulunya yang tipis dan halus itu rontok, sedangkan kepalanya menjadi botak. Anjing itu berjalan dengan tertatih-tatih.
Di luar rumah, Mirah menunggunya hingga berjam-jam. Sembari mondar mandir, Mirah nampak tertatih pula dengan tongkatnya. Seperti merasakan apa yang saat itu diderita anjing kesayangannya itu. “Kliwooon ...ck..ck..ck. Di mana saja kau?” serunya menghadap ke berbagai penjuru mata angin. Sesekali ia menghadap pula ke arah pemakaman besar yang gelap tanpa penerangan setitik pun. Kalau pun ada, paling-paling kuburan itu sedikit berkerlip nyala api dupa para penyadran sejumlah kuburan yang memang sejak dahulu dikeramatkan secara turun temurun.
Bulan menyebarkan cahaya di antara serabut-serabut putih awan malam. Baginya, bintang malam itu tak seindah kata-kata para penyair sebelum ia menemukan Kliwon. “Kliwon, pulanglah! Aku sediakan bandeng dan sebungkus nasi hangat untukmu! Di bawah meja, aku juga sediakan kau susu hangat! Pulanglah! Sebelum Si Belang mencurinya. Si Belang memang nakal. Maunya dikasih makan, tapi kerjaannya hanya berak di sekitar rumah! Taimu menyesakkan hidungku, dan membunuh bayi-bayi yang sedang indahnya pasrah menerima rajutan-rajutan!”
Mirah menahan nafasnya. Belum ada keinginan menghela atau berlega hati di atas ranjang berpuluh-puluh kain sulaman. Jam dinding tua yang terpajang di dinding kamarnya berdentang dua belas kali. Mirah menunggu Kliwon seraya menamati jam dinding tua itu. Jam dinding itu sebelumnya memang sudah ada. Sejak kakeknya meninggal, Mirah memang disuruh ayahnya tinggal di rumah tua itu. Mirah dipindahkan ayahnya karena sering kali bertengkar dengan kedua adik laki-lakinya yang sekarang kuliah di Amerika dan yang satunya di Inggris. Sehingga kini ia harus tinggal di rumah yang berada tepat di tengah-tengah hutan. Di hutan itu, ia makan dari hasil buruan.
Meskipun kedua adiknya sudah tak lagi di rumah, namun ia nekad saling menghujat dan mencaci maki melalui telepon. Pernah, Mirah kalah omongan dengan kedua adiknya itu, maka pesawat telepon antik satu-satunya milik keluarga kolektor itu menjadi sasaran kemarahannya. Sekarang pesawat telehon tua itu hancur berkeping-keping dan dijual secara loakan di pasar antik. Tak hanya itu, Mirah pun juga sering merusak barang-barang kedua adiknya yang ditinggal di rumah. Melihat itu ayahnya resah. Ayahnya juga resah dengan seekor anjing yang masih saja dipelihara dan disayang seperti suminya sendiri.
“Di mana kau temukan anjing dekil itu?” tanya ayah.
“Di kuburan, ia barusan merengek minta ikut ke rumah!”
“Apa untungnya? Di kampung tak ada maling!”
“Tapi dia kasihan, aku tak rela, jika ia hidup dari daging-daging busuk mayat yang ada di kuburan,” jawab Mirah ketus seraya berjalan pincang. Kaki Mirah sejak lahir memang begitu. Konon saat masih di dalam kandungan, ayah masih sering pasang taruhan adu jangkrik di pos ronda dengan para pemabuk setiap malamnya. Singkat cerita, jangkrik piaraan ayah yang menjadi andalan bertaruh itu menang, meskipun kaki kanannya lumpuh.
“Jangan harap, ia berlama-lama di rumah ini!”
Mirah menutup pintu depan keras-keras hingga kaca jendela di samping pintu itu turut bergetar. Lantas ia membawa anjing itu ke dapur. Seekor kucing nampak bulu-bulunya berdiri sampai ke ekor-ekor. Meraung dan melangkahkan kaki ke belakang, seperti hendak mencengkeram anjing tu dengan kuku-kukunya yang mulai mengembang. Sedangkan anjing itu terlihat tanpa bersalah melangkah mendekati kucing itu seraya hidungnya mengendus-endus. “Hus! Pergi sana!” hardik Mirah seraya membuka tutup tempat lauk pauk di atas meja makan. Lantas melemparkan sepotong daging sapi tepat di depan mukanya.
Malam Si Kliwon pun enggan masuk ke rumah. Ia hanya mau jika tidur tepat di atas keset pintu depan. Tepatnya di teras rumah, Si Kliwon mendengkur. Bahkan sesekali terbangun mengipat kipatkan telinganya yang panjang dan mengendus-endus aroma yang tercium dari jarak yang cukup jauh. Purnama kembali memantulkan cahaya tepat di halaman depan rumah itu. Bayangan rajut-rajut mega kembali melintas hitam di tanah itu. Si Kliwon, lalu bergegas keluar dengan menjulurkan lidahnya seraya menatap ke atas, dan melihat daun-daun yang bergoyang ditiup angin kemarau malam itu. Lolongan panjangnya mulai meniup panjang telinga-telinga yang terlelap pulas baik di rumah maupun di pos ronda. Kesepian pun terpecah. Ayam-ayam kelabakan dan berkoak-koak. Para peronda lantas terperangah dan terjaga. “Malam-malam begini kok ada anjing?” tanya salah satu peronda kepada peronda lain. “Siapa yang piara anjing di kampung ini? Padahal peraturan ini sudah diterapkan bertahun-tahun, kampung ini harus bebas dari anjing!”
“Brengsek benar, orang sudah dilarang kok nekad piara anjing! Wah, celaka, bencana pasti akan datang! Moral-moral menjadi rusak, tabiat-tabiat buruk pasti akan muncul!” teriak salah satu peronda yang lebih tua. Saat itu juga mereka menabuh kenthongan yang tergantung tepat di ujung pos ronda. “Bangun! Bangun! Ada lolongan anjing! Awas! Jaga anak-anak, isteri dan suami masing-masing. Bagi janda-janda dan duda duda harap waspada dan jangan saling tergoda, jangan terlalu terbujuk rayu lolongan anjing!” seru salah satu peronda dengan suara cempreng. Yang lain pun menyahut..”Awas! Ada lolongan anjing!”
