Kedatangan Jack

E-mail itu baru dibaca Nina malam-malam. Sebuah kejutan.

Sudah sampai dengan pesawat tadi pagi, langsung meneruskan ke Denpasar dengan flight berikutnya. Disertai sebuah foto. Tersenyum lebar dengan latar belakang Warung Wayan.

Jadi, si sinting itu ada di Indonesia. Nina menghela nafas panjang dan membuka agenda elektroniknya. Beberapa tugas sudah diselesaikan. Artinya dia bisa kabur barang seminggu.

Dengan sekali tekan, telepon genggamnya secara otomatis menghubungi sebuah nomor. Sita, sang sahabat karib, merangkap editor, merangkap manajer.

Hanya voice mailbox. Kebijakan Sita mengenai panggilan telepon di atas jam 12 malam. “Sita, gue harus pergi sebentar. Mungkin seminggu, dua minggu...”, Nina menatap kalender meja di samping komputernya. “...gue berangkat dua hari lagi. Semua kerjaan gue kirim via e-mail. Makasih.”

Sebetulnya Nina sudah ingin meninggalkan Jakarta sejak kemarin, tapi tidak tahu harus ke mana. E-mail tak terduga itu menyediakan jawaban. Padahal tadinya ia hendak menulis e-mail untuk mengatakan bahwa ia ingin bertemu, atau paling tidak ingin berbicara, atau apa sajalah. Ternyata yang bersangkutan malah sudah ada di Indonesia. Seperti sulap. Nina juga tidak tahu kenapa bisa pas betul waktunya.

Jemari Nina menari di atas keyboard. Memberitahukan jadwal yang baru ia buat pada orang-orang yang berkepentingan. Keberangkatan dari Jakarta dan estimasi waktu tiba di Denpasar. Begitu tombol Send ditekan, Nina segera mengalihkan perhatian pada daftar lain di atas kertas yang ia tempel di pintu lemari.

DAFTAR BARANG PENTING PERJALANAN JAUH.

Ia menghabiskan kurang dari sejam untuk menyusun barang sesuai daftar itu, dan memadatkannya dalam ransel carrier ukuran 35 liter.

Pukul 1 pagi. Lewat 12 menit. Nina terbaring di tempat tidurnya, tengadah menatap langit-langit.

Hari Jum’at. Nina akan bertemu langsung dengannya hari Jumat. Kalau ada nomor kontak, Nina pasti akan menelponnya langsung begitu membaca e-mailnya. Pasti dia lupa mencantumkan nomor yang bisa dihubungi. Ah, biarlah. Toh tinggal 48 jam lagi.

Dengan pikiran itu Nina memejamkan mata.

Jam 10 pagi. Lebih tiga menit. Plat pemanas di dalam toaster memerah bara, membakar permukaan roti tak sampai hangus.

Nina melemparkan handuknya yang basah ke tempat tidur. Tempat tidur itu rapi.

Nina sudah terjaga sejak pukul empat tadi pagi dan menghabiskan waktunya duduk bengong di depan laptopnya sambil tangannya sibuk membersihkan lensa kamera.

Sebuah denting menandakan roti bakarnya sudah jadi. Roti gandum. Hanya selembar.

Nina menyambar roti itu setelah selesai memasang pelembab wajah. Ia kembali bercermin sambil menggigit dan mengunyah.

Baru dua gigit, Nina meletakkan roti bakar itu. Ia sibuk memasang celana jogging favoritnya, mengikat rambutnya yang masih basah, lalu lari ke carport untuk menyalakan mesin mobilnya. Lari lagi ke kamar, membawa tas ranselnya ke jok belakang mobil. Lari lagi ke ruang tengah, memasukkan seluruh isi kulkasnya ke dalam sebuah tas plastik bekas belanja di department store, termasuk roti yang baru dua gigit tadi. Lalu ia lari ke depan, meletakkan tas itu di kursi depan. Ia lari lagi ke dalam, tapi berhenti di pintu masuk, berbalik lagi ke mobil, membuka pintu belakang, membuka restleting ranselnya dan memeriksa isi ranselnya lagi. Bibirnya komat-kamit seperti mantra, mengingat apa yang ingin ia bawa tapi belum ada. Sambil begitu ia lari lagi masuk ke dalam rumah. Mengambil sebuah termos berisi penuh air panas yang diletakkan di bawah kursi penumpang. Nina naik ke kursi pengemudi dan mobil itu keluar dari car port.

Baru beberapa meter jauhnya, mobil itu mundur lagi. Nina melompat keluar dan lari lagi masuk ke dalam rumah.

Kompor gas sudah mati, semua peralatan sudah dilepas dari steker listrik, telepon genggam, charger telepon dan kaca mata hitam sudah di tangan. Nina menyalakan lampu luar, mengunci pintu depan dan kembali ke mobil. Sebelum masuk mobil ia menatap rumah kontrakan mungilnya, berusaha memastikan ingatan bahwa ia sudah melakukan segala yang perlu dilakukan. Setelah yakin, ia masuk, duduk, menutup dan mengunci pintu mobil, memasang sabuk pengaman dan menarik nafas panjang.

Mobil itu baru keluar dari kompleks perumahan ketika terdengar nada sambung di headset telepon genggam Nina.

“Sit, gue berangkat,” begitu orang di ujung sana mengangkat. Yang diberitahu terdengar kaget. “Iya, gue tahu rencananya sih, hari Jumat. Tapi gue pengennya hari ini pake mobil. Iya, ‘ntar gue hubungin lu. Amin, makasih.”

Hubungan telepon dimatikan. Nina melepas headsetnya. Ketika matanya melihat penunjuk isi tangki bensin, tangannya otomatis mematikan AC dan membuka jendela. Perjalanan masih akan sangat jauh.

Jam 11 pagi. Lewat 23 menit. Tangan Nina sibuk merogoh tas plastik, mencari sepotong roti gandum yang baru dua gigit tadi. Sambil meneruskan gigitannya Nina menatap langit, tapi terhalang gedung bertingkat. Ia memasang kacamata hitam dan menyalakan radio. Mobilnya bergabung dengan lalu lintas jalan protokol Jakarta. Mengalir menuju ke luar kota.

Read previous post:  
Read next post:  
Writer H.Lind
H.Lind at Kedatangan Jack (7 years 37 weeks ago)
80

Pembukaannya sangat mengundang untuk membaca kelanjutannya. Kekekeke :)

Writer Redo Rizaldi
Redo Rizaldi at Kedatangan Jack (11 years 34 weeks ago)
90

awal yang lembut dan detail
pagi yang dingin

Writer sefry_chairil
sefry_chairil at Kedatangan Jack (12 years 19 weeks ago)
80

cerita yang bagus trus romantis lagiii...

Writer Mia Magdalena
Mia Magdalena at Kedatangan Jack (12 years 40 weeks ago)
50

sebenarnya kata temen2 bener, kayaknya kamu terlalu memperpanjang kalimat2 yang justru bikin orang boring...
tapi secara keseluruhan udah bisaa menjelaskan karakter Nina sendiri secara utuh...
tulis terus, yah...