“Ingat! Lolongan itu penuh dengan kenistaan yang suatu saat menggerogoti tubuh anda. Lolongan itu adalah virus. Virus yang tidak bisa dideteksi para dokter! Tutup telinga kalian. Perhatian, Bapak-bapak, ibu-ibu, mbak-mbak, mas-mas, adik-adik, kakek-kakek, nenek nenek, tolong ya menutup telinga malam ini juga!”
Lolongan perlahan terhenti setelah Si Kliwon melihat gerak-gerik gerombolan tikus menyelinap melalui pintu dapur rumah Pak Lurah. Si Kliwon mengejarnya dengan langkah yang nyaris tanpa suara menunggu rombongan tikus itu menggondol sisa lauk pauk dapur. Semua tertangkap dan dilahapnya habis-habisan tanpa tersisa sedikitpun. Tak ada seutas pun bulu-bulunya tertinggal. Namun kecap suara mulut Si Kliwon mengunyah daging tikus-tikus, itu membuat para peronda tanpa sengaja melihat ekornya yang bergerak ke kanan-ke kiri. “Itu dia anjing itu! Di kejar sekarang juga! Cepat!”
Si Kliwon berusaha menghindar dari pentungan. Sudah berpa kali pentungan itu nyasar dan mengenai kepala para peronda hingga pingsan. Namun pentungan yang terakhir, Si Kliwon terkena kepalanya sampai terdengar terbletak, hingga kepalanya pusing dan berjalan terseok-seok. Saat itu juga ia diseret para peronda menuju depan Pos Ronda. Tubuh Si Kliwon diikat dengan tali dan hanya bisa meraung kesakitan, saat para peronda menghempaskan pukulan dengan kayu-kayunya.
“ya Tuhan, suara Si Kliwon. Siapa yang berani menyiksanya?” bisik Mirah begitu mendengar Kliwon mengerang-erang kesakitan. “Setan alas!”
Mirah bergegas berlari keluar rumah. Ia saksikan tangan-tangan menggenggam sebongkah kayu bertubi-tubi memukul tubuh Kliwon yang tergolek lemas tak berdaya. Lidahnya yang panjang menjulur meneteskan lendir-lendir pesakitan. Raut wajahnya memelas saat Mirah menghampirinya dengan berjalan pincang. Lantas seperti kehausan, Kliwon menjulurkan lidah panjangnya dan menjilati setiap lekuk kaki dan leher Mirah yang putih dan jenjang itu dengan tubuh masih terikat tali. “Berhenti! Jangan main hakim sendiri! Kalian melanggar hak asasi anjing!”
“Ha..ha..Nona, anjing kok punya hak asasi? Memangnya ada guru PPKN yang mengajari itu?” sahut salah satu peronda disambut tawa cekikian peronda lain. Mirah melepaskan jeratan tali yang melilit di tubuh Si Kliwon. Dengan tubuh lemas dan sempoyongan, Si Kliwon menghampiri Mirah yang pada malam itu mengenakan gaun tidur transparan. Birahi para peronda itu tiba-tiba menyusup dan mencatat segala hukuman bagi Mirah. Dengan beramai-ramai, mereka menyekap mulut Mirah dan memegang erat tangan serta kakinya. Masih menahan tubuh Mirah yang meronta-ronta, para peronda mengangkat tubuh Mirah yang sintal itu menuju ruang Pos Ronda. Mereka lucuti gaun tidur yang dikenakannya, hingga seluruh pakaian dalamnya tak lagi menempel di tubuhnya.
“Hukum harus ditegakkan, seperti yang telah kita sepakati bersama, hukum ini adalah hukum yang pas untuk mencegah kemerosotan moral yang disebabkan dengusan anjing-anjing yang berkeliaran di kampung ini! Camkan itu!” hardik salah satu peronda yang mendapat giliran pertama menindih dan membolak-nalikan tubuh Mirah seperti makanan gorengan yang baru dimasak. Mirah pasrah lemas, namun ia mampu membendung air matanya yang sebenarnya ingin membanjiri pelupuk matanya. Bahkan ia tak merasakan sakit ketika para peronda itu menghukumnya dengan undang-undang hukuman syahwat. Sedangkan Kliwon hanya mampu memandangnya dengan raut muka sedih, bahkan meneteskan air mata. “Dasar anjing munafik! Pergi sana, bisa bisanya menangis!” seru para peronda yang tiba-tiba saja wajahnya menjadi tikus-tikus pengerat yang menjijikan. Kumisnya mengembang, mengeluarkan lendir dan bau busuk.
***
Jam dinding di kamar itu berdentang lagi satu kali, tanda satu jam hari kedua Mirah berada di rumah pengasingan. Lolong Kliwon tiba-tiba saja terdengar. Mirah segera menengok ke jendela. Mirah tersenyum setelah melihat mulut Kliwon yang dipenuhi dengan bangkai-bangkai tikus. Kliwon melompat ke jendela dan langsung menghampiri Mirah. Ia lepaskan tikus-tikus itu dari gigitannya. Sebagian nampak sekarat menggeliat-geliat. “Kliwon, lho mengapa kau tak memakan tikus-tikus hasil buruanmu itu?” tanya Mirah.
“Sekarang ini Hari Kamis, aku harus berpuasa,” jawab Kliwon. “Biarkan mereka hidup tersiksa seperti di neraka! Sedangkan aku akan mencari surga yang dinanti-nantikan.”
Malam begitu menusuk. Bulan mulai enggan tersenyum, karena mendengar anjing-anjing di kota dan desa masih saja melolong panjang. Meratap saat siksa menjadi duri yang menancap dalam di setiap lekuk tubuhnya. Angin bertiup pelan. Daun-daun cemara di hutan itu bergoyang menunduk, saat kabut melintas turun dari puncak gunung yang menjulang tinggi. Lolongan itu masih terdengar memanjang dan bersahutan.
Solo, 9 Juni 2006

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer yoshe
yoshe at Anjing Piaraan Mirah (12 years 25 weeks ago)
50

jujur aku bingung sama ceritanya. sama kayak laen, ga dapet makna dari ceritanya. terus, yang bikin aku bingung lagi, emang ada orang2 berdialog dengan bahasa yang terlalu berpuisi kayak gitu? udah gitu dari para orang2 desa pula.

Writer Super x
Super x at Anjing Piaraan Mirah (12 years 34 weeks ago)
70

no spasi, no pola, no meaning. Keep writing.

Writer l4dy1241n
l4dy1241n at Anjing Piaraan Mirah (12 years 37 weeks ago)
20

sorry ya, yg nulis ini mungkin ga observasi.. mana ada anjing makan tikus. mungkin ga relevan komentarnya, tp aku ini fansnya anjing.. jd jgn di gambarkan begitu d.. lagian ceritanya jg rada aneh.. ga ada hub dr awal ampe akhir.

Writer v1vald1
v1vald1 at Anjing Piaraan Mirah (12 years 40 weeks ago)
50

Maaf ya Azarya, tapi spt Kristopher David, aku juga gak dapet feelingnya. Ada beberapa yang sebenarnya bagus,tapi tiba2 muncul hal hal yang menjatuhkan bagusnya. Sulit dijelaskan. Endingnya juga sayang hanya begitu. Jadi, hmmm, miskin makna. Well, gak tahu juga, setidaknya itu menurutku.
***
Selamat menulis lebih banyak lagi.

Writer niwatori
niwatori at Anjing Piaraan Mirah (12 years 40 weeks ago)
100

Sepertiga bagian awal agak biasa dan beberapa bagian agak sedikit tidak penting. Tapi di dua pertiga sisanya: berisi dan berkesan banget, penuh muatan semiotik mungkin? ;)

Writer KD
KD at Anjing Piaraan Mirah (12 years 41 weeks ago)
50

ga dapet feelingnya, ga cocok dengan aku kali

Writer Acip S
Acip S at Anjing Piaraan Mirah (12 years 41 weeks ago)
40

Ni cerpen buat siapa ya? ABG, dewasa or.. bahasanya dari depan sampe tengah kok kayak dongeng? Cerpen juga kepanjangan. Pesan yang mo disampaikan apa, ya? Kok ak rada bingung, sori ya buat yang nulis.. hehehe.. keep writing and happy new year