Writer wafie
wafie at Kedatangan Jack (12 years 40 weeks ago)
70

Kalau dilihat dari segi narasinya cukup mewakili dan penggalan, serta alur cerita yang mengalir.
Tapi sayangnya, dari cerpen yang berjudul PERJALANAN MALAM sampai pada cerpen KEDATANGAN JACK ini tidak menghasilkan Ending cerita yang memuaskan untuk dicerna. Anda terlalu keasyikan menceritakan pentokohan si NINA, tanpa merujuk kembali kepada pentingnya nilai keotentikan sebuah Ending cerita.
Akhirnya,sampai saat ini saya masih bingung untuk mendapatkan ide cerita yang diusung oleh penulis sendiri.
Mengapa demikian, yang jelas, kalau ditelisik dari cerpen yang berjudul "Perjalanan Malam", anda menggabarkan figur seorang NINA, dan cerpen yang ini, anda pun berlaku seperti itu. Artinya tidak ada penggambaran ending cerita yang imposible mengenai si NINA itu.
Dari cerpen "Perjalanan Malam" seharusnya disitu anda lebih terfokus pada malam, malah di akhir cerita anda lepas landas dari pengkisahan awal mengenai malam itu sendiri. Padahal, kalau mengingat tema yang diusung, adalah sebuah Perjalanan Malam. Tapi, diakhir cerita malah yang ada tentang si NINA bagaimana berlakon di siang hari.
Dan, mengenai cerpen "Kedatangan Jack" yang jelas, cerpen ini mestinya diakhiri oleh sebuah adegan atau semacam pertemuan yang membuat si NINA terpukau karena melihat kedatangan seseorang (jack). Atau bagaimana kedatangan Jack itu sangat berharga sekali atau spesial buat si NINA. Sehingga ide ceritanya pun terasa sempurna, dan nikmat dibaca.
Tapi, lagi-lagi dalam ending cerita ini gak ada penjelasan kisah kearah situ. Adanya, malah kepergian NINA dari rumahnya. Ini kan sudah jelas, menunjukkan kontradiksi dengan tema yang diusung tadi.
Sebenarnya,saya juga gak tahu sih, harus menilai lebih lanjut mengenai kedua cerpen anda ini. Tapi yang pasti, kedua cerpen anda itu sangat bagus sekali dan bisa membuat pembaca penasaran sama ending cerita yang beginian.
Pembaca pasti bertanya2; "ini CERPEN apa CERBUNG yach!." Begitu tanya mereka dalam nalurinya. Aku sadari juga seperti itu awalnya. hihihihihi :D

Keep Writing Yach... Good Posting!
Sorry, jika ternyata aku hanya bisa memberi nilai tujuh dari cerpenmu ini, karena aku memang memberi nilai pada setiap celotehku pasti bersamaan dengan waktu yang menggiringku. Dan waktu aku menulis komentar ini, pas sekali menunjukkan jam 19.00 malam waktu Mesir. Jadi ya gitu deh! :) :D
Juga mohon maaf, jika komentarku terlalu banyak dan menyakiti perasaan kamu. Aku gak bermaksud kesitu!
( Aku hanya ingin belajar menjiarahi kata-katamu. Itu saja! :) )

"Salam Damai Dari Kairo"
Negeri Piramid, 11 Jan '07

Writer bulqiss
bulqiss at Kedatangan Jack (12 years 40 weeks ago)
80

Ngalir banget bahasanya, tapi koq agak tele-tele yah hehehe

Writer KD
KD at Kedatangan Jack (12 years 41 weeks ago)
100

Aku tunggu lanjutannya

Writer nightcrawler
nightcrawler at Kedatangan Jack (12 years 41 weeks ago)
60

to be honest, baru baca ini setelah "Perjalanan Malam". yap, sepertinya ini lebih asyik kalo udah utuh: sebuah novel, misalnya. ditunggu kabar baiknya kalo gitu..

Writer seken
seken at Kedatangan Jack (12 years 41 weeks ago)
40

mengalir seperti air sungai tapi tanggung sekali cerita berakhir pada saat yang tak tepat...jadi garuk2 nih..

thanx dah boleh komen

Writer Valen
Valen at Kedatangan Jack (12 years 41 weeks ago)
70

Bahasamu spt biasa, ngalir. Uenak tenan dibaca. Cuma aq lebih suka "Perjalanan Malam."
Boleh komen ya? Sorry kalo gak berkenan. Kalo misalkan adegan panjang persiapan Nina berangkat di-cut sedikit gimana? Or,diganti dng feeling Nina menunggu Jack...pasti lebih hmm mmm...romantis. Just a thought in my mind.Hope don't mind!
Ditunggu kelanjutannya. Really!

Writer za_hara
za_hara at Kedatangan Jack (12 years 41 weeks ago)
50

i bet this ain't a shortstory, but a novel, right? then carry on. finish your story. i begin to enjoy